Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Pria Menyebalkan


__ADS_3

"Gimana bos? Aman?" suara diseberang sana tampak riang, seolah ingin mengetahui Kai masih hidup apa sudah mati di massa kan keluarga Setyawan karena ketahuan menyamar dan masuk dalam rumah mereka.


"Gue ga bisa lama-lama disini. Menyiksa gue!" umpat Kai kesal.


"Bos ketahuan?" tebak Perguson bangkit duduk. Saat ini pria itu tengah menikmati kursi kebesaran Kai di ruangannya.


"Bukan itu. Gue tersiksa banget tiap detik disuguhi dada Dita yang lagi ngasih Kasa nen. Lo kapan kesini? nih, gue udah punya sampel rambut sekaligus kuku nya, Kasa,"


Kai berharap tidak sampai seminggu dia sudah cabut dari rumah itu. Dia tidak tahan, godaan Dita terlalu besar, salah-salah dia malah memp*rkosa Dita, dan lahir adiknya Kasa lagi.


"Ok, bos, lusa aku ke sana"


"Kok lusa? kenapa ga besok aja?" hardik Kai mengeram kesal.


"Bos ga ingat, besok non Amanda pulang dari Amsterdam, nenek minta aku jemput dia, karena bos ga bisa dihubungi nenek"


Kai baru ingat, ponselnya memang dinonaktifkan agar tidak ada yang bisa menghubunginya, dan baru ini diaktifkan untuk menghubungi Perguson.


"Apa nenek baik-baik aja?"


"Beliau sehat, cuma semakin rewel nanyain si bos. Katanya kalau sampai besok ga muncul juga mau dihapus dari daftar penerima warisan, mau dikasih aku mungkin ya, bos" goda Perguson, yang tidak berpengaruh apa-apa pada Kaisar.


"Tutup mulut lo! Gue tunggu lusa!" Kai sudah memutus sambungan, lalu me-non aktif kembali ponselnya.


Kai masih duduk di closet, mengamati ponselnya. Dia masih ingat ucapan Perguson yang mengatakan Amanda besok tiba di tanah air.


Kai memijit keningnya yang terasa sakit di kepala. Urusan dengan Dita saja belum selesai sudah datang Amanda.


***


"Aku lupa menanyakan padamu kemarin, bagaimana acara jalan-jalan bersama mertua, kemarin?" ucap Arun mencium tengkuk Alana. Sebentar saja bulu di sekujur tubuh Alana meremang.


"Baik" Alana tetap serius mengoleskan serum ke wajahnya.

__ADS_1


"Mama ga menyakiti perasaanmu?"


"Ga, bang" Alana membalas tatapan Arun melalui pantulan cermin, tanpa harus memutar tubuhnya.


"Jangan menyembunyikan apapun dariku, jika mama memang menyakiti perasaan mu, katakan padamu. Kau adalah tanggungjawab ku, bagian dari diriku, tidak ada yang boleh menyakitimu"


Alan hanya mengangguk, tepat setelahnya Arun memutar tubuh Alana, menangkup pipi gadis itu, untuk bisa mendekatkan bibirnya, mulai mel*mat lembut bibir Alana penuh rasa damba dan rasa cinta.


"Nanti aku jemput, Al. Kalau mau pergi, jangan lupa kabari aku dulu" pesan Arun seusai mencium kening Alana.


"Siap bos" Alana mengangkat tangannya, menghormat bak siswa upacara bendera.


Arun hanya tersenyum, mengacak rambut istrinya hingga membuat Alana mengerucutkan bibirnya.


***


Pagi itu, toko begitu repot, perusahaan yang tidak jauh dari toko itu, hari ini memesan roti, 500 buah. Alana dan ketiga karyawannya harus bekerja sama, karena siang nanti, roti itu harus sudah diantar ke sana.


"Apa kita nambah karyawan lagi, ya? untuk bantu di dapur" tanya Alana pada mereka sembari memasukkan loyang besar ke dalam oven raksasa.


Pukul 2 siang, pesanan itu rampung. Alana dan Mindo mengantar ke gedung perkantoran itu dengan menyewa taksi.


"Siang mbak, saya mau ngantar Roti yang dipesan atas nama, bu Hesti," ucap Alana pada resepsionis cantik yang menyambutnya dengan senyum manis.


"Oh, buat keperluan meeting ya, mbak? di lantai 10 ya" balasnya mengangkat tangan memanggil salah satu keamanan yang melintas.


"Tolong bantu, bawa keruang meeting ya" ucapnya memberi perintah, tepat seperti yang dipesankan Hesti padanya.


Dua kantong besar masing-masing di tangan kiri dan kanan, Alana berjalan menuju lift. Saat pintu terbuka, Alana dan Juli masuk kedalam hendak masuk, namun penuh. Keduanya terpaksa menunggu lift berikut nya, sementara si satpam, hanya sebatas depan lift karena talkie-walkie berbunyi, memanggilnya.


"Maaf ya, mbak. Saya ngantarnya cuma sampai sini, saya harus memarkirkan mobil bos besar yang baru sampai"


"Oh, iya, ga papa. Silahkan pak. Terimakasih banyak" sahut Alana menghormat.

__ADS_1


Lift terbuka, Alana bergegas masuk kedalam yang ternyata sudah ada dua orang pria berjas hitam.


Tatapan sini dan menghinanya yang sempat dilihat Alana tidak diperdulikan gadis itu. Baginya, yang penting pesanan ini tiba dengan tepat waktu, dan dia bisa mendapat uangnya, lalu pergi dari sini. Dia harus membayar sewa ruko yang ternyata sudah lewat beberapa bulan, namu anehnya si pemilik ruko tidak menghubungi Alana.


"Ini segala sampah kenapa dibawa ke kantor ini, sih?" hardik pria yang berdiri paling depan. Alana tebak dia pasti salah satu karyawan di perusahaan besar ini.


"Enak aja sampah. Ini roti pesanan orang sini" sahut Alana tidak terima.


"Siapa yang memesan makanan murahan kayak gini?" tantang mata elang itu.


"Bu Hesti, apa kau kira aku kesini mau nyampah?" siapapun boleh menghina penampilannya, tapi bukan rotinya. Dia membuatnya dengan penuh cinta, agar setiap gigitan dalam rotinya memberikan kebahagiaan bagi siapa saja yang makan.


Pria itu ingin kembali menjawab, alisnya bahkan sudah naik sebelah, namun diurungkannya begitu tiba dilantai tujuannya.


Pria arogan itu menerobos keluar, hingga satu kantong plastik besar yang diletakkan Juli, terseret ke depan.


"Heh, dasar sombong! ini makanan, seenaknya saja kau tendang" salak Alana. Pria itu hanya menoleh sesaat, lalu mendengus kesal, tersenyum sinis hingga sudut bibirnya tertarik keatas, lalu berlalu tanpa mengatakan apapun lagi.


"Sabar, mbak. Anggap aja orang gila, namun tampan," ucap Juli


"Kenapa harus ada kata tampannya, Jul? orang gila, udah sampai disitu aja. Titik!" ucap Alana serius namun membuat Juli tertawa. Tawa Juli menular hingga amarah Alana pun kembali mencair, dan ikut tertawa. Mengikuti petunjuk yang diberikan satpam tadi, Alana berbelok ke sebelah kanan, lurus lalu berhenti di depan pintu kaca sebuah ruangan yang bertuliskan ruang meeting.


Alana masuk, meletakkan kantong plastik di atas meja. "Kita duduk sebentar, Jul. Sebentar lagi bu Hesti datang."


Tak lama yang ditunggu datang, Alana menyambut dengan gembira. Melengkungkan senyum indah di bibirnya. "Ini uangnya, mbak," ucap wanita cantik itu menyerahkan amplop putih tebal ke tangan Alana.


"Makasih, bu Hesti. Ini sudah orderan kesekian, aku lebihkan sepuluh buah untuk ibu" ucapnya pada Hesti yang balas terimakasih.


Baru akan pamit pulang, segerombolan orang masuk, dan parahnya pria tengil yang begitu dibenci Alana tadi, ada diantara mereka. Alana meremas jemarinya, menahan emosi atas perbuatan pria itu tadi.


"Sedang apa kau disini?" hardiknya setelah menyadari keberadaan Alana.


"Maaf, pak. Ini mbak dari toko roti, mengantarkan pesanan untuk Snack ringan yang menemani kita selama meeting " terang Hesti.

__ADS_1


Pria itu melayangkan tatapan angkuhnya pada empat kantong plastik yang diletakkan di atas meja, lalu tatapan tajamnya beralih pada Alana, menatap lekat, dalam dan tajam. Tanpa menoleh, masih menatap Alana, pria itu bertitah.


"Buang semuanya!"


__ADS_2