
"Dita..ka-mu di sini? ngapain?" tanya Alana tergagap saat mendapati Dita ada dihadapannya. Bahkan gadis itu masuk ke dalam pantry untuk menemuinya.
"Lo masih nanya gue ngapain ke sini? menurut lo?" Dita melipat tangan di dada, menunggu reaksi Alana selanjutnya.
Tatapan Dita tampak kecewa pada sahabatnya itu. Sejak dia tahu kalau Alana pergi dari rumah, berulang kali dia menghubungi gadis itu, tapi nomornya sudah tidak aktif lagi. Dita juga berusaha menghubungi Fajar dan Wisnu yang ternyata belum tahu kabar tentang Alana. Baru lah setelah diberitahu oleh Dita, keduanya ikut mencari. Gara masih Jerman, keadaan papanya semakin parah hingga belum bisa pulang.
"Tolong bantu cari Alana Nu, gue mohon. Jangan sampai terjadi hal buruk sama Alana. Tolong jaga dia selama gue ga di sana" pinta Gara saat Wisnu memberitahukan perihal Alana.
"Kita ngobrol disini yok" Alana melepas celemek nya dan menarik tangan Dita ke belakang. Melewati ruangan kecil hingga tembus ke belakang. Ada taman kecil yang biasa di pakai karyawan untuk ngopi dan ngobrol sesama mereka.
"Kamu kok bisa tahu aku ada disini?" kalimat pembuka dari Alana yang disuguhi dengan senyuman.
"Kalau bukan karena mami cerita ke gue lihat cewek mirip lo kerja disini, gue juga ga bakal tahu lo sembunyi disini, Al!" ucapnya kesal.
Alasan Dita begitu marah adalah, gadis itu kecewa Alana yang saat ini dalam masalah pelik, tapi tidak mau cerita padanya. Menanggung sendiri beban tanpa mau diketahui orang lain. Sebenarnya Alana menganggap dia sahabat atau tidak sih?
"Lo masih anggap gue teman ga sih?" bentak Dita kesal. Bahkan dia tidak tahu kalau Alana sudah melahirkan. Dia baru tahu setelah Alana keluar rumah sakit, itu pun dikabari Gara saat pria itu nitip Alana pada Dita dan kedua teman mereka yang lain untuk di jaga.
Semenjak itu Dita sendiri pun tidak bisa menemui Alana langsung karena orang tuanya mengajak liburan keluar negeri, mengunjungi rumah saudara di Lyon, Perancis.
Dan dua hari lalu, Arun tiba-tiba saja berdiri di depan rumahnya, bertanya dimana Alana. Kalau Dita nilai sih, Arun hampir gila mengintrogasi dirinya. Pria itu yakin Dita tahu keberadaan Alana hingga bersikeras memaksa Dita.
"Masih lah. Selamanya kita teman. Itu pun kalau kamu masih mau berteman denganku" ucap Alana mengembangkan senyum. Dia beruntung memiliki sahabat sebaik Dita. Mungkin anaknya tempramen, manja dan juga suka semaunya, tapi hatinya baik dan juga sangat menyayangi Alana. Terlebih Dita yang anak tunggal menganggap Alana adalah saudaranya.
"Kalau gitu, kenapa lo pergi dari rumah ga ngabarin gue? oh..bukan cuma itu, lo lahiran aja ga ngabarin gue!" bentaknya sembari menghapus kasar air mata di pipinya.
Alana cuma tersenyum melihat kearah Dita. Beranjak pindah duduk di sampingnya. "Maafin aku ya Ta. Aku salah. Jangan nangis lagi dong, sayang" ucap Alana memeluk sayang tubuh sahabatnya itu.
"Lepasin, aku ga mau berteman denganmu lagi" Dita berusaha melepaskan diri dari pelukan Alana. Bukan memenuhi permintaan Dita, Alana justru mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Mana mungkin aku mau melepaskan Sahabat sebaik dan secantik ini. Selamanya aku akan bersaudara sama Dita Angraeni Setyawan ini" ucap Alana mencium lama pipi Dita.
"Dasar.." Dita pun tersenyum kearah Alana sambil memonyongkan bibirnya. "Ceritain sama gue, semuanya. Awas kalau ada yang ke skip"
"Apa yang harus aku ceritakan lagi, kan kamu udah tau semua Ta. Betewe, kamu tau dari mana aku pergi dari rumah?"
"Lakik lo noh, pontang panting udah kayak orang gila nyariin lo. Gue kesal sama dia, tapi ngelihat dia gimana paniknya buat gue jadi kasihan" Alana terdiam. Bang Arun..
Tanpa sadar nama itu membawanya kembali ke sana, pada dawai rindu yang telah lama dia lupakan. Kalau Arlan, dia yakin anaknya itu baik-baik saja. Lily menyayangi Arlan, jadi anaknya pasti aman.
"Jangan kasih tau aku disini ya Ta. Please.." ucap Alana cepat.
Hari itu Alana pergi tanpa tujuan. Seperti gembel menyeret kopernya. Hanya ada sisa duit 240 ribu di dompetnya. ATM yang dulu diselipkan bersama surat perjanjian sebelum menikah itu sudah Alana kembalikan pada Lily.
"Terima lah Al. Ini hakmu. Jasamu karena sudah melahirkan anak untukku"
Berjalan menelusuri malam, Alana memilih naik ojek online ke tengah pusat kota. Tuhan yang mengiba melihatnya, mempertemukannya dengan seorang wanita baik hati. Alana berhenti di depan Halte busway yang tepat di depan sekolah swasta. Banyak anak-anak berhamburan keluar, karena ini memang jam pulang sekolah.
Saat itu Alana membeli air mineral di pinggir jalan, tepat melihat seorang gadis kecil menyebrang sementara diujung jalan mobil sedan hitam melaju kencang.
Melihat itu, spontan Alana berlari dan menyelamatkan gadis kecil itu. Dari sana lah Alana berkenalan dengan ibu si anak.
"Terimakasih, terima kasih sekali mbak" ucap Wanita itu memeluk anak gadisnya sembari melihat ke arah Alana.
"Sama-sama mbak"
"Aku Tatiana" wanita itu mengulurkan tangannya
"Aku Alana mbak"
__ADS_1
"Ayo Cherys. Bilang apa sama tante Alana?"
"Makasih tante Alana" ucap gadis cantik itu. Alana hanya mengangguk sambil tersenyum pada Cherys.
Tatiana yang sejak tadi memperhatikan koper Alana, sedikit merasa sungkan, namun memilih untuk tetap bertanya.
"Maaf, Al..aku panggil nama kamu aja ya. Biar lebih akrab, lagian kayaknya aku lebih tua" ucapnya nyengir.
"Oh, iya mbak. Ga papa"
"Kamu mau kemana Al? ko bawa koper?"
"Saya baru keluar dari kosan kak. Baru lulus sekolah jadi mau cari kerja, ga sanggup lagi bayar uang kos" jawabnya malu. Dalam hati Alana minta maaf pada Tuhan karena sudah berbohong. Tapi dia tidak ingin orang tahu masa lalunya, karena dia pun ingin memulai hidup baru tanpa bayang masa lalu.
"Oh, mau nawarin kalau kamu mau. Di toko roti, aku lagi butuh karyawan, siapa tahu aja kamu minat sembari nunggu kerjaan yang lebih lagi misalnya" tawar Tatiana.
"Mau mbak. Mau banget"
Sejak saat itu lah, Alana bekerja di toko roti milik Tatiana dan tinggal di kosan dekat toko roti itu, hingga bisa menghemat ongkos.
"Gue bakal jaga rahasia asal lo terbuka sama gue dan jangan ngilang lagi"
"Thanks, Ta"
"Lo ga kangen sama anak lo?"
"Kangen lah. Kangen banget malah.."
"Sama bokap nya?" Alana hanya tertunduk. Debaran di dadanya bisa dijadikan jawaban atas pertanyaan Dita.
__ADS_1