Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Hamil


__ADS_3

Rasanya hidup Alana kini tampak sempurna. Apa yang menjadi kerinduan setiap istri sudah dia dapatkan. Suami yang sangat mencintainya, anak yang pintar, serta mertua yang menyayangi nya. Tapi belakangan ini, Ema tampak mengusik hidup Alana, membuat siapa pun melihat tingkahnya pasti kesal.


"Jangan kerja melulu Al, kapan kamu mau punya anak? Mama ingin punya cucu perempuan. Tuh, teman arisan mama, Jeng Ketek udah punya cucu yang cantik. Mama ga mau kalah dong" ucapnya sore itu saat mampir di toko.


"Iya ma, doain aja ya. Biar Arlan cepat dapat dedek bayi perempuan" sahut Alana tersenyum.


"Gimana mau hamil, kalau kamu kecapean gitu?! masa udah tiga bulan nikah belum hamil juga. Dulu aja sekali buat, Arlan langsung ada" sambar Ema dengan wajah tidak senang, mengembangkan kipasnya, lalu mulai mengipas wajahnya.


"Ga capek kok Ma, ini cuma jagain kasir aja. Lagian karyawan dan bread maker nya juga udah ditambah" terang Alana tidak mau mendebat mertuanya lebih jauh.


Seperti kata orang bijak, selama kita hidup, pasti ada persoalan yang menghadang. Alana berharap bisa menyenangkan hati semua orang, terlebih keluarganya, tapi masalah anak kan sang Pencipta yang tahu, kapan dirinya akan dipercaya untuk punya anak lagi.


***


Hari ini Ema datang lagi, membahas masalah yang sama sekaligus membawakan jamu dan ramuan buat Alana, yang katanya bisa mempercepat Alana hamil. "Tapi ga ada juga gunanya kalau kamu rutin minum ini, tapi ga rutin keringatan bareng Arun" sindir Ema meletakkan bungkusannya. Ema tipe wanita yang blak-blakkan yang selalu menganggap apa yang dia pikirkan itu lah yang benar.


Walau kadang omongan nyelekit, tapi sebenarnya hatinya baik dan penyayang.


Lambaian tangan Alana mengiring mobil Ema yang berlalu pulang. Baru sebentar merenggangkan tubuhnya di sofa ruangannya, Dita datang dengan wajah pucat pasi. Bahkan dari matanya, Alana bisa menebak kalau dirinya baru saja menangis.


Ta..kamu kenapa? habis kamu nangis? wajah kamu juga pucat begini, kamu baik-baik aja kan, Ta?" Alana menegakan tubuhnya, mengamati gadis yang tampak kusut itu yang kini sudah duduk di sampingnya. Gadis itu hanya terdiam, tanpa mau bicara. Tatapannya kosong, namun riak air mata dan kekalutan terlihat jelas.


"Dita...jangan buat aku takut dong, please" pinta Alana benar-benar khawatir. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya itu.


"Gue hamil!"


Dua kata itu meluncur begitu saja dari mulut Dita. Wajah datar, tapi Alana tahu gadis itu terguncang hebat. Gadis periang yang selalu sesukanya sendiri itu justru tampak tak bernyawa. Hanya diam dengan pikiran melayang jauh, menyesali langkah salah yang telah dia lakukan.

__ADS_1


"Ta.." suara Alana tercekat memanggil nama sahabatnya itu.


"Bokap gue bakal bilang apa ya sama gue, Al? baru aja gue baikan sama dia. Baru aja dia bangga sama gue, karena IPK gue naik" kalimat demi kalimat Dita ucapkan tanpa ekspresi di wajah, namun siapa pun tahu hatinya kini terluka.


"Kamu yakin? udah cek? periksa dimana?" susul Alana masih belum percaya atas apa yang menimpa Dita.


Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Alana. "Pake testpack" lanjutnya singkat.


Alana melingkarkan tangannya di pundak gadis itu, menangis untuk apa yang dialami Dita saat ini. "Jangan nangis, gue aja ga nangis" ujar Dita tepat saat bulir bening jatuh dari bola matanya.


"Barang kali ini hukuman buat gue ya, Al. Selama ini udah jahat banget sama orang tua gue. Sifat gue juga buruk jadi manusia" ucapnya mengoceh. Seolah semua sikap tidak baiknya yang pernah dia lakukan satu persatu di hadapkan padanya.


"Jangan gitu. Allah kasih seperti ini terjadi, karena Dia tahu, kamu gadis yang kuat. Kamu pasti bisa melalui semua ini, dan yang pasti akan ada jalan keluar dari setiap masalah yang kita hadapi" ucap Alana masih terus menangis. Hidungnya mulai berair dan cairan bening itu sesekali turun lewat lobang hidungnya.


Dita beranjak, mengambil kotak tisu dan menyerahkannya pada Alana. "Lap dong ingus lo Al, berisik banget, udah lah nangis, pake diiringi suara ingus lagi" ucap Dita mengambil satu lembar tisu dan mulai menghapus jejak air mata di pipi Alana.


"Iya gue tahu, dan thanks babe, tapi harusnya lo menghibur gue, bukan malah gue yang nenangin lo" Dita jadi tersenyum melihat tingkah mereka sendiri. Siapa yang dapat masalah, siapa yang mendapat penghiburan.


"Iya maaf. Kamu benar, harusnya kamu kan yang nangis aku yang menenangkan, ini kok jadi kebalik" ucapnya malu.


Dari kaca ruangannya, Alana melihat Mindo lintas, dan segera memanggil gadis itu. "Minta tolong buatkan lemon tea hangat ya, Min. Makasih" ujar Alana dan kembali menatap Dita yang menyandarkan punggungnya pada kursi. Gadis itu tampak lelah tubuh dan pikiran juga tersita. Tapi dia tidak bisa menyerah kan? Tanpa sadar tangannya meraba permukaan perut ratanya.


"Apa iya dalam sini ada makhluk lain? dalam diri gue, pake darah gue, makan makanan gue?" gumam Dita pelan. "Mana gue ga tahu lagi siapa bapaknya. Cil, lo tau ga siapa yang invest sama gue kemaren?"


"Dita, ga boleh gitu ngomongnya. Kamu tuh udah kayak rentenir, hitung-hitungan sama janin sendiri" balas Alana sewot.


"Ya kali sampai sembilan bulan dia jadi parasit di tubuh gue. Apa gue buang aja ya nih janin yang ga jelas bokapnya?" Dita menepuk-nepuk perutnya pelan.

__ADS_1


"Astagfirullah Ta, jadi ibu tidak gampang, dan tidak semua wanita seberuntung kita, bisa menjadi ibu. Jadi aku mohon, jangan pikirkan hal-hal aneh ya, Ta?" ucap Alana takut kalau Dita mengambil jalan pintas.


"Terus gue harus gimana dong?. Al, lo temani gue periksa ke dokter ya" pinta Dita yang dengan mantap diangguk Alana.


Setelah pamit, Alana menemani Dita untuk cek kandungan di salah satu rumah sakit yang paling dekat dari toko roti.


Setelah mengisi formulir, keduanya menunggu untuk dipanggil bertemu dokter. "Al, ntar kalau dokternya nanya, bapaknya mana, gue jawab apa?" kekalutan kembali muncul dari wajah Dita


"Bilang aja lagi kerja" jawab Alana mantap. Dia ingin tetap mensupport sahabatnya itu saat paling jatuh sekali pun.


Tiba giliran dipanggil, kaki Dita beku, seolah berurat dan berakar hingga menyatu dengan lantai rumah sakit.


"Ibu Dita Angraeni" panggil suster untuk kedua kalinya.


"Ayo, Ta. Itu udah giliran kamu"


"Aku takut Al. Lo aja yang periksa ya"


"Apa? kok aku sih? aku kan ga hamil. Ayo dong Ta, biar tahu udah berapa bulan. Janinnya sehat atau ga" ajak Alana menarik tangan Dita agar mau berdiri.


"Ibu Dita Angraeni" ulang suster mulai tidak sabar.


"Ta, ayo masuk sekarang, atau aku akan segera hubungi om Rudi!"


***


Hai..makasih masih setia, aku mau promo novel keren, yang suka mafia, kuy mampir 🙏

__ADS_1



__ADS_2