
"Maksud lo gimana sih?" tanya Wisnu maju. Dita sudah duduk di bangku tepat dibelakang Gara. Dia kurang paham maksud ucapan Gara yang dia ucapkan sangat pelan.
"Bisakah kita bahas nanti? yang terpenting Alana baik-baik saja" mohon Garam Dia baru saja kembali dari rasa takutnya terjadi hal buruk pada Alana tadi.
"Ga, gue mau tahu semuanya. Lo cerita ke kita. Alana memang pacar lo tapi dia juga teman kita Ga" pekik Dita meremas kuncir rambutnya.
Helaan nafas Gara terdengar berat. Dia bisa apa selain mejelaskan pada mereka. Dia kenal Dita, gadis itu tidak akan berhenti sampai mendapat penjelasan.
Penuh rasa sakit dan kecewa yang sudah berminggu-minggu coba Gara lupakan, harus dipugar kembali sembari menjelaskan duduk persoalannya.
Dimulai dari Lily yang mengalami kecelakaan hingga keluarga besarnya ingin Alana berkorban untuk menyelamatkan rumah tangganya bersama Arun.
"Dasar keluarga Dajjal!!" umpat Dita geram. "Dia manusia ya, punya hati dan perasaan. Gila memang emak tirinya, pen gue racun tau ga!! Alana juga kenapa mau sih dijadikan sapi perahan gitu"
"Benar Ta. Lo juga harus ngerti posisi Alana. Dia gadis baik, yang mengalami kesialan dengan hidup bersama orang-orang yang toxic" imbuh Fajar ikut kesal.
Wisnu yang lebih tenang, hanya diam mendengarkan tanpa komentar. Dia coba berdiri diposisi Alana. Tidak bisa menyalahkan gadis itu sepihak. Dia terjepit, dia tidak punya pilihan selain mengorbankan diri.
Tapi Wisnu lebih salut pada Gara. Yang masih mau menerima Alana dengan segala yang kini terjadi pada Alana.
"Gue salut sama lo, tetap bertahan di sisi Alana walau lo tahu yang sebenarnya"
"Lo salah Nu. Gue juga tadinya sempat berpikiran untuk mundur. Tapi gue ga bisa. Cinta gue sama Alana jauh lebih besar"
Tanpa diduganya, Dita datang menghampiri Gara, memeluk Gara dengan berurai air mata. "Thanks lo masih stand di sisi Alana"
Percakapan mereka terhenti saat suara langkah kaki terdengar mendekat. Setelah berlari Lily menyerbu mereka, dibelakangnya tampak Arun yang juga malah lebih khawatir.
__ADS_1
"Gimana Alana Ga?" sambar Lily menarik tangan Gara.
"Dia masih belum siuman kak. Tapi kata dokter, dia baik-baik aja"
Tanpa Tedeng alih-alih, satu pukulan sudah mendarat di rahang Gara. Semua terpekik melihat serangan tiba-tiba itu.
"Hun..." pekik Lily yang terkejut.
Gara dan Arun kini saling tatap penuh tajam. Tetesan darah segar mengalir dari sudut bibir Gara hasil buah karya Arun.
"Cuih..segini aja lo?" pancing Gara bersiap memberi bogem mentah nya sebagai balasan pada Arun.
"Sini lo, gue mampusin. Berani lo membahayakan Alana" umpat Arun membuka dasinya. Dia buru-buru terbang dari meeting nya saat mendapat kabar dari Lily mengenai keadaan Alana. Roh nya seakan terbang dari tubuhnya. Takut yang sangat besar menghantui dirinya. Arun belum pernah merasa setakut ini sebelumnya.
Membayangkan terjadi hal buruk pada Alana membuatnya tercekat hingga sulit bernafas. Belum lagi Lily menjelaskan kepergian Alana dengan Gara hingga berbuntut panjang seperti ini.
Arun menghapus tetasan darah disudut bibirnya, meludah ke lantai dan kembali menerjang. Lily sudah berteriak hingga terduduk lemah yang segera ditolong Dita.
"Kalian tolong hentikan.." pekik Lily semakin lemas. Jantungnya tidak kuat melihat pertengkaran keduanya. Saling adu jotos hingga siapa pun yang ingin melerai tidak berhasil bahkan fajar yang melerai ikut kena tonjok oleh Arun.
"Kok gue sih bang yang di tonjok" pekiknya kesal. Menghapus pipinya yang terasa sakit.
"Makanya lo jangan di situ" sambar Arun tidak ingin dipisah. Luapan emosinya selama ini yang dia simpan untuk Gara kini akan dia lampiaskan melalui pertarungan ini.
"Gue mampusin lo kali ini" salak Arun masih penuh emosi.
"Lo pikir gue takut sama pengecut kayak lo"
__ADS_1
"Lo bilang apa? mati lo ditangan gue!"
"Lo emang pengecut..lepasin gue Nu" pinta Gara yang tubuhnya ditahan Wisnu, dan Fajar menahan tubuh Arun.
"Lo emang pria pengecut. Lo tega ngorbanin Alana asal bini lo senang. Lo renggut masa depan Alana, demi keutuhan rumah tangga lo. Sebagai pria lo ga bisa bersikap bijaksana, dasar diotak lo cuma ada n*fsu b*ngsat" pekik Gara memuntahkan lavanya.
Terbayang isak tangis Alana sewaktu bercerita kemarin. Gara juga ingin melampiaskan dendamnya pada Arun karena sudah merebut kesucian Alana.
Sekuat tenaga Wisnu menahan begitu pun dengan Fajar, tapi keduanya kalah kuat dengan dua singa ngamuk yang kini tengah bernafsu ingin saling bunuh.
Kembali lagi adu pukul itu terjadi. Tampak tidak imbang. Arun yang jago bela diri dan lebih tinggi dari Gara dengan mudah melumpuhkan Gara. Hingga Fajar harus memanggil satpam rumah sakit untuk melerai keduanya.
Oleh pihak keamanan rumah sakit, kedua musuh bebuyutan itu digelandang ke ruangan keamanan di rumah sakit itu.
Bahkan pihak rumah sakit mengusir mereka dengan tidak hormat. Melarang mereka untuk datang kembali ke rumah sakit itu karena sudah menyebabkan kegaduhan.
"Ly, cepat urus administrasi Alana, bawa dia pulang. Aku tunggu di depan rumah sakit sialan ini" salak Arun memukul stir mobilnya.
Perih di bibirnya sesekali menghantam, hingga terdengar suara ringisan. Tapi apa yang dikatakan Gara tadi sedikit banyak membebaninya. Gara benar, dia bersalah karena sudah merusak masa depan Alana. Seharusnya dia bisa menolak ide gila Lily. Satu hal yang disadarinya kini, Lily tidak sebanyak itu mencintainya, kalau iya, dia tidak akan sudi membagi dirinya pada orang lain, sekalipun dengan alasan ingin memiliki anak.
Dia sudah berkali-kali menegaskan pada Lily waktu itu, akan melindungi dan terus bersama nya walau Ema dan Wiga atau siapapun yang berniat memisahkan mereka.
Kini buah dari keputusan Lily itu membuat Arun berada dalam lingkaran cinta segitiga ini. Bahkan cinta yang dulu dia rasakan pada Lily perlahan mulai terkikis dan digantikan Alana di hatinya. Salahkah Arun? satu sisi salah, karena tidak bisa menjaga hatinya hanya untuk istri pertama nya. Tapi siapa yang berhak membolak-balik hati manusia? perasaan cintanya pada Alana tulus bukan nafsu semata, buktinya hingga detik ini dia tidak pernah menuntut haknya sebagai suami pada Alana. Dia tidak akan menyentuh Alana hingga nanti wanita itu mau menerima.
Benar, dia harus bersikap. Dia tidak ingin jadi pria yang mendua hati. "Aku harus bicara dengan Lily. Mungkin perceraian jalan terbaik.."
***Hai aku datang, mau promo lagi nih, siapa tahu suka. Nunggu aku up, kuy mampir di sini,jamin suka. makasih 🙏😘
__ADS_1