Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Dasar buaya


__ADS_3

Tanpa diketahui Lily, Arun berhasil menyelinap keluar dari kamar Alana. Apa yang mereka lakukan di dalam sana membuat Arun senyum-senyum sendiri. Dia seperti ABG yang baru mengenal cinta. Kenapa bisa segembira dan sebahagia ini pun dia tidak tahu. Rasanya berbeda saja, lain saat pacaran dengan Lily dulu.


Hanya merekalah yang tahu apa saja yang mereka lakukan. Jangan berpikiran terlalu jauh, tidak ada bajak sawah, hanya kecupan dan letupan kata sayang di sana, Arun sudah berjanji bukan?


Kalau pun Alana belum yakin dengan perasaannya, biarkan saja. Arun tidak memaksa. Dia akan menunggu.


"Dari mana aja sih hun, aku cari ga ada?" serbu Lily begitu masuk kamar.


"Oh, da-ri luar. Lari sore" ucap nya gelagapan


"Hun.." panggil Lily saat Arun sibuk membereskan isi tas kerjanya.


"Hunny!! dengar ga sih aku panggil?" salak Liku kesal.


"Apa sih Ly? aku lagi beresin ini. Ada file yang mau aku kirim nanti"


Malas berdebat, Lily mengalah. Memilih menyongsong Arun ke tempatnya. Lily memeluk pinggang pria itu dari belakang. "Hun, aku pengen.."


Arun mematung. Jantung nya berdetak cepat. Dia harus jawab apa? sudah lama Arun mengabaikan kewajibannya pada Lily, dan kini istrinya itu meminta haknya.


"Hun..yok"


"Jangan sekarang ya, aku capek banget" jawab Arun memutar tubuh Lily kehadapan nya.


"Kamu udah ga suka lagi sama aku ya? udah ga cinta? apa aku udah ga menarik lagi?" mata Lily mulai berkaca-kaca. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang istri, ketika suaminya menolak untuk menjamah istrinya.


"Bukan begitu Ly, hanya saja.." Arun mati ditengah. Tidak tahu harus berkata apa. Dia benci dirinya yang lemah pada Lily. Harusnya kan gampang, dia tinggal bilang pada Lily kalau dirinya tidak menaruh hasrat lagi pada Lily. Bahkan kalau mau jujur dia ingin bercerai dengan Lily, tapi Arun tahu tidak semudah itu. Lily akan membenci Alana, parahnya, Alana akan balik membencinya karena sudah menyakiti perasaan Lily.


Tidak mau menunggu lebih lama, Lily sudah menarik tubuh Arun mendorong hingga pria itu telentang di tempat tidur.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama untuk Lily melucuti pakaian Arun hingga tida bersisa sehelai benang pun.


Arun pasrah. Terserah Lily melakukan apapun padanya. Maka Lily pun mengambil kendali. Memuaskan dirinya bermain dengan tubuh Arun.


Jangan lupa Arun pria normal. Malaikat pun jika sudah dihadapkan oleh kenikmatan dunia mungkin akan tergoda, apa lagi Arun yang manusia biasa. Serangan cumb*an Lily lama kelamaan menyalakan ga*rah nya. Arun akui Lily sangat pawai dalam menyerang titik rangsang nya.


Permainan berlanjut. Arun yang sudah terbakar tidak kuasa menahan diri, ikut bermain bersama Lily. Tapi bagian yang paling menyedihkan dari semuanya adalah Arun membayangkan Alana lah yang sedang bergumul dengannya.


Hingga menuju puncaknya, Arun tetap membayangkan Alana. Diujung permainan usai, Arun melengkungkan senyum puasnya. "Kau menyukainya hun?"


Saat itu lah Arun ditarik paksa oleh fantasinya dalam kenyataan hidup. Perlahan Arun membuka mata, baru lah dia sadar, Lily lah yang ada di sisinya. "I-Iya hun.." jawabnya Arun terbata. Wajah penuh senyum kepuasan tadi berubah jadi wajah penuh nelangsa.


***


Alana dan bi Minah sedang menata meja makan untuk persiapan makana malam saat Lily menggandeng Arun saat menuruni tangga.


"Wah..nampak nya enak nih bi, jadi makin lapar.." ucap Lily sumringah. Di wajahnya selalu terhias senyum.


Alana melirik Lily yang tampak bersenandung gembira saat menyendok nasinya. Lily memang tampak segar dan terlihat cantik malam ini. Sedikit berbeda dari biasanya. Mungkin juga karena baru mandi, rambut Lily tampak masih basah habis keramas.


Makan malam berjalan hening. Sesekali saat Alana mendongak, Arun sedang mencuri pandang padanya, begitu pun sebaliknya.


"Aduh, enak banget, tambah nasi dong Al. Aku kelaparan banget" Lily tersenyum pada Arun, sembari mengerling.


"Ga takut gemuk? biasanya jaga makan kalau udah malam" balas Arun cuek.


"Tenaga ku habis hun, melayani mu tadi. Kamu buat banget sih. Eh..sorry Al. Keceplosan. Tapi ga papa ini, kau juga udah dewasa ini" celetuknya hingga membuat Alana tersedak. Arun melihat reaksi Alana. Wajah tenang ny berubah kesal dan ada kecewa.


"Pelan-pelan makannya Al. Kasihan bayinya dong. Ga usah buru-buru" sambar Lily memberikan gelas berisi air putih.

__ADS_1


"Makasih kak" sahutnya pendek. Hingga akhir santap malam, Alana tidak mau lagi mendongakkan kepalanya. Tidak ingin bertemu pandang dengan Arun. Bahkan makanan yang tadi begitu nikmat pun sudah tidak berselera lagi.


"Kok ga dihabisin Al?" Lily memecah keheningan.


"Hah? oh..udah kenyang kak" sahut Alana. Tuh kan gitu mengangkat wajah mata yang pertama yang dilihatnya justru Arun. Rasa kesal datang begitu saja di hati Alana.


"Habiskan lah makanan mu, sejak tadi hanya tiga sendok yang kau habiskan" ucap Arun dengan nada memohon. Lily menunduk sembari meremat gaun tidurnya. Hatinya sakit mendengar suara lembut Arun yang memohon pada Alana.


Lagi hati Alana merasa menghangat Arun begitu perhatian padanya, tapi mengingat perkataan Lily tadi, kembali hatinya panas.


"Dasar buaya" batinnya kesal. Tapi kenapa dia harus kesal? bukan kah pria yang baru saja menyatakan perasaannya tadi adalah suami kakak nya juga? jadi wajar jika mereka melakukan hubungan itu. Terselip di hati Alana rasa tidak terima yang dia juga tidak tahu kenapa bisa begitu.


"Coba ini hun" Lily menyodorkan satu suapan dari isi piringnya pada Arun. Dan lagi Arun dan Alana saling pandang, namun buru-buru Alana menunduk.


"Buka mulut sayang" ucap Lily tersenyum. Alana merasa sikap Lily malam ini terlalu berlebihan. Seolah ingin menunjukkan keintiman dan betapa romantisnya dirinya dan Arun.


Alana tidak perduli. Sungguh. Well, walau baru akan mencoba tidak perduli. Apakah dia sudah mulai cemburu akan kedekatan Lily dan Arun?


Kata bi Minah, adakalanya istri yang sedang mengandung, ingin selalu berada di dekat suaminya. Biasanya itu bawaan bayi ingin selalu dimanja oleh ayahnya, jadi akan lebih posesif pada suaminya.


Awalnya Alana tidak percaya, tapi melihat kemesraan keduanya kenapa hati Alana tidak tenang. Dia tidak suka Lily membelai Arun. Dia cemburu, hanya saja dia ogah untuk mengakuinya.


"Aku naik dulu kak, bang" ucap Alana bangkit dari duduknya.


Hanya Lily yang menyahuti dengan anggukan. Sesampainya di kamar, Alana menangis terisak. Dia tidak mengerti kenapa dia jadi seperti ini. Tidak mungkin kan dia jatuh cinta pada Arun seperti perkataan Arun tadi?


"Dasar buaya, aku ga akan percaya lagi sama mu, bang. Aku benci"


***Hai semua..selamat menjelang tahun baru..salam sehat buat kita semua. Kali ini aku bawa novel keren nih dari otor keren, kuy mampir, makasih 🙏😘

__ADS_1



__ADS_2