
Sania semakin kikuk diinterogasi oleh Dita. Tatapan wanita yang memiliki tahi lalat di bawah bibir itu penuh selidik. Di awal dia terkejut, tapi setelah beberapa menit membahas masalah ini dengan kedua tersangka, Dita bisa lebih rileks.
Sementara Kaisar, dia sama sekali tidak mengatakan apapun. Dalam benaknya tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi, sudah terjadi.
"Ngomong, dong, Mas!" Dita mendelik kesal pada Kaisar tampak anteng aja.
"Like father like son! Mau gimana lagi, Sayang? Nikahkan mereka."
Bahu Dita merosot. Dia tidak masalah kalau Sania menjadi mantunya, terlepas dengan latar belakangnya yang bukan dari orang berada seperti mereka. Cuma satu yang mengganjal di dalam hatinya, mereka terlalu muda. Dia punya harapan besar pada Kasa. Anak tunggal yang dia punya.
Namun, Dita mengalah pada takdir. Dia tidak ingin menjadi orang tua yang sempit hati. Toh, masa mudanya juga tidak luput dari dosa dan khilaf. Sekali lagi dia mau memastikan keadaan saat ini.
"San, jawab jujur. Apa kamu... Kamu... Diper*kosa Kasa? Anak ini merudal paksa dirimu?"
"Ma!" sambar Kasa. Dia tidak terima Mamanya menilai rendah dirinya. Selama dia menjalin hubungan dengan para gadis, tidak satupun yang pernah dia paksa.
"Mama cuma ingin memastikan. Soalnya sedikit aneh, selama ini Mama kira Sania pacar Arlan."
Sania memejamkan matanya. Sejak tadi dia hanya tertunduk dan diam. Dia tidak setuju dengan ide Kasa mengambil alih tanggung jawab ini. Dia sudah menolak, tapi Kasa memaksa.
Bahkan saat tiba di depan gerbang rumahnya, Sania masih membujuk Kasa agar mau membatalkan niatnya menemui Kai dan Dita.
"Hanya ini satu-satunya cara menyelamatkanmu dan bayi itu. Jangan melakukan dosa terlalu besar, San. Kalau sampai mau membunuhnya, setiap hari-hari mu akan dihantui rasa bersalah, dan kamu tidak akan pernah bisa lepas dan bahagia menjalani sisa hidupmu!" tukas Kasa menyudahi perdebatan.
Di detik terakhir, Sania mengakui, kalau dia takut Tuhan marah padanya. Berulang kali berbuat dosa, dan kini ingin membuang upah dari dosa yang dia buat bersama Arlan. Dia pasrah. Dia mengikuti apapun yang dikatakan Kasa.
"Bukan, Tante. Maafkan aku. Aku yang salah, maaf sudah menyusahkan keluarga ini," ucap Sania berurai air mata.
"Sudah, jangan menangis lagi." Kasa menggenggam tangan Sania, mencoba menenangkan gadis itu. Kasa takut, Sania jadi berkata jujur, yang menyebabkan pernikahan mereka nantinya ditentang oleh semua orang.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu Mama pastikan. Arlan bukanlah kekasih Sania, begitupun dengan ku. Kami melakukan tanpa sadar, dan pada akhirnya Sania hamil. Aku harus tanggung jawab, bukan begitu, Pa?" Kasa menoleh pada Papanya. Dia yakin ayahnya akan memberikan dukungan.
"Benar. Seorang pria pasti pernah salah langkah, tapi pria sejati tidak akan lari dari tanggung jawab!"
Kasa beruntung mempunya orang tua yang punya pemikiran luas. Mungkin karena saat muda sudah melanglang jauh ke negri orang, hingga memiliki pola pikir yang terbuka.
"Baiklah, sebaik kalian segera menikah."
***
"Bangsat! Mati lu kali ini!" umpat Arlan menerobos masuk ke kamar Kasa. Tanpa mengatakan apapun, dia langsung menyerang pria itu. Kasa sedang berbaring di atas ranjang, menjadi samsak bagi amarah Arlan.
Pukulan demi pukulan Kasa terima, hingga dia bisa membalikkan posisi. Kasa berguling dan jatuh ke lantai. Tepat sebelum Arlan menyerang, dia sudah membalas Arlan. Satu pukulan mendarat di pelipis Arlan.
Keduanya baku hantam di dalam kamar. Semua barang yang ada di kamar Kasa hancur tak berujud. Gitar, piagam penghargaan dan koleksi buku dan toys di lemari roboh hancur berantakan.
Perkelahian imbang. Sekali Arlan memukul, dibalas oleh Kasa dengan cepat. Bukan hanya Arlan yang marah, Kasa juga emosi. Kalau pria itu mau bertanggung jawab, dia tidak akan terbebani seperti ini. Hubungannya dengan Ayra hancur pun, Kasa menyalahkan Arlan.
Namun, entah siapa diantara keduanya yang merasa paling emosi, tenaga keduanya seperti memilih stok yang banyak hingga sudah setengah jam, masih juga adu jotos.
Arlan sudah gelap mata saat pertama kali dia mendengar kabar dari Alana pada saat makan malam.
Dita datang menyampaikan pesan kalau lusa Kasa dan Sania akan melangsungkan akad nikah. Pernikahan mereka hanya dilangsungkan sederhana atas permintaan Sania dan Kasa, tidak mengundang orang luar. Tidak ada pesta, tidak ada syukuran. Namun, karena Dita menganggap keluarga Dirgantara sudah seperti keluarga sendiri, makanya Dita menyampaikan kabar itu sekaligus meminta Arun dan Alana menjadi saksi.
"Menikah? Kenapa tiba-tiba begini?" Sambar Arun. Sementara Arlan yang baru duduk menegakkan tubuhnya. Dia begitu terkejut, sama sekali tidak menyangka. Selama tiga hari ini dia memang tidak bertemu Sania karena fokus mengurus pekerjaannya.
Pantas saja gadis itu tidak membalas pesan dan menganggap telponnya.
"Mama ngomong apa? Siapa yang menikah?" tanya Arlan dengan suara tercekat. Dia baru bangun, makan karena rasa lapar yang menyerang, malah dapat kabar yang mematikan.
__ADS_1
Tubuhnya menegang. Rohnya seolah terbang, meninggalkan raganya.
"Sania... Dia akan menikah dengan Kasa."
"Lelucon apa ini. Gak mungkin mereka berdua menikah!"
Suasana meja makan jadi riuh. Semua mengatakan pendapat masing-masing, tanpa ada yang menyadari kalau Ayra juga terluka. Dia sakit sesakit-sakitnya. Perasaannya hancur. Kasa akan menikah dengan gadis lain. Dugaannya selama ini benar. Kasa punya hubungan dengan Sania di belakangnya.
"Tega kamu, Kak. Ini yang kamu bilang cinta sama aku?" batinnya meremas sisi bajunya. Air matanya jatuh ke pangkuan, meratapi kisah cintanya yang kandas di tengah jalan.
"Kata Tante Dita, Sania hamil."
Kalimat itu menjadi puncak kesabaran Arlan. Dia mendorong kursinya hingga jatuh ke lantai, lalu dengan cepat meninggalkan ruang makan itu. Tujuannya satu, menemui Kasa.
Setelah memastikan Kasa tidak ada di basecamp, Arlan menuju rumah mewah keluarga Kasa, dan terjadilah perkelahian sengit itu.
"Beruntung Bapak dan Ibu datang, itu, di kamar den Kasa, lagi berkelahi," terang Bi Jum lari tergopoh-gopoh menyambut kedatangan keduanya. Mereka baru saja mengurus pernikahan Kasa ke KUA dan menyiapkan semua keperluan Kasa dan Sania nanti.
"Berkelahi? Sama siapa, Bi?"
Dita dan Kai segera menaiki anak tangga. Siapa gerangan yang berani datang ke rumah mereka dan menghajar anaknya.
"Sudah! Kalian berdua! Berhenti! Jangan berkelahi lagi!" Kaisar melerai keduanya. Wajah Arlan dan Kasa sudah tidak berbentuk lagi dengan darah di wajah mereka.
"Lepas, Om. Gue habisi pengkhianat ini. Lu harus mati di tangan gue. Bangsat, tega lu per*kosa Sania. Lu tahu gue cinta sama dia!"
Dita terduduk lemas. Jantungnya berdebar kencang. Bertambahnya usia membuatnya tidak lagi tahan melihat adanya perkelahian seperti ini, terlebih saat ini anak dan keponakannya yang bertarung.
"Lu yang bang*sat! Sini lu, gue habisi, gue mampusi manusia gak guna kayak lu!" balas Kasa.
__ADS_1
"Cukup! Kalian berdua tolong hargai saya di sini!" salak Kai. Umur boleh banyak, tapi kalau untuk melawan kedua pemuda itu, dia masih sanggup.