
Beruntung tubuh Alana tidak termasuk wanita yang tinggi besar, hingga kehamilannya yang sudah berjalan lima bulan masih bisa di tutupinya dengan kemeja sekolah yang lenih besar dan juga cardigan yang senantiasa dia pakai.
Lagi pula dua bulan lagi, dia juga akan mengikuti ujian nasional dan setelahnya tidak perlu ke sekolah lagi, hingga tidak akan ada teman-temannya yang akan mengejek perut buncitnya. Tapi tetap saja, perubahan bentuk tubuh Alana tidak luput dari pengamatan Gara.
"Al, kamu sekarang agak gendutan" godanya tertawa renyah. Sepasang kekasih itu duduk di salah satu warung bakso langganan mereka. Sore tadi Gara menjemput Alana untuk jalan yang tentu saja disambut Lily dengan gembira.
Gara sendiri tidak perduli dengan tatapan tidak bersahabat Arun. Keduanya berpapasan di halaman depan ketika Arun pulang dari kantor sementara Gara dan Alana akan pergi berkencan.
Arun melirik sekilas wajah Alana yang menunduk sebelum berlalu masuk.
"Kamu ngejek aku terus deh. Emang ga suka ya kalau aku makan banyak?" jawab Alana mengerucutkan bibirnya.
Pertanyaan yang sudah biasa dilontarkan Gara padanya sudah tidak membuatnya kikuk atau merasa tidak enak. Pada awalnya, yaitu bulan-bulan lalu kala Gara mengatakan hal itu untuk pertama kalinya, Alana pasti akan pucat, tapi kini Alana akan dengan santai menanggapinya.
"Bukan gitu Beb. Aku suka kok kalau tubuh kamu lebih berisi. Sekalipun kamu makin gemuk, sebesar gajah sekalipun, aku akan tetap setia dan mencintaimu" ucapnya tanpa ragu yang mampu membuat Alana tersipu malu.
Mungkin Gara sudah biasa saja melihat perubahan tubuh Alana, tapi tatapan bebrapa orang setiap memandang kearahnya selalu membuat Alana minder. Terlebih kalau Alana tidak sengaja menangkap tatapan ibu-ibu yang menyelidik tubuhnya, Alana pasti akan menunduk.
Ada kalanya, Alana benci pada bayi dalam kandungan. Sejujurnya, bagi Alana bayi dalam perutnya adalah penghalang kebahagiaan antara dirinya dengan Gara. Tapi dia tetap tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima nasibnya.
"Boleh bagi cukanya ya Bu" ucap Gara pada ibu di sebelah meja mereka.
"Silahkan. Tapi jangan banyak-banyak si neng buat cukanya, ga bagus buat kehamilannya" sahut si ibu polos. Menatap kearah Alana yang wajahnya tiba-tiba memucat.
"Oh, dia pacar aku bu, dan ga lagi hamil kok" sambar Gara mengambil cuka dan membawa ke mejanya.
Degub jantung Alana masih belum stabil. Menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepala. "Ga usah di pikirkan Beb. Pokoknya walau kamu makin gemuk juga, aku tetap suka, tetap sayang. Malah kamu makin menggemaskan" Gara coba menenangkan hati Alana.
Salah satu alasan yang membuat Alana malas untuk keluar rumah. Dia berharap empat bulan yang di nanti Lily itu akan segera datang.
"Ga, kita pulang ya. Aku ga enak badan" ucap Alana setelah mereka di motor. Kepalanya yang pusing dan moodnya juga jadi buruk mendengar perkataan ibu di warung bakso tadi.
__ADS_1
"Yah..kok pulang? tapi kita mau nonton Beb?"
"Lain kali ya. Seriusan aku ga enak badan. Kemarin malam begadang nonton drama Korea" Alasan yang sama yang selalu Alana katakan setiap tubuhnya melemah.
Gara tidak punya pilihan lain, selain mengikuti kemauan Alana. Bagi nya kesehatan Alana lebih dari segalanya.
"Ga, bang El ga ada ngomong apa gitu sama kamu?" tanya Alana masih memeluk erat pinggang Gara di laju motor sportnya.
"Ngomongin apa memangnya?" tanya Gara balik. Laju motor memang sengaja lambat agar mereka lama tiba di rumah Alana. Gara masih kangen. Sepanjang jalan, kalau ga menggengam tangan Alana yang melekat di perut ratanya, Gara akan mengelus lutut Alana. Kebiasaannya saat berboncengan dengan kekasihnya itu.
"Ya ntah apa gitu tentang aku" sahut Alana harap-harap cemas. Berdoa semoga El masih menutup mulutnya walau sudah dua bulan sejak desakan El waktu itu.
"Ga ada. Oh..cuma kemarin dia nanya, kamu apa kabar, sehat kan, gitu aja"
Kembali degub jantung Alana kembali bertalu. Kalau El menanyakan kabar dirinya, artinya El ingin cari tahu apakah mereka masih baik-baik saja, masih pacaran atau tidak, dan apa dirinya sudah berkata jujur pada Gara atau belum.
Hufffh..semua begitu berat bagi Alana. Rasa takutnya kalau sampai Gara tahu tentang dirinya membuat hidup Alana tidak pernah tenang lagi.
Alana suka melihat Gara kalau sudah bersikap manja seperti ini padanya. Gara yang tiap saat bersikap cool dan cuek akan sekitar kecuali pada mereka berlima, kadang kala bisa sangat manja pada Alana.
"Iya, kita ngobrol di rumah aja. Maaf ya, acara nontonnya batal" ucap Alana mengajak Gara masuk. Seseorang dari balkon atas menatap lurus pada mereka. Wajahnya tampak tidak senang akan kemesraan sejoli itu.
"Tunggu bentar, aku buatkan minum" ucap Alana meninggalkan Gara di teras rumah. Di ruang tengah, Alana berpapasan dengan Lily yang baru saja akan menyambut kedatangan mereka.
"Kok udah pulang Al?"
"Iya kak. Kepalaku pusing, jadi minta Hara antar pulang aja" sahut Alana pendek, ingin melangkah masuk. Langkahnya terhenti saat Lily menahan pergelangan tangannya.
"Tapi bayi nya baik-baik aja kan?"
Hal itu lah yang selalu membuat Alana semakin kecewa pada Lily. Dia hanya perduli dengan bayi dalam perutnya, tidak pada dirinya. Mungkin bagi Lily kurang cepat untuk memiliki bayi ini, menanti empat bulan lagi mungkin terlalu lama bagi Lily.
__ADS_1
"Dia baik kak. Ga perlu khawatir" Alana menarik tangannya dan meninggalkan Lily. Punggung Alana yang menjauh terus ditatapnya. Dia tahu dia sudah menyakiti hati Alana dengan sikapnya. Lily tahu kepedihan yang dirasakan Alana saat ini. Tapi Lily juga manusia biasa. Dia sayang pada Alana, itu tidak perlu di ragukan, tapi dia lebih sayang dan perduli akan Arun dan kelangsungan rumah tangga mereka.
Alana memilih untuk berganti baju ke kamar. Baru menutup pintu kamarnya, Arun turun. Awalnya dia ingin tetap bersikap tidak perduli, membiarkan Alana dengan hidupnya, mencoba melupakan cintanya pada gadis itu. Tapi hati tidak bisa bohong kan. Karena kalau sudah jatuh cinta, maka kekuatan dari alam mana pun tidak akan bisa menghalaunya.
Arun keluar, mengenakan pakaian olahraga nya lengkap dengan bola basket ditangan. "Hun, kau mau main basket?" tanya Lily, saat berpapasan di ruang tamu yang keluar membawa nampan berisi minuman untuk Gara.
"Iya" sahut nya pendek.
"Dimana?"
"Di teras, halaman depan. Itu untuk siapa?" sebelah alisnya naik. Pertanyaan yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban untuknya karena dia sudah tahu, namun sekedar basa-basi perlu kan.
"Buat Gara. Dia ada di teras, Alana lagi ke kamar sebentar"
Arun berlalu meninggalkan Lily, yang tidak lama disusul gadis itu menuju teras rumah. Sedikitpun Arun tidak menoleh kearah Gara berdaya, menganggap pria itu makhluk astral.
Tidak lama Alana turun, belum sempat duduk di sebelah Gara, bola menggelinding kearah mereka, tepat didepan kaki Alana.
Dengan congkak nya Arun hanya berdiri mengamati bola itu, dengan raut wajah memerintahkan Alana untuk mengambilkan untuknya.
"Ini bang"
Tangan Alana yang menyodorkan bola itu masih menggantung di udara, dan hanya dilirik Arun. "Suruh si brengsek itu segera pulang" ucapnya yang masih bisa didengar Gara dari tempatnya. Alana melangkah, namun baru selangkah, kakinya terhenti. "Tolong ganti celana mu, itu terlalu pendek"
Kalimat Arun yang terakhir begitu lembut, memohon padanya. Seolah itu adalah permintaan dari dasar hatinya. Anehnya, Alana tergerak untuk mengabulkan permohonan itu.
***Hai aku datang lagi, makasih ya buat yang masih setia. Maaf buat ketidaknyamanan membacanya di karenakan up cuma satu bab. sibuk bet aku tuh😅
Senin di usahakan normal lagi. Btw nunggu up lagi, kuy kepon novel keren dari sahabat aku, makasih🙏😘
__ADS_1