
Suara Arun menggelegar menghardik Gara. Alana terkejut, tapi Gara menyikapinya dengan santai. Dia melihat wajah Arun tampa takut sedikitpun, berbeda dengan Alana yang ketakutan akan terjadi pertengkaran antara keduanya. Alana bahkan sampai meremas jemari Gara.
Gara bangkit, memapah Alana untuk ikut berdiri.
"Mau apa kau kemari?" hardiknya semakin kesal, terlebih ketika melihat genggaman tangan Alana dan Gara yang tidak terlepas.
"Maaf bang. Aku kemari mau jenguk Alana. Kata kak Lily sakit, jadi aku kemari" jawabnya lantang. Arun boleh menjadi kakak ipar Alana, tapi dia juga berhak karena merupakan kekasih gadis itu.
" B*ngsat..!!Perkataan ku yang mana, yang tidak kau mengerti tempo hari?" Arun maju, kini saling berhadapan hingga hembusan nafas keduanya saling berlaga. Alana berdiri di belakang Gara. Ketakutan setengah mati, takut Arun akan memberitahu pada Gara, dirinya adalah istri Gara. Sedikit banyak dia kenal perangai abang iparnya yang sangat arogan. Harga dirinya pasti tidak akan terima Gara mengabaikan perintah nya.
"Maaf, ini memang rumah anda, tapi karena Alana tinggal di sini, maka aku datang" kali ini Gara mulai berani terang-terangan menentang sikap Arun. Dia seolah yang paling berhak atas diri Alana.
"Udah aku bilang, jauhi Alana" Arun menarik kerah seragam sekolah Gara, menarik kasar hingga anak muda itu menjauh dari Alana dan terpental ke samping.
"Hun.."
"bang.."
Pekik kedua wanita itu bersamaan. Darah Alana berdesir, baik Gara atau pun Arun sudah sama-sama mengeluarkan tatapan pembunuh.
"Aku tidak akan menjauhi Alana, aku mencintainya bang. Aku ingin menikahi Alana setelah kami lulus SMA nanti" ucap Gara tak gentar. Tapi kalimat yang dianggapnya sebagai ikrar keseriusan nya di hadapan Arun dan Lily, justru membawa petaka baginya. Menyulut amarah pria itu, hingga memberikan satu pukulan di pipi Gara.
"Gara.." teriak Alana maju, namun segera di tarik Lily.
__ADS_1
"Jauhi mereka Al, nanti kamu bisa kena, salah sasaran pukulan mereka" ucap Lily mengkhawatirkan Alana.
"Kak, tolongin Gara kak. Dia bisa bonyok di buat bang Arun"
Telinga Arun menangkap semua bentuk ke khawatir Alana, seolah menjadi bensin pada amarahnya. Satu pukulan lagi bersarang di rahang Gara. Sudut bibir Gara kena hingga meneteskan darah segar.
Cuih..membuang ludah, sembari menatap Arun dengan penuh emosi. Kini siap menerjang pria diktator dihadapannya. Lagi pula tinggi mereka sudah sama, tidak masalah bagi Gara untuk menerima ajakan duel pria itu.
Tanpa berkata apapun lagi, Gara melepaskan pukulannya di wajah Arun. Serangan tiba-tiba itu membuat pria itu terjungkal ke belakang. Mundur dua langkah, memegang bekas pukulan Gara yang terasa nyut-nyut.
"Udah, aku mohon hentikan.." Alana yang tak kuasa melihat perkelahian keduanya menjerit sebelum dirinya jatuh pingsan. Sigap Lily menangkap tubuh Alana.
Kepalan tangan masing-masing pria itu yang sudah naik sebatas telinga yang akan di layangkan pada lawan akhirnya surut bersamaan robohnya tubuh Alana.
"Al..bangun Al.." panggil Lily panik, menepuk-nepuk pipi Alana berharap adiknya sadar.
Pelan Arun membaringkan tubuh gadis itu. Menatap sendu wajah Alana. Niatnya untuk membelai wajah Alana menguap, seiring terdengar suara langkah kaki masuk dalam kamar.
"Awas hun, biar aku oles minyak angin untuk Alana" ucap Lily dingin. Dia kembali merasa sedih karena sikap Arun yang begitu over protective pada Alana.
Arun menyingkir, tapi tetap berada di sana tepat dibelakang Lily, mengamati wajah Alana sembari berdoa dalam hati agar Alana dan bayi nya baik-baik saja.
Tanpa menoleh pun, Arun tahu siapa pemilik langkah yang mendekat itu. Dia ingin menyeret pria tengil itu keluar, tapi itu dinomor duakan nya. Alana sudah siuman, namun yang pertama terucap dari bibir gadis itu justru nama Gara.
__ADS_1
"Ga..Gara.." ucapnya setelah membuka bola matanya. Gara tidak perduli, melewati Arun dan duduk di tepi ranjang yang sudah di persilahkan Lily.
Alana mengulurkan tangannya yang dengan cepat diterima Gara. "Kamu baik-baik aja Ga?" bulir bening kembali jatuh di pipinya. Alana sendiri tidak mengerti kenapa belakangan ini dia begitu cengeng.
"Aku baik. Kamu jangan khawatirkan aku, justru sekarang aku yang malah khawatir sama kamu" Gara menghapus jejak air mata di pipi Alana dengan jemarinya. Arun yang berdiri melipat tangan di dada memperhatikan semua itu begitu muak, hingga meninggalkan kamar itu.
Arun menghempaskan pintu kamarnya bentuk amarah dan rasa cemburunya. Dia tidak pernah sekacau ini. Kalau diingat lagi malah dia tidak pernah merasa cemburu separah ini. Dua kali pacaran di masa lalu, tidak pernah membuat dirinya merasakan cemburu yang begitu menggila.
Pacar pertama, teman kuliah beda jurusan. Pacaran sejak awal masuk kuliah, dan berpisah karena gadis itu tidak terima Arun begitu sibuk dengan teman-teman dan juga membantu papa nya di kantor. Mereka putus, dan Arun tidak merasakan patah hati.
Lalu berlanjut pada Lily. Gadis pendiam yang menarik perhatiannya setelah tiga tahun menjomblo. Arun suka dengan Lily yang tenang dan tidak banyak menuntut, sekaligus penurut. Kadang berminggu tidak bertemu, Lily akan sabar menunggu, dan Arun tahu, Lily setia padanya. Terlebih tidak ada satu pria pun yang mendekati Lily. Jadi bisa dimengerti kan kenapa kini Arun kebakaran jenggot di serang badai cemburu. Selama ini dia begitu mudah mendapatkan gadis yang dia inginkan, sampai gadis mungil itu masuk dalam hatinya, perlahan dengan sihir cintanya, kepolosan dan juga keras kepala yang mungkin meledak jika sudah menyimpan sesak yang terlalu lama.
Alana tipe gadis yang susah membuka hati. Dia hanya akan dekat pada orang yang bisa dia percaya dan membuatnya nyaman karena memperlakukan diri nya layaknya orang yang berharga, itu lah sebabnya Alana hanya berteman dengan beberapa orang. Membatasi diri dengan membangun benteng pertahanan nya yaitu diam dan menghindar dari kumpulan lingkaran orang-orang disekitarnya.
Kalau bisa di bilang, Arun seperti pria yang baru jatuh cinta untuk pertama kalinya. Cinta yang membutakan akal sehatnya.
"Hun, kau kenapa?" Lily mengikuti Arun ke kamar. Dia harus memperjelas semuanya agar tidak lagi bertanya-tanya yang menyiksanya. Bahkan Arun tidak tahu kalau dirinya begitu ketakutan Arun berpaling darinya, berpindah hati pada wanita lain, meski itu adiknya sekalipun.
"Hun" ulang Lily menghardik Arun yang diam menatap ke luar balkon kamar. Kekesalannya semakin menjadi.
"Apa?
"Kau kenapa? kenapa begitu marah melihat kedekatan Alana dan Gara?"
__ADS_1
"Jangan memulai lagi Ly. Aku tidak ingin berdebat" ucap Arun terus memunggungi Lily.
"Aku juga tidak ingin berdebat. Aku cuma ingin tahu. Jujur padaku, apa kau menyukai Alana?"