
Pria malang itu sebenarnya ingin menenggelamkan dirinya dalam lautan alkohol yang sanggup dia minum malam itu, tapi dering hape nya yang sejak tadi tidak mau diam, terpaksa dijawab.
"Kau dimana Ga? udah jam berapa ini? pulang sekarang. Kau bukan anak-anak lagi, kau sudah punya istri, punya tanggung jawab" cerocos mama Reni lewat telepon.
"Iya ma. Nanti aku pulang" sahut Gara malas, sekali lagi menenggak sisa minuman di gelasnya.
"Mama bilang pulang sekarang, atau kau dapat kabar mama terkapar di rumah sakit"
Ancaman itu nyatanya berhasil. Dengan berat hati Gara pulang. Menemui orang yang paling tidak ingin dia temui.
Muak! mungkin itu kata yang tepat dia sematkan pada gadis yang kini berdiri tegak di tengah ruangan kamar tidur mereka. Kalau dari awal dia sudah benci pada Nadia karena bagi Gara dia lah penyebab dirinya dan Alana tidak jadi menikah, ditambah lagi berkat aduan gadis itu pada mama Reni tentang masalah rumah tangga mereka hingga mama Reni memutuskan untuk menarik Gara pulang ke tanah air, dan meneruskan kuliahnya di sini saja.
"Kau sudah pulang, mas?" tanya Nadia meremat jemarinya sendiri. Dia selalu gugup kalau sudah berhadapan dengan Gara, terlebih alasan pria itu pulang dalam keadaan mabuk saat ini adalah bentuk pelariannya dari rasa kesal mengingat hari ini Alana, sang mantan menikah.
Gara sama sekali tidak berminat untuk membalas pertanyaan Nadia. Baginya gadis itu transparan. Dianggapnya hanya patung di kamar itu. Masih merasa kesal, Gara menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk, memejamkan mata dan coba memekakkan telinga dari suara Nadia.
"Mas..udah makan belum? aku siapkan makanan ya" Nadia mendekat dan duduk di sisi ranjang. Ada ragu terselip, ingin membuka sepatu Gara, tapi dia juga takut pria itu akan marah dan justru menendangnya karena sudah berani menyentuhnya.
"Atau ganti baju dulu ma.."
"Bisa diam ga lo? atau apa perlu mulut lo gue sumpel dengan kain? berisik tau ga? ga usah sok perhatian sama gue, lo wanita licik. Hidup gue hancur karena lo, bisa ga sih lo menghilang dari hidup gue?!" bentak Gara ditengah rasa pusing yang menghantam kepalanya. Efek minuman itu sudah mulai beraksi sejak tadi ditambah lagi emosi yang memuncak membuatnya tidak bisa mengontrol amarahnya.
Tersentak oleh gelegar amarah Gara, Nadia hampir saja terjungkal kebelakang. "Kau kenapa? apa salahku hingga harus kau perlakukan seperti ini?" suara Nadia nyaris tidak terdengar, tidak lama suara tangisnya lah yang memecah kesunyian.
***
Sebelum menutup mata, Alana melirik jam di layar ponselnya, pukul 04.15. Ini sudah tiga kalinya dia memulai kembali untuk tidur. Ini semua Arun punya pasal. Seperti pria yang baru pertama kali bermain cinta, Arun begitu ketagihan akan tubuh Alana hingga sepanjang waktu terjaga. Dia hanya memberikan waktu 2 hingga 3 jam bagi istrinya untuk mengistirahatkan tubuh dan juga matanya.
Awal dibangunin, Alana akan menolak, bahkan hingga mendorong tubuh Arun kala pria itu mulai menciumi leher jenjangnya. Namun itu hanya tiga kali bantahan, selanjutnya justru Alana yang menjadi menggila menginginkan Arun berlama-lama di dalam tubuhnya.
__ADS_1
Arun menarik tubuh Alana yang baru saja dari kamar mandi untuk membersihkan diri. Memeluk gadis itu dan mulai membelai punggungnya. "Tidur lah sayang"
"Tapi jangan dibangunin lagi bang. Udah tiga kali loh" rengek nya disela rasa ngantuk yang tidak bisa dijinakkan lagi.
"Habis kau enak banget Al, bikin nagih" bisik Arun ditelinga Alana, gadis itu masih sempat melengkungkan senyum sebelum jatuh dalam tidurnya.
Pagi menjelang, mata Arun justru terbuka saat miliknya yang kembali menegang tersundul benda kenyal yang sejak tadi gelisah bergerak. Satu senyum bahagia tersungging di bibirnya. Waktu singkat yang dimanfaatkannya untuk mengistirahatkan tubuhnya, justru membawanya ke alam mimpi.
Dia bersama Alana dan juga Arlan berada di sebuah taman. Dirinya tengah memeluk Alana sembari melihat Arlan yang berlari di sekitar mereka, berkejaran dengan seorang gadis kecil yang wajahnya mirip dengan Arlan. Mimpi itu terasa nyata. Tepat saat membuka mata, gadis kecil yang sudah sah dia nikahi kemarin masih tertidur pulas dalam dekapannya.
"Ini nyata. Kau sudah menjadi istriku, milikku. Terima kasih sayang, kau sudah menerimaku menjadi pasangan hidupmu. Izinkan aku mencintaimu seumur hidupku, aku janji, hanya kebahagiaan lah yang akan ku berikan padamu" bisik Arun mengecup puncak kepala Alana.
Namun gerakan itu justru membuat gadis itu bergerak gelisah, kesal karena tidurnya sudah diganggu.
"Sial.. kenapa hanya dengan melihat wajah merengek kesal mu aja sudah membuat ku naik sih Al.." gumamnya dalam hati. Namun Arun tetap menahan diri, tidak ingin mengganggu istrinya lagi. Dia tahu satu malam ini Alana hanya punya waktu sedikit untuk terlelap.
Oh.. sial. Arun memang sudah berniat untuk menahan diri, tapi telapak tangan Alana yang menempel di dada bidangnya sudah mampu membakar kulit Arun hingga lapisan terbawah.
Des*han halus meluncur dari bibir Alana yang justru membuat Arun semakin menggila mencumbu istrinya. Jejak lidah panas Arun bahkan sudah turun ke dada Alana yang puncaknya bahkan masih terasa nyeri semalam suntuk dijadikan mainan oleh Arun. Pria itu tahu kalau pusat sensitif Alana ada di bagian itu.
"Bang.." desah*n itu kembali terdengar ditelinga Arun. Mata Alana kini sudah terbuka sempurna. Perlahan disingkapnya sedikit selimut yang tampak menyembul. Arun ada diatasnya, bak anak kecil dengan bermain-main dengan put*ng pay*daranya, yang paling membuat Alana memejamkan mata, Arun sesekali mengh*sap gemas lalu menj*lati bagian dadanya.
Alana sudah terbakar sempurna, bagian intinya dibawah sana sudah basah. Permainan tak sampai disitu, pagi ini Arun ini menyiksa Alana dengan kenikmatan hingga membuat gadis itu menjadi liar. Perlahan tangan Arun turun melewati perut rata gadis itu, tidak lama diikuti oleh jejak bibirnya. Alana bahkan harus menggigit bibir bawahnya menahan sensasi luar biasa yang di hadiahkan pria itu pagi ini. Kepala Arun terus saja mengikuti jejak tangannya tadi, terus turun bermain di perut, bahkan mata Alana yang tadi terpejam kini membulat saat pria itu memainkan lidahnya di pusarnya.
"Oh, ini pasti sudah gila. Aku akan meledak, ya Tuhan.. gelombang apa lagi ini" gumamnya dalam hati.
Dia sudah tidak sanggup membendung, kesadarannya kembali saat pria itu sudah semakin turun menciumi permukaan miliknya.
"Aaach..bang" tubuh Alana melengkung menahan kepala Arun.
__ADS_1
"Abang mau ngapain?" desahnya dengan nafas terengah-engah.
"Aku ingin menciumnya"
"Jangan, aku malu"
"Apa yang harus kau malu kan sayang? aku suamimu, aku milikmu dan kau milikku. Kita satu"
"Aku tahu, tapi jangan sekarang aku belum siap untuk lebih ke sana" ucap Alana merona merah. Arun menurut, dia tidak ingin memaksa gadis itu, hingga Arun memutuskan untuk naik lagi ke atas, mencium bibir Alana dalam dan panjang. Kembali gairah Alana tersulut, dia ingin menebus ras malunya tadi. Mungkin Arun ingin melakukan hal liar dalam percintaan mereka, dan untuk menembus kekurangannya, Alana ingin memberikan kepuasan pada Arun.
Penuh perasaan Alana membalas ciuman itu, dan dengan mudah membalikkan posisi hingga dirinya berada di atas perut Arun.
Terpesona, itu yang saat ini Arun alami, melihat wajah Alana dari bawah sana dengan wajah sensual dan juga rambut panjang yang menjuntai jatuh hingga menutupi dadanya.
"Apa kau keberatan aku di atas sini?" bisik nya membungkukkan punggungnya.
"Tidak sama sekali" balas Arun tersengal-sengal. Alana bisa membuat dirinya kehilangan akal dengan kejutan yang dilakukan gadis itu.
Alana melepas senyuman, dengan masih menatap mata Arun, tangan Alana bergerak ke belakang, mencari tombak sakti milik Arun yang sudah menegang. Tanpa ragu dan tanpa melepas tatapan, Alana dengan senyum malu-malunya mulai mengelus kulit sensitif itu ke atas ke bawah hingga mata Arun terpejam. Perlahan Alana mundur, mengangkat sedikit tubuhnya lalu masuk lah bagian sensitif Alana.
Arun akan meledak, liukkan tubuh Alana di atas sana bak pemain rodeo membuat Arun menggila. Keduanya meracu tidak jelas, hingga sesuatu dalam diri mengancam akan meledak.
"Sayang.."bisik Arun membalikkan posisi. Mulai memompa dengan ritme yang membuat Alana merasakan nikmat yang luar biasa.
"Bang...aku"
"Kita barengan Al.." ucap Arun di susul dengan semakin cepat ritme tubuh Arun bergerak di atas sana sampai
"Bang.."
__ADS_1
"Iya sayang" kedua bersahutan menyambut ledakan dahsyat yang mereka rasakan untuk keempat kalinya.