
Alana tersentak kala sosok Kai sudah berdiri tepat dihadapannya, hanya ada mesin kasir diantara mereka. "Bangkai?" gumamnya mendongak. Pria itu masuk dan berdiri di sana tanpa bicara.
"Aku perlu bicara denganmu. Kau punya waktu?" ucap Kai. Dia masih canggung kalau bertemu secara langsung dengan Alana terlebih hanya berdua begini.
"Ada masalah apa bang?" dahi Alana berkerut, cemas jika ada hal buruk yang terjadi terlebih menyangkut dirinya.
Kai tidak menjawab, memutar badan dan duduk di salah satu bangku. Masih dengan tanya, Alana mengikuti langkah pria itu.
"Maaf, kalau aku mengganggumu Al, aku mau minta tolong. Ini masalah nenek" ada jeda diantara kalimat Kai. Perasaan malu dan tidak enak hati menjalar dalam hatinya, dia sadar apa yang akan dia sampaikan ini kurang pantas.
"Ada apa dengan nenek, bang?" wajah Alana berubah cemas.
"Dia ingin bertemu denganmu. Keadaanya mungkin sedang tidak baik, tadi nenek nelpon, makanya aku buru-buru menemui mu"
"Iya, bisa. Aku akan ikut denganmu, bang"
***
Wajah wanita tua itu sumringah melihat kedatangan Alana. Tubuh lemas nya kini seolah bertambah kuat seolah bertambah imun tubuhnya setelah melihat Alana.
"Al..." pekik nenek Rosi memeluk Alana.
"Nenek baik-baik aja? kata bangkai nenek sakit lagi" Alana mengurai pelukan mereka, menatap lekat wajah nenek Rosi, mengamati apa ada tanda kesakitan.
"Nenek menipuku lagi ya?!," hardik Kai mendengus kesal.
"Kalau tidak begitu, apa kau akan membawa Alana padaku? dasar bocah tengil!" balas wanita itu, menarik tangan Alana menjauh dari Kai.
Ruang perpustakaan milik suaminya menjadi pilihan nenek Rosi untuk berbicara dengan Alana. "Al... terima kasih kau sudah datang menjenguk nenek" sejak tadi wanita tua itu tidak melepaskan pegangan tangannya pada Alana.
"Sama-sama nek. Aku juga senang bisa kemari bertemu nenek"
"Kau sudah menikah?" pertanyaan yang sebenarnya sudah diketahui oleh wanita itu.
"Iya nek. Aku pikir nenek akan datang memenuhi undangan ku itu," ucap Alana pura-pura merajuk gemes.
"Nenek takut ga bisa kontrol emosi, mengacak-ngacak pestamu. Nenek kan orang nya emosian" ucap nenek Rosi mencubit pipi mulus Alana.
"Nenek, aku berterima kasih karena dari bangkai aku bisa mengenal nenek, sudah menerima aku dan langsung menyayangi ku, tapi maaf nek, aku ga bisa jadi istri bangkai. Aku mencintai suamiku, dan tidak punya perasaan apa pun pada bangkai" ucap Alana tegas. Dia tidak ingin membuat benang ini semakin kusut.
__ADS_1
"Apa kau bahagia? apa suamimu itu pria baik?" nenek Rosi menunjukkan ke khawatirannya. Sejak bertemu Alana, wanita itu tahu, Alana adalah gadis yang bersih hatinya. Bisa saja terus pura-pura jadi pacar Kaisar demi mendapatkan uang, tapi Alana dengan jujur mengakui semuanya.
"Aku bahagia nek. Sangat bahagia. Dia yang pertama bagiku, dia pula yang bisa membuatku merasa istimewa. Lagi pula, kami sudah punya anak" ucap Alana terus terang. Kini ada kebanggaan tersendiri dihatinya mengakui hubungan mereka, tidak perlu menunduk karena mengingat posisi sebagai istri kedua seperti dulu.
"Maksudmu, kau sempat bercerai dengan suamimu yang sekarang?"
"Tepat sekali" Alana mencium punggung tangan nenek Rosi. "Jadi nenek tahu kan seberapa besar perasaanku pada bang Arun?"
Nenek Rosi tidak menjawab lagi. Dia tidak bisa memaksakan kehendaknya kalau sudah mendengar ucapan Alana yang seperti ini.
Padahal niatnya, nenek Rosi ingin meminta Alana meninggalkan Arun, dan kembali pada Kai, menjanjikan harta yang banyak asal mau masuk ke keluarga Barrel.
"Kasihan sekali nasib bocah tengil itu, selamanya dia akan tersesat tidak tau jalan pulang" tatapan nenek Rosi jauh ke depan, bergumam yang hanya dia yang mengerti.
"Jangan dipikirkan nek, nanti nenek jadi sakit" Alana melingkarkan lengannya di pinggang nenek Rosi, menempelkan dagunya di bahu wanita itu.
"Aku hanya ingin dia menikah dengan gadis yang benar sebelum aku meninggal. Alana, apakah kau punya saudara kembar? jodohkan pada si tengil itu" tiba-tiba nada suara nenek Rosi berubah bersemangat.
"Aku ga punya saudara kembar, nek" kedua nya kembali diam.
"Nenek jangan khawatir, bangkai pasti menikah" lanjut Alana menyemangati nenek Rosi.
***
"Makasih ya Al, lo udah kasih pencerahan buat nenek" ucap Kai mengantar Alana hingga batas pintu taksi.
"Sama-sama bangkai. Kalau ada apa-apa dengan nenek, kabari aku ya"
"Ok. Oh iya Al.." Kai tampak ragu untuk meneruskan ucapannya, sementara Alana sudah terlanjur penasaran hingga memaksa untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Ada apa bangkai?"
"Itu..."
"Itu apa?" desak Alana penasaran.
"Waktu di acara resepsi pernikahan lo kemarin, gue melihat ada seorang gadis, apa dia sodara lo?"
"Gadis? gadis yang mana? segitu banyak undangan mana aku tahu yang abang maksud" Alana menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal.
__ADS_1
"Gadis rakus, yang bergaun peach. Rambut panjangnya menjuntai dan gue lihat dia meluk lo di pelaminan"
Untuk sesaat otak Alana bekerja, mengingat siapa gerangan yang dimaksud Kaisar. "Oh... maksud abang, Dita?"
"Tau deh gue siapa namanya"
"Iya, Dita. Emang kenapa bang? abang kenal sama dia?"
"Hah? oh..ga, Gue ga kenal. Geli aja lihat dia makan, rakus amat. Biasanya kalau cewek kan jaga makan, kecuali lo tapi sih"
"Mmm..ngejek banget sih nih om-om. Udah ah, aku mau cabut. Kasihan pak supirnya udah bosan" ucap Alana meminta supir taksi segera berangkat.
"Bego gue, ngapain juga gue tanya si cewek sama Alana, untung dia ga ngeh" gumam Kaisar bermonolog.
***
"Mati aku..." Alana menepuk jidatnya sesaat setelah turun dari pintu taksi. Dengan tampang bete nya Arun sudah berdiri dengan melipat tangannya di dada.
Dengan senyum nelangsa, Alana mendekat. Berusaha menguatkan hatinya. Pria itu pasti sudah lama di sana menunggunya.
Sial banget sih aku, pake acara ninggalin hape lagi. Pasti bang Arun marah nih
"Abang di sini? kok udah pulang? masih jama..empat" ucap Alana lembut sembari melirik jam tangannya. Ancaman dari sorot mata Arun sudah bisa ditebak oleh Alana pasti akan berbuntut panjang.
Pria itu diam, tidak mau menjawab, namun tatapan mematikannya sudah jelas kalau pria itu sedang marah.
"Masuk yuk bang. Kalau mau marah jangan di sini juga, aku malu" rengek Alana menggunakan senjata.
Tanpa bicara, Arun masuk lebih dulu ke dalam di ikuti Alana, terus masuk ke dalam ruangan pribadi gadis itu. Kedua karyawannya yang melihat wajah Alana bak terpidana mati, hanya bisa menahan tawa geli kala Alana memonyongkan bibirnya pada Juli dan Mindo.
Tanpa diminta Arun sudah duduk di sofa, melipat tangan bak tuan tanah yang nagih hutang pada Alana.
"Bang..." ucapnya lembut.
"Apa ada yang ingin kau jelaskan?!"
***
Hai, aku datang, mau promosi novel sahabat baik aku nih, karya mama Reni, mampir ya, kamsamida 🙏😁
__ADS_1