
Kalau kata pepatah, orang akan menulikan telinga dan membutakan matanya saat jatuh cinta. Hal itulah yang saat ini dilakukan Ayra.
Arlan sudah mengetahui cerita yang sebenarnya dari Kasa. Begitu Ayra pulang dari rumahnya, bergegas Kasa mencari Arlan. Dia perlu pendapat pria itu.
Lagi pula, dia sudah bertindak benar dengan menjauhkan Ayra dari Roki.
Arlan sendiri pun merasa geram mendengar penuturan Kasa, dan setelah pulang, segera dia mencari Ayra di kamar gadis itu.
"Kakak bisa ketok pintu dulu, gak? Privasi!"
"Banyak gaya, lu. Selama usia lu yang 16 tahun ini, gak pernah sekalipun kamu mengetuk pintu setiap masuk kamar gue!"
Arlan mengabaikan pelototan mata Ayra dan juga bibir gadis itu yang mengerucut kesal padanya. Dia memilih tempat nyaman, kasur Ayra.
"Banyak benar boneka lu, segala boneka babi diajak tidur. Artinya lu masih bocah!"
Perlahan Arlan mencari jalan untuk memulai pembahasan tentang keberatan hubungan Ayra dan Roki. Ranjang yang dipenuhi boneka jadi jalan terbaik dalam menyampaikan nasehatnya.
Sebagai seorang abang, Arlan tentu tahu cara berbicara dengan Ayra saat ini. Dia harus pelan dan juga penuh kasih sayang, agar nasehatnya bisa di dengar.
Seharusnya dari awal dia menyadari kedekatan Ayra dengan Roki. Sibuk menemani Sania membuat Arlan tidak menyadari apa yang terjadi pada Ayra.
Saat ini Sania juga butuh perhatiannya. Masalah silih berganti datang pada Sania. Baru bangkit dari keterpurukannya setelah ayahnya dijadikan bahan lelucon di sekolah, entah siapa yang berubah jahat padanya lagi.
Seseorang mendatangi toko roti tempat Sania bekerja dan memaksa pemiliknya untuk memecatnya. Meski pemilik toko tidak mengatakan apapun, tapi Arlan yakin Agatha lah dalang dibalik semua ini. Dia tidak akan puas dan berhenti sampai benar-benar berhasil menghancurkan Sania, terlebih ketika Arlan sudah mengancamnya dan minta menjauhi Sania.
Sania sangat sedih. Toko roti itu merupakan tempat baginya mencari uang. Sedikit demi sedikit dia menabung agar bisa menyewa jasa pengacara untuk membebaskan ayahnya. Namun, kini mata pencahariannya justru hilang hanya karena dengki dan iri hati orang lain.
__ADS_1
Selama dua hari ini, Arlan sibuk membantu mencari pekerja buat Sania tanpa sepengetahuan gadis itu. Beberapa toko roti dia tanya hingga cafe dan restoran, tapi belum mendapat hasil. Barulah hari ini, saat dia singgah di restoran cepat saji untuk membeli cola, dia mendapatkan informasi mereka membutuhkan karyawan part time.
Tidak sulit mendapatkan posisi itu. Arlan menggunakan ketampanannya agar manager restoran mau menerima Sania.
Buru-buru Arlan menjemput Sania agar bisa segera interview. Syukurlah, Sania diterima bekerja. Gajinya memang lebih banyak di sana, tapi dia juga harus siap pulang tengah malam.
Pada saat diberitahukan jam pulangnya, Arlan keberatan. Dia khawatir Sania jadi kelelahan dan kurang tidur karena besoknya dia harus sekolah. Beberapa bulan lagi mereka akan ujian nasional, jangan sampai Sania tidak lulus.
Namun, Sania meyakinkan Arlan bahwa dia akan baik-baik saja dan harus menerima pekerjaan ini.
"Biarin aku bekerja di sini, aku sangat butuh uang itu," ucap Sania saat meminta waktu pada sang personalia untuk bicara empat mata dengan Arlan.
Mereka sama sekali tidak pacaran, tapi kala membujuk pria itu, orang akan mengira mereka adalah pasangan suami-isteri yang nikah muda.
"Gue udah bilang, lu bisa pake tabuhan gue. Itu bukan uang orang tua gue, itu hasil kerja keras gue sebagai pembuat robot!"
Sania tersenyum lembut. Hatinya hangat sekali melihat kebaikan Arlan dan semua pengorbanan untuk dirinya. Tapi Sania tidak ingin memakai uang Arlan.
"Terserah! Dasar keras kepala!"
Pekerja itu diterima Sania dengan gembira. Uniform nya juga sudah dia dapatkan dan besok dia bisa mulai bekerja.
"Kamu istirahat, selagi kita libur, kamu tidur yang banyak. Besok, kamu udah harus mulai bekerja," ucap Arlan dengan nada cueknya saat mengantar Sania.
Entah sudah ke berapa kali untuk hari ini, Sania tersenyum kembali. Dia semakin mengenal karakter Arlan. Walaupun bibir pria itu terdengar sinis sama mengucapkan kata-katanya, seakan tidak punya perasaan dan sangat dingin, pada kenyataannya, hati Arlan sangat baik dan begitu hangat.
"Siap, Bos. Makasih, ya, Arlan," ujar Sania malu-malu. Untung saat itu tidak ada penghuni kos lainnya yang sedang berada di luar, bisa malu sekali dia.
__ADS_1
Setelah semua urusan dengan Sania aman, di sini lah Arlan, mengajak Ayra bicara serius.
"Tumben lu kemari, Kak. Bilang aja kalau ada yang mau disampaikan!" Ayra sangat yakin kalau Kasa sudah cerita pada Arlan soal ucapannya kemarin.
Ada sedikit rasa menyesal karena sudah memaki bahkan bersikap kasar pada Kasa, tapi dia juga tidak membenarkan perbuatan pria itu yang menghajar Roki.
"Gue minta lu jauhi Roki. Dia pria brengsek. Lagi pula kenapa lu bisa suka dia, sih? Apa lu gak lihat penampilannya? Udah kayak preman pasar!"
"Stop! Kalau Kakak datang cuma buat menghina Kak Roki, lebih baik Kakak keluar. Aku udah dewasa. Terserah aku, dong, mau pacaran sama siapa. Aku juga gak pernah urusi Kakak pacaran dengan gadis manapun, jadi jangan usik hubungan aku!"
"Gue ngomong begini karena gue peduli sama lu. Gue kakak lu, bocah. Gue lebih dulu kenal si brengsek itu dari pada elu. Dia gak serius sama lu, Ay. Please, dengerin gue," pinta Arlan. Dia menarik kursi belajar Ayra agar rodanya membawa gadis itu mendekat padanya.
"Kamu adik Kakak satu-satunya. Kakak berharap kamu bahagia dan mendapatkan yang terbaik. Tinggalkan Roki."
"Tapi aku cinta sama dia, Kak," Ayra mulai menangis. Kenapa kisah asmaranya harus berakhir tragis terus?
Dulu saat mengejar cinta Kasa, dia gagal. Bahkan sempat hampir ribut dan saling benci dengan Sania. Sekarang, setelah dia berhasil move on dengan kehadiran Riko, lagi-lagi harus kandas karena larangan keluarga. Naas banget jadi Ayra!
Arlan memahami perasaan Ayra. Dia menarik adik kesayangannya itu masuk ke dalam pelukannya. Mengelus punggung dan rambut gadis itu agar lebih tenang.
"Kamu masih muda, perjalanan mu masih panjang. Kamu cantik, bakal banyak pria baik yang tertarik dan jatuh cinta padamu. Percaya sama Kakak."
Ayra tidak membantah. Dia diam dengan kepedihan hatinya dalam pelukan Arlan. Saat Arlan pamit keluar, Ayra masih belum bisa terpejam. Dia bingung. Sejujurnya, dia ingin mempertahankan hubungannya dengan Roki, tapi kalau dia melanjutkan, keluarganya yang akan jadi lawannya kelak.
Diraihnya ponselnya yang baru saja menerima pesan dari Roki.
'Sayang, lagi apa? Aku merindukan mu. Sangat mencintaimu, Ayra. Aku mohon jangan tinggalkan aku.'
__ADS_1
Pesan itu semakin membuat Ayra galau. Dia kembali meneteskan air mata. Setelah memikirkan masak-masak, dia pun memantapkan hati membalas pesan itu.
'Aku juga sangat mencintaimu, Kak. Bagaimana kalau kita kawan lari aja?'