
Seumur hidup Kai, baru kali ini dia bisa mati kutu, terdiam seribu bahasa. Duduk disisi gadis yang sangat dia sukai harusnya bisa membuatnya gembira dan berkata cinta, tapi tidak malam itu.
Dalam diam, kedua anak manusia itu duduk di teras, sembari menunggu Perguson datang menjemputnya Kai pulang malam itu.
Rudi bersikeras meminta Kai pulang malam itu juga, walau Dita sudah memohon agar Kau diijinkan untuk tinggal malam itu.
"Papi, biarin Kai nginap disini malam ini aja. Kasihan, Pi. Dia tadi udah kena hujan, masa harus pulang," sungut Dita tidak terima keputusan Rudi yang mengusir Kai pulang.
"Ga bisa. Papi ga izinkan. Apa-apaan dia mau nginap di rumah, sementara papi aja belum mau terima dia!"
"Tapi, Pi..."
"Ta, dengarkan apa kata papi mu, Sayang. Lagi pula, tidak baik Kai tidur di sini sementara kalian belum menikah. Tante harap kamu tidak tersinggung, Kai," ucap Mita lembut. Tentu saja Kai tidak tersinggung. Malah dia setuju dengan saran itu. Dia perlu mempersiapkan segalanya agar bisa segera melamar Dita.
Lagi pula, kalau dia menginap, dia tidak akan bisa tidur, matanya akan terus terbuka dan jantung berdebar kencang. Sementara dia perlu mengistirahatkan tubuhnya.
"Ta, masuk aja. Bentar lagi Perguson sampai kok. Udah malam banget ini" Tak ada jawaban dari Dita, gadis itu hanya diam menatap rinai hujan.
"Ta, kamu masih marah?"
"Jangan kira aku udah maafin kau ya, aku masih marah atas apa yang kau lakukan, dasar brengsek!"
Kai tahu kemana arah pembicaraan Dita, dia pun tidak membantah, nyatanya dia memang salah. Jadi sebesar apapun marah dan rasa kesal gadis itu, Kai akan terima. Mungkin ini saatnya mereka saling terbuka. Kai tidak ingin mereka membangun rumah tangga dengan menyusahkan kisah masa lalu yang masih menyimpan luka dan rasa benci.
__ADS_1
"Aku bersumpah, kalau malam itu aku tidak mengetahui kalau kau bukan gadis yang disiapkan menemani ku"
Dita masih diam. Hatinya kini malah memanas mendengar ucapan Kai. Dasar pria brengsek, penjahat kelamin!
"Malam itu aku ke kamar yang biasa ku tempati, dan sudah mendapatimu di sana. Aku pikir kau memang sedang menungguku. Jadi kalau dipikir-pikir, aku ga salah"
"Apa? ga salah?" nada suara Dita semakin naik satu oktaf. "Jadi ga ngerasa salah?"
"Salah. Maaf ya Ta, aku juga waktu itu ga tahu kalau kau masih p*rawan"
"Emang ga terasa pas masuk?" alis Dita naik, kini semakin kesal melihat Kai yang berbicara seolah tanpa beban.
"Justru karena itu, baru nyadar pas udah menerobos masuk. Setelah malam itu, aku benar-benar merasa sangat bersalah. Jujur, awalnya terlintas di pikiran untuk cuek, toh aku sudah meninggalkan uang di atas nakas, aku juga tidak mengetahui identitas mu, lagi pula setelah itu kita tidak pernah bertemu. Harusnya aku merasa lega, tapi nyatanya rasa bersalah itu terus saja mengikuti. Aku pernah mencari mu club itu lagi, tepatnya tiga hari setelah malam itu, tapi aku tidak menemukan mu" ada jeda yang di buat Kai sebelum kembali merangkai kata. Dia ingat, bagaimana rasa bersalah itu membawanya sempat terpikir untuk bertanggungjawab.
Diliriknya sesaat wajah gadis itu, yang masih menunggu kelanjutan pengakuan dosa Kai yang menyiksa hatinya.
Dita diam. Mendengar keterangan Kai membawanya ke masa itu. Apa yang disampaikan pria itu benar. Saat itu justru Dita mengatakan tidak mengenal dan menganggapnya orang aneh.
Saat terbangun di hotel kala itu, samar-samar Dita juga mengingat kalau dirinya juga menerima perlakuan lembut Kai. Pikiran kotornya itu membuatnya bergidik, jantungnya pun berdetak cepat. Dita menundukkan wajah nya guna menyembunyikan rona di pipinya.
"Ta, aku bersumpah kalau aku tahu saat itu kamu mengandung anakku, pasti langsung mengajak mu menikah"
"Bohong!" Dita kini memberanikan diri mengangkat wajahnya. Dari sekian lama, kalau kau memang merasa udah ngerusak aku, bisa jadi kan aku hamil?" terdengar suara deru nafas Dita yang naik turun.
__ADS_1
"Aku pernah melihatmu pergi ke klinik tempat wanita mengaborsi kandungannya. Aku pikir kau sudah membuang janin itu, hingga aku sempat membencimu"
Dita membuang wajah, memilih menatap hujan lagi. Dia bingung harus bagaimana. Dia juga merasa ini tidak adil bagi Kai. Dia sudah berniat untuk bertanggungjawab, hanya saja mungkin Tuhan ingin menyatukan kami dengan cara lain, setelah timbul rasa cinta di hati keduanya.
Mobil mewah sudah berhenti di depan rumah Dita. Kai bangkit, namun sebelum berjalan pulang, Kai berlutut di hadapan Dita, hingga pandangan mereka menyatu.
"Maaf kan aku atas semua kesalahan dan tindakan pengecut ku. Dari mu dan juga Kasa, aku belajar bisa menerima cinta, percaya bahwa cinta tidak akan meninggalkan, akan selalu ada di sisi. Sayang, maafkan aku. Aku mohon, jangan membenciku, dan menikahlah denganku" Kai menggenggam erat tangan Dita, membawa ke bibirnya untuk dia kecup dengan sepenuh hatinya.
"Aku pulang, ya. Kamu istirahat. Besok aku akan datang bersama nenek untuk melamar mu" Kai mencium kening Dita penuh kasih dan beranjak pergi.
Belum sampai menyentuh pintu gerbang, Kai terhenti karena sepasang lengan melingkar di pinggangnya. Punggung pria itu terasa panas, saat kulit wajah Dita melekat erat di sana. "Cepat kembali. Aku dan Kasa akan menunggumu," bisik ya parau, dengan segenap perasaan sakit serta cinta yang dalam. Memaafkan adalah satu-satunya cara menghidupkan cinta mereka.
Kai memutar tubuhnya. Kini keduanya saling berhadapan. Kai menarik Dita kembali masuk dalam pelukannya. "Aku pasti cepat kembali"
***
Besok paginya, Pukul tujuh pagi, Kai sudah menelusup masuk ke dalam kamar nenek Rosi. Menggangu tidur neneknya dengan ciuman bertubi-tubi di wajahnya.
"Aku sudah, tua! Apa kau tidak bisa mencari wanita yang lebih muda untuk sekedar menjadi sasaran dari ciuman mu itu? sana menjauh!" serunya melempar Kai dengan bantal yang ada di sampingnya.
"Justru karena itu, nenek harus segera bangun dan menemaniku melamar gadis ku," ucap Kai melepas senyum pada nenek Rosi.
Hanya dengan kalimat itu, seketika nenek Rosi bangun, duduk dan bersandar pada headbed.
__ADS_1
"Apakah yang kau katakan itu benar? kau akan menikah? siapa gadis sial itu?" Rosi menatap tajam. Dia tidak mau terkecoh lagi, terlalu sering Kai mempermainkannya. Kali ini Rosi tidak ingin di prank kembali.
"Kenapa gadis sial, Nek? harusnya gadis yang beruntung, karena dia mendapatkan suami sesempurna aku," ujar Kai tertawa renyah.