
"Nek, ini pacar aku, Alana"
Tidak ada jawaban atau pun reaksi dari wanita yang baru saja dipanggil nenek oleh Kai itu. Wajahnya terlalu datar, tanpa ekspresi. Nyali Alana sempat menciut. Dia menyesal datang ke rumah ini, tapi mengingat habis ini hutangnya akan lunas dan terbebas dari pria itu, Alana pun tetap bertahan berdiri alih-alih putar balik kearah pintu keluar.
"Nek.." ulang Kia. Pria yang tampak sok galak pada Alana selama ini nyatanya melempem di hadapan wanita tua itu. Hampir saja Alana ngakak diantara rasa takutnya.
"Aku dengar, apa kau pikir aku tuli? dari mana kau pungut gadis itu? aku tahu dia bukan kekasih mu, potongannya sama sekali bukan selera mu yang biasa" sosor wanita itu. Suara wanita itu begitu keras memekakkan telinga, padahal di hidungnya terdapat selang oksigen yang membantu pernafasannya yang terasa sesak dan berat.
"Itu lah nenek, aku ga bawa pacar, nenek minta maksa buat dipertemukan, udah aku bawa nenek malah ga percaya kalau dia pacarku"
"Tatap mata nenek?" serunya dengan suara menggelegar. Setiap kali bicara, Alana selalu jantungan dibuat sang nenek. Dalam hati kecil Alana bertanya apa wanita itu mantan anggota militer hingga bisa setegas itu saat bicara
Kai tidak punya pilihan selain melakukan apa yang neneknya katakan. "Baiklah, kau memang tidak berkedip seperti kebiasaan mu saat berbohong, tapi jangan kira nenek akan percaya begitu saja. Nenek akan cari tahu sendiri" wanita itu meminta Kai untuk mundur dari hadapannya.
"Kau, kesini" hardiknya memanggil Alana. Sewajarnya jika ada tamu yang datang ke rumah, sudah sepatutnya disambut dengan ramah dan sopan, apalagi ini tamu yang pertama kali berkunjung. Sayangnya keluarga Kaisar Wijaya bukan lah keluarga normal pada umumnya. Mereka selalu bersikap frontal, tidak suka mencla-mencle, dan paling benci dengan basa-basi.
Glek! susah payah Alana menelan salivanya. Langkah gemetarnya begitu terpaksa mendekat pada sang nenek.
"Duduk sini" Alana pun menurut, mengambil tempat tepat disamping wanita galak itu. "Apa benar kau adalah kekasih pria busuk itu?"
Alana semakin gugup, jujur dia tidak tahu harus menjawab apa. Dialog yang sudah diajarkan oleh Kai tempo hari di restoran itu, seketika hilang dari memorinya. Sedikitpun dia tidak ingat padahal sudah dimentori sedemikian rupa.
"Hah?" ucapnya dengan tampang bloon, dan juga gugup. Nafas Alana jadi ikutan tercekat melihat wanita itu.
"Aku ulangi, apa kau adalah kekasih cucuku?" Wanita itu mengangkat tangan menunjuk kearah Kai. Saat itu lah Alana berkesempatan untuk menoleh pada Kai sekaligus meminta pertolongan. Kai hanya bisa mengirim sinyal pendek, yaitu membulatkan mata dan mengangguk tipis.
"Hey, kau lihat aku. Tidak usah melihat bandot tua itu. Jangan takut, jika kau memang diancam olehnya untuk pura-pura mengaku, maka aku akan menjadi pembela mu. Kau tidak perlu takut. Kau dipaksa nya kan?"
Jantung Kai ikut berdebar. Dia bukan takut pada neneknya, tidak ada di dunia ini yang dia takutkan. Hanya saja dia sangat menghormati neneknya dan juga menyayangi wanita itu. Jika sampai neneknya tahu Alana pacar pura-pura nya, wanita itu akan sedih dan yang paling buruk, kembali masuk ke rumah sakit. Itu yang dihindari Kai.
"Iya nek. Aku pacar bangkai" akhirnya jawaban Alana membuat Kai bisa bernafas lega setelah menahan nafas beberapa detik.
"Bangkai?" wanita tua itu tampak mengerutkan kening.
"Maksud aku abang Kaisar. Iya nek"
"Benarkah? kau tidak berbohong?" Alana minta ampun pada Tuhan karena sudah membohongi wanita tua itu, tapi dia tidak punya pilihan lain.Seletika diujung waktu pengakuan tadi, saat dia lupa semua yang dikatakan Kai waktu itu, yang datang pada ingatan Alana adalah mengenai kesehatan neneknya. Alana tidak tega melihat wanita itu harus menelan kekecewaan, terlebih dalam kondisi sakit seperti itu.
__ADS_1
Alana hanya mengangguk sekali sebagai jawaban. "Sudah berapa lama kalian pacaran?"
"Satu tahun"
"Dua tahun" jawab Kai dan Alana serentak. Sayangnya jawaban itu tidak kompak hingga kau melotot pada Alana.
Dasar gadis ingus oon, kenapa lo lupa yang gue suruh. Gue kan udah bilang kita pacaran udah dua tahun!
Alana yang ditatap tajam oleh Kai memasang wajah cuek tidak perduli. "Mana yang benar kalian ini?" sambar nenek.
"Dia lupa mungkin nek, kita pacaran emang setahun, tapi pedekate nya setahun, kan kalau ditotal sama aja udah dua tahun"
Setengah jam kemudian Alana dan nenek Rosida sudah tampak berteman. Bercerita panjang lebar dan tertawa. Setiap yang diceritakan Alana pasti membuat nenek Rosi tertawa.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. "Nek, kami pulang dulu ya, kapan-kapan main ke mari lagi" pinta Alana untuk yang kelima kalinya. Alana sudah meminta pulang sejak pukul 1siang tadi, karena dia ingat janji untuk makan siang dengan Arun, tapi nenek Rosi memaksa untuk mengajak Alana makan siang bersama.
Alana mengutuk kecerobohannya, karena sudah meninggalkan ponselnya yang sedang di cas di toko roti nya tadi, dan sialnya dia tidak ingat nomor ponsel Arun, kalau tidak kan dia pasti bisa meminjam hape Kai untuk mengabari Arun. Rasa bersalah membanjiri perasaan Alana.
Selepas makan siang pun, Alana meminta pulang lagi, tapi dengan berbagai alasan nenek Rosi menolaknya lagi. Begitulah hingga pukul tujuh malam ini. Nenek Rosi tidak punya pilihan lain selain mengizinkan Alana pulang.
"Tapi kau janji ya, harus sering ke sini lagi" ucapnya menggenggam tangan Alana.
Alana sudah masuk mobil Kai, dan saat pria itu juga akan masuk, nenek Rosi menarik tangannya "Aku menyukai gadis itu. Kau harus menikahinya" Kai pun hanya tersenyum sembari memberikan satu ciuman di pipi keriput wanita itu.
"Tapi nenek harus segera sembuh"
***
"Makasih ya, lo udah buat nenek gue segembira itu" ucap Kai dibalik kemudi.
"Sama-sama bang Kai. Tapi aku sedih harus bohong sama beliau. Memang sih awalnya tampak galak dan menakutkan, tapi ternyata nenek Rosi baik dan menyenangkan" puji Alana tulus.
"Lo harus maklum ya. Soalnya doi anak Medan asli. Boru Batak ya gitu keras" ucap Kai tertawa.
"Betewe, nenek gue seneng banget sama lo, gimana kalau kita nikah aja?" goda Kai.
"Idih, ga usah candain aku kak, ga lucu"
__ADS_1
"Gue serius Al" sambar Kai mengucapkan nama Alana untuk pertama kalinya.
Huakakakkak...tawa Alana pecah, geli melihat ekspresi Kai yang tampak serius yang sama sekali tidak cocok dengannya.
"Kok lo ketawa sih? gue serius"
"Sorry bangkai, aku ga bisa nikah samamu"
"Alasannya?"
"Banyak lah.."
"Iya apa?" desak Kai merasa tengsin sudah ditolak cewek yang masih jauh dibawah mantan-mantan nya kalau dinilai dari segi wajah dan juga penampilan.
"Pertama karena aku udah jamu anak satu"
"Jamu?" tanya Kai balik tidak mengerti.
"Iya bang, jamu..janda muda"
"Apa? serius lo? lo pasti becanda kan?" bola mata Kai membulat.
Alana menggeleng. "Aku serius bang, aku udah janda, punya anak satu yang sekarang udah umur enam bulan"
Kai diam. Mempertimbangkan rasa suka neneknya pada Alana. Lagi pula gadis itu sangat polos, mudah diatur, jadi pasti sosok yang tepat jadi istri.
"Ya udah, ga masalah. Gue siap terima lo apa adanya sekalipun dengan status lo itu. Gue akan jadi bapak yang baik buat anak lo" susul nya.
"Tetap aja aku ga bisa nikah sama abang"
"Kali ini apa lagi alasan lo? ga ada habisnya!"
"Karena aku ga cinta sama abang. Aku cintanya sama pria yang sudah pernah jadi suamiku. Ayah anakku, dan kami akan segera nikah.."
***Hai.. bincang bentar yuk๐
Makasih yang masih setia, kasih support kritik saran, like komen apa lagi yang nge vote, otor doain sehat selalu dan semakin kecehโ๏ธ๐ ๐
__ADS_1
Terus..oh iya, otor baca nih komen beberapa, banyak yang bully eike, ngatain sengaja dipanjang2in ceritanya, membosankan, pikirannya dangkal.
Gini ya kakak sayang, buat novel itu kan pake kerangka, udah dari bab 1- end itu sudah ada jalan ceritanya. Memang begitu stepnya, selesaikan dulu persoalan Lily, baru balik ke kisah asmara Arlan. Kenapa dimasukkan kai dan gara, karena novel bukan tidak hanya menceritakan tokoh utamanya aja. Jadi ada beberapa peran pendukung yang ikut diceritakan yang masih ada hubungannya dengan para tokoh utama, begitu..maaf ya bagi yang bosan dengan alurnyaโ๏ธโ๏ธ๐๐๐ ๐