
Kedua gadis polos itu semakin antusias mengikuti kelas pencerahan dengan Kai sebagai mentor nya.Kedua murid dadakannya hanya manggut-manggut, setiap Kai menjelas apa saja yang mereka tanyakan. Kai mengulum senyum melihat ekspresi di wajah kedua gadis itu, begitu menggemaskan.
"Kak Sari, kalau itu yang dimasukin ke mulut, gimana sih rasanya? kan ada tuh, yang model begituan" ucap Dita sok tahu, padahal dia sendiri juga belum pernah.
Dada Kai sesak hanya dengan mendengar Dita bertanya seperti itu. Dia harus jawab apa? pikirannya saja udah bertransmigrasi ke tempat yang jauh, yang sudah lama tidak dia datangi.
Oh...Tuhan, kenapa hidupku se- naas ini?
"Kak Sari...kok malah bengong lihat wajah gue? jawab dong, gimana rasanya?"
"Nik... pastinya nikmat," jawabnya menahan sesuatu di bawah sana yang mulai mengamuk minta di lepaskan.
"Iyuh, kan jijik itu" wajah Alana tampak bergidik membayangkan topik yang mereka bahas kini. Sejujurnya, atraksinya yang dia dan Arun lakukan di ranjang, hanya sebatas atas bawah, belum sampai yang lebih ekstrim. Lagi pula, Arun tidak pernah memintanya.
"Iya kan, Al. Gue juga ogah kalau ntar suami gue minta begituan" lanjut Dita menarik sudut bibirnya ke atas.
"Eh, ga boleh gitu. Kasihan suami kalian. Lagi pula, kan sebelum begituan udah mandi, udah dicuci, pasti ga jorok lagi"
"Siapa bilang? siapa yang bisa jamin kalau begituan, pipisnya ga keluar? najis ya!"
Hufffh, Kai terlihat frustrasi menjelaskan segala hal seputar perm*suman pada kedua gadis polos itu. Tapi satu hal yang dia sadari, Dita menyebutkan perihal calon suami nya, apakah yang dikabarkan Perguson mengenai sahabat kecil Dita itu benar?
Kai mengepal tinju, wajahnya memerah menahan emosi hanya dengan membayangkan pria lain menyentuh Dita, menikmati tubuhnya.
" Ga boleh!" pekiknya tiba-tiba berdiri. Tentu saja kedua gadis itu terkejut.
Kasar kenapa? apanya yang ga boleh?" tanya Dita mengamati Kai yang menjulang tinggi. Sedikit memicingkan mata melihat reaksi Kai yang tiba-tiba berdiri dengan guratan kesal di wajahnya.
"Hah? oh, bukan apa-apa" Kai kembali duduk.
Dita melempar tatapan aneh ke arah Alana, sembari berbisik "Rada aneh baby sitter Kasa"
"Hei, aku dengar, loh!" hardik Kaisar, kedua gadis itu justru tertawa terbahak-bahak.
Asik bercerita, Mindo mengetuk ruangan Alana."Maaf Mbak, itu di luar ada seorang nenek yang nyariin mbak Alana"
__ADS_1
"Nyariin aku? siapa ya, Ta?" Alana balik tanya pada Dita. Tidak bisa memberi jawaban, Dita hanya mengangkat kedua bahunya.
"Suruh ke sini aja, Min. Makasih, ya"
Mungkin nasib sial sedang mengikuti Kaisar. Atau alam sedang tidak ingin melihat senyumnya. Baru beberapa jam bisa bernafas lega karena bisa menyingkirkan rasa curiga Alana, kini justru datang suhunya. Orang yang paling ingin tidak dia temui dalam bentuk seperti ini.
"Nenek Rosi...," pekik Alana gembira, menyambut kedatangan Rosi dengan hangat. Alana memang sudah rindu pada wanita tua itu, berjanji pada Kaisar untuk datang menjenguk, namun hingga saat ini Alana masih belum sempat ke sana.
"Dasar cucu durhaka! Kau sudah tidak ingat pada wanita tua ini, ya?" jawab Rosi mencubit pipi Alana yang tengah memeluknya.
"Maafkan hamba, yang mulia ratu. Aku sibuk banget akhir-akhir ini. Maaf ya, nek"
"Dimaafkan" ucap Rosi tersenyum.
"Oh, iya, siapa teman nenek ke sini? Bangkai?"
"Jangan sebutkan anak brengsek itu. Aku sudah tidak ingin mengenalnya lagi" wajah Rosi tampak kesal hanya dengan membahas Kisar. Alana memapah Rosi untuk duduk di sampingnya, hingga Kaisar harus bangkit dan duduk dekat Dita.
"Loh, memangnya kenapa, nek? Bangkai dimana?"
"Udah mati! raib ditelan bumi!" umatnya kesal.
"Oh, iya nek. Kenalkan, ini Dita, sahabat aku. Ta, ini neneknya Bangkai yang waktu itu nganterin aku ke rumah mu," ucap Alana menunjuk ke arah Dita.
"Halo, aku neneknya Alana"
"Hai, nek. Senang bisa kenal dengan nenek," sahut Dita tulus.
"Kalau ini?" nenek Rosi menatap Kaisar, berusaha untuk melihat wajah yang sejak tadi menunduk ketakutan.
"Ini Kasar, nek. Baby sitter anak aku ini," terang Dita menunjukkan Kasa yang tertidur di stroller nya.
"Hai.." nenek Rosi menyodorkan tangannya, namun Kai bergeming. Jantungnya siap meledak saat ini. Dia sudah tidak tahan berada di ruangan itu. Ketakutan luar biasa dia rasakan saat ini, kalau Alana yang sedikit lamban saja bisa mengenalnya, apalagi nenek nya sendiri.
"Kasar, itu nenek Rosi ngajak salaman. Sambut dong, jangan bikin malu," cicit Dita menyikut lengan Kai.
__ADS_1
Ragu-ragu Kai mengulurkan tangannya. Dia tidak punya pilihan lain, kan? hanya bisa berdoa semoga neneknya tidak curiga, bahkan mengenalinya.
Meski tampak aneh, nenek Rosi tidak mengatakan apapun. Mereka bersalaman, dan kembali diam. Kening Rosi mengkerut, saat berhasil melihat wajah Kaisar sekilas saat dia mendongak untuk melihat nenek Rosi. Wanita itu bahkan akan meminta Kai mengangkat wajahnya lagi, namun tidak jadi. Kali ini nyawanya diselamatkan oleh Alana.
"Jadi kemana Bangkai, nek?"
"Nenek juga ga tahu. Justru itu, nenek datang selain ingin menemui mu karena kangen, tapi juga ingin bertanya tentang anak itu. Siapa tahu kau pernah bertemu dengannya," ucap nenek Rosi sembari melirik kearah Kaisar lagi. Rasa penasarannya begitu besar.
Dia seolah pernah melihat baby sitter itu sebelumnya, tapi sejauh apapun berpikir tetap tidak bisa mengingat siapa sebenarnya Kaisar versi baby sitter ini.
"Aku ga pernah ketemu sama Bangkai lagi. Kemana dia, ya? apa nenek udah cek apartemen? atau tanya sama asistennya, nek" saran Alana.
"Sudah, Al. Justru itu, asisten yang sama gilanya dengan tuannya itu juga mengatakan tidak tahu kemana Kaisar"
Sekali lagi nenek Rosi melirik, kali ini tepat saat Kaisar mengangkat wajahnya dan bertemu pandang dengan nenek Rosi, buru-buru Kaisar menundukkan wajahnya kembali.
"Anak itu selalu melakukan apa yang dia sukai, hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak pernah memikirkan neneknya ini. Terlebih saat ini tunangannya sudah kembali ke Indonesia," terang nenek Rosi.
"Tunangan? Bangkai sudah punya tunangan?" tanya Alana.
"Yah, kalau bukan nenek paksa, dia pasti tidak mau bertunangan dengan Amanda" sahut nenek Rosi.
"Maaf, Al. Bangkai ini siapa sih?" kali ini Dita buka suara. Sejak tadi mengikuti alur percakapan kedua wanita itu, tapi seperti dia tidak mengenal objeknya.
"Astaga, Ta. Kamu ga ingat sama cowok yang datang bareng aku ke rumah waktu itu"
"Oh, iya. Pria aneh itu ya, eh..maaf nek" ralat Dita buru-buru.
"Tidak, apa-apa. Anak itu memang aneh. Awas aja kalau ketemu, sekalian nenek k*biri si otong nya!"
"Iya nek, masa waktu di pesta pernikahan Alana kemarin, dia maksa aku buat ingat sama dia" terang Dita menatap nenek Rosi dan Alana bergantian.
"Apa kau memang tidak pernah punya hubungan dengan cucuku? karena itu sesuatu yang membingungkan. Anak tengil itu tidak biasanya perduli dengan satu gadis, bahkan banyak gadis yang suka padanya, selalu tidak diperdulikan dan dianggap tidak penting, sedangkan kau..."
"Nah, loh, Ta. Jangan-jangan bangkai..."
__ADS_1
*** Hai...mampir yuk disini