Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Tuntutan Ema


__ADS_3

Alana terdiam membatu. Dia tidak tahu harus jawab apa dari serangkaian pertanyaan Ema. Keterkejutannya saja belum hilang karena kehadiran Ema yang tiba-tiba ini.


"Hei, dengar ga? ditanya malah diam" hardiknya. Alana semakin pucat saat Ema mendekat ingin mengambil Arlan dari gendongan Alana.Tapi tangan wanita itu menggantung di udara kala melihat bibir Arlan yang tengah menghisap sumber kehidupannya.


"A-pa apaan ini? kenapa kamu? apa arti semua ini? lepaskan cucu ku" ucapnya menarik paksa Arlan. Terpaksa Alana membuka kain gendong yang di ikat di punggungnya.


"Lily..Lily.." teriaknya dari bawah. Titin yang mendengar kegaduhan itu ikut mendekat.


"Tante, aku mohon tenang dulu"


"Diam kamu. Lily harus menjelaskan semuanya ini" salaknya menatap tajam pada Alana. Tidak lama, Lily yang dari kamarnya mendengar namanya dikumandangkan, segera meraih cardigan nya, lalu menyampirkan di punggungnya sebelum berjalan turun.


"Ma.." sapa nya setelah ada di anak tangga terakhir.


"Aku minta penjelasan yang masuk akal atas semua yang aku lihat ini. Kenapa adik kamu menjaga Arlan? bahkan dia memberi ASI pada Arlan?" Ema mengeluarkan kipas dari tas tangannya. Rasa getah menyerangnya terlebih setelah disulut amarah.


"Arlan.."


"Kak.." potong Alana. Dia tahu, Lily akan bicara terus terang. Tapi Alana tidak sanggup melihat Lily yang dalam keadaan sakit justru mendapat penekanan dari mertuanya.


Tangan Lily menyentuh Alana, menarik gadis itu duduk di sofa tepat dihadapan Ema. "Ma, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi aku minta sama mama, jangan memotong perkataan ku saat berbicara, apapun nanti yang akan aku katakan"


"Terserah. Cepatlah.." balas Ema tidak perduli.


"Sebelumnya, aku mau minta maaf pada mama, papa karena sudah terlalu jauh berbuat salah. Ma..Selama ini aku tidak hamil. Tepatnya selama ini aku berbohong, dengan berpura-pura hamil" Tampak emosi Ema tersulut dan ingin buka bicara, tapi dia ingat perkataan Lily, jadi kembali mengunci bibirnya.


"Justru selama ini, Alana lah yang mengandung, dan Arlan adalah darah dagingnya bersama Arun"


Mata Ema seperti akan keluar mendengar pengakuan Lily. Dia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar." Ini gila, kenapa Arun bisa punya anak bersama gadis ini?"


"Namanya Alana, tolong mama hargai dia. Di sini, aku lah yang salah. Tekanan dari mama yang memaksaku harus segera punya anak, membuatku berpikir cetek. Meminta Arun menikahi Alana secara sirih"

__ADS_1


"Dan Arun mengikuti kemauan gila mu? Dari awal aku sudah tidak setuju Arun menikahi mu. Feeling ku mengatakan kau memang mandul dan tidak sepadan dengan putraku" hardik Ema dengan tatapan ingin sekali mencekik Lily. Bertahun dia membohongi mereka. Ema merasa dipermainkan.


"Jangan hanya mempersalahkan kakak ku, tante. Tidak adil melimpahkan semua kesalahan ini pada kak Lily, tante juga salah. Tante egois, memaksa kehendak tante pada kak Lily. Tidak bisa mempunyai keturunan juga bukan keinginannnya"


"Al..udah. Ga usah di bahas lagi" cicit Lily tertatih. Tubuhnya kembali drop, lemah sekali. Terlebih karena perdebatan ini.


"Biarin kak, biar tante Ema juga tahu. Kalau dia itu egois. Tante kan seorang wanita, kenapa sih ga punya perasaan terhadap sesama wanita? atau bayangkan kalau tante punya anak gadis, terus ga bisa punya anak, dan diminta mertuanya untuk dicerai, gimana perasaan tante?" Alana menarik nafas. Puas rasanya membongkar semua yang mengganjal dihatinya.


Nyatanya Ema terdiam. Dia tidak bisa berkata apa lagi. "Jadi Arun memiliki dua istri?"


"Ga tante. Bang Arun hanya punya satu istri, kak Lily"


"Jadi kamu?"


"Aku sudah ditalak beberapa bulan lalu" ucap Alana getir. Harga dirinya sebagai seorang wanita tentu saja merasa terhina ditempatkan pada posisi seperti ini.


"Aku sebaiknya pulang. Kepalaku begitu sakit berdenyut. Aku akan minta Arun ke rumah menemui papanya" Ema bangkit, tanpa berkata apapun lagi, keluar dari rumah itu.


Aku tidak akan memaafkan penghinaan ini..


Tapi satu sisi dia merasa gadis itu sudah membohongi dan menganggap remeh keluarga Dirgantara. "Pak, kejalan Daan Mogot ya"


***


"Eh..jeng Ema datang. Kok mendadak begini sih? sambut Santi penuh senyum ramah.


Plak!


Santi tersentak sembari memegang pipinya yang baru saja menjadi landasan mendaratnya tangan Ema padanya.


"Dasar wanita tidak tahu malu, keluarga penipu kalian" umpatnya geram.

__ADS_1


"Jeng ngomong apa?" Santi masih bertahan dengan sikap tidak mengerti nya.


"Alah, ga usah pake berlagak bloon, aku sudah tahu semua kebusukan keluargamu. Aku tahu kau ikut andil dalam penipuan keluarga ku, kan?"


"Aku masih tidak mengerti, maksud jeng apa sih?"


"Masih berani kau bertanya. Aku sudah tahu kalau Arlan bukan anak Lily, dia anak Alana dan Arun. Putrimu yang tidak berguna itu sudah menipu kami"


Duaar! ibarat disambar petir, Santi hampir saja pingsan. Rahasia yang suda mereka simpan bertahun kenapa sampai bisa terungkap? lalu bagaimana keadaan Lily? apakah mertuanya ini sudah menganiaya Lily? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Santi.


"Sabar jeng, aku bisa jelaskan"


"Ga perlu. Aku tidak ingin mendengar penjelasan kalian. Aku akan minta putraku untuk menceraikan anak kalian"


"Jangan jeng, aku mohon jangan pisahkan mereka. Kami yang salah telah memberikan ide itu pada Lily. Aku mohon maafkan Lily"


"Enak sekali kau minta aku memaafkan anak mu. Pokoknya aku akan minta Arun menceraikan Lily" Ema pun pergi meninggalkan Santi dengan keterpurukannya. Dia harus apa? Dia tidak ingin Arun dan Lily berpisah. Arun adalah menantu kebanggaannya.


Bergegas Santi bersiap. Dia harus segera menemui Lily bertanya akan hal ini dan kenapa bisa sampai ketahuan.


***


"Kak, ayo ke kamar. Kakak harus istirahat. Jangan nangis lagi kak..Ingat apa kata dokter, jangan tertekan dengan masalah apapun" Alana menunduk, menghapus derai air mata di pipi Lily yang sejak kepergian Ema terus saja menangis.


"Maafkan aku ya Al. Lagi-lagi karena aku kau kena marah"


"Ga usah dipikirin, sekarang kakak harus balik ke kamar dan istirahat" Alana berhasil membujuk Lily untuk masuk kamar. Alana dengan setia menemaninya hingga gadis itu bertemu mimpinya. Perlahan Alana keluar dari kamar itu.


Kembali Alana teringat akan pertengkaran dengan Ema tadi. Ucapan Ema yang meminta Arun datang ke rumah keluarga Dirgantara, membuat Alana sedikit cemas. Dia takut kalau keluarga Arun memaksa pria itu untuk menceraikan istrinya.


Berhubung Arlan juga sudah tidur, begitupun Lily, Alana memutuskan untuk membuat rebusan jahe merah untuk Lily.

__ADS_1


Asik dengan kerjaannya, Alana tidak menyadari langkah Santi mendatanginya. "Sedang apa kau di rumah putriku? apa kini untuk mendapatkan hati suaminya, kau mengambil alih urusan dapur?"


__ADS_2