Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Lupa masa lalu


__ADS_3

"Masih sakit?" ucap Arun lembut mengompres pipi Alana yang sedikit bengkak, bahkan kuku panjang Santi sempat menggores pipinya.


Alana tidak menjawab, air matanya masih mengalir. Pukulan dan tamparan Santi memang sakit, tapi kali ini yang membuat hati Alana perih adalah kala dia menatap Bima yang darahnya mengalir ditubuhnya Alana, justru dia membiarkan dirinya ditindas ibu tirinya. Salahkah selama ini dia menganggap mereka keluarga?


Setelah amukan amarah Arun, Lily membawa kedua orang tuanya untuk segera pergi dari sana. Dia pasti tidak akan sampai hati melihat kedua orang tuanya dimarahi habis-habisan. Salah-salah Arun juga bisa baku hantam dengan ayahnya yang seorang pria sekaligus ayah kandung Alana justru diam melihat Alana diperlukan kasar begitu.


Alana terpukul, hatinya kini membatu. Rasa benci mulai tumbuh di hatinya untuk ayahnya.


"Al.." tegur Arun lembut melihat Alana yang hanya diam menunduk.


"Kenapa ayah begitu tega sama aku..aku ga minta untuk dilahirkan di dunia ini kan?" ucapnya dengan sesunggukan. Perih hatinya, sungguh. Orang tuanya benar-benar tidak menganggapnya berarti walau sedikitpun. Dia hanya cermin bagi Santi yang akan selalu mengingatkan pada perselingkuhan ayahnya.


"Udah Al, jangan diingat lagi" bisik nya membelai rambut panjang Alana. Rambut yang biasa terlihat indah terurai itu kini tampak kusut.


"Udah..udah..sakit hati aku bang. Aku terus yang disalahkan. Abang yang ngasih perusahaan ke aku, aku yang di gampar. Ayah yang selingkuh sama mama aku, aku yang fi benci. Laki-laki emang sama aja" umpatnya kesal menatap Arun.


"Kok nyama-nyamain sama aku sih Al?" sahut nya nelangsa. Arun tentu ogah di samain sama Bima, mertuanya itu.


"Emang sama. Abang juga nikah lagi kan? ga setia sama satu istri?" salaknya melap ingus yang jatuh hampir menyentuh bibirnya.


"Tapi kan Al, itu permintaan Lily. Awalnya aku juga ga mau nikah samamu kan?" mata Alana melotot. Kalimat Arun seolah mengatakan dia tidak sudi menikah dan punya istri seperti dirinya.


"Maksud aku, awalnya. Kalau sekarang mau banget malah punya istri seperti mu"

__ADS_1


"Apaan sih. Ga jelas nih om-om! Pulang sana. Istri abang itu kak Lily, kakak aku. Ada disini bukan menghibur malah bikin tambah kesal" gerutunya menghentakkan kaki ke lantai.


"Iya maaf. Jangan marah lagi dong Al. Gini aja, aku akan buat perhitungan sama ayah dan ibu. Bila perlu aku buat mereka meratap minta maaf padamu, baru aku masukkan ke penjara. Bukan, gimana kalau aku buang mereka ke satu pulau terpencil yang ga ada penghuninya"


"Hei, yang kita bahas itu orang tua aku ya kak. Kesannya kok mau mutilasi mereka. Itu orang tua ku, enak aja mau nyakitin ayah sama ibu" mulut Arun yang terbuka ingin menjawab, kembali terkatup. Dasar Alana nya. Awalnya dia yang kesal pada Sinta dan Bima, begitu Arun ingin bantu balas kan dendamnya malah dia yang dimarahi.


Salah satu yang buat Arun jatuh cinta dan begitu memuja Alana adalah karena hatinya yang begitu lembut. Tidak mendendam pada orang yang sudah menyakitinya.


Tapi justru Arun tidak suka dengan sikap Alana yang seperti itu. Selalu saja di tindas. Kejadian ini membuat Arun mempertimbangkan untuk mempekerjakan bodyguard yang akan menjaga Alana. Walau jika Alana tahu dia pasti tidak akan setuju.


***


Sifat pemaaf Alana lah membuat Lily begitu menyayangi Alana. Dia kini malu atas perilaku orang tuanya pada adiknya itu. Atas kejadian kemarin, Lily meminta pada ayah dan ibunya untuk coba menyayangi Alana karena bagaimanapun dia adalah anak mereka juga, anak kandung ayah Bima.


Tentu saja Santi menolak tegas. "Sampai mati pun aku tidak akan menerimanya jadi anakku. Najis!" umpatnya meludah di lantai rumah Lily.


"Lily, tau dari mana kau?" salak Santi saat mendengar perkataan Lily yang sejak bertahun lamanya peristiwa itu dia kubur, belum pernah sekalipun mendengar hal ini dari Lily.


"Aku melihatnya Bu. Aku lihat ayah yang sering masuk ke dalam kamar bi Mira, aku ingat kok semuanya Bu. Aku ga kasih tau ibu karena ga mau ibu sama bapak bertengkar" terang Lily. Itulah sebabnya hubungan Lily tidak terlalu dekat dengan Bima. Anak 7 tahun itu melihat sendiri kelakuan bejat ayahnya saat itu.


"Lupakan lah semuanya bu. Ini bukan salah Alana. Jika bisa memilih, dia juga tidak mau dilahirkan dari keluarga seperti ini" ucap Lily maju untuk berjongkok di hadapan ibunya.


"Aku sayang ibu. Sangat.." ucapnya memeluk Santi. Lily tahu mungkin tidak banyak waktu yang dia miliki lagi. Salah satu harapan lainnya selain menyatukan Arun dan Alana adalah ingin ibunya menerima Alana sebagai anak mereka, menggantikan dirinya nanti. Tanpa senagaja air mata Lily jatuh membasahi lengan Santi.

__ADS_1


Wanita itu ingin melihat wajah Lily, ingin menghapus air mata putri terkasihnya itu, tapi Lily membenamkan wajahnya di pangkuan Santi.


"Ibu, jangan lagi membenci Alana" isaknya. "Demi aku, hapus lah kebencian mu"


***


Sebelum ke toko, Alana datang ke rumah Lily untuk mengantarkan bolu moka buatannya sendiri. Alana tahu Lily suka dengan bolu.


"Sebentar ya pak. Saya antar ini ke dalam" ucap Alana pada supir taxinya. Tapi saat baru akan masuk ke halaman rumah, Alana melihat Lily juga masuk ke dalam taxi.


"Ini masih pagi, kak Lily mau kemana?" cicitnya menatap Lily yang pergi berburu-buru. rasa penasaran Alana membuatnya mengikutinya.


"Ga jadi pak, kita ikutin mobil itu aja ya pak"


Rasa penasaran Alana terjawab sudah. Taxi yang membawa Lily itu berhenti di salah satu rumah sakit besar.


"Kak Lily mau ngapain ke sini?" ucapnya ikut turun dari taxi. Tapi saat Alana masih mau bayar ongkos, Lily sudah tampak setengah berlari masuk ke dalam.


Bergegas Alana mengikuti jejak Lily, agar tidak kehilangan. Niat awal ingin memanggil Lily, dibatalkan gadis itu. Dia mengikuti diam-diam sampai Lily masuk ke ruangan Hemodialisa dan kemoterapi. Alana semakin curiga namaku terselip rasa khawatir. Untuk apa Lily masuk keruangan itu? siapa yang sakit?


Alana mengintip dari celah pintu yang tidak rapat ditutup, perlahan ikut masuk dan bersembunyi dibalik gorden biru.


"Pagi, sudah siap untuk kemo hari ini, bu Lily?" sapa sang dokter yang biasanya membantu Lily. Kalimat dokter itu hampir saja membuat Alana jatuh pingsan ditempatnya. "Kak Lily ikut kemo?"

__ADS_1


***Hai-hai, aku balik lagi. Nunggu aku up, kuy kepoin novel ini🙏



__ADS_2