Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 7


__ADS_3

"Ar, tunggu, gue mau ngomong!" seru seorang gadis dengan nametag Agatha. Langkahnya semakin cepat mengejar Arlan yang sudah hampir tiba di parkiran.


Masih banyak anak-anak di lapangan yang berjejal ingin segera pulang. Bagaimana pun waktu yang paling ditunggu para siswa adalah jam pulang sekolah.


"Arlan! Kira harus bicara. Lu gak bisa mengabaikan gue kayak gini!" kembali Agatha teriak. Sania yang juga berada di parkiran ikut mendongak. Pertama dia menoleh pada Arlan, lalu kemudian pada Agatha.


"Ayo naik," ajak Kasa tersenyum lembut pada Sania. Dia senang sekali karena bujukannya membuahkan hasil. Sania mau diantar.


Kaki Sania masih enggan bergerak, dia ingin tahu ada apa antara Arlan dan Agatha. Dia kenal gadis itu, ketua geng cewek-cewek cantik dan juga tajir satu sekolah.


"Gak usah diperhatikan. Mereka itu sepasang kekasih, tapi lagi ribut. Lebih baik kita cabut, dari pada keseret."


Ada rasa kecewa di hati Sania. Kenyataan bahwa Arlan sudah punya pacar membuatnya sedih. Tapi seharusnya hal ini sudah bisa diprediksi, kan? Arlan sangat tampan, pasti banyak lah cewek-cewek yang mendekat.


"Apa lu lihat-lihat? Gak pernah lihat pasangan lagi ribut? Sana pergi!" hardik Agatha memandang sini pada Sania.


"Woi, santai dong, jangan bentak gebetan gue. Noh, urus pacar lu!" sambar Kasa tertawa mengejek. "Ayo, Sania."


Tak berdaya, Sania hanya menurut, naik ke motor sport Kasa.


Hari ini moodnya jadi buruk. Harusnya dia masuk kerja di toko roti, tapi entah mengapa dia ingin bolos. Soal Arlan dan gadis bernama Agatha, masih saja menyita pikirannya.


"Dimana kamu tinggal?"


"Aku? Di Seroja. Tapi lagi gak ingin pulang. Aku turun di sini aja. Mau ke taman sebentar," jawab Sania tanpa gairah. Kasa menoleh ke arah taman yang tengah mereka lewati.


"Mau ngapain siang-siang begini di taman?"


"Lihat bunga."


"Bunga?" Pertanyaan Kasa lebih seperti gumaman. Bukan berhenti, dia justru melajukan motornya ke jalan raya.


"Kita mau kemana?"

__ADS_1


"Lihat bunga!"


Sania memilih diam, mengunci rapat bibirnya. Terserah lah kemana Kasa akan membawanya pergi.


Kurang dari satu jam, motor Kasa memasuki sebuah ruang dengan taman yang indah, luas dan banyak ditanami jenis bunga-bunga.


"Ini rumah siapa, Angkasa? Kenapa kita ke sini?"


"Udah, kita masuk dulu. Oh iya," Kasa berhenti, lalu berbalik menghadap Sania yang tadi berjalan menunduk mengikuti jejak langkahnya.


"Panggil aku Kasa. Hanya orang-orang luar yang memanggil namaku lengkap, kamu adalah orang dalam, jadi panggil Kasa aja!"


"I-iya."


"Ini rumahku. Tadi kamu bilang mau lihat bunga, nih, di taman Mama ku banyak bunga."


Kasa tersenyum melihat kepolosan dan kegugupan yang muncul di wajah Sania. Penuh keberanian, dia menggandeng tangan Sania, mengajak masuk gadis itu.


"Hai, ada siapa ini?" Seorang wanita berusia 40 tahun keluar menyambutnya.


"Ma, ini pacar aku, Sania," tukas Kasa seenak jidatnya. Sania yang terkejut bahkan sampai membuka mulutnya.


"Pacar? Tumben kamu bawa kemari? Biasanya cewek-cewek kamu yang dulu gak pernah diajak ke rumah."


"Ini lain, Ma. Yang ini spesial," jawab Kasa melirik Sania. Gadis itu tertunduk malu. Belum lepas rasa terkejutnya dengan dibawa kemari, Kasa justru memperkenalkan dirinya pada sang ibu.


"Benarkah? Mama ikut senang. Siapa nama kamu, Cantik?" Dita menyalami Sania. Dita coba memperhatikan, tapi tidak secara mendetail, takut kalau Sania jadi merasa tersinggung.


"Sania, Tante." Jawab Sania sangat singkat, selain grogi, dia juga bingung harus bersikap apa. Mau protes dan menyatakan pada Dita kalau dia dan Kasa tidak pacaran, takut dibilang sok cantik, sok iyes, hingga menolak Kasa. Padahal mereka memang tidak pacaran.


"Nama yang bagus. Belum pada makan, kan? Kita makan bareng, ya?"


Sepertinya sudah menjadi gen di keluarga Kasa suka memaksa. Tadi juga Kasa memaksanya ikut pulang bareng dia. Sekarang Mamanya menawarkan untuk makan siang bersama, tanpa mendengar penolakan atau setuju, sudah langsung memutuskan sepihak.

__ADS_1


Namun, keramahan Dita, dan pembawaan wanita itu yang supel dan juga banyak bicara membuat Sania menjadi betah dan merasa diterima.


"Kamu tinggal dimana?" tanya Dita bukan sekedar basa-basi. Nanti kalau dia mencari Kasa, bisa menemui Sania di rumahnya.


"Jalan Seroja, Tante."


"Oh, orang tua kamu, kerja atau punya perusahaan..." Dita diam sesaat. Dia menimbang kalau pertanyaannya itu sepertinya kurang sopan, tadi wajar saja, karena anak-anak yang bersekolah di Bhinneka pasti anak orang berada yang notabene memiliki perusahaan sendiri.


"Saya yatim piatu, Tante. Tinggal sendiri di Seroja." Tanpa malu dan gentar, Sania menjelaskan asal usulnya. Kasa yang sudah mendengar dari awal tidak terlalu terkejut, hingga sampai pada bagian cerita orang tua Sania yang bekerja dan setelah mencoba mendirikan perusahaan sendiri, dipecah dan dikhianati oleh teman mereka sendiri, dan perusahaan itu bangkrut, hati Kasa ngenes sekali, dan jujur sedikit terkejut.


Sania bukan hanya miskin, tapi juga tidak mampu.


"Jadi, kamu bisa masuk Bhineka, karena jalur undangan?" tebak Dita. Dia merasa menyesal telah menanyakan banyak pekerjaan pribadi.


"Iya, Tante. Kalau bukan karena undangan, mana mungkin aku bisa bersekolah di sekolah yang elit."


Keduanya terlibat obrolan seru yang bisa menyatukan mereka. Bahkan saking serunya bercerita, Dita mengajak Sania pindah tempat gosip ke dekat lapangan kolam renang. Sementara Kasa memilih menyingkir, kembali ke kamarnya dan membiarkan kedua wanita itu ngobrol sampai puas.


"Kasihan banget kamu. Yang sabar, ya, San," ucap Dita yang menangis dengan haru. Dia tidak menyangka dalam tubuh kecil Sania bisa menjadi Sania yang pemberani dan pantang menyerah.


"Gak papa, Tante. Kenyataannya aku memang tidak punya orang tua lagi." Sania hanya bisa tersenyum getir. Dia rindu pada ayah ibunya.


"Tante senang, kamu yang menjadi pacar Kasa. Dia anak kesayangan Tante. Satu-satunya putra keluarga ini." Ucapan Dita sangat tulus. Hanya beberapa jam bicara dengan Sania, dia bisa menilai Sania gadis yang baik, dan tulus.


"Maaf, Tante, tapi aku dan Kasa tidak pacaran, hanya teman sekelas saja."


"Begitu? Yah, Tante sedih, nih. Kenapa gak pacaran aja sama Kasa? Apa Kasa gak baik? Walau dia kadang bersikap dingin dan cuek, tapi dia pria yang baik. Bukan karena anak Tante, makanya Tante puji, tapi ini memang kenyataannya."


Dita berharap kalau Sania mau mempertimbangkan putranya. Banyak yang suka pada Kasa, bahkan putri-putri teman arisannya, tapi Kasa tidak pernah serius dengan para gadis yang mendekatinya. Lain hal dengan Sania. Dita bisa lihat, gadis itu sungguh spesial di hati Kasa.


"Bukan begitu, Tante, tapi aku memang belum mau punya pacar. Mau fokus sekolah biar bisa dapat beasiswa lagi buat kuliah."


"Gini aja, kalau kamu mau jadi pacar Kasa, Tante akan biayai kuliahmu sampai selesai."

__ADS_1


__ADS_2