
Segala tanya Alana terhenti di sana. Mama Reni angkat bicara setelah menyesap minumannya terlebih dahulu.
"Terimakasih karena kita masih bisa berkumpul di sini. Kita semua berduka, karena kehilangan orang yang kita sayangi. Mama sadar kalian begitu terpukul, terlebih kamu Ga, anak kesayangan papamu" air mata mama Reni kembali merebak. Sigap Alana memberikan tisu pada wanita itu.
"Tapi kita semua harus kuat. Jangan larut dalam kesedihan yang berlarut. Kalian harus kuat agar mama juga bisa bertahan dan tegar dalam hidup ini"
Mama Reni berhenti sejenak. Menjeda omongannya sebelum masuk lebih ke dalam inti.
"Al.." Mama Reni menggengam tangan Alana erat. "Ada hal yang ingin mama selaku perwakilan keluarga ini, terlebih mewakili Gara ingin bicarakan padamu, nak"
Keringat dingin mulai bercucuran dari sekujur tubuh Alana. Punggungnya tampak meneteskan keringat karena kekhawatiran yang berlebihan.
"Al..aku" ucap Gara namun kembali diam. Dia sungguh tidak sanggup mengatakan semuanya.
Ok, Alana coba tarik benang merah. Diliriknya jam dinding, sudah pukul empat sore, dia tidak jadi menikah hari ini. Tapi itu semua bisa dimaklumi. Siapa yang mungkin bisa melanjutkan pernikahan ditengah duka kehilangan orang tua seperti ini. Alana paham, dan tidak perlu lah keluarga Pratama merasa tidak enak padanya.
"Biar mama Ga, kalau kamu tidak sanggup mengatakannya" ucap mama Reni memiringkan duduknya lebih menghadap Alana.
"Alana, mama minta maaf, pernikahan mu dengan Gara tidak bisa dilangsungkan hari ini" ucapnya bergetar.
"Iya ma. Aku tahu dan aku bisa mengerti hal itu. Kita masih dalam keadaan berduka akan kepergian papa Galuh" ucapnya mengartikan pembatalan itu.
"Kamu benar nak. Tapi bukan hanya karena itu. Al, itu Nadia, dia putri dari sahabat karib papa. Dan hari ini sebelum papa menghembuskan nafas terakhirnya, beliau meminta Gara menikahi Nadia, sesuai perjanjian papa Galuh dan papanya Nadia. Dan mereka sudah menikah tadi pagi dihadapan papa Galuh"
Dunia Alana runtuh. Pandangannya mengabur. Dia tidak bisa mendengar dengan jelas, bukan dia dengar dengan jelas, tapi otaknya tidak bisa mencerna kata perkata mama Reni. Gemetar tubuhnya lebih hebat lagi. Wajahnya pun berubah pucat pasi.
"Al..aku bisa jelaskan" ucap Gara pindah duduk di dekat Alana. Tapi Alana membatu. Tidak bergerak. Tatapannya jauh menembus retina Nadia yang duduk diseberang yang juga tengah menatapnya.
__ADS_1
"Alana, dengar aku dulu" ucap Gara menyentuh pipi Alana. Membawa gadis itu kembali ke alam nyata yang menyakitkan.
Perlahan, Alana menoleh pada Gara. Menatap pria itu tanpa ekspresi yang jelas.
"Alana dengarkan mama. Gara tidak ada niat mengkhianati mu. Dia juga tidak tahu akan perjodohan ini. Dia tidak bisa menolak karena inilah permintaan terakhir papanya" mama Reni merebut perhatian Alana.
"Sayang, sini aku ingin bicara" Gara menarik tangan Alana menjauh dari ruangan itu. Mengunci diri mereka di ruang perpustakaan.
"Al..aku ga ada niat untuk menyakiti mu. Aku bersumpah. Aku ga tahu kalau aku akan dijodohkan. Kamu bisa kan memakluminya? aku terpaksa melakukannya karena ini keinginan papa. Aku juga ga kenal gadis itu"
Alana masih diam dalam kebingungannya. Mau berkata apa? pikiran sama rohnya masih melayang-layang entah dimana.
"Al..aku berjanji kita akan menikah"
"Menikah? kita? lalu dia?" kalimat Alana setelah kembali bisa menguasai akal sehatnya.
"Dengan menceraikannya?" tantang Alana.
"Dengar..aku tidak bisa menceraikannya, tapi aku akan tetap akan menikahi mu"
"Dan menjadikan aku istri kedua?!"
"Al.." suara Gara terdengar lirih. Dia tahu Alana terluka. Harga dirinya tercabik.
"Itukah yang pantas jadi takdirku Ga? jadi istri kedua? aku cerai karena tidak ingin menjadi istri kedua, dan kini kau ingin menjadikanku kembali menjadi istri keduamu? itulah yang pantas untukku?" tanpa suara isak tangis, air mata Alana turun membanjiri pipinya.
"Al.." Gara mengulurkan tangannya ingin menghapus jejak air mata Alana tapi segera di tepis gadis itu.
__ADS_1
"Terimakasih untuk selama ini Ga. Berbahagialah dengan istrimu"
"Ga Al, aku ga mau. Aku hanya ingin kamu yang menjadi istriku"
"Aku mohon jangan menjadi egois Ga. Aku tidak ingin kembali di cap sebagai orang ketiga, perusak rumah tangga orang. Aku tidak mau cibiran yang orang sematkan pada ibuku, harus juga aku alami" Alana bangkit berjalan ke arah pintu dengan uraian air mata. Gara setengah berlari mengejar langkah Alana, memeluk tubuh rapuh Alana dari belakang, menghentikan Alana yang sudah memegang gagang pintu.
Untuk persekian detik Alana biarkan Gara memeluknya. Alana juga ingin menikmatinya, mungkin inilah cara mereka memberi salam perpisahan. Tersakiti sejak kecil membuat Alana kuat, tidak menjadi gila dengan banyaknya cobaan yang menderu nya.
Oh..iya, dia punya Arlan yang menjadi penguatnya. Mungkin dia tidak bernasib dalam urusan hati dan asmara, biarlah. Dia akan tetap bertahan demi anaknya. Sakit? pasti! Merasa dicampakkan dan dipermainkan takdir apa lagi, tapi dia hanya salah satu ciptaanNya yang berkewajiban menjalani lakon yang sudah disiapkan untuknya.
"Lepaskan Ga. Aku mau pulang, Arlan pasti menungguku" ucap Alana lirih. Air matanya menetes deras. Sakit di tenggorokan yang terasa tercekat karena menahan isak tangis. Kalau saja dia bisa pinjam pintu ajaib Doraemon, dia ingin pergi ke tepi laut, berteriak dan menangis sekencang-kencangnya hingga sesak di dadanya pupus. Dia ingin protes akan ketidakadilan yang dia terima selama hidupnya ini, tapi tidak mungkin kan, siapa dirinya?!
"Al, jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Aku benar-benar mencintaimu. Sebelum aku menikahi Nadia, aku sudah bilang pada papa, kalau aku sudah punya calon istri, kamu yang akan aku nikahi hari ini. Papa dan juga keluarga Nadia tidak punya pilihan lain selain menyetujui kalau aku akan tetap menikahi mu, asal aku tidak menceraikan Nadia" terang Gara berharap Alana akan luluh atas niat tulusnya. Deru nafas Gara masih terasa membakar di leher Alana.
"Dan menjadikanku istri keduamu? Nadia tidak salah Ga. Aku tahu bagaimana rasanya hidup satu atap tiga hati, menyakitkan. Lupakan aku. Aku mengikhlaskan mu. Mungkin ini sudah jadi suratan takdirku" bisik Alana lirih. Meremas sisi jeansnya demi menahan sakit hatinya.
"Jangan tinggalkan aku Al. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu" bisik Gara semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku sudah pernah merasakan jadi yang kedua, Sakit Ga. Tidak enak menjadi yang pertama atau kedua, bagi wanita manapun itu. Menjadi satu-satunya wanita dalam hidup seorang pria lah yang bisa membuat wanita bahagia. Sejatinya wanita manapun tidak akan ikhlas berbagi cinta, berbagi suami. Tuhan menciptakan satu hati, karena Tuhan tahu, hati hanya bisa mencintai satu orang saja sebagai belahan jiwanya" Air mata Alana tak terbendung, turun membasahi pipi hingga ke tangan Gara.
"Lalu bagaimana aku Al? bagaimana dengan kebahagiaanku? kebahagiaanku ada bersamamu" ucap Gara benar-benar putus asa. Cintanya begitu besar pada gadis ini. Dunia tidak akan lagi bersinar jika Alana meninggalkannya. Biar dia saja dibilang egois, tapi dia tetap ingin bersama Alana. Seandainya bukan karena permintaan papanya, Gara bahkan bersedia menentang dunia, jika ada orang yang ingin memisahkan mereka.
"Kadang mungkin kita hidup ditakdirkan untuk tidak bahagia dengan pilihan kita sendiri. Coba lah buka hati pada Nadia, coba mencintainya, seiring waktu, kamu pasti bisa Ga" Alana memutar tubuhnya, memaksa Gara melepas tubuhnya. Untuk sesaat mereka saling tatap, lalu Alana menjinjit untuk mencium kening Gara, lalu dengan tangannya menghapus jejak air mata di pipi pria itu, lalu melangkah pergi..
"Selamat tinggal Ga.."
*** Hai..aku datang.. Hufffh. Yang kecewa Gara ga jadi sama Alana nikah, Monggo Eike di buli. Eike siap menerimanyaπ€ͺπ€ͺπ π βοΈ buat tim Arun, boleh senang sekarang, tapi jadi apa ga sama Arun, lihat nanti yaπ€ͺπ€ͺππ
__ADS_1
aku cuma mau bilang, makasih udah setia sama novel ini. Tidak semua yang diinginkan readers bisa aku ikutin, nanti jalan cerita yang udah di konsep jadi kacau,ππ π nikmati alurnya ya. Oh iya, jangan bagi yang cuma baca, like komen dong, kalau bisa kasih hadiahπ π biar aku tambah semangat. Akoh sayang kalian semua. Aku bacain satu-satu komennya, kadang aku suka senyum kalau pas lagi sepaham sama aku, tapi aku juga kadang cemberut kalau ada yang ngumpat Eike bilang, Eike sadis buat Alana menderita terus..pokonya apa pun komen kalian, aku love kalian semua, kiss ππ dan peluk π€π€π€ online