
Bagai dalam cerita dongeng, Alana yang terbuang, yang tidak diharapkan akan kelahirannya dan selalu ditindas sejak kehadirannya dimuka bumi ini, akan segera menjadi istri seorang pengusaha sukses.
Rumah yang disiapkan Arun membuat dirinya tidak bisa menahan air mata haru. "Kenapa menangis sayang? aku ada salah? atau apa kau marah karena tanpa persetujuan mu, tanpa meminta pendapatmu langsung membeli rumah ini? aku minta maaf Al" ucap Arun menghapus jejak air mata dari pipinya.
Penyampaian Arun yang begitu lembut justru membuat hati Alana semakin terharu. Arun memperlakukan begitu lembut, penuh kasih sayang yang dulu hanya dari Lily dia dapatkan.
"Kalau kau ga suka, kita bisa beli yang lain, kau yang milih. Aku beli rumah ini karena aku ingat, kau pernah bilang sangat suka rumah di residen ini, jadi aku langsung beli "
Alana terdiam, memandang wajah Arun. Cairan bening dari hidungnya yang mulai ingin turun dia hapus dengan punggung tangannya. Dia ingat, sebulan sebulan lalu dirinya pernah menunjukkan pada Arun melalui ponselnya, dia suka gaya dan juga bentuk bangunan di residen Rafles yang pada saat itu sedang booming.
Tangis Alana bersambung. Dia tidak tahu harus berkata apa untuk membalas besarnya perasaan Arun padanya. Dia menangis karena merasa di buat spesial oleh Arun sampai mengingat hal-hal kecil yang dia sampaikan.
"Al.." Arun jadi tak karuan. Merasa bersalah karena dia yakin alasan Alana menangis karena tidak diikut sertakan membeli rumah ini.
"Al..aku.." sisa kalimat Arun larut dalam ciuman dalam yang diberikan Alana. Wanita itu menciumnya dengan semua perasaan yang dia rasakan. Dia ingin calon suaminya itu mengetahui betapa dia sangat mencintai dan juga berterima kasih karena sudah dijadikan tuan putri sungguhan, bukan Cinderella yang hanya ada dibalik pintu dapur.
"Aku suka..aku sangat suka. Terimakasih bang"
Arun tersenyum, dan kali ini gilirannya membalas ciuman Alana, dalam dan begitu memuja.
"Kenapa harus beli rumah baru lagi?" tanya Alana ditengah perjalanan pulang.
"Aku ingin memulai kisah ku dengan mu, memulai kehidupan kita yang baru, tanpa bayang masa lalu. Aku ingin menikmati hari-hari mu menjadi istri dan juga ibu anak-anak ku tanpa terbayang wajah Lily yang sebelumnya menempati rumah itu"
Lagi-lagi Alana terpesona menatap Arun. Kenapa hal sedetail itu juga bisa dia pikirkan. Sejujurnya Alana pun merasakan ketidaknyamanan itu. Sejak awal ingin mengatakan isi hatinya yang tidak nyaman tinggal disana setelah menikah. Rumah dan juga kamar tidur itu pernah ditempati Arun dan Lily, pasti akan sangat tidak nyaman untuk Alana saat Arun mencumbunya disana.
"Kenapa menatapku begitu? awas, nanti jatuh cinta loh" goda Arun.
"Memang udah jatuh cinta, sangat cinta malah, gimana dong?" sambut Alana tidak mau kalah.
"Bagus berarti, karena aku inginkan semua cintamu hanya untuk ku" Arun menarik tanah. kanan Alana dan membawanya ke bibirnya untuk dikecup.
__ADS_1
"Terus, rumah yang lama mau dikemanakan?"
"Kita jual, duitnya terserah mau kau apakan"
"Bang, boleh ga aku minta hadiah pernikahan? tanya Alana malu-malu" sebenarnya dia merasa tidak enak hati, seolah jadi gadis tidak tahu diri dan terkesan materialistis, tapi hanya pada momen ini dia bisa minta keinginan nya itu.
"Tentu saja sayang. Kau mau minta apa Al?" tepat saat itu mobil masuk ke dalam halaman rumah Alana. Keduanya masih di dalam mobil, menuntaskan pembahasan yang masih gantung.
"Aku mau minta izin, mengembalikan perusahaan ayah dan ibu pada mereka" Arun diam memandang lekat wajah Alana.
Alana sadar permintaannya terlalu besar, bukan mobil atau pun rumah, ini perusahaan besar yang dia minta. Kalaupun Arun akan memukulnya, Alana merasa hal itu sudah pantas dia dapatkan.
"Kenapa kau ingin mengembalikan perusahaan itu?"
"Aku hanya kasihan bang pada kedua orang tuaku. Perusahaan itu adalah harapan sekaligus harkat martabat mereka, aku ga mau mereka sedih setelah kehilangan perusahaan itu harus kehilangan kak Lily lagi"
Arun diam. Jujur dia merasa berat harus menyetujui permintaan Alana. Bukan karena harga atau nilai dari saham di perusahaan itu, tapi itu adalah bentuk balasan atas kejahatan yang mereka lakukan selama ini pada Alana.
***
Siang ini Alana banyak menerima pesanan, baik dari sekolah yang kebetulan mengadakan rapat guru hingga memesan ratusan jenis roti hingga para suster rumah sakit disebelahnya.
Pukul 4 sore barulah Alana bisa duduk santai. Bahkan untuk makan siang pun Alana tidak punya waktu, hingga setelah toko sudah sepi, Alana ingin masuk pantry dan membuat nasi goreng.
"Mbak Al..di depan ada yang cariin, mau ketemu mbak katanya" ujar Mindo mendatanginya ke pantry.
"Siapa Min?" balas Alana masih sibuk membalik telur mata sapi nya.
"Bapak-bapak mbak"
Bergegas Alana membuka celemek nya. "Mungkin ayah" batinnya. Namun saat melintasi ruang depan, Alana tertegun melihat sosok pria yang menghadap kaca luar, memandang jalanan yang dilalui banyak kendaraan.
__ADS_1
"Maaf, anda mencari saya?" seketika pria itu berbalik dan melempar senyum. Namun walau sudah saling berhadapan begini, Alana masih tidak mengenalinya.
"Alana?" tanya pria itu sembari mengulurkan tangannya. Perlahan dengan wajah masih bingung, Alana mengangguk.
"Saya om Rudi, papinya Dita" ucap pria itu berjabat tangan dengan Alana yang kini dari wajahnya sudah tampak titik temu.
"Oh silahkan duduk om"
"Terimakasih. Maaf kalau om ganggu waktumu"
"Ga papa om. Aku juga udah ga banyak kerjaan" Alana pangling, selama kenal Dita baru satu kali Alana bertemu om Rudi, itu pun saat menjemput Dita pulang sekolah.
"Al..kamu pasti sudah tahu kan maksud kedatangan om kemari?"
Alana mengangguk lemah. Tentu saja dia tahu alasan kedatangan om Rudi, apa lagi kalau bukan mencari keberadaan putrinya yang saat ini betah bersemedi di rumahnya.
"Apa dia baik-baik saja Al?"
"Iya om.."
"Apa dia sehat? makannya cukup? apa dia tidak merindukan keluarganya?" tanya pria itu menyimpan kesedihan hatinya untuk nya sendiri.
"Dita baik om. Dia sehat dan pastinya dia sangat merindukan orang tuanya, terlebih papinya" ucap Alana mencoba membalut sedih di hari Rudi.
"Syukurlah. Tapi kenapa dia ga mau pulang?"
"Dia perlu waktu sebentar lagi om. Nanti, aku akan bicara lagi padanya, membujuknya untuk segera pulang dan bicara sama om dan tante"
Rudi hanya mengangguk. Dia yakin, kalau Dita ada bersama Alana, putrinya pasti aman dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Rudi tahu Dita ada di rumah Alana dari ibunya. Dan kemarin, Rudi mengikuti Alana pulang, dan melihat Dita setelah hampir sebulan tidak pulang.
Rudi yakin, apapun yang dikatakan Alana pada Dita, putrinya itu akan menurut.
__ADS_1
"Al..apa Dita terlibat masalah saat ini?"