Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 13


__ADS_3

Bermula dari ide Dita, yang ingin mengelilingi tempat wisata di Bali dengan sepeda motor, membuat Arlan berpasangan dengan Sania.


Kasa tidak terima, tapi Dita yang melihat gelagat Ayra ingin berbonceng dengan Kasa, membuat pria itu tidak punya pilihan lain selain mengalah.


Keempat motor itu konvoi, Arlan dan Sania paling belakang. Diamnya Arlan membuat Sania berpikir kalau pria itu tidak suka jika berboncengan dengannya. Terlebih, siang tadi, dia mendengar kalau Agatha ingin menyusul ke Bali bersama teman-temannya. Hari sudah gelap, pasti Agatha udah nungguin kedatangan Arlan.


"Maaf ya, kamu jadi harus bawa aku."


Kebersamaan mereka memang diminta Alana. Sania sudah memilih untuk tinggal di vila saja bareng Bi Minah, tapi, Alana memaksa Sania untuk ikut bersenang-senang dengan mereka.


"Kalau kamu mau ketemuan sama Agatha, aku gak papa pulang sendiri. Nanti tinggal naik ojek ke vila," lanjut Sania semakin tidak enak. Niat keluarga Dirgantara konvoi untuk bersenang-senang menikmati pemandangan sekitar, tapi kalau diam seribu bahasa di perjalanan begini, mana bisa dinikmati.


"Lu bisa diam gak, sih? Gak usah bahas orang lain dan stop untuk minta maaf," balas Arlan. Sejak kenal dengan Sania, dia perhatikan gadis itu suka sekali meminta maaf padanya.


"Maaf."


"Nah, kan, baru juga gue bilang."


Sepi. Hanya terdengar suara motor. Sania melihat ke depan, rombong yang lainnya sudah tidak nampak.


"Mereka cepat banget, gak kelihatan," cicit Sania membunuh sepi. Sania sebenarnya gadis ceria, suka cerita, tapi kadang kurang percaya diri. Keadaannya yang miskin membuatnya minder.


"Lu takut sama gue?"


"Kok, ngomong gitu, sih? Siapa yang takut?"


"Benar?"


"Iya."


Arlan menghentikan motornya di bibir pantai yang mereka lalui. Pemandangan sangat indah di saat senja seperti ini. Pantulan cahaya matahari yang berangsur-angsur menghilang seolah masuk ke dalam air membuat pemandangan semakin indah.

__ADS_1


Sania menahan lidahnya untuk tidak bertanya kenapa mereka berhenti. Arlan turun dari motor berjalan ke depan, dan menyalakan sebatang rokok yang diambil dari saku jeansnya.


Sementara Sania, siluet tubuh Arlan yang saat ini berdiri membelakanginya begitu mengagumkan. Begitu tinggi dan kekar. Dia ciptakan sempurna oleh Tuhan.


Tidak pernah sedetikpun Sania berani bermimpi untuk bisa memiliki kekasih seperti Arlan. Dia cukup tahu diri. Namun, memuja dan mengagumi seseorang dalam benaknya, bukanlah suatu kejahatan yang bisa merugikan Arlan, maka biarlah itu menjadi haknya.


Pria itu memutar tubuhnya. Sania tidak berani mendekat, masih berdiri dengan sedikit menyandarkan pinggulnya pada jok motor.


"Lu udah jadian sama Kasa?"


"Hah? Kasa? Jadian?" Sania malah gelagapan. Sedikit tidak menyangka Arlan akan tiba-tiba memorbadir nya dengan pertanyaan absurd.


Arlan menaikkan satu alisnya. Kalau sudah begitu, artinya pria itu menunggu jawaban. Sania begitu cepat memahami karakteristik Arlan.


"Gak. Gak ada jadian, kok."


"Lu suka sama dia?" lanjut Arlan, kali ini sembari melangkah mendekat. Berdiri tepat di depan Sania dan saling menatap.


"Bagus! Kalau lu sampe suka sama dia, gue juga gak akan tinggal diam!" jawab Arlan dengan suara begitu halus, bahkan seperti bisikan lembut di depan bibir Arlan. Sania terhipnotis, hingga tidak menjauhkan wajahnya kala Arlan mendekat. Jemari kanan Arlan yang baru saja melempar puntung rokok, menyentuh dagu Sania, lalu mendaratkan satu cium lembut di permukaan bibir gadis itu.


Tubuh Sania menegang, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam, kaku, menerima setiap perlakuan Arlan. Tidak adanya reaksi membuat pria itu semakin merapat hingga dadanya bersentuhan dengan dada Sania.


Ciuman itu semakin dalam. Arlan memutar kepalanya agar Sania yang begitu polos mampu meraup napas dari hidungnya. Bibir yang manis, dan begitu menggoda. Arlan ingin menenggelamkan dirinya, bermanja di sana demi menikmati rasa yang ditawarkan Sania.


Arlan harus melepas ciuman itu dan membiarkan Sania dengan leluasa bernapas. Sejak tadi dia sudah menahan lama, karena serangan Arlan yang begitu tiba-tiba membuat sarafnya tidak bekerja dengan baik.


Sania menunduk. Sedikitpun tidak berani mengangkat wajahnya untuk sekedar melihat Arlan, apalagi sampai beratnya mengapa pria itu menciumnya? Semua begitu cepat terjadi.


Ciuman pertama sudah direnggut oleh pria yang selalu bermain dalam khayalnya. Betapa cinta yang bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Karena perasaan yang dia rasakan, Sania tidak marah atau bahkan menampar Arlan seperti di film-film ketika dicium paksa. Hatinya justru gembira.


Dia sadar, saat ini sudah menjatuhkan harga dirinya dengan membiarkan Arlan yang berstatus kekasih Agatha menciumnya. Tapi biarlah, persetan dengan semua itu. Sania sadar, ini hanya akan terjadi sekali. Mungkin saat tadi minum di cafe bersama Kasa dan ayah mereka, Arlan minum sedikit yang beralkohol, hingga dia sedang oleng saat ini. Kalau tidak, mana mungkin dia mau mencium Sania.

__ADS_1


"Kita pulang," bisik Arlan menyusuri rahang tegas Sania, yang membuat wajahnya tampak begitu anggun di balik sisi polosnya.


Sania masih membatu. Hatinya masih terlalu berdebar.


"Sini," Arlan menarik tangan Sania, lalu mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya. "Kalau lu gak suka, boleh buang," ucapnya menyerahkan sebuah kotak pada Sania.


"Ini...."


"Buat lu. Ayok, naik," sambar Arlan.


Sepanjang jalan Sania terus mengigit bibirnya pelan. Sesekali jemarinya menyentuh permukaan bibirnya, seolah masih bisa merasakan panasnya bibir Arlan yang menempel tadi.


Pipinya merona membayangkan apa yang harus aja mereka lakukan. Dia bak Cinderella, yang baru saja mendapatkan perhatian dari sang pangeran, dan menyadari kalau nanti setibanya di vila semua juga akan berakhir.


Tangan Sania yang ditarik Arlan dan melingkarkan di pinggangnya, menarik lamunan panjang Sania. Tanpa kata, hanya lewat gerakan, Arlan meminta Sania memeluknya.


"Oh, semesta, betapa semua tampak begitu indah. Kenapa aku jadi ingin menangis? Apakah terlalu serakah untuk meminta semua ini jangan berakhir?" batin Sania sedih. Air matanya turun. Tanpa sadar, dorongan untuk menempelkan pipinya di punggung Arlan muncul.


Punggung lebar dan hangat, membuatnya sangat nyaman dan juga aman.


***


"Kalian ini dari mana saja, sih? Kenapa baru sampai?" sambut Alana yang sejak tadi sedikit gelisah mengenai keberadaan keduanya. Pasalnya, tidak satupun dari keduanya yang mengangkat telpon saat dihubungi.


"Ban motor bocor, Ma, terpaksa kita cari bengkel terdekat dulu." Jawab Arlan mengalir begitu saja, setelahnya dia masuk ke dalam tanpa menunggu Sania.


"Sayang, kamu pulang juga, kok lama, sih?" Tidak cukup disambut oleh Alana, kepulangannya juga ditungguin oleh Agatha. Arlan tidak terlalu terkejut, dia sudah dikirimi pesan oleh gadis itu yang mengatakan sudah ada di vila mereka, menunggunya pulang.


"Kamu kenapa kemari? Ini liburan keluarga," sambar Arlan cuek.


"Gak papa, biar rame, Ar." Alana yang menjawab dari arah belakang, memasuki rumah dengan Sania yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Tuh, dengar kata calon mertuaku," jawab Agatha semringah, lalu mendekatkan wajahnya pada Arlan. Hal berikutnya yang buat semua orang tercengang, terlebih Sania adalah ketika kalimat itu ditutup dengan mendaratkan satu ciuman di bibir Arlan.


__ADS_2