
"Hey, ******! Gue kan udah bilang, jangan dekati pacar gue, tapi masih aja lu nempel sama dia, dasar gak tahu malu!" Tubuh Ayra terlempar ke belakang hingga mentok ke tembok belakang sekolah.
Anak buah Agatha sengaja 'menculik' Sania saat bel pulang bunyi. Agatha sudah menaruh dendam kesumat pada gadis itu terlebih setelah satu sekolah tahu kalau mereka putus dan. Arlan memilin Sania yang dari segi penampilan dan popularitas jauh di bawah Agatha.
"Lepas! Aku gak dekati pacar siapapun. Kalau maksud mu soal Arlan, kamu boleh tanya dia, apa aku mendekatinya atau gak. Lagi pula, dia bukan pacarmu lagi, jadi alasanmu tidak beralasan."
Kelopak mata Agatha membulat. Dia terkejut kalau Sania cukup berani melawannya. Dia sangat malu, terlebih saat ini ada tiga pasang mata selain dia yang mendengar perkataan Sania.
"Benar gue bilang, dia makin ngelunjak. Udah berasa di atas angin, lu?" bentak Celo semakin menguatkan pegangannya. Gadis itu bahkan menjambak rambut Sania hingga menengadah ke atas. Agatha mendekat, kuku tajamnya dia tancapkan di leher gadis itu, menggores hingga mengeluarkan cairan merah.
Sania kesakitan, tapi dia sadar kalau dia tidak akan dilepas geng Agatha, apa lagi sudah jam pulang sekolah. Kalau bukan dia yang membebaskan dirinya, siapa lagi?
Sania berpikir keras, saat itu satu ide yang mungkin bisa menolongnya muncul. Sekuat tenaga Sania menginjak kaki Celo hingga buat gadis itu mengaduh kesakitan dan melangkah mundur melepaskan pegangannya. Gwen yang ikut memegang Sania ikut terkejut dan melepaskan pegangannya.
Kesempatan bagi Sania untuk kabur. Dia menolak Agatha yang coba menghalangi hingga terduduk di tanah. Secepat kilat Sania kabur.
"Aduh! Sorry," ucapnya setelah menubruk seseorang di koridor. Dia menoleh ke belakang saat berlari, memastikan kalau Agatha dan geng belum mengejarnya.
"Kamu dari mana? Aku cariin," tanya Arlan memperhatikan wajah Sania yang ketakutan.
"Itu... Agatha coba melakukan persekusi padaku." Sania masih berusahalah mengumpulkan napas setelah berlari dikejar ketakutan.
"Bangsat! Masih aja dia coba ganggu kamu?" Rahang Arlan mengeras. Tampaknya sisi psikopat Agatha sudah meronta-ronta.
"Biarin aja, Ar, gak usah diperpanjang," ucap Sania masih ketakutan. Untung dengan cepat dia mendorong Agatha hingga jatuh, kalau tidak bisa jadi lemper dia. Dari saku Agatha jatuh pisau lipat yang bersamaan saat dia jatuh. Gadis itu benar-benar nekat.
"Kalau didiamkan, mereka akan terus ganggu kamu. Tunggu di sini!" Arlan meninggalkan Sania, berlari ke arah gadis itu datang.
Wajah Agatha dan teman-temannya memucat mendapati Arlan sudah menghadang jalan mereka. Agatha tidak pernah takut pada siapapun, kecuali pada Arlan. Dia selalu menjadikan bapaknya yang seorang anggota polisi sebagai tameng. Dia tahu, keluarga Dirgantara tidak akan mempan jika ditekan, berbeda dengan orang lain.
__ADS_1
Sorot mata tajam Arlan cukup menjelaskan bagi Agatha apa yang akan dilakukan pria itu terhadapnya. Arlan sudah naik pitam, jelas Sania tadi sangat ketakutan atas apa yang sudah mereka lakukan. Mata Arlan juga menangkap bekas cakar di leher gadis itu yang buatnya semakin emosi.
"Ar-lan, Beb, kamu di sini?" Suara gemetar dan tingkah Agatha yang gelagapan jelas menunjukkan ketakutan nya, dia tebak pria itu sudah tahu apa yang terjadi.
Langkah Arlan melebar, menerjang ke arah Agatha hingga gadis itu terpojok ke tembok. Tangan Arlan sudah melingkar di batang leher Agatha hingga bola mata gadis itu berputar dan melihat ke atas sejurus dengan semakin kuatnya cekikan Arlan.
Celo dan kedua temannya yang lain mundur ketakutan. Sorot Arlan tidak pernah se-mematikan itu. Saat ini pria itu terobsesi hanya ingin menghabisi Agatha.
Tangan Agatha meraih pergelangan tangan Arlan, menggapai dan mencoba untuk melepaskan cengkraman itu, tapi tidak berhasil. Bulir bening keluar dari sudut mata Agatha yang hampir kehabisan napas.
"Arlan, aku mohon lepaskan Agatha. Arlan, please, kamu buat aku takut. Lepaskan dia, Arlan, dia bisa mati!" teriak Sania yang sudah tiba di sana.
Perasaannya tidak enak saat diminta menunggu Arlan. Pria itu tidak segera kembali membuatnya memutuskan untuk menyusul.
Cengkraman Arlan di leher Agatha semakin menguap. Beberapa menit lagi pasti gadis itu itu meninggal. Sania bergegas memeluk Arlan dari belakang, melingkarkan tangannya pinggang Arlan.
"Aku mohon, lepaskan dia. Aku gak mau kamu di penjara. Aku mohon," pinta Sania memeluk erat tubuh Arlan. Sania membenamkan wajahnya di punggung Arlan. Sentuhan itu membuat Arlan tersadar.
"Maaf, kalau aku sudah membuatmu takut. Kita pergi dari sini!" Arlan menarik tangan Sania meninggalkan tempat itu.
Dia yakin pelajaran yang hari ini di dapat Agatha cukup membuatnya berpikir dua kali untuk menyakiti Sania lagi.
***
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Ayra bergerak gelisah di kursinya. Sudah satu jam mereka berkendara, tapi tetap belum sampai. Roki juga tetap diam di belakang stir tanpa mengatakan apapun padanya.
"Kak Roki jawab, dong," ulang Ayra semakin gak tenang.
"Bentar lagi, Ay. Kamu percaya sama aku, kan?"
__ADS_1
Ayra mengangguk lemah meski dia tetap tidak tenang. Dalam hati berharap kalau semua akan baik-baik saja.
Setengah jam setelahnya, mobil memasuki halaman rumah. Tampak usang dan kosong. Satu setengah jam menempuh perjalanan hanya untuk ke tempat ini, apa mungkin ini rumah Roki?
"Yuk, turun," pinta Roki, lebih dulu keluar dari mobil. Ayra ragu apakah dia harus turun. Kata hatinya mengatakan ada hal buruk yang akan terjadi. Kenapa kali ini dia merasa tidak nyaman di dekat Roki?
Dia jadi ingat omongan Kasa dan Arlan. Terlebih Kasa, setelah pertengkaran mereka di rumahnya kala itu, pria itu menjauh. Saat Arlan dan teman-temannya yang lain main ke rumah mereka, Kasa tidak ikut.
Terakhir bertemu, saat menjemput Dita dari rumahnya. Mereka hanya adu pandang sebentar, lalu kembali buang muka. Ruang hati Ayra merasa sedikit kehilangan karena Kasa mengabaikannya, tapi dia juga tidak bisa berbuat apapun. Mungkin lebih mereka seperti ini.
"Ayo, gak usah takut. Ini rumah bokap gue juga!" Roki menarik tangan Ayra keluar dari mobil. Istilah mengajak tidak lagi tepat karena pria itu menarik paksa Ayra masuk ke dalam rumah.
"Duduk, Ay. Bentar aku ambil minum," ujar Roki masuk ke belakang.
Insting untuk siaga segera muncul. Segera dia meraih ponselnya, mencoba menghubungi Arlan, tapi belum sempat diangkat, Roki merampas ponselnya.
"Ngapain, sih, pake nelpon kakakmu segala? kamu takut sama ku? Ini momen kita berdua, Sayang. Just relax!" Roki menyimpan ponsel Ayra ke dalam tas dan menyodorkan minum.
"Kak Roki, kembalikan hape aku!"
"Iya, tapi nanti. Aku cuma mau berduaan dengan mu!"
Roki mengambil tempat di samping Ayra, mengecup punggung tangan gadis itu. "Minum, Sayang, aku udah siapin, loh."
Ayra melirik, hanya sekaleng cola. Kalau dia tidak minum, nanti dipikir Roki malah melakukan hal mengerikan padanya karena menolak.
Ayra mengambil kaleng cola, dan instruksi Roki untuk menghabiskannya terpaksa dia lakukan.
"Segar, kan?"
__ADS_1
"Mmm... Tapi kenapa kepalaku jadi pusing, Kak?"