Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Duka mendalam


__ADS_3

Satu hari menjelang hari bahagia Alana, menyisahkan kekhawatiran di hati Alana. Bagaimana tidak, besok dirinya akan menikah dengan Gara, semua persiapan sudah rampung. Mulai dari gedung dan juga pakaian Alana sudah ada siap dan digantung di kamarnya.


Hanya saja yang membuat hatinya khawatir, kemarin pagi, Alana mendapat kabar kalau keadaan papa Galuh, semakin memburuk hingga mereka harus terbang ke Singapura. Gara mengabari Alana lewat telepon karena sudah tidak punya waktu untuk mendatangi gadis itu.


"Aku ikut ya, aku ingin menemanimu saat sedih seperti ini" ucap Alana benar-benar sedih dan mengkhawatirkan kesehatan papa Galuh.


"Ga usah yang. Nanti kamu kecapean, ingat lusa kita mau nikah. Paling juga besok aku udah balik" ucap Gara. Alana hanya bisa melepas dengan doa.


Tapi hingga hari ini, tidak ada kabar dari Gara. Besok mereka akan menikah, tapi dimana Gara saat ini pun Alana tidak tahu. Ketiga sahabatnya juga sudah coba menghubungi pria tampan itu, tapi tetap tidak ada yang berhasil.


Alana hampir putus asa. Walau tidak ingin memikirkan hal buruk terjadi pada Gara hingga tidak memberinya kabar, tetap saja Alana takut.


"Lo tenang ya, Gara pasti baik-baik aja. Mungkin lagi sibuk ngurus bokap nya. Lagian Singapura Jakarta ga sampe dua jam kok, jadi lo ga usah khawatir. Pokoknya besok siang gue jemput lo ya, acara masih jam 3 kan besok sore, masih ada waktu" ucap Dita menenangkan Alana.


Diminta untuk istirahat, Alana justru tidak bisa tidur. Arlan sudah diangkut Lily ke rumah mereka, agar Alana bisa mempersiapkan dirinya menyambut hari bahagianya.


Tapi hingga pukul sebelas besok harinya Gara tidak juga datang menemuinya atau pun memberi kabar. Alana semakin deg-degan, rasa takut akan kembali menyerangnya tapi tetap berusaha untuk tenang. Matanya tidak lepas sedetikpun mengawasi perputaran jarum dinding.


Saat bel rumah bunyi pukul 1siang, Alana akhirnya terlepas dari sesak kekhawatirannya. Bisa bernafas dengan lega. Seseorang itu ternyata Elrei yang entah tahu dari mana alamat rumahnya.


"El.." suara terkejut Alana yang berupa desiran masih bisa didengar El di telinganya.


"Siang Al..maaf mengejutkanmu karena kedatanganku yang tiba-tiba"


"Ga papa El. Ada apa kamu ke sini?" tanya Alana heran. Dalam hatinya menerka apakah terjadi hal buruk, tapi pikiran itu di tepis, saat El mengatakan niat kedatangannya.


"Aku kemari untuk menjemputmu. Mama Rebi memintaku datang menjemputmu" ucap pria berkaca mata hitam itu. El begitu tampan dengan kemeja biru dongkernya.


"Oh..iya sebentar, aku ambil semua perlengkapan ku dulu" ucap Alana berbalik, namun tangan El menahan lengannya.

__ADS_1


"Ga usah Al. Di sana aja. Kamu gini aja ya"


Kening Alana berkerut. Apa sebenarnya terjadi? kenapa dia harus pergi dengan celana jeans hitam dan kaos oblong putihnya ini?


Desakan El untuk segera bergegas membuat Alana tidak punya pilihan lain. Mungkin saja mama Reni sudah menyiapkan keperluannya di sana.


Walau baru sekali melihat gedung yang mereka sewa untuk acara pernikahan mereka, tapi Alana ingat betul alamatnya, dan jalan yang dituju mereka kali ini jauh dari lokasi gedung. Lalu El akan membawanya kemana?


Tubuh Alana bergidik, El yang membalap jalanan agar mereka cepat sampai karena ternyata ingin membawanya ke pemakaman. Langkah Alana melambat, sembari melihat di arah kejauhan kumpulan orang yang menangis saling bersahutan.


"El.." Alana berhenti. Dia takut. Kakinya berhenti tanpa dikomandoi. Elrei paham akan ketakutan yang menyerang Alana, dia mengulurkan tangannya agar bisa menjadi tumpuan gadis itu berjalan.


Dari batu nisan itu Alana bisa membawa dengan jelas nama pemiliknya. Galuh Pratama.


Mama Reni duduk dengan keranjang bunga di pangkuannya. Tepat disebelahnya ada Gara, kekasih hatinya yang memeluk erat photo papa Galuh. Ada juga Gilang dan Gala serta saudara sepupu dan kerabat serta handai taulan yang ikut menangis mengantar papa Galuh hingga ke pusaranya.


Tapi langkahnya kembali terhenti. Matanya menangkap satu sosok wanita yang mendekat ke arah Gara dan menyentuh pundaknya mer*mas pundak Gara mencoba menenangkan tangis pria itu.


Seksama Alana memperhatikan wanita itu. Dia sama sekali tidak mengenalnya. Beberapa sepupu wanita Gara pernah dia lihat saat acara arisan di rumah Gara atau pun di rumah Tante mama nya El, tapi gadis itu tidak pernah ada di sana.


Melihat kedekatan keduanya Alana tebak, mungkin sepupunya yang satu ini tinggal diluar negeri, dari penampilannya Alana tebak.


Acara penguburan itu berakhir dan satu persatu orang meninggalkan tempat itu. Tinggallah beberapa keluarga inti. Alana tidak ingin ragu lagi, mendekat ke arah mama Reni untuk pertama kalinya.


"Mama.." ucap Alana berupa bisikan.


Mama Reni menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. "Al..kamu sudah datang sayang.." Alana merentangkan tangannya menerima sambutan pelukan mama Reni. Wanita yang matanya sudah tampak sembab itu mencoba untuk tetap tersenyum pada Alana.


"Maafin aku ma baru bisa datang sekarang" ucapnya menyampaikan rasa dukanya.

__ADS_1


"Makasih sayang..ga papa. Papa Galuh sudah tenang, tidak lagi merasakan sakit"


Alana melirik sekilas pada Gara, ingin mendekati pria yang tampak sangat terpuruk atas kepergian papa Galuh itu, tapi mam Reni memegang tangan Alana hingga gadis itu kembali menaruh perhatian nya pada mama Reni.


"Kamu temani mama ya. Ikut satu mobil sama mama. Kita ke rumah" pinta mama Reni yang langsung diangguk Alana setuju.


Berharap bisa satu mobil dengan Gara, nyatanya Alana hanya bersama mama Reni dan juga Gala dan seorang supir.


Semua diam menutup mulut masing-masing. Mama Reni malah merebahkan kepalanya di pundak Alana dan memejamkan matanya. Alana hanya bisa mengusap pergelangan tangan mama Reni, mencoba memijit lembut agar mama Reni lebih rileks.


Mobil yang membawa Alana dan mama Reni sudah tiba lebih dulu di rumah. Alana memapah mama Reni untuk masuk.


"Mama mau ke kamar istirahat?" tanya Alana.


"Ga sayang. Di sofa aja. Kita perlu bicara"


"Apa semua sudah tiba? adikmu sudah sampai La?" tanya mama Reni pada Gala yang baru masuk ke dalam rumah.


"Belum ma, sebentar lagi mungkin. Aku ganti baju dulu ya ma"


"Aku ke dapur buatkan tante teh hangat ya" ucap Alana menuju dapur.


Tepat saat keluar dari dapur, Alana sudah mendapati Gara memasuki ruang keluarga bersama Gilang dan juga gadis yang tadi selalu ada di sisi Gara selama di pemakaman.


"Makasih Al" ucap mama Reni menerima minuman hangat itu. "Duduklah nak.."


"Ga.." ucap Alana menatap Gara. Reaksi pria itu mengundang kerut di dahi Alana. Pria itu melihatnya sekilas dengan mata sendunya lalu menunduk kembali.


Ada apa ini ya Tuhan? kenapa tatapan Gara seolah menyembunyikan hal lain selain duka kehilangan papanya?

__ADS_1


__ADS_2