
Liburan usai, menciptakan kenangan indah bagi Sania tapi juga meninggalkan kesedihan baginya. Sania tidak pernah tahu kenapa Arlan bersikap lebih dingin padanya sejak malam itu. Sisa hari yang mereka lalui terasa hampa bagi Sania, meski diajak pergi mengunjungi hampir semua daerah di Bali itu.
Alasannya hanya satu, keesokan harinya, Arlan tiba-tiba saja mengatakan niatnya pulang sore itu. Alana tentu tidak melewatkan interogasinya, tapi Arlan tidak banyak bicara, niatnya tidak terbendung, hari itu, setelah dua hari menikmati liburannya, dia kembali pulang.
Hanya memandangi liontin di kalung pemberian Arlan yang bisa dilakukannya saat rindu pada pria itu.
Entah apa yang terjadi antara Agatha dan Arlan, keesokan harinya, pria itu tampak cuek. Jangankan untuk mengajak bicara Sania, melihat gadis itu saja dia tidak sudi.
"Terima kasih, Tante, Om, sudah mengajak ku liburan," kata Sania dengan setulus hati. Dia begitu bersyukur dipertemukan dengan orang baik seperti keluarga Dirgantara.
"Beneran kamu gak mau ke rumah dulu? Kita makan malam bersama, nanti Arlan yang antar," tawar Alana, tapi dengan cepat ditolak Sania.
Pertimbangannya saat ini, lebih baik mereka tidak usah bertemu dulu. Siapa tahu Arlan memang sudah tidak ingin melihatnya lagi. Kalau dipikirkan, Agatha ribut dengan Arlan juga karena dirinya.
Hingga mobil Alphard itu menghilang, Sania belum masuk ke kosannya. Kenapa kebahagiaan menyapanya hanya sebentar? Apakah di kehidupan kali ini, dia memang tidak berhak mendapatkan kebahagiaan?
Helaan napas Sania memutuskan lamunan, dia menyeret langkahnya kembali menghadapi kenyataan hidup. Cinderella harus kembali menjadi upik abu.
***
Dua hari berlalu, tidak ada yang terjadi. Di dalam kelas, Arlan jelas terlihat menghindarinya. Padahal dulu juga mereka tidak pernah tegur sapa, tapi kali ini kenapa Sania merasa sangat sedih.
"Kita ke kantin, yuk?" ajak Kasa mendatangi meja Sania. Arlan tidak masuk pelajaran pertama dan kedua. Dia ingin baru tahu, tapi bingung harus bertanya pada siapa.
"Kamu gak sama Arlan dan teman-teman mu yang lain?" tanya Sania tidak semangat. Dia kenapa jadi lebih begini. Arlan yang tidak masuk sekolah, dia ikutan malas belajar sejak pagi tadi.
__ADS_1
"Mereka cabut. Barusan Tomi nge-chat ngajak gue ikut mereka."
"Sorry, Kasa, soal itu..."
"Gak usah lu bahas. Gue gak mau dengar. Hak lu buat menolak, tapi hak gue juga kalau tetap ingin berjuang sampai lu mau," potong Kasa.
Sudut bibirnya ketarik ke atas, merasa lucu, malu dan sedikit tidak percaya. Baru kali pertama Kasa mendapat tamparan di pipi dari seorang gadis yang dia incar.
Malam itu, keberanian Kasa mencium Sania dibalas sebuah tamparan di pipi. Sania menangis, hingga meluluhkan hati dan sikap egois Kasa. Dia sempat tercengang, hingga menyadari kalau tidak semua gadis itu bisa diperlakukan sama. Dia menarik kepala Sania ke dadanya, membiarkan tangis Sania pecah di sana. Kasa tidak menghiburnya, justru membiarkan gadis itu tetap menangis hingga puas.
Hanya Sania yang tahu, saat serangan Kasa itu, justru dia merasa marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga dirinya dan tanpa disadari, tiba-tiba suara hatinya memanggil nama Arlan untuk menolongnya.
"Kasa, jangan membuang waktu mu. Aku hanya bisa menawarkan persahabatan, gak lebih," ucap Sania lembut. Entah Kasa serius atau tidak atas pernyataan cintanya, tapi Sania berterima kasih karena pria itu masih memperlakukannya dengan baik, tidak membencinya karena sudah menolak pria tampan itu.
"Sudahlah, gak usah dibahas. Sekarang kita ke kantin, temani gue makan!"
"Ada apa lu semua, ngeliatin kayak begitu? Pengen gue hajar?" Bentak Kasa. Dia juga merasa kalau saat ini yang jadi bahan perbincangan adalah Sania, tapi masalah apa?
Walau jarang masuk sekolah, tapi sejauh ini perkembangan berita yang dia tahu tidak ada yang menyentil Sania. Gadis itu hanya murid pindahan yang pintar, tapi tidak jadi gadis favorit.
"Sorry, Kasa. Kita shock aja, kenapa pihak sekolah mau menerima anak koruptor di sekolah ini? Ini sekolah elit, anak-anak dari keluarga baik-baik saja yang diterima!" Celo, teman Agatha maju ke tengah, berdiri di depan Kasa dan Sania.
"Maksud lu apa?" tantang Kasa tidak mengerti, tapi Sania yang sudah paham duduk persoalannya, hanya bisa menunduk dengan meremas sisi roknya. Hal yang dia takuti kembali terjadi.
"Nih, lu baca aja sendiri. Lagian ngapain sih, lu dekat-dekat si cupu ini? Ngejatuhin martabat lu aja." Celoteh Celo tidak disimak lagi oleh Kasa, fokusnya sedang tersita membaca isi dari selebaran yang diberikan wanita itu dan sudah banyak tersebar di kantin sekolah. Bertebaran di atas meja dan lantai kantin.
__ADS_1
Agatha maju, berdiri di samping Celo. "Harusnya lu tahu diri, lu sadar siapa diri lu. Kalau lu gak banyak gaya, pecicilan di lingkungan keluarga Dirgantara, dan coba mendekati Arlan, semua rahasia lu gak akan terbongkar kayak gini!" Agatha dengan rahang dan dagu meninggi, memandang rendah pada Sania yang tampak semakin gemetar.
Gemuruh di hatinya memaksa untuk pergi saja dari sana, tapi kenapa kakinya justru terpaku ke lantai, sulit digerakkan. Dia hanya bisa menunduk. Memohon pada matanya untuk tidak menangis saat melihat wajah sang ayah di balik jeruji tercetak dalam kertas selebaran.
Kasa meremas kertas yang sudah dia baca lalu melempar ke wajah Celo.
"Dasar iblis! Tega sekali kalian berbuat begini. Puas lu sekarang?" Kasa membentak dengan suara lantang. Saat itu, kekuatan Sania kembali, dan dia berhasil pergi dari sana.
Langkahnya menuju kelas terasa sangat lambat meski dia setengah berlari. Kenapa jarak kelas terasa sangat jauh. Pasang mata yang dia lalui juga menatapnya. Ada yang jijik, ada yang benci, ada juga yang merasa kasihan padanya.
Sania memilih duduk sebentar, menenangkan hatinya. "Jangan nangis, please Sania, jangan menangis. Kamu udah sejauh ini, jangan menangis!" cicitnya menguatkan hatinya tapi tidak bisa. Tetesan air matanya jatuh, tapi buru-buru dia hapus.
Setelah dipikirannya, dia berdiri menuju ruang guru. Dia butuh waktu, dia bukan wonder woman yang bisa terus mengembangkan senyum, menggambarkan dia baik-baik saja tapi nyatanya terluka.
Saat bel bunyi dan Kasa kembali ke kelas, gadis itu sudah tidak ada lagi. Dia izin pulang, karena pasti tidak akan sanggup bertahan hari ini. Guru yang mendengar kejadian di kantin siang ini, segera mengizinkannya pulang.
***
"Sial, gue di skors!" umpat Kasa setelah tiba di basecamp.
Tomi, Dito dan Gilang sedang main Playstation, sementara Arlan tidur di sofa. Keempatnya cabut tidak masuk hari ini.
"Kenapa lu?" Tomi meletakkan stiknya, memperhatikan wajah Kasa yang sebelah kanan sedikit merah.
"Gue ribut sama tim Gahar, dia belain cewek-cewek gila itu. setelahnya bisa ditebak, guru BP kasih skors!"
__ADS_1
"Masalahnya apa?" tanya Gilang dan Dito berbarengan.
"Mereka mempermalukan Sania, menyebarkan berita tentang ayahnya yang masuk penjara karena kasus korupsi! Sialnya, Sania izin pulang dari sekolah sebelum sempat gue temui!"