
Ditengah jalan, hujan turun dengan lebatnya. Alana menepi dibawah bangunan tua bekas ruko yang kini sudah tidak terpakai dan terbengkalai. Air mata dan rinai hujan seakan berlomba saling turun.
Tangis Arlan masih menggema ditelinganya, hingga dia pun tak bisa menghentikan tangisnya. Diliriknya layar ponsel ditangannya, pukul 11, dan langit begitu gelap. Alana yang tidak punya tujuan, memutuskan untuk memesan ojek online, memutuskan untuk berada ditengah kota, sampai ide untuk melangkah muncul.
***
Akibat tindakannya yang tanpa pikir panjang, Lily susah sendiri jadinya. Arlan tidak henti-hentinya menangis, walau bagaimanapun usaha Lily memenangkannya.
Lily hanya tidak tahu, batin antar ibu dan anak yang bicara saat ini. Itulah sebabnya Arlan terus menangis karena jauh dari ibunya.
"Bu, biar bibi gendong. Mungkin dia tahu kalau ibunya sudah pergi jauh darinya. Jam segini biasanya non Alana menyusui den Arlan"
"Bi Minah. Jangan ngomong gitu lagi" salak Lily tidak terima. "Arlan ini anakku, jangan pernah bibi bilang Arlan merindukan ibunya, karena ibunya ada disini, aku bi!"
Lily yang kesal membawa Arlan ke kamarnya. Dari luar kamar suara tangis Arlan berimbang dengan suara Lily yang terus bernyanyi agar bayi itu diam. Bi Minah pasrah, terserah majikannya mau berkata apa, yang pasti bi Minah kasihan pada bayi itu.
Tok..tok..tok..
"Masuk" bentak Lily. Dia lelah, sudah sejam Arlan masih tetap menangis juga. Diam sebentar, menangis lagi.
"Bu, ini susunya. Den Arlan pasti udah lapar" ucap bi Minah masuk menyerahkan botol susu Arlan yang sudah berisi ASI Alana.
"Susu dari mana ini? bibi buat susu formula yang saya beli kemarin kan?"
"Ini ASI Bu, lebih bagus. Masih banyak stok di kulkas. Non Alana sudah mempersiapkan semuanya sejak beberapa hari lalu Bu"
"Ga deh. Kalau terus bawa-bawa Alana, bisa-bisa Arlan Bakan ketergantungan. Bi Minah buatin sufor yang saya beli kemarin aja. Itu susu kwalitas paling bagus"
Bi Minah hanya menatap Lily, mencoba meyakinkan majikannya itu lewat tatapan agar mau menerima botol susu yang kini sedang dia pegang. Tapi tatapan dan kerutan di kening Lily, sudah cukup jadi jawaban kalau wanita itu tidak setuju.
__ADS_1
Tidak punya hak untuk membantah, bi Minah balik badan. Lima menit kemudian, kembali dengan botol lain yang langsung cepat di sambar Lily.
Penuh semangat Lily menyodorkan ke mulut Arlan. Bayi itu mencercap, merasa bukan makanannya, Arlan menolak menggeleng kan kepalanya dan terus menangis. Lily kalap dan terus memaksa memasukkan karet dodot ke mulut Arlan, hingga bayi itu tercekat akan air susu yang mengaliri kerongkongannya saat menangis.
Megap-megap Arlan mencoba meraih udara untuk dia bisa bernafas disela tangisnya. Wajahnya putih pucat bahkan bayi itu menangis dengan membuka mulutnya lebar tanpa ada suara yang keluar. Arlan seperti mengalami Breath Holding Spell. Bayi kecil yang begitu menyedihkan itu menangis biru, berhenti bernafas untuk jeda waktu sesaat. Lily pun panik, tidak tahu harus berbuat apa.
"Arlan..hey..Arlan.." pekiknya panik.
Spontan, bi Minah, menarik Arlan dari gendongan Lily, menepiskan botol minuman yang masih saja coba Lily masukkan lagi.
"Sayang..sayang...sudah den.." Bi Minah memeluk Arlan mengelus punggungnya dan tak lupa meniup ubun-ubun Arlan. Kata orang tua dulu, bayi yang menangis kencang hingga berhenti nafas sejenak itu harus segera di tiup ubun-ubun nya.
Arlan sudah kembali, mulai bernafas dan masih menangis kencang. Suaranya menggelegar. Bi Minah tidak perduli, dia turun membawa Arlan, mengambil botol susu berisi ASI Alana yang memberikannya pada Arlan.
Awalnya Arlan menolak, tapi setelah tetesan ASI itu menyentuh lidahnya, Arlan mau menghisap dodot nya. Tangisnya seketika berhenti. Bi Minah terus membelai-belai kepala Arlan yang memakai topi bayi.
Lily yang melihat semuanya pun ikut pucat. Dia tanpa sadar sudah hampir membunuh Arlan. "Bi..Arlan tadi kenapa?"
Penuh minat Lily mendengarkan. Dia tidak mau kecolongan atas kebodohannya lagi.
"Lain kali, kalau anak sudah menangis hingga seperti itu, jangan paksa masukkan sesuatu ke mulutnya bu, bahaya. Bisa meninggal kalau sampai tercekat di tenggorokannya" terang bi Minah.
Tangan lembut bi Minah membaringkan Arlan di box bayi, lalu menyelimuti bayi itu sebelum keluar dari sana. Lily masih di kamar itu, melihat semua yang dilakukan bi Minah.
Otaknya berpikir cepat. Dia sadar ini akan menjadi musibah baginya kalau sampai pembantu itu buka mulut, menceritakan semua kejadian yang baru terjadi pada Arun.
"Halo sayang.." suara Santi terdengar senang di seberang sana menerima telepon dari putrinya.
"Bu, aku perlu pembantu baru"
__ADS_1
"Loh, yang lama kemana?"
"Mau aku pecat aja Bu. Soalnya.." Lily pun menceritakan semuanya pada Santi tindakan bodohnya. Santi paham akan kegelisahan yang dialami putrinya saat ini.
"Ya udah, kau jangan khawatir. Hari ini juga kau pecat pembantu sok tahu itu. Kau ga bisa ambil resiko, Ly. Sore nanti ibu akan bawa pembantu baru untukmu" ujar Santi menenangkan Lily.
"Kalau bisa yang benar-benar baru bu, yang ga tahu masalah anak ini. Jadi aku ga perlu takut rahasiaku terbongkar"
***
Lily mendapati bi Minah sedang mengupas wortel di dapur. Lily duduk di meja makan mengamati bi Minah yang bekerja.
"Sini bi. Ada yang mau aku omongin"
Bi Minah segera mematuhi perintah majikannya, duduk di bangku yang ditunjuk Lily.
"Ini.." Lily menyerahkan kepangkuan bi Minah, satu amplop coklat yang tebal.
"Ini apa Bu?"
"Ini gaji bibi bulan ini, sekaligus pesangon. Mulai hari ini, bibi berhenti ya"
"Berhenti? kenapa begitu Bu? saya salah apa?" Bi Minah mendadak histeris. Dia mengingat-ingat apa kesalahannya hingga membuat majikannya begitu marah dan berujung pemecatan?
"Bibi dengar dulu. Bibi ga salah. Tadi mertuaku nelpon, minta kami pindah ke rumahnya, jadi untuk sementara rumah ini kosong" Lily mengikuti ajaran Santi memberi alasan pada bi Minah agar wanita itu tidak curiga. Santi takut, karena pemecatan itu, bi Minah sakit hati lalu mencari Arun untuk melapor.
Tidak bisa berbuat apapun, bi Minah harus segera angkat kaki dari rumah itu. Dia bahkan sudah memohon untuk menunggu Arun pulang untuk sekedar pamit dan berterima kasih, tapi Lily menolak dan memaksa wanita itu untuk pergi saat itu juga.
Merasa posisinya sudah aman, Lily mencoba tersenyum. Diintip nya Arlan yang sedang tidur dengan pulas nya, lelah menangis membuatnya tidur nyenyak. Lily sudah paham, sebelum bi Minah pergi, Lily sudah tanya cara menyajikan ASI untuk Arlan.
__ADS_1
"Untung kau bijak Al, ninggalin stok ASI mu banyak begini" ucapnya menatap isi kulkas yang khusus buat ASI Alana.