
Arlan mengakui kalau dirinya tidak bisa berlama-lama marahan dengan Sania. Dua hari tidak bertemu dan tegur sapa, Arlan merindukan gadis itu.
Siang itu dia datang ke tempat kerja Sania dengan satu buket besar bunga mawar di tangannya.
"Terima, dong," ujarnya masih menyodorkan buket itu ke hadapan Sania yang berdiri di balik meja kasir. Siang itu restoran sepi, hanya ada dua meja berisi pelanggan yang asyik makan.
"Kamu udah bisa keluar? Kata dokter kamu harus banyak istirahat." Sania mengambil buket itu. Mencium kelopak mawar, dan senyumnya mengembang. Arlan sering mengiriminya bunga, dan Sania sangat senang diperlakukan seperti itu.
Sania keluar dari meja kasir, lalu mengajak Arlan duduk di salah satu meja. "Kamu mau pesan apa?"
"Apa aja."
Tidak lama Sania datang membawa nampan dengan cangkir berisi kopi kesukaan Arlan. Tapi kali ini dia menambahkan susu agar rasa kopinya tida terlalu kuat.
"Kenapa ngeliatin?" Arlan menurunkan cangkir yang baru dia nikmati isinya.
"Kamu benar-benar gak ingat apa yang aku katakan di rumah sakit?"
"Aku kan, udah bilang, jangankan dibisikkan, ngomong kenceng aja belum tentu aku dengar," jawab Arlan menarik sudut bibirnya.
Sania berubah kesal. Padahal saat mengatakan hal itu pada Arlan, dia sudah memupuk keberaniannya, tapi kenyataannya pria itu tidak ingat sama sekali.
Tidak bisa disalahkan, dokter juga berkata, kalau Arlan mengalami amnesia global sementara yang kadang membuatnya lupa kata-kata atau tindakan di masa lalu dalam kurun waktu sementara.
Jadi, kemungkinan Arlan tidak ingat apa yang dikatakan Sania. Bisa jadi saat itu alam bawah sadar Arlan tidak menyimpan perkataan Sania, hingga pada saat siuman, Arlan sama sekali tidak ingat.
"Memangnya apa, sih yang kamu katakan? Penting banget? Ulang lagi aja sekarang." Arlan menunggu. Kalau memang sepenting itu, kenapa tidak dikatakan lagi saja.
__ADS_1
"Sudahlah, lupakan aja. Gak penting banget."
Sania bangkit menuju kasir karena ada pelanggan baru yang datang. Semakin banyak pelanggan memenuhi restoran, Sania meminta Arlan untuk pulang dulu karena dia juga tidak bisa menemani pria itu ngobrol.
Arlan setuju, karena dia juga sudah lama tidak bertemu dengan keempat sahabatnya, terlebih Kasa. Sejak keluar dari rumah sakit, pria itu sama sekali tidak menemuinya di rumah.
***
"Loh, lu kemari? Udah boleh jalan-jalan?" Sambut Tomi semringah. Dia ikut senang melihat Arlan sudah kembali. Saat di rumah sakit, mereka hanya beberapa kali datang menjenguk, oleh pihak rumah sakit, disarankan jangan terlalu banyak orang yang menemani.
"Lu ngarepnya gue mati?" Sambar Arlan mengempaskan tubuhnya di sofa. Sudah lama juga dia tidak ke basecamp.
"Kasa mana? Gilang? Dito?"
"Noh, lagi molor. Kalau Gilang lagi nganterin ceweknya ke Bandung, Dito baru aja pergi ke swalayan, beli persediaan makana."
Pria itu terbangun, dan mengusap kepalanya yang sempat kejedot lantai.
"Brengsek! Sakit, Monyet! Kalau aja lu bukan habis koma berbulan, udah gue ajak duel. Lu ngapain ke sini? Udah boleh keluar?"
"Lu kira gue anak kemarin sore di dunia tabrakan? Ini kali kedua gue koma. Dulu malah lebih parah, dua tahun! Makanya lu baek-baek sama gue, senior lu ini!"
Ck! Kasa hanya merespon dengan menarik satu sudut bibirnya dan menaikkan sebelah alisnya.
"Bodo amat! Gue lapar, Dito udah datang belum?" Kasa meninggalkan Arlan di kamar dan memilih ke luar, gabung bersama Tomi. Bukan tanpa alasan. Dia tidak ingin terlalu lama berada di dekat Arlan, takutnya nanti dia keceplosan mengatakan hal yang diminta Sania untuk dia rahasiakan.
Sebelah tidur tadi, Kasa mendapatkan pesan dari Sania, mengatakan kalau ternyata Arlan tidak ingat apa yang dia katakan saat pria itu koma, jadi hingga sampai detik ini belum tahu soal janin dalam rahim Sania.
__ADS_1
Arlan merasa sedikit aneh dengan sikap Kasa yang tampak menghindarinya. Dia pun ikut menyusul Kasa ke ruang depan. Dito datang membawa banyak makanan dan minuman yang langsung ditarik Kasa untuk dirinya.
"Kok, gue merasa aneh dengan sikap lu, jujur sama gue apa lu menyembunyikan sesuatu dari gue?" Tatapan Arlan mengunci pergerakan Kasa. Dia bisa membaca apakah Kasa berbohong atau jujur dari gelagatnya. Dia terlalu lama mengenal Kasa hingga bisa menyadarinya.
"Mungkin kepala lu kebentur keras, ya? Omongan lu ngasal dan insting lu udah gak main lagi sekarang. Waduh, bisa kalah nih kita kalau ada taruhan sama tim Eki!" Kasa coba melucu, sembari dia menenangkan hatinya, jangan sampai Arlan mengetahui bahwa dia menyembunyikan sesuatu.
"Gue serius. Terlalu lama kita berteman jadi gue tahu gimana lu," timpal Arlan masih mengamati dengan mata elangnya. "Lagi pula, kok, gue merasa ada peristiwa yang kadang muncul kadang bilang dalam memori gue. Setiap gue lihat elu, ingatan itu muncul, tapi gue coba ingat, hilang lagi. Perasaan gue kayak marah gitu sama lu. Sebelum kecelakaan itu, lu gak buat sesuatu yang salah, kan?"
"Buat salah mata lu seok! Buat salah apa gue sama lu? Dasar teman gak punya akhlak, gue capek-capek jagain lu di rumah sakit, antar jemput bini lu kerja, masih juga lu curiga sama gue?"
Kasa mendorong kasar wadah makanannya. Perutnya memang sangat lapar karena dari kemarin belum makan, tapi mendengar tuduhan Arlan buat seleranya bilang.
Pasalnya tuduhan Arlan tidak relevan. Dia tidak melakukan hal buruk di belakang Arlan, tapi malah mendapat tuduhan.
Moodnya satu hari ini sangat buruk. Dimulai dari lagi ini, saat dia menyampaikan pada Ayra untuk mengantar ke sekolah, kekasihnya itu menolak. Kasa terkejut, tidak seperti biasanya Ayra menolaknya.
"Kalau gitu, nanti siang aku jemput, ya?"
"Gak usah, Kak. Hari ini ada acara sama teman, mungkin lama baru selesai," tolak Ayra lagi lewat telepon. Kasa jadi mati kamus. Kenapa tiba-tiba Ayra menjauhinya?
Kasa akhirnya mengalah. Dia tidak ingin terlalu keras pada Ayra. Dia berpikiran positif, mungkin gadis itu ingin menghabiskan waktunya dengan teman-teman satu gengnya.
Dan kini, tuduhan Arlan menambah buruk moodnya. "Kakak adek sama aja, buat kepala gue mumet!" batinnya menghabiskan air mineral dalam botol kemasan.
Sebenarnya Arlan bukan berlebihan atau berbohong. Potongan memori yang membawa ingatan pada Kasa hilang timbul begit saja. Terlebih saat melihat punggung Kasa yang menjauh saat keluar dari kamar tadi, dia seolah mengingat sesuatu. Ada gadis yang tak jelas dia lihat wajahnya, seperti memeluk seorang pria yang bidang punggungnya mirip Kasa. Arlan mengalihkan kembali pandangannya pada Kasa.
"Apa lagi sekarang? Lu masih ngerasa gue bohongi?"
__ADS_1
"Kasa, lu pernah pelukan sama Sania?"