Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Aku pergi


__ADS_3

Tepat seperti yang sudah dijanjikan pada Lily, hari ini Alana akan pergi dari rumah yang selama hampir setahun ini sudah memberikan kenangan pahit yang tidak jarang diselipi hal yang indah yang pantas dikenang. Di rumah ini pula, Arlan hadir diantara mereka, membuat perasaan Alana dan Arun kian dekat.


Dua hari sebelum hari ini, Alana minta izin untuk menghabiskan waktunya dengan Arlan, tanpa ada Lily disekitar mereka. Begitupun dengan Arun, dia akan menerima perhatian pria itu agar tidak curiga akan kepergiannya. Lily setuju, menurutnya itu hal yang masuk akal.


Lily juga tidak ingin setelah kepergian Alana nanti, Arun akan mempersalahkan dirinya.


"Hai tampan, papa berangkat kerja dulu ya. Jaga mama, jangan sampai diculik orang. Soalnya cantiknya kebangetan sih" ucapnya melirik Alana yang tersipu malu.


Satu kecupan mendarat di puncak kepala Arlan, lalu Arun berbalik menghadap Alana. Keadaan semakin kikuk saat keduanya saling tatap dalam diam.


"Apa?" tanya Alana mendongak, memberanikan diri menatap mata elang Arun.


"Sama anaknya udah pamit. Mau cium mamanya juga dong"


"Ga usah. Kalau mau pergi, ya udah sana" ujarnya menunduk. Wajahnya panas atas sikap menggoda Arun. "Hati-hati di jalan" lanjutnya malu.


"Ga mau berangkat ah, sebelum cium kamu"


"Genit ih..Arlan ga boleh kayak papa ya kalau udah besar" ujar Alana mengelus pipi Arlan yang tengah menatap mereka.


"Buruan Al. Aku udah telat" Arun masih berdiri dihadapan Alana, menunggu izin untuk mencium kening wanita itu.


"Ya pergi sana"


"Cium kening kamu dulu"


"Kenapa harus gitu? kemarin-kemarin ga ada cium kening segala" protes Alana memonyongkan bibirnya.


"Iya, mulai hari ini dan sampai selamanya aku mau lakukan sebelum dan setelah pulang kerja" ucapnya tersenyum.


Ya Tuhan, bandot satu ini kenapa tampan banget sih..buat aku makin susah buat lupain dia tau ga. Jangan pasang senyum manis gitu dong bang, hati aku ga kuat..


"Al..buruan sayang, aku udah telat"

__ADS_1


Alana tidak punya pilihan lain, selain menurut. Dia juga perlu menyelamatkan hatinya. Kalau Arun semakin lama didekatnya, jantungnya bisa copot sangking cepatnya berdetak.


Cup..


Bibir Arun mendarat di kening Alana. Diam sana, menikmati lembut kulit gadis itu. Lalu Arun menangkup kedua pipi Alana dan menyatukan kening mereka. "Bersabarlah sebentar lagi. Aku akan membuat kau satu-satunya wanita dalam hidupku" bisik nya tepat di atas bibir Alana.


Gadis itu membiarkan suaminya menikmati bibirnya untuk terakhir kalinya. Alana memejamkan matanya, ingin menyimpan kenangan dan rasa ini untuk dirinya sendiri, menemaninya memulai hidup barunya yang sepi nantinya.


"Aku pergi" Arun mencium puncak kepala Alana dan membawa kedua tangan Alana mendekat ke bibirnya.


Bahu Arun sudah menghilang dibalik pintu kamar, saat Alana menjatuhkan tanda kesedihannya dari kedua mata indahnya. Terisak, bahkan Alana terduduk dilantai, menangis sembari memeluk kakinya tempatnya membenamkan wajahnya.


"Selamat tinggal bang Arun.."


***


Lily mendapati Alana mendekap erat Arlan, menciumi jari-jari anaknya penuh kasih dan kesedihan. Langkahnya terhenti diambang pintu, membiarkan momen ucapan perpisahan anak dan ibu hanya dimiliki Alana lebih lama lagi.


"Mama akan selalu menyimpan kenangan bersamamu. Mama sayang banget sama kamu, nak. Cepat besar dan jadi anak kebanggaan papa ya nak. Selamanya dalam hati mama, Arlan adalah anak mama" bulir bening itu terus saja turun, merambat di pipinya. Buru-buru Alana menghapus, dia tidak ingin air matanya jatuh di pipi Arlan.


Dia tidak ingin kesedihan mengikuti anaknya. Arlan seolah mengerti mamanya akan pergi, bayi itu hanya memandanginya, seakan ingin memotret raut wajah Alana untuk disimpannya di pelupuk matanya.


Dibalik pintu, Lily yang mendengarkan juga ikut menangis. Bagaimanapun dia bisa merasakan kepedihan Alana, berpisah dengan anaknya yang masih berumur seminggu. Tapi kalau Alana masih tetap disini, justru dia yang akan menangis darah.


Dengan punggung tangannya Lily menghapus air matanya sebelum masuk ke kamar. "Al.."


Tanpa suara Alana memberikan bayinya pada Lily, meletakkan digendong Lily. Isak tangis yang coba distop nya tadi banjir lagi. Semakin lama menjadi lolongan yang menyayat.


Mendengar Isak tangis Alana yang begitu menyedihkan itu membuat bi Minah ikut naik melihat. Di sana wanita paruh baya itu melihat hancurnya Alana saat melepas bayinya. Dia bagai seorang ibu yang tidak punya perasaan memberikan bayinya pada orang lain.


Seandainya orang bisa melihat dari sisi Alana, apa dia punya kemampuan mengambil anaknya? semua orang pasti mengatakan dirinya bodoh.


Benar, dia terima itu. Kini dia menyesal sudah menjanjikan anaknya. Setelah menjadi ibu yang sesungguhnya, Alana baru merasa berpisah dengan darah dagingnya sama halnya dengan separuh jiwanya ikut pergi dari tubuhnya. Sakit.

__ADS_1


"Bu, jangan begitu. Kasihan non Alana. Kasihan juga sama den Arlan" isak bi Minah tak kuasa menahan laju air matanya.


"Bibi jangan ikut campur bi. Sana" ucap Lily dengan mata sembab


"Al, cepatlah pergi, kalau tidak akan semakin berat buatmu untuk pergi meninggalkan Arlan. Maafkan keegoisan ku Al. Tapi kau masih sehat, masih bisa memiliki banyak anak, tapi aku? hanya Arlan harapanku" ucap Lily masih dengan air mata yang terus mengalir.


Benar kata Lily, dia harus segera pergi, agar tidak semakin sakit. Alana ingin beranjak pergi, tapi satu jemarinya digenggam anaknya, hingga terbentang jarak diantara mereka namun tidak putus.


Lily menjauhkan dirinya agar pegangan Arlan terlepas, dan Alana pergi membawa satu koper dan tas tangannya keluar dari rumah itu.


"Non, mau kemana? di luar juga mendung, udah gelap sebentar lagi bakal turun hujan" bi Minah mengejar Alana.


"Bibi tolong jaga Arlan untuk ku ya. Aku akan lebih tenang karena bibi ada di sana" ucapnya meletakkan tasnya lalu menghambur memeluk bi Minah. Keduanya berpelukan ditengah halaman, menangis bersama.


Mungkin alam juga ikut bersedih akan kepergian Alana. Langit mendung, bahkan kini sangat gelap.


"Tapi non Alana mau kemana?"


"Aku mau pergi jauh bi. Walau sebenarnya aku juga belum punya tujuan. Bibi tolong jaga Arlan ya bi, dan terima kasih selama udah sangat baik sama aku" ucapnya menyalim tangan bi Minah dan langsung pamit pergi.


Masih satu langkah bergerak, dari dalam rumah suara tangis Arlan begitu kencang terdengar. Biasanya anak itu tidak pernah nangis sekeras itu walau perutnya lapar minta dikasih ASI.


Alana berbalik, dari atas balkon kamar, Lily menggendong Arlan dan mencoba menghentikan tangis Arlan dengan mengayun-ayunkan tubuh Arlan, tapi anak itu tetap saja menangis bahkan semakin kencang, seolah tahu ibunya akan pergi jauh.


"Kasihan den Arlan, non"


"Aku ga bisa berbuat apa-apa bi. Aku juga sakit. Aku pamit.." ucap Alana membuang pandangannya dari Arlan, memekakkan telinganya dari tangisan buah hatinya itu.


*** Hai..hai.. aku datang, gila aku nangis 😭😭😭😥😥🤧 loh nulis bab ini. Kasihan banget Arlan, hanya karena keegoisan orang dewasa. Alana disini bukan bego, hanya karena rasa sayang sama Lily, serta ingin melepaskan hutang budi pada keluarga ayahnya, hingga rela berkorban. plis, jangan Katain Alana bego lagi ya😭😭


serahkan pada otor, pasti ada jalan buat kembali meluk dedek Arlan🥺🥺🥺🤧🤧


Yang minta up Doble, mohon dukungannya dong, biar Eike semangat, makasih🙏😘😘

__ADS_1


__ADS_2