Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Hati ke Hati


__ADS_3

Dua Minggu di rawat di rumah sakit cukup membuat keadaan Gara membaik. Bahkan kini, pria itu sudah diperbolehkan untuk pulang dengan syarat harus kontrol Minggu depan.


"Selamat datang di rumah, Ga" ucap mama Reni yang mulai dari rumah sakit tadi menggandeng Gara.


"Iya ma" sahut Gara pendek. Matanya menatap seluruh sisi ruangan, namun orang yang di carinya tidak juga muncul.


"Kamu cariin siapa?" Gilang yang datang dari belakang mereka sembari membawa barang Gara selama dirumah sakit, ikut bertanya melihat Gara yang celingak-celinguk.


"Mmm...Na- Nadia mana, Ma?"


Mama Reni tidak serta-merta menjawab, karena dia sendiri juga bingung untuk berkata apa. Setiap hari Nadia datang ke rumah sakit, namun hanya membawa keperluan mama Reni atau pun mengantarkan makanan untuk Gilang dan Gala yang bergantian menemani mama Reni. Tidak sekalipun dari kedatangannya, Nadia berniat masuk ke dalam ruangan Gara.


"Masuk lah, Nad. Mungkin dia ingin bertemu denganmu. Mama yakin, dia masih ingin bersamamu. Itu yang mama tangkap saat membahas keinginanmu untuk bercerai. Dia tidak setuju," terang mama Reni.


"Ga usah ya, Ma. Aku sampai di sini aja. Aku cuma mau lihat keadaan mama," sahutnya sedikit berbohong. Sebenarnya tidak semua yang dikatakan Nadia itu suatu kebohongan karena selain ingin melihat mama Reni, dia juga ingin mengetahui keadaan Gara.


"Mama tidak akan menghalangi apapun keputusanmu, karena selama ini mama tahu kamu sudah tersiksa dengan pernikahan ini"


Mama Reni hanya bisa mengelus punggung Nadia tanpa mengatakan apapun lagi. Semenjak itu, Nadia datang, tapi sebatas pintu ruangan Gara. Kalau ketepatan mama Reni ada di dalam, maka dia akan dengan sabar menunggu hingga wanita itu keluar.


"Ma..." panggil Gara meminta jawaban. Dia merasa aneh, biasanya gadis itu pasti langsung menyambutnya begitu tahu dia pulang hari ini.


"Nadia sudah pulang ke rumah orang tuanya"


"Maksudnya? om Irfan lagi sakit atau apa, Ma? kenapa Nadia pulang ke rumah orang tanya?" perasaan Gara tidak enak.


"Mama kan sudah bilang tempo hari kalau Nadia minta pisah dari kamu. Jadi dia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya"


"Tapi aku kan udah bilang ma, aku ga mau pisah dengannya"


"Kamu jangan egois, selama ini kamu tidak pernah memahami dirinya, selalu tidak menghargai bahkan bersikap kasar padanya, lalu atas dasar apa kamu memintanya untuk bertahan?" Gilang si abang tertua ikut menyumbang argumen.


Gara diam seribu bahasa. Ditampar oleh kenyataan yang diurai oleh abang nya. Benar, perilakunya selama ini terhadap Nadia sangat tidak patut. Harusnya dia gembira, mengetahui gadis itu akhirnya mau berpisah dengannya, tapi kenapa hatinya berkata lain?


"Aku ke kamar dulu, Ma" Gara beranjak menolak mamanya yang menawarkan diri untuk membantu memapahnya ke atas.

__ADS_1


Lama Gara berpikir. Akal dan batinnya berperang. Dia merasa tersinggung karena Nadia pergi saat dia masih di rumah sakit. Sebagai istri, harusnya dia kan harus menunggui Gara.


Tapi jauh di lubuk hatinya, keberadaan Nadia yang jauh dari sisinya saat ini justru mengusik ketenangannya. Terlepas dari kenyataan bahwa Nadia adalah sahabat kecilnya, kini wanita itu ternyata sudah memiliki tempat tersendiri dalam hatinya.


***


Gara melewatkan makan malamnya, walau mama Reni sudah memaksa untuk turun, atau makan malamnya diantar ke kamar, tetapi Gara tetap menolak. Dengan alasan ingin istirahat, Gara mengunci diri di kamar.


Pukul delapan malam, saat semua anggota keluarga tengah menikmati acara lawak di tv, sitkom mengenai kantor polisi yang di datangi para artis sebagai tamu yang melapor, Gara sudah turun bersiap untuk pergi.


"Mau kemana?" tanya Mana Reni menegakkan tubuhnya, menatap Gara yang sudah rapi bersiap untuk keluar.


"Keluar sebentar"


"Tapi kamu baru sembuh, Ga. Mama ga izin kamu pergi" tahan mama Reni sampai berdiri.


"Sebentar aja, Ma. Lagi pula aku ga naik motor, kok"


"Sama aja. Pokok nya mama ga izin!"


"Tapi, Lang..."


"Biarin, Ma" Gilang menahan mama Reni yang berniat mengejar Gara yang sudah keluar.


"Kamu itu gimana sih? kalau sampai adik kamu itu kecelakaan lagi gimana?"


"Dia bukan ke bar, Ma. Dia mau ke rumah Nadia"


Mendengar ucapan Gilang barulah mama Reni diam. Kerutan di keningnya tanda tidak senang tadi, berubah jadi cerah.


***


Lima belas menit masih tidak cukup bagi Gara untuk memantapkan hatinya untuk masuk menemui Nadia. Padahal seharusnya tidak terlalu susah untuk mengembalikan keadaan. Tinggal mengajak Nadia pulang, Gara yakin gadis itu tidak akan menolak.


"Putri, ada pencuri berdiri di depan rumah. Tepat di depan pagar kita," ucap Irfan, yang berdiri diambang pintu kamar Nadia yang sudah menyuruhnya masuk.

__ADS_1


"Pencuri, Pa? serius? kok papa tenang gitu? telepon polisi, Pa" Nadia sudah bergegas turun dari tempat tidurnya. Wajahnya terlihat pucat, ketakutan kalau si pencuri menyergap masuk.


Dirumah itu hanya ada mereka bertiga, Nadia, papanya dan seorang pelayan paruh baya yang sudah lama mengabdi di keluarga mereka.


Lagian, Nadia heran pencuri zaman sekarang terlalu nekat. Ini masih pukul sembilan malam, tapi sudah berani beraksi.


"Papa takut, ah. Kamu aja, usir dia. Kayak orang bego berdiri di depan pagar" ada senyum terselubung di bibir Irfan, yang membuat Nadia curiga. Kalau benar pencuri harusnya panik, kan? kenapa ayahnya malah santai?


Dengan keberanian yang dipaksakan dan juga rasa penasaran yang besar, Nadia mengintip dari gorden. Ada seseorang yang hanya berdiri diam di sana mengamati rumah mereka.


Namun sosok pencuri yang dikatakan papanya itu seperti pria yang dia kenal. Sekali lagi Nadia memperhatikan dengan lebih seksama, dan...itu Gara, suaminya.


Deg!


Jantungnya berdetak sangat cepat. Untuk apa pria itu datang malam-malam begini ke rumahnya?


"Apa dia mau menalak aku, ya? karena udah pergi ke rumah papa tanpa izin darinya" cicitnya masih deg-degan.


Seolah sudah didukung alam, Gara harus masuk menemui Nadia. Gerimis turun dan tidak lama berubah jadi derai hujan yang deras.


Ada dorongan dalam hati Nadia untuk segera membuka pintu dan menyuruh pria itu masuk.


"Ngapain di sana? kamu baru sembuh, udah kena hujan. Ayo, masuk"


Gara hanya menatap mata Nadia. Seolah itu cukup sebagai tongkat baginya untuk berjalan.


"Kamu kasih masuk pencurinya?" Irfan sudah ada di tengah ruang tamu, mengamati Gara yang sudah basah kuyup, lalu ke arah putrinya.


"Papa, apa-apaan sih. Kenapa Gara dibilang pencuri?" Nadia mendekat dan berbisik pelan pada papanya.


"Kan emang pencuri dia, pencuri hatimu..." tawa Irfan menggema, lalu masuk ke dalam. Irfan tahu, mereka butuh waktu berdua, berbicara dari hati ke hati. Lagi pula dia tidak mau mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Nanti kalau mereka meminta pendapat, baru lah sebagai orang tua, Irfan akan berada di tengah-tengah mereka, memberikan saran dan nasehat.


"Ganti baju dulu, nanti masuk angin," ucap Nadia menyodorkan tangannya ke hadapan Gara. Seperti anak kecil, Gara menurut, tanpa bicara menerima uluran tangan gadis itu dan menggenggamnya erat.


Hangat...tangan yang ingin dia genggam selamanya. Tapi apakah masih ada waktu? atau dia sudah terlambat?

__ADS_1


__ADS_2