Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Hari Bersama Ibu Mertua


__ADS_3

Alana membuka matanya karena merasakan himpitan di perutnya. Suara tawa khas bocah yang pertama kali tertangkap di telinganya.


"Halo sayang, sudah bangun?" tanya Alana pada jagoannya yang diangguk Arlan dengan wajah mengemaskan. Kebiasaan Arlan belakangan ini, selalu masuk ke kamar orang tuanya, membangunkan mereka jika keduanya terlambat biasanya.


Alana kelelahan melayani Aruh semalaman. Bahkan pria itu saja masih tidur, merasakan lelah tapi nikmat yang luar biasa.


"Pa-pa...papa...," celoteh Arlan menunjuk Arun yang telungkup dengan punggung t*lanjang. Selimut biru mereka hanya menutupi tubuh kekar itu hingga pinggang.


"Papa masih bobo. Arlan main sama mama aja ya?"


"Iya..."


"Tapi mama mandi dulu" Alana meraba bagian bawahnya, dan bernafas lega. Beruntung setelah pertarungan terakhir mereka tadi malam, Alana sempatkan untuk memakai pakaiannya, walau dibalik itu tidak memakai dalaman.


***


Lebih satu jam Alana menemani Arlan bermain bola, ketika Arun turun. Mendapati kedua pemilik hatinya tidak ada di dalam rumah, Aruh mencari di halaman samping. Dugaannya benar, Arlan sedang memasukkan bola basketnya kedalam ring.


"Udah bangun, bang?" sapa Alana menerima kecupan di keningnya dari Arun.


"Mmm...tadi malam luar biasa. Senang banget punya istri masih muda gini, enerjik" bisik nya mengulum senyum.


"Ih, apaan sih, dasar om genit" goda Alana yang membuat Arun tertawa terpingkal.


"Bang, tadi mama nelpon, minta temani belanja. Aku boleh pergi kan sama mama?" tanya Alana teringat setengah jam lalu mertuanya meminta untuk menemani dirinya hari ini.


"Ngapain sih. Tolak aja sayang, bilang minggu itu hari untuk suami dan anak, bukan untuk mertua" ucap Arun menarik tangan Alana duduk di bangku kayu, memerhatikan Arlan yang bermain gembira dari sana.

__ADS_1


"Ga boleh gitu dong bang. Itu mama mu. Lagi pula belum pernah kan kami jalan bareng. Aku juga ingin dekat dengan mama Ema. Dia juga kan ibu aku, bang " Alana mendongak menatap wajah Arun. Pria itu tampak tidak senang. Itu bisa terlihat dari wajahnya.


Bukan tanpa alasan Arun tidak suka istri dan mama ya pergi. Dia takut kalau ibunya akan mengatakan hal yang memuat Alana sedih, tapi melihat antusias Alana untuk menemani mama nya membuat Arun jadi tidak tega kalau harus melarangnya pergi.


"Kau boleh pergi, dengan satu catatan. Tidak boleh lama, dan pulangnya harus aku jemput. Kedua, kalau ada omongan mama atau sikapnya yang buat kau sedih atau sakit hati, kau harus katakan padaku," ucap Arun menangkup kedua sisi pipi Alana, lalu menariknya mendekat untuk bisa dinikmati bibir kenyalnya yang sepanjang malam tadi dibabat Arun.


***


Dengan taksi Alana berangkat ke tempat mertuanya memintanya datang. Alana cantik hari ini, berusaha tampil menawan, agar mama mertuanya bisa bangga padanya, sekaligus tidak mempermalukan Ema.


"Ma, aku udah sampai di depan restoran Asia ini," ucap Alana melalui sambungan telepon yang kebetulan begitu sampai di sana, Ema menghubunginya.


"Masuk aja Al. Mama ada di ruang VIP. Tanya aja sama pelayannya, tadi mama udah titip pesan sama pelayannya, kalau kamu datang, dibawa kemari," terang Ema.


Seperti kata Ema, pelayan itu membawa Alana kesebuah ruangan dilantai dua. Begitu daun pintu mahoni berwarna hitam itu dibuka, Alana sempat terkejut. Bayangan menikmati hari Minggu ini berdua dengan mertuanya, pupus sudah. Nyatanya di dalam sana, ada lebih lima orang yang hadir bersama Ema.


"Masuk, Al. Kenapa berdiri didepan pintu begitu" suara teguran Ema menyadarkan Alana untuk segera melangkah masuk.


"Halo semua, ini kenalkan menantu saya" kata Ema merasa bangga memperkenalkan Alana. Tampilan Alana yang cantik membuat Ema senang.


"Cantik, ya. Jadi ini istri kedua Arun?" sambar yang lain, wanita yang lebih sexy, dengan perhiasan yang Alana yakin jika kapal karam, maka dia yang lebih dulu jatuh ke dasar laut. Alana hanya menunduk setelah mengangguk.


"Aku dengar juga, dia ini adik dari Lily, istri pertama Arun, kan?" tambah yang lain, dan bagi orang yang tida tahu kabar itu, hanya menatap sedikit terkejut ke arah Alana.


"Sudah dong, bu-ibu. Menantu saya jangan diintrogasi terus. Kita makan dulu" Ema menarik tangan Alana untuk duduk di sampingnya.


Dari enam orang yang ada di sana, tidak satupun yang menatap suka pada Alana, terlebih wanita yang kini tepat ada di hadapannya. Sejak kemunculan Alana, dia tidak mengatakan apapun, tapi justru tatapannya yang sangat mematikan.

__ADS_1


"Jeng, dimakan dong" tegur Ema pada wanita yang membuat Alana tidak nyaman itu.


"Oh, iya Al, ini mamanya Poppy, kamu ingat, kan? teman Arun yang pernah datang ke rumah Arun waktu itu?"


Pantas Alana seperti familiar dengan wajah wanita paruh baya itu. Wajahnya begitu mirip dengan Poppy.


Paham lah Alana kini alasan kenapa wanita itu tampak tidak suka padanya. Poppy pasti sudah cerita masalah gagalnya perjodohan dengan Arun.


"Hai, tante," sapa Alana tersenyum tulus. Apa yang harus dia takutkan. Dia kan tidak salah. Toh, Arun juga yang tidak mau dengan Poppy, jadi dia tidak salah.


"Hai..., maaf ya kemarin tante ga bisa datang ke pesta pernikahan kalian, lagi diluar negeri temani papanya Poppy tugas," ucapnya membalas sapaan Alana.


Makan siang itu berakhir juga dengan Alana yang selalu saja ditatap tidak senang oleh ibunya Poppy. Tante Cindy namanya, cantik namun dari wajahnya tampak judes.


Seusai makan, seolah mereka tidak punya hal untuk dibahas, dengan gembiranya mereka membedah hidup Alana.


"Al, kamu kan sudah hampir satu tahun menikah, masa belum hamil juga?" tanya salah satu dari mereka.


"Iya kan. Padahal waktu jadi istri sirih, kamu bisa langsung hamil" sambar tante Cindy dengan tampang juteknya.


"Apa kau kelelahan? atau jangan-jangan kau kurang subur karena stres. Apa kau tidak bahagia dalam rumah tanggamu? kadang ya, bekas istri kedua naik pangkat jadi istri pertama tidak selalu menyenangkan, loh" sambung yang lain.


Mungkin sudah tradisi bagi mereka semua, dalam pertemuan selalu membahas masalah keluarga masing-masing, jadi saat membicarakan Alana dengan segara kekurangannya, mereka lakukan tanpa beban meski didepan Ema, yang notabene adalah mertuanya.


"Benar itu, jeng. Bisa aja setiap Arun sedang bercinta denganmu, justru dia membayangkan Lily" lanjut wanita yang paling gemuk diantara mereka semua.


"Benar banget, jeng. Anak ipar saya gitu juga, jadi istri pengganti, menyedihkan. Dia cerita kalau setiap main di ranjang, anak ipar saya itu diminta untuk berdandan seperti istri pertamanya, lalu mend*sah dan bergerak sesuai kebiasaan yang dilakukan dengan istri pertama. Yah, karena cinta, anak ipar saya itu ya nurut aja" sambar yang lain lagi.

__ADS_1


Alana ingin menangis. Dadanya sesak, tapi dia coba bertahan, walau matanya sudah mulai mengabur.


"Udah dong jeng, jangan bahas menantu saja terus" potong Ema menyudahi acara bully itu.


__ADS_2