
"Kok malah bengong? lo dengar ga sih gue ngomong apa barusan?" hardik Kai kesal melihat tampang bloon yang dipertontonkan Alana.
"Sorry bang, aku ga bisa mencerna omongan mu" dan setelah mengucapkan kalimat itu, perut Alana berbunyi hingga terdengar ke seberang meja.
"Lo laper?"
Malu-malu Alana mengangguk. Kenyataannya memang begitu kan? "Lo mau makan apa? gila ya, tiap lo ketemu gue selalu nyusahin, yang ga punya ongkos pulang lah, ini belum makan lah. Atau lo sengaja ga makan dulu biar gue yang bayarin ya?"
"Najis deh. Jangan fitnah dong. Tadi juga aku mau makan waktu abang telpon. Bangkai kan yang minta aku buru-buru kesini?" Alana semakin kesal, melipat tangannya di dada. Dia sungguh tak habis pikir kenapa ada orang yang tidak punya perasaan seperti ini.
"Udah diam, pintar banget mulut lo ngejawab ya" hardiknya.
Namun setelah nya Alana benar-benar terdiam dibuatnya. Pria yang sejak tadi dimakinya itu justru memesan banyak makanan untuk dirinya seorang. "Beneran ini buat aku makan?"
"Mmmm..."
"Banyak banget, mana enak-enak lagi" ucapnya sumringah. Pandangannya terus saja fokus pada beragam makanan yang sudah terhidang.
"Buruan makan. Habisin, mahal tuh" ucap Kai melipat tangan di dada, punggungnya disandarkan ke kursi, menatap gadis yang memandang buas makanan seolah belum makan setahun!
"Eh..tunggu dulu, ini semua bangkai kan yang bayar? aku ga ada duit loh. Sisa di dompet baja tinggal 84 ribu lagi"
"Miskin banget sih lo. Udah makan"
Tanpa malu dan tidak perduli delik mata Kai yang seolah menatap hina padanya, Alana membantai semua makana yang ada di atas meja.
"Pelan-pelan, rakus banget sih lo" hardik Kai yang takut Alana tersedak karena makan secepat itu.
***
__ADS_1
Sementara di sudut ruangan yang sama Arun yang lebih dulu makan dengan koleganya segera bangkit setelah semua urusan pembahasan proyek baru mereka rampung. Kesepakatan sudah tercapai, berkas kerja sama antara kedua perusahaan juga sudah ditandatangani kedua belah pihak, dan masing-masing salinannya sudah dimiliki kedua bos besar itu.
"Terimakasih pak Arun, saya senang sekali akhirnya kita bisa bekerja sama. Ini sudah saya impikan sejak lama" ucap pak Edric menyalami Arun.
"Saya juga senang bisa bekerja sama dengan PT Silver" sahut Arun sopan.
"Habis dari sini, kita bisa sama-sama menuju pihak pembangunannya, agar bisa segera diproses" ucap tuan Edric yang langsung disetujui Arun. Proyek besar ini sangat berpengaruh bagi kesuksesan dan perkembangan perusahan Arun menjadi salah satu perusahaan raksasa yang masih berkompeten di saat krisis perekonomian melanda negeri ini.
Kedua bos besar itu bersama kedua asisten pribadi mereka melangkah keluar dari ruang VIP, tepat saat menuju ke pintu keluar, Arun yang samar melihat sosok Alana yang tengah makan tampak terkejut. Dia masih bergeming ditempatnya memastikan itu adalah Alana nya.
Setelah meyakini itu memang Alana, pandangan Arun beralih pada pria yang duduk dihadapan gadis itu. Pria itu tampak tidak asing, tapi Arun lupa pernah melihatnya dimana.
Rasa cemburu seketika menguasai hati Arun. Tadi dia mengajak gadis itu untuk makan siang bersama dia langsung menolak, dan kini Arun justru melihatnya makan dengan riangnya bersama seorang pria asing. Siapa pria itu? ada hubungan apa dengan Alana?
Semua pertanyaan itu silih berganti datang dalam benaknya. Dia marah, dia cemburu. Arun baru saja akan melangkahkan kakinya menuju meja Alana, namun suara Edric membatalkan niatnya.
"Tuan..tuan Arun.." ucapnya mengulang.
"Bos.." sentuh Dino pada lengan Arun, meminta bosnya itu kembali fokus pada pekerjaan.
"Hah?" Arun gelagapan karena dia sendiri tidak mendengar pertanyaan koleganya itu. "Kenapa?" Arun melihat Edric sesaat lalu beralih melihat Alana. Saat ini gadis itu tertawa gembira, meneguk segelas air putih saat ingin menyelesaikan makannya.
"Apa ada masalah?" Edric sedikit berpindah agar bisa melihat apa yang menjadi objek menarik yang menyita perhatian Arun.
"Tidak ada masalah. Sorry, ayo kita lanjutkan perjalanan kita" ucap Arun mencoba menawarkan senyum, namun tampak sangat kecut.
Sepanjang perjalanan menuju tepat pertemuan kedua, pikiran Arun terus saja melayang pada Alana. Hatinya gelisah. Dia tidak suka Alana bersama pria lain, bahkan dia tidak suka ada pria lain yang tertawa bersama dengannya. Dia harus segera menyelesaikan kerjaannya ini, agar bisa pulang dan bertanya langsung pada Alana.
***
__ADS_1
"Aduh, kenyang banget..perutku begah banget ini bang" ucapnya seraya bersandar malas.
"Salah lo sendiri, siapa suruh lo rakus banget"
"Nyalahin aku lagi. Abang kan yang pesan makanan segini banyak, abang juga yang maksa aku buat ngabisin semuanya" ucap Alana lemah. Perut yang terasa sangat kenyang membuat mata Alana mengantuk.
"Udah, ini semua bill nya, gue masukin ke daftar utang lo. Jadi ingat, besok jangan sampai lo ngecewain gue" Kai bangkit dari duduknya setelah membayar tagihan yang hampir 600 ribu rupiah untuk semua santapan Alana.
Ketika sudah melangkah, Alana baru sadar kalau uang di dompetnya itu tidak akan cukup untuk ongkos ke rumah. Dia harus menghemat, dia tidak mungkin mengambil uang di ATM lagi hari ini, karena pagi tadi sudah narik 250 ribu.
"Eh.. bangkai, tungguin" ujar Alana mengejar Kai dengan langkah lebarnya.
"Apa lagi?"
"Anterin aku pulang, aku ga punya ongkos lagi"
Tidak mau berlama-lama berurusan dengan Alana, Kai langsung mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celananya, namun dibatalkan. Pria itu menimbang, lebih baik dia sendiri yang mengantarkan Alana pulang. Jadi kalau besok gadis itu menghindar dan tidak jadi datang, dia bisa mencari ke rumah gadis itu.
"Ok, gue antar. Ayo buruan"
Perut kenyang ditambah sejuknya pendingin di mobil mahal Kaisar membuat Alana tertidur, bahkan begitu nyenyak. Gadis itu meringkuk di kursinya tertidur dengan pulas nya hingga tidak sadar air liurnya menetes dari sudut bibirnya.
Tepat saat perhentian lampu merah, Kai iseng memotret wajah jelek Alana lengkap dengan ilernya melalui karena hapenya. Tawa tertahan pria itu keluar, merasa geli melihat ekspresi wajah Alana.
"Lo itu sebenarnya ga jelek. Lo manis dan menggemaskan, cuma rada bloon. Tapi ga papa lah, biar lo bisa gue jadiin tameng saat nenek rewel sama gue" cicitnya masih memandangi wajah Alana yang sedang tidur.
Sesuai petunjuk Alana saat baru berangkat tadi, Kaisar dengan mudah menemukan rumah gadis itu. Setelah menghentikan mobil di depan gerbang, Kai tertegun melihat rumah yang mewah, bertingkat yang disebut Alana sebagai rumahnya.
"Lo sebenarnya siapa sih? gembel tapi kok punya rumah sebesar ini? gue jadi tertarik buat bedah lo, wahai cewek ingus!!"
__ADS_1