Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Dita Hebat!


__ADS_3

Mobil Kai sudah berhenti didepan rumah Alana, buru-buru Alana membuka pintu mobil. "Makasih ya udah diantar. Bye bangkai dan bang Fergus" ucap Alana melambai tangannya tanpa menunggu jawaban Kaisar, Alana sudah melesat masuk ke dalam rumah.


"Ngomong lo, ga usah lo senyam-senyum disitu" bentak Kaisar menendang jok mobil tempat Ferguson.


"Bos mau dengar apa dari aku? kata selamat? ok, selamat ya bos bentar lagi jadi ayah"


Bruuug!


Satu tendangan kembali dirasakan Ferguson, namun bukan mengadu sakit, pria itu justru tertawa keras.


"Turun lo,njing! gue hajar lo!" maki Kai semakin kesal. Apa asistennya itu tidak tahu kalau saat ini kepala Kai mumet tidak karuan?


"Sabar bos. Ini ga terlalu buruk kok. Malah tepat waktu"


"Maksud lo?!" Kai mulai menyimak ucapan unfaedah Ferguson yang selama ini justru banyak benarnya.


"Belakangan ini nyonya besar uring-uringan dan terus ngomel kan minta bos segera punya anak? nah sekarang si bos udah mau punya anak, aman lah" ucapnya kembali mengulum senyum. Dia tahu apa yang saat ini sedang dipikirkan Kai. Pria itu tentu saja tidak mau terikat. Dia suka tubuh wanita tapi tidak suka terikat dengan yang namanya wanita, apalagi menikah.


Hingga usianya yang kepala tiga ini, Kai selalu berhasil melego nenek Rosi setiap dipaksa menikah dengan seorang gadis.


"Baik lah, kalau kau tidak ingin menikah, tidak masalah, asal kau hamil seorang gadis, terserah mau kau sewa atau gimana, yang penting bawa padaku penerus keluarga Barrel!" perintah nenek Rosi tajam kemarin malam.


Apa iya semudah ini? apa gadis itu mau memberikan anak itu padanya untuk diberikan pada nenek Rosi?


"Aduh, kenapa jadi ribet gini sih?! ini salah si gendut nih, disuruh cari barang malah dikasih gadis bau kencur!" geram nya memukul kok mobil.


***


Pelan-pelan Alana naik ke kamarnya, takut suara langkahnya membangunkan Arlan. Masih dianak tangga ke tiga, bi Minah menghentikan langkahnya. "Non, dikamar tamu ada non Dita"


Seketika Alana berbalik, melangkah turun. "bibi bilang apa?"

__ADS_1


"Non Dita ada dikamar tamu. Tadi kemari jam delapan. Sampai jam sepuluh tadi nungguin non Al, tapi karena belum pulang juga, masuk kamar, ngantuk katanya" terang bi Minah.


"Makasih bi" muach. Alana mencium pipi kanan bi Minah dan dengan kegembiraan seorang anak yang mendapat mainan, Alana berjingkrak naik ke atas. Didekatinya pintu kamar Dita, hanya lampu tidur yang menyala, pertanda penghuninya sudah terlelap.


"Besok aja deh, kita ngomong ya, Ta. Aku kangen kamu" ucapnya mengelus daun pintu lalu setelahnya kembali ke kamar.


***


Alana masih bergelut di ranjang dengan selimutnya kala Dita masuk kedalam selimut dan mulai memeluk Alana. Melingkarkan tangannya pada perut gadis itu.


"Geli bang..abang udah pulang?" racu nya tanpa membuka matanya. Tepat tadi malam dia tertidur begitu pulas, bermimpi tentang percintaannya dengan Arun. Mimpi itu terasa begitu nyata, dan saat hampir ******* pelukan di perutnya membuat mimpi itu semakin menjadi nyata.


"Idih, lo lagi mimpi mesum sama lakik lo ya?" ucap Dita mencubit perut Alana hingga berhasil membuat mata gadis itu terbuka lebar. Sadar akan kehadiran Dita di belakangnya, Alana segera membalikkan badannya, menghadap kearah Dita.


"Pagi sayang" ucap Alana tersenyum, membelai wajah sahabatnya yang sangat dia rindukan itu. Hal pertama yang dia lakukan adalah memanjatkan doa dalam hati pada yang Maha kuasa karena Dita baik-baik saja dan kini sudah ada dihadapannya.


"Jangan bilang lo masih mimpi. Mengira gue adalah suami lo, ya kan?" ucap Dita mencubit lembut ujung hidung Alana.


"Apaan sih, jangan buat gue melo deh pagi-pagi gini" ucap Dita menahan riak kristal bening yang mulai menganak sungai di matanya.


"Beneran, aku bahagia banget lihat kamu disini. Kamu baik kan, Ta? sehat kan ya? gimana ini?" tanya Alana berhati-hati pada kalimat terakhirnya. Tangannya menyentuh perut Dita perlahan. Dia tidak ingin menyinggung Dita, terlebih dia tidak siap kalau mendapat kenyataan bayi itu sudah tidak ada.


"Aku baik, dua juga baik" ucap Dita yang mampu membuat Alana meneteskan air matanya pagi ini.


"Nah, kan lo aneh. Kenapa nangis sih?"


"Aku sayang banget sama kamu, Ta. Makasih udah tetap baik-baik aja. Terimakasih karena sudah menjaga dia agar tetap baik-baik aja bersama mu. Aku bangga dan sayang sama mu" ucapnya terisak.


"Udah ah, jangan nangis, ntar gue jadi ikutan nangis. Gue baca di google, kalau mak nya suka nangis, anaknya jadi cengeng nanti"


Mendengar quote yang entah dari mana Dita dapatkan itu, Alana buru-buru menghapus air matanya. Dia tidak ingin Dita menangis juga, demi bayinya.

__ADS_1


"Jadi selama seminggu ini kamu kemana?" keduanya tidak lagi saling berpelukan, kini terlentang menatap langit-langit kamar Alana.


"Gue semedi di hotel. Memikirkan apa yang harus gue lakukan"


"Aku salut karena kamu ga kepikiran untuk aborsi ucap Alana memiringkan tubuhnya menatap Dita dengan tangan kanan sebagai penyangga di kepala.


"Siapa bilang, gue udah ke klinik buat buang ni bayi"


"Apa, Ta? serius? jadi dia udah ga ada?" Alana meraba perut mulut Dita yang tampak mulai membuncit.


"Ga jadi! gue kayak dapat bisikan buat pelihara nih orok. Dan lo tau, setelah hari itu gue jadi sayang sama nih janin. Entah dari mana gue dapat kekuatan untuk tetap mempertahankannya, bahkan gue makin posesif, ingin cepat melahirkan anak ini, bermain bersama menikmati kehidupan dengannya" ucap Dita, yang tanpa disadarinya diujung matanya menggenang air mata yang siap tumpah


"Dita ku hebat. Aku sayang Dita" ucap Alana dengan air mata yang sudah meleleh.


"Makasih beb. Aku kuat juga karena ada lo yang selalu support" Dita menggenggam tangan Alana erat.


"Terus rencana kamu apa selanjutnya?"


"Gue mau pulang menemui bokap nyokap gue. Gue mau bilang masalah ini. Kalau mereka terima, gue bersyukur banget, tapi kalau ga, ga papa. Gue bakal bawa anak gue jauh dari sini" ucap Dita tegas. Dia tidak akan membiarkan siapapun memisahkan nya dari anaknya. Bayi ini hanya akan jadi miliknya.


"Om dan tante pasti terima. Mereka orang tua baik yang sangat bijaksana, dan yang terpenting sangat mencintaimu" ucap Alana membelai rambut Dita.


"Semoga aja, Al" harap Dita.


"Tapi gimana kalau papanya datang, terus mau ambil anaknya?" tanya Alana yang entah dari mana melintas pertanyaan itu di benaknya Muncul begitu saja, dan langsung ditanyakan nya.


"Ga bisa. Ini cuma anak gue. Siapa pun ga berhak mengambilnya dari gue!"


***


Hai semua, aku bawa list novel asik lagi, mampir yuk

__ADS_1



__ADS_2