
Semua manusia yang hidup di dunia ini pasti memilih harapan. Seberat apapun keadaan, sejauh apapun jatuh ke dasar, selagi masih hidup, maka selalu ada harapan.
Keajaiban terjadi hari itu. Setelah Sania mengatakan kebenaran di telinga Arlan, pria itu menunjukkan respon. Jemari Arlan bergerak lalu denyut jantungnya mulai berpacu.
Sania tidak mengerti yang terjadi, tapi kata hatinya mengatakan kalau dia harus segera memanggil dokter.
Dia berlari ke luar ruangan dengan kakinya yang masih gemetar dan tubuhnya yang lemas. Dia masih bisa merasakan gerakan halus jemari Arlan di perutnya.
"Dok... Dokter... Dokteeeeer...," teriaknya masih bergetar. Perawat yang ada di lantai itu segera berlari menghampirinya. Mereka pikir terjadi hal buruk pada diri Sania.
"Ada apa, Mbak?" tanya salah satu dari perawat memberi perhatian. Wajah Sania yang sudah basah oleh air mata, membuat mereka khawatir akan keadaan Sania.
"Panggil dokter, Arlan... Arlan sudah siuman!"
Dua orang perawat segera melakukan panggilan pada dokter yang menangani Arlan. Ada lima dokter dengan keahlian yang berbeda menangani Arlan.
Kasa dan Ayra yang sudah lebih dulu naik, segera menghampiri Sania yang masih shock.
"Ada apa, San, kamu baik-baik aja?" Kasa berlari menghampiri Sania. Sama dengan perawat tadi, Kasa juga khawatir pada gadis itu.
"Kasaaaaa."
Sania menghambur dalam pelukan Kasa. Menangis di dada bidang pria itu. Ayra yang melihat hal itu hanya bisa membisu memperhatikan mereka. Dia tahu kalau keduanya adalah teman, tidak lebih, tapi kenapa hatinya terganggu dengan pelukan mereka? Genggaman tangan Ayra pada plastik belanjaan semakin erat.
"Ada apa, San?"
Sania menunjuk ruangan Arlan sambil menyebut-nyebut nama pria itu dalam tangisnya.
__ADS_1
Wajah Kasa pucat seketika. Ini gak mungkin. "Arlan... Apa dia meninggal?" Kasa melerai pelukan mereka, menggoncang tubuh Sania agar segera menjawabnya. Demi semesta, jangan sampai terjadi!
"Bukan. Arlan sadar... Dia merespon ucapanku, Kasa," pekik Sania tertawa dan menangis, kedua kegiatan itu dia lakukan bersama, mencoba mempertahankan kewarasannya.
Tubuh Kasa lunglai. Rohnya kembali ke tubuhnya. Kasa memapah Sania kembali masuk ke dalam. Ayra yang seperti terlupakan ikut masuk ke dalam bersamaan dengan datangannya para dokter.
***
Semua orang menyambut gembira kabar baik, Arlan sudah siuman. Bahkan setelah setelah diperiksa dokter, kondisi Arlan meningkat dan semua sarafnya dapat merespon setiap gerakan dan ucapan dari dokter, meskipun dia belum mengatakan apapun sejak tadi.
Arlan siuman, lalu setelah diperiksa, kembali jantung pingsan. Alana pikir, anaknya itu akan kembali pada kondisi awal, pingsan berhari-hari lamanya lagi, ternyata tidak.
Pria itu kembali sadar setelah satu jam kemudian. Dokter meminta pada keluarga, untuk tidak memaksa Arlan berkomunikasi.
"Tunggu saja sampai dia siap untuk bicara. Kondisinya masih lemah, meski semua organ dan saraf tubuh menunjukkan respon yang baik."
Demi kesembuhan Arlan, apapun yang dihimbau para dokter akan mereka lakukan. Keesokan harinya, saat Arlan kembali sadar dari tidur panjangnya, dia menatap satu persatu orang yang ada di sisi ranjangnya.
Tangis Alana pecah. Doanya dijamah yang kuasa, anaknya bangun dan bisa mengenalinya. "Arlan.... Kamu kembali, Sayang," pekiknya mendekat dan roboh keperluan Arlan.
Tangan Arlan yang tidak diinfus mengusap punggung ibunya. Mencoba menenangkan demi kenyamanan bersama. Di saat itulah dia melihat seraut wajah sendu menatap ke arahnya. Jangan tanya bagaimana caranya menatap Arlan, karena bola mata gadis itu sudah digenangi air mata.
Sejak Arlan dinyatakan sadar dan mulai membaik, Sania bertanya-tanya dalam hatinya, apakah ini ada kaitannya saat dia berbisik di telinganya? Apakah Arlan sudah tahu soal bayi dalam kandungannya?
Tangannya terulur ke arah Sania, tapi tidak mengatakan apapun. Alana sadar kalau anaknya ingin Sania mendekat. Dia sudah menebak kalau diantara keduanya punya hubungan meski selama ini tidak satupun dari keduanya buka suara. Cara Sania menangisi, menjaga Arlan sepanjang waktu sudah memberi jawaban bagi Alana.
Wanita itu mundur, dan menuntun Sania maju. Baru menyentuh ujung jari Arlan, tangis gadis itu pecah. Kasa melihat hal itu hanya bisa menunduk dan mundur paling belakang. Tanpa berkata apapun, Kasa keluar dari ruangan itu. Hanya Ayra yang melihat kepergian pria itu, dan semakin membuatnya meragu atas kejujuran Kasa.
__ADS_1
Acara tangis-tangisan usai. Hanya akan ada kebahagiaan menjelang. Setidaknya itu yang diharapkan Alana untuk keluarga kecilnya. Terlebih karena keadaan Arlan yang cepat membaik.
"Ini keajaiban, Bu. Melihat kondisi Arlan dua hari lalu, seperti mustahil dia bisa cepat tersadar, bahkan tidak ada kerusakan jaringan saraf di kepalanya. Seolah tiba-tiba ada sesuatu yang membuatnya ingin segera siuman," terang dokter Richard memberikan hasil ronsen Arlan.
"Mungkin benar dokter, ada yang menggerakkan hati dan pikirannya untuk mau kembali pada kami, tepat di saat kami sudah kehilangan keyakinan akan dirinya bisa sembuh." Arun yang memberi tanggapan. Alana terlalu lemah saat itu. Kondisi hati dari begitu sedih, tiba-tiba berubah drastis ke bahagian, ternyata tidak baik bagi jantung. Terbukti, keluar dari ruang dokter, Alana pingsan dan harus bed rest.
***
Seminggu berlalu, Arlan sudah diperbolehkan pulang, dengan catatan tidak boleh terlalu lelah dan melakukan banyak kegiatan. Dia harus menjaga kesehatan fisik dan pikirannya.
"Tapi sudah tidak ada waktu, Pa, Ma. Ujian masuk perguruan tinggi sudah usai," ujar Arlan memandang ke luar jendela.
Impiannya kuliah di universitas negeri, gagal sudah. Angannya, dia ingin kuliah bersama dengan Sania. Mereka berdua sama-sama memutuskan untuk ke Jogja, tapi harapan tinggal harapan. Dia kesal pada Sania, karena ikut melewatkan ujian itu hingga tidak jadi masuk kampus impian.
"Kamu jangan marah sama Sania. Dia fokus jaga dan ngurus kamu, makanya gak kepikiran soal ujian itu," bela Alana. Mungkin Arlan tidak tahu karena dia pingsan, tapi Sania benar-benar selalu berada di sisinya.
Sore itu Arlan memang mengamuk, mendapati kenyataan Sania juga melewatkan ujiannya. Mereka bertengkar dan pada akhirnya, gadis itu pamit pulang.
Arlan sudah meminta sopir mengantar, tapi Sania menolak, dan memilih untuk pulang sendiri.
"Begini saja, Papa akan daftarkan dia di kampus swasta terbagus di sini, tapi kamu harus kuliah ke Jerman."
Arlan mendengus. Papanya mulai lagi. Impian ayahnya yang ditanamkan dalam dirinya mulai sejak kelas satu SMP mulai lagi dijejalkan padanya.
Dia sudah mengatakan tidak ingin mengambil jurusan ekonomi, melainkan teknik. Dunianya adalah tentang kemajuan zaman, menciptakan robot dan juga benda hebat lain yang berguna demi kemajuan manusia dalam kehidupannya.
Namun, Arun tetap pada keputusannya. Dia ingin putra satu-satunya itu fokus kuliah di bidang ekonomi dan akuntansi, agar bisa menjalankan perusahaan Mega raksasa milik mereka.
__ADS_1
Sudah jadi suratan takdir Arlan karena terlahir menjadi anak laki-laki satu-satunya.
"Kalau kamu mau terima tawaran Papa, maka Papa akan memberikan beasiswa pada Sania. Sampai dia mengambil strata tiga pun Papa akan tanggungjawabi!"