
Minggu ketiga Lily dirawat, keadaannya semakin memburuk. Hanya saja dia masih mencoba tetap tersenyum dan terlihat tegar. Selesai kemo nya pagi ini, Lily meminta Arun untuk berbaring bersamanya.
"Aku ingin kau di sini, hun. Peluk aku" ucapnya lemah. Alana yang saat itu ada di ruangan itu cukup tahu diri untuk keluar dari sana. Arun sekilas melirik kearahnya sebelum Alana menutup pintu.
"Hun, maafkan keegoisanku. Tapi aku tahu waktu ku tidak lama lagi, aku ingin memilikimu hanya untukku sebentar lagi aja"
"Aku mohon, jangan bicara seperti itu lagi. Aku tahu kau pasti sehat, kau pasti sembuh Ly"
Lily hanya tersenyum kecut. "Hun, aku sudah memutuskan, aku tidak mau menyesal nantinya. Besok aku ingin pulang. Aku ga mau dirawat dan ikut kemo lagi, rasanya semakin ikut kemo kok malah tubuhku makin lemah?"
"Kata dokter kita harus sabar. Dokter sudah menjadwalkan operasi mu. Kau pasti sembuh"
"Aku ga mau, hun. Bawa aku pulang, aku ingin kau mengabulkan keinginanku yang kedua. Bawa aku ke Jepang"
"Tapi tubuhmu ga akan kuat Ly" ucap Arun menahan keinginan Lily yang nekat. Arun tahu betul gadis itu tidak akan sanggup berjalan jauh.
"Pokoknya aku mau kita ke Jepang, hun. Please..."
Setelah berembuk dengan semua keluarga, terlebih kedua orang tua Lily, walau berat mereka memutuskan untuk menyetujui keinginan Lily. Dokter sudah memperingatkan resiko dari pulang Lily saat masih menjalani masa penyembuhan. Tapi lagi-lagi Lily bersikeras untuk minta pulang.
Surat dan berkas dari pihak rumah sakit sudah ditandatangani Arun selaku suaminya, yang menyatakan tidak akan adanya tuntutan apapun pada pihak rumah sakit jika terjadi sesuatu yang buruk pada Lily.
***
Dua hari di rumah, keadaan Lily justru tampak lebih sehat. Arun sudah menjadwalkan perjalanan mereka ke Jepang. Akomodasi dan juga tempat tinggal selama di sana sudah disiapkan yang ternyaman untuk ditempati Lily dan Arun nantinya.
"Al..aku mau pamit, besok aku dan Lily mau ke Jepang" ucapnya pelan. Malam ini dia sengaja datang ke rumah Alana.
Setelah selesai bermain dengan Arlan, Arun mengajak Alana bicara. Dia ingin pamit pada Alana, dan berharap kepergiannya dengan Lily tidak membuat gadis itu salah paham akan perasaannya.
"Ya udah. Pergilah bang. Kenapa mesti pake acara pamit sama aku segala?" ucap Alana menyandarkan punggung ke sofa.
"Aku ga mau kau berpikir macem-macem"
"Macem-macem gimana maksudnya?"
__ADS_1
"Ya, maksud aku kami pergi bukan seperti layaknya suami istri. Aku ingin menemaninya Al dan mencoba memenuhi apapun keinginannya. Saat ini hubungan kami tidak lebih dari sekedar Sahabat"
Alana menunduk. Menatap jari-jarinya yang mulai memanjang. Dia lupa kemarin untuk mengguntingnya pendek, agar kulit tubuh Arlan tidak terluka. Sebagai wanita yang menyukai Arun, tentu dia harusnya cemburu, pria yang dia sukai pergi berdua dengan wanita lain. Tapi tidak buat Alana. Dia justru merasa bersalah kalau sampai berpikir lain atas kepergian mereka.
"Pergi lah bang. Aku mohon bawa kakakku kemana pun dia inginkan"
"Kau tidak marah?" tanya Arun. Seketika Alana menggeleng.
"Mmm..Kau tidak cemburu?"
"Ga bang. Ga sama sekali. Justru aku minta abang menjaga dan selalu bersama kak Lily hingga akhir hayatnya. Berikan dia kebahagiaan yang pantas dia dapatkan"
***
Dari balkon kamarnya, Alana menatap langit biru, tepat saat dia berdiri memandang keatas, pesawat berlogo burung itu melintas dari atasnya. Alana terus menatap, seolah di dalam pesawat itu ada Lily dan Arun yang sudah terbang ke Tokyo.
"Kakak..bergembiralah. Berbahagia lah bersama pria yang kau cintai. Aku berharap akan ada keajaiban yang membuatmu sehat" cicitnya tulus.
***
Dua Minggu di Tokyo, hanya tiga kali Lily menghubungi Alana. Mengirimkan banyak photo dirinya dan Arun yang berkeliling kota, serta tempat-tempat indah yang mereka kunjungi.
Atas keinginan Lily, Arun menghubungi semua anggota keluarga saat itu juga. Alana yang dijemput Arun tiba lebih dulu di rumah keluarga Adhinata.
"Kak, kau sudah pulang? apa kau membawa oleh-oleh buatku? buat Arlan?" tanya Alana dengan tangis yang di tahan. Diperjalanan dari rumahnya ke sini, Arun sudah menjelaskan keadaan Lily yang sudah sangat lemah. Lily mengatakan mungkin ini waktunya, jadi meminta untuk segera pulang. Dia ingin menghembuskan nafasnya di tanah air, diantara keluarganya.
"Ba-nyak Al..a-da di ko-per" sahutnya terbata. Untuk bernafas pun Lily sudah susah. Selang oksigen sudah dipasang oleh pihak rumah sakit dekat bandara tadi. Arun juga meminta dua orang perawat untuk ikut bersamanya merawat Lily.
Pihak rumah sakit sudah meminta agar Lily dirawat, tapi gadis itu tidak mau, dan memaksa untuk pulang. Dia juga meminta untuk membawanya ke rumah orang tuanya bukan ke rumah mereka.
Semua Arun ikutin. Dia ingin Lily mendapatkan semua keinginannya. Tangis Santi pecah, terus duduk didekat Lily.
"Bu, jangan nangis lagi. Aku pamit ya bu. Ikhlaskan aku, putrimu pergi untuk selama-lamanya. Aku mohon jangan membenci Alana lagi" terbata-bata Lily mengatakan wasiatnya.
"Al..aku mewakili ibu, minta maaf ya, kalau selama ini udah buat kau menderita. Maafkan ibu ya Al. Setelah aku pergi, aku mohon, datang lah jenguk ibu dan bapak. Jaga orang tua kita ya dek"
__ADS_1
Wajah Alana sudah banjir air mata. Semua orang di kamar itu terus saja menangis. Ema malah tidak sanggup dan menangis di pelukan Wiga.
"Bu.." Lily mengambil tangan Santi dan menyatukannya dengan tangan Alana, begitupun dengan tangan Bima yang berdiri dibelakang Santi. "Kita semua keluarga. Kini tinggal kalian bertiga, aku mohon kalian saling jaga ya" tak ada jawaban dari ketiganya hanya tangis dan anggukan. Santi paham apa yang dimaksud Lily, seketika dia menarik tubuh Alana, dan memeluk gadis itu. Menangis sesunggukan. "Maafkan ibu Al. Maafkan ibu.." raung nya penuh air mata. Bima pun berputar meminta maaf pada Alana.
"Maafkan ayahmu yang jahat ini Al. Ayah yang bahkan tidak pantas mendapatkan maaf mu"
"Iya yah, bu. Alana juga minta maaf jika tidak bisa jadi anak yang ayah dan ibu inginkan" ketiganya berpelukan dan saling menangis. Lily tersenyum melihat ketiga orang yang dia sayangi itu.
"Terimakasih Al. Kini aku tahu, kebaikan hatimu dan sifat pemaaf mu pasti berasal dari mama mu. Kau harus bangga, mewarisi sifat baik dari mamamu. Jangan membencinya karena sudah meninggalkanmu Al" Alana mengangguk. Lily benar. Dia tidak seharusnya membenci ibu kandungnya. Walau mungkin dia bukan ibu yang sempurna, tapi berkat dirinya, Alana bisa ada di dunia ini.
Kini berganti, Ema dan Wiga yang melepas Lily. Lily pamit dan Ema juga minta maaf atas kesalahannya dimasa lalu.
Giliran Arun dan Alana yang diminta untuk berada dihadapannya.
"Hun, ingat janjimu padaku, begitu pun kau Al. Setelah aku tiada, aku mohon kalian untuk bersatu kembali, demi Arlan dan juga demi cinta suci kalian" Alana hanya menangis, hanya Arun lah yang mengangguk. Semua orang di ruangan itu mendengar permintaan terakhir Lily.
"Berbahagialah kalian, karena dengan begitu aku pun akan bahagia melihat dari atas sana" ucap Lily dan setelahnya, gadis itu pergi untuk selama-lamanya.
***
Mewek lagiπππ€§
Bincang-bincang bentar yuk,
- Kenapa sih otor buat Alana bersatu sama Arun bukan yang lain aja.
*Banyak pertimbangan kenapa mereka dipersatukan lagi. Walau jujur membaca komen kalian sempat terpikir untuk kasih tokoh yang lain. Tapi balik lagi, dari awal udah dikonsep kayak gitu. Kedua, pertimbangan otor karena Arlan. Kasihan dia nanti tumbuh jika harus tinggal di rumah bapak tiri atau mama tiru. Ya walau tidak semua mama/bapak sambung itu jahat, tapi secara psikis, anak akan bertumbuh jauh lebih baik jika bersama orang tua kandungnya.
-Fix tor, kalau Alana sama Arun, aku ga mau baca lagi, aku unfavorite.
* Sedih sih, kalau tidak di fav lagi, tapi itu hak kalian semua, otor menghargainya. (walau sedihππ€§) itu sama aja tidak menghargai kreativitas otor receh ini.
*Sekalian mau minta tolong π mampir juga dong di novel baru aku,
__ADS_1
siapa tau suka, π
makasih..nanti kita bincang-bincang lagi ya, kecup basah ππ