
Dentuman suara musik di salah satu club yang saat ini lagi viral dan banyak diminati dari kalangan menengah atas memekakkan telinga Dita. Gadis itu bersama dua orang temannya sudah lebih satu jam duduk di meja bar.
"Turun yuk" ajak Talita dan Kimi, tapi Dita menolak mentah-mentah. "Kalian aja deh, gue nunggu di sini"
Dia kesini bukan untuk happy-happy kayak biasanya anak muda lainnya. Dia hanya ingin menenangkan pikirannya. Matanya bengkak karena menangis setelah pertengkaran dengan papinya tiga jam lalu.
"Mau jadi apa kamu kalau berkeliaran terus di sini? papi kirim kamu ke Australia biar kamu kuliahnya benar. Lagian Australia itu dekat Ta, kamu bisa pulang kapan aja kamu mau" ujar Rudi, papinya Dita berkacak pinggang.
Terlalu dimanjakan sebagai anak satu-satunya membuat Dita keras kepala, manja dan sesukanya. Tapi soal pendidikan, Rudi tidak ada kompromi, dia ingin anak semata wayangnya itu mandiri dan kelak siap memikul tanggung jawab menggantikan papinya di perusahaan mereka.
"Mau kuliah disini atau diluar kan sama aja Pi! pokoknya aku mau kuliah disini aja, ga mau balik ke sana" protes Dita.
"Ga bisa, papi bilang berangkat, kamu harus berangkat" tegas Rudi. Mita, sang istri tak bisa berkutik kalau suaminya sudah marah besar, hanya bisa duduk di sudut ruangan mendengarkan perdebatan ayah dan anak yang kadar kekeraskepalaan nya sama saja. Orang bilang like father like daughter, tepat sekali menggambarkan sifat keduanya.
"Aku ga mau" Dita sudah beranjak akan masuk kamar.
"Tidak ada kata tawar menawar, besok papi antar kamu ke Australia"
"Bodo!" teriaknya sembari berlari menaiki tangga dengan air mata meleleh di pipinya.
Keduanya saling menyayangi satu sama lain, bahkan Dita lebih dekat pada papinya, selalu dimanja, tapi kalau sudah bertengkar, seperti perang dunia ketiga.
Pukul sembilan malam, Dita yang masih menangis menerima telepon dari temannya sesama mahasiswa indo di Australia.
"Keluar yuk, kita senang-senang, Ta" tawar Talita.
"Kemana?" Dita masih tidak bersemangat.
"Ada tempat asik. Lo pasti happy. Udah, gue jemput ya"
"Ga usah deh. Gue lagi berantam sama bokap, pusing kepala gue"
"Nah, justru itu lo ikut kita. Pasti sakit kepala Lo ilang"
__ADS_1
Akhirnya disini lah Dita dan kedua teman gesrek nya. Mengendap-endap keluar saat kedua orang tuanya sudah masuk kamar.
"Dasar, orang tua egois!" umpatnya dengan tubuh linglung. Satu botol minuman beralkohol dihabiskannya. Rasa ngantuk ditambah pusing yang menyerang membuat Dita merebahkan kepalanya di atas meja.
***
Sementara disudut sana, ditempat yang sama dua orang tengah berdebat dengan gelisah.
"Lo udah dapat barangnya?"
"Sorry bos, dia ga bisa datang malam ini. Lagi sakit katanya"
Plak! satu tamparan diberikan pria bertato singa itu pada anak buahnya.
"Gue ga mau tahu, lo cari sekarang juga, terserah lo mau dapatkan dimana, bawa dia ke kamar, karena bos besar sudah hampir sampai. Gue ga mau tahu, kalau sampai bos marah, lo gue bunuh" ancamnya pada si kurus.
Penuh rasa takut, Pria kurus berjaket hitam itu mengitari bar. Berusaha mencari gadis yang bisa menemani bos mereka. Tapi kebanyakan semua sudah punya pasangan, hingga matanya tertuju pada sosok Dita yang sudah setengah sadar.
"Mmmm..ok bos" sahut Dita setengah mabuk.
"Lo ikut gue. Gue punya kerjaan buat lo" bisik si kurus yang dengan tampang bloonnya Dita mengangguk setuju, dan tersenyum pula.
Mata Dita membulat saat melihat ranjang yang ada di tengah ruangan itu. Yah, untuk saat ini hanya benda itu yang dia butuhkan.
"Boleh aku tidur disana?" tunjuk nya kearah ranjang.
"Terserah lo, asal tugas lo, lo kerjakan sebaik-baik nya" Dita mengangkat jempol tanda oke pada si pria kurus itu sebelum berlalu dari kamar itu.
***
"Gimana? dapat?"
"Aman bos" sahut si kurus sumringah. Merasa bangga hanya dalam waktu setengah jam masalah bisa diatasinya.
__ADS_1
"Barangnya bagus?"
"Bening bos. Kayaknya pemain baru. Soalnya saya lihat belum pernah beredar disini. Juga gada bawa mucikari, main tunggal bos"
"Good, karena bos sudah sampai di parkiran"
***
Dalam kamar gelap tanpa pencahayaan, tubuh Dita seolah terbakar oleh kecupan yang mendarat di tubuhnya. Perlahan Dita tersentak, masih dengan pencahayaan yang seadanya yang bisa ditangkap matanya Dita meraba makhluk yang sedang berada di atas tubuhnya itu seorang pria. Pria itu sedang bermain dengan kedua milik kembarnya. Mengh*sap dan mer*mas dengan begitu menggoda hingga Dita semakin terbakar.
Kesadaran yang tinggal setengah ditambah cumbuan yang memabukkan itu membuatnya tersesat ke arus yang akan mengubah masa depannya. Perlahan dirabanya wajah pria itu, hidung yang mancung dengan rambut yang sedikit panjang di bagian depan dan juga belakang hingga menutupi setengah tengkuk pria itu.
Setiap gigitan lembut yang diberikan pria itu, Dita akan menjambak rambut pria itu pelan, seolah ingin menyudahi semua kenikmatan itu, tapi saat pria itu mengangkat wajahnya, justru Dita ingin pria itu kembali lagi mengulangnya.
Larut dalam badai gairah, tanpa sadar pria itu sudah membuka kedua paha Dita yang sudah polos tanpa sehelai benang pun, perlahan pria itu mencium bibir mungil itu, membelai dengan lidahnya, dan ketika Dita ikut arus berperan dalam permainan itu, satu hujaman menghentak keras, membuatnya meringis menahan rasa sakit, kini berganti perih.
"****!" terdengar umpatan kecil keluar dari bibir pria itu, entah apa yang membuatnya merasa kesal.
Sosok pria besar itu di, menghentikan geraknya agar Dita bisa kembali rileks, dia sabar menunggu, lalu setelah tubuh gadis itu kembali padanya, pria itu mulai memainkan ritmenya.
Menggoyang dengan perlahan, hingga Dita memuja dan mendamba semua yang dilakukan pria itu padanya. Pria itu begitu tahu cara memanjakan tubuhnya, tahu apa dan bagaimana cara membuatnya menggila, hingga gerakan yang semakin cepat membuat Dita ingin meledak. "Ah..gue..gue..mau.." racunnya tidak mengerti apa yang dia mau.
"Iya sayang, kita bersama-sama ya" bisik pria itu terdengar sensual. Anehnya Dita masih sempat mengagumi suara berat pria itu, merekam dalam memori setengah sadarnya.
Gerakan pria itu semakin cepat, terus memburu hingga ledakan itu terjadi, puncak kenikmatan itu berhasil mereka raih berdua.
Tidak sampai lima menit, Dita jatuh tertidur pulas masih dipelukan pria itu. Perlahan tubuhnya dipindahkan, lalu diselimuti. Sang pria misterius itu beranjak menghidupkan lampu dan melihat partnernya kali ini.
"Sial. Dia bukan Karen. Sialan lo, Jer!" umpatnya. Perlahan disibak nya seprei yang tak jauh dari bokong gadis itu, noda darah.
Sebenarnya tanpa melihat itu pun, dia tahu kalau gadis itu masih perawan. Dia bukan tidak senang, hanya saja malam ini dia tidak memakai pengaman, karena dia pikir gadis itu adalah Karen, wanita yang biasa menemaninya. Saat menghujam milik gadis itu, dan membentur selaputnya, pria itu sudah mengumpat menyesal, tapi badai gairah membuatnya tidak bisa mundur lagi.
"Lo masih muda, udah jual diri aja. Mana masih perawan lagi. Semoga lo ga hamil ya" ucapnya membelai pipi gadis itu, meninggalkan sejumlah uang yang banyak di nakas ditimpa oleh asbak kamar hotel. Setelah pergi dari kamar itu.
__ADS_1