
Acara pesta ulang tahun pernikahan tuan Dirgantara dan istri itu sangat ramai. Berlokasi di ballroom salah satu hotel mewah, pagelaran itu berlangsung meriah dihadiri oleh kolega dan juga pejabat. Pengusaha muda dan tua berkumpul di sana. Beberapa artis top, baik penyanyi atau aktris terkenal juga turut hadir.
Bagaimana tidak, menjadi tamu undangan pesta keluarga Dirgantara adalah satu kehormatan.
Ketiganya berjalan memasuki ruangan yang sudah penuh banyak orang.
"Kalian sampai juga. Loh, Alana ikut?" tanya Ema datar.
"Iya ma. Maaf ya ma, kalau aku ngajak Alana" sahut Lily.
"It's ok. Alana juga keluarga kan?"
Sikap Ema yang kini berubah baik pada Lily bukan tanpa alasan. Santi lah orang dibalik semua ini. Setelah mendapat kabar dari Lily perihal Alana, Santi langsung mengabari Ema yang disambut gembira oleh wanita itu, namun hingga saat ini Lily belum tahu kalau mertuanya sudah mengetahui perihal kehamilannya.
"Selamat ya ma, sehat dan selalu langgeng sama papa" ucap Lily mencium pipi kanan dan kiri ibu yang sudah melahirkan suaminya itu.
"Makasih sayang" sahutnya memeluk Lily erat.
"Selamat tante, bahagia selalu bersama om" giliran Alana yang mengucapkan selamat.
"Makasih. Kamu cantik sekali" puji Ema membelai wajah cantik Alana. Dan coba tebak, samar sudut bibir Arun tertarik, melengkungkan satu senyum tipis mendengar pujian mamanya pada Alana. Dia sependapat akan hal itu. Malam ini Alana sangat memukau. Bahkan Arun sulit untuk tidak tergoda kembali menoleh pada Alana.
"Selamat ma" Arun memeluk dan mencium kening ibundanya sebelum mereka di bawa ke tempat Wiga berada yang tengah berbincang dengan teman bisnisnya.
Penuh semangat Ema menarik Lily hingga terpisah dari Alana guna di perkenalkan pada teman-teman arisannya.
"Ini Lily, menantuku satu-satunya" ucapnya pada sekelompok wanita sosialita yang dapat dipastikan semua memakai pakaian, tas dan sepatu branded.
"Wah, menantu jeng cantik banget. Udah berapa anak nya?" tanya wanita paling heboh yang pernah Lily jumpai dalam hidupnya.
"aku belum punya.."
__ADS_1
"Lily lagi hamil. Makanya acara ini sekaligus untuk syukuran akan hadirnya calon pewaris keluarga Dirgantara" ucap Ema jumawa, memotong ucapan Lily. Kebanggaannya merasuki sanubarinya.
Bola mata Lily membulat. Dari mana Ema bisa tahu kalau dia saat ini sedang hamil?
Hanya satu orang yang pasti sudah menghubungi mertuanya. Tebakannya berujung pada mamanya. Dia yakin sekali, ibunya langsung mengabari Ema setelah mendapat kabar darinya tempo hari.
Lily mengutuk mulut ibunya yang sudah memberitahu mertuanya. Harusnya dia yang menyampaikan kabar itu. Lily ingin melihat wajah mertuanya saat mendengar kabar itu darinya. Menampar Ema yang sudah menghinanya selama ini melalui kabar suka cita itu. Kini harapannya menguap karena ulah ibunya.
"Wah, selamat ya Lily. Buat jeng Ema juga selamat ya, bentar lagi jadi nenek" ujar teman Ema yang lain, disambut dengan ucapan selamat dari yang lain.
Terlihat wajah sumringah Ema dengan senyum yang terus mengembang.
"Kapan-kapan ajak Lily gabung dengan kita dong jeng" kali ini ibu yang lebih kurus buka suara.
"Pasti dong. Tapi dia ga bisa dalam dekat ini. Lily harus banyak istirahat. Aku ga mau kandungannya kenapa-napa" Eman membelai perut Lily.
Disudut ruangan, Alana bisa melihat semua. Kebahagiaan palsu yang coba Lily perlihatkan pada banyak orang. Tapi biarlah kalau itu bisa buat Lily aman dalam rumah tangganya.
Perut Alana yang sejak tadi meronta minta di isi membuat gadis itu memutuskan untuk mengitari ruangan itu. Dari satu meja ke meja lain yang banyak menyajikan makanan yang semua tampak lezat, membuat Alana berulang kali menelan air liurnya.
Bahkan salah satu anak manusia di ujung sana tengah mengamati tingkah konyolnya yang tampak menggemaskan. Arun tersenyum berkali-kali melihat tingkah istri keduanya itu.
"Dasar bocah" cicitnya.
"Maaf, kenapa pak?" tanya salah seorang koleganya yang ada disampingnya, berpikir Arun sedang berbicara padanya.
"Oh..bukan apa-apa" ucapnya memasang tampang kembali serius. Sejak berpisah dari Lily dan Alana, Arun memuaskan matanya untuk memantau pergerakan Alana. Kemana pun gadis itu melangkah, Arun akan mengikutinya lewat lirikan mata.
Adapun lawan bicaranya, tidak satupun yang mereka katakan masuk dalam pikiran Arun. Mengamati gadis itu lebih menarik dari apapun juga.
Alana terus melangkah. Hingga tiba di tempat berbagai jenis salad buah, Alana kalap, memasukkan potongan buah kedalam mulutnya dua sekaligus hingga tersedak.
__ADS_1
"Minum ini" seorang pria bertubuh atletis menyodorkan segelas air padanya yang langsung disambar Alana. Menenggak habis isi gelas itu, lalu menarik nafas panjang.
"Makasih" ucapnya menganggukkan kepala.
"Kamu ga pernah makan buah sampai harus memakan sekaligus dua?" sindir pria itu sembari tertawa. Tapi nada pria itu bukan lah menghina, Alana tahu itu.
"Hehehe, buah-buahan ini terlihat sangat lezat, aku ga bisa menahan diri" jawabnya tertawa. Kalau diingat tingkahnya memang bikin malu.
"Aku Elrei.." pria itu mengulurkan tangannya. Dari tampilan yang digunakan, Alana terbaik dia adalah pengusaha, paling ga CEO muda.
"Aku Al.."
"Wah.. jangan-jangan kita ini kakak adik" sambar Elrei
"Maksudnya?" kening Alana berkerut.
"Al- El, tinggal cari Dul" ucap Elrei. keduanya pun tertawa bersama hingga beberapa orang di sekitar mereka menatap sinis pada keduanya yang merasa tidak punya etika kalangan atas.
"Ssssst.. kayaknya kita tidak disukai di sini, gimana kalau kita keluar, ngobrol di taman samping ruangan ini, pemandangan indah" ajak El.
Sebenarnya Alana setuju perihal mereka tidak diterima ditempat itu, terlebih dirinya, lagi pula dia memang merasa jenuh melihat gaya dan tingkah orang-orang kaya ini. Tapi untuk ikut menyelinap bersama pria yang baru lima belas menitan dia kenal, Alana juga kurang yakin.
"Kamu takut aku culik? di sini ramai. Lagi pula, kita hanya perlu melintasi pintu itu, dan sampai.." gumamnya menunjuk ke arah pintu samping.
"Aku pastikan kamu aman. Hampir semua orang di ruangan ini mengenalku, parahnya aku yang tidak mengenal mereka. Jadi kalau ada hal buruk terjadi padamu, cctv akan menunjukkan wajahku sebagai tersangka utama" El masih menunggu anggukan Alana.
"Aku tidak takut" sahut Alana berbohong.
Keduanya pun menyelinap diantara kerumunan orang-orang yang semakin memadati ruangan itu.
"Kenapa kamu ga bergabung dengan yang para tamu? dari penampilan mu, aku tebak, kamu salah satu dari mereka?" ucap Alana sarkas setelah meletakkan bokong nya di kursi taman.
__ADS_1
"Salah satu dari mereka? oh..aku paham. Tapi aku tidak suka pesta yang berisi keramah-tamahan palsu di wajah mereka" sahut El ikut duduk disamping Alana.
Al tersenyum, menyetujui pemikiran El. Dia juga sama, bahkan lebih parah, kalau bukan embel-embel keluarga Lily, dia tidak mungkin bisa masuk ke hotel mewah ini.