
"Kamu bersama keluarga? kekasih?" tanya El menatap lekat wajah Alana. Baru menyadari kalau wajah gadis itu begitu menarik. Dia sudah banyak mengenal wanita cantik, model hingga artis yang sering wara-wiri di televisi, tapi wajah Alana tampak memikat dengan aura natural dan polos wajahnya.
"Hah? Oh..dengan keluarga" sahutnya terbata. Lalu membuang pandangan ke kiri, menenangkan debar jantungnya diingatkan sekilas tentang statusnya.
"Jarang ada gadis muda seperti mu mau diajak ikut ke pesta yang membosankan, dipenuhi orang-orang yang usianya jauh di atas mu"
"Aku menemani kakak ku" sahut nya mencoba melepas satu senyuman.
"Masih sekolah atau kuliah?"
"Sekolah. SMA"
"Aku anak terakhir, tapi punya adik sepupu yang juga masih duduk di bangku SMA. Lihat itu" ucap El menunjuk kelip lampu di satu bangunan tinggi hingga menyerupai satu bintang.
"Indah.." Alana menatap takjub. Banyak cahaya lain di sana mengelilingi cahaya itu tapi sinarnya lebih terang. Dia ingin seperti cahaya itu, memiliki terang nya sendiri. Bukan selalu menjadi bayangan orang lain.
"Apa film favoritmu?"
"Mmmm.. Cinderella" jawab Alana cepat. Hanya itu yang dia suka sejak kecil. Bahkan dulu dia berharap bisa memiliki nasib seperti Cinderella, memiliki pangeran yang akan membawanya keluar dari kesedihan dan hidup dengan bahagia. Tapi berjalannya waktu dia sadar, itu hanya dongeng. Tidak akan ada yang membawa nya keluar dari kepedihannya saat ini.
"Apakah kamu sudah bertemu dengan pangeran mu? atau masih menunggu?" susul El mencondongkan tubuhnya kearah Alana.
Perlahan gadis itu menggeleng. Bingung harus jawab apa. Bertemu mungkin sudah. Gara pantas jadi pangeran impiannya, tapi justru dirinyalah yang tidak cocok berperan jadi Cinderella.
"Suatu hari nanti kamu pasti akan menemukannya" suara El terdengar bersahabat dan tulus ditelinga Alana. Keduanya saling tatap. Lalu bersamaan pula menunduk malu.
Untuk seketika Arun harus meninggalkan tempatnya. Digandeng Wiga, papanya menuju ruang khusus yang dihadiri beberapa pengusaha besar di negeri ini. Wiga membawa Arun menemui seorang bos besar yang mencari pengusaha muda yang visioner. Wiga merasa dia perlu memperkenalkan Arun pada pria itu.
__ADS_1
"Arun, ini pak Sutiyoso, pemilik PT. Unilavar" ucap Wiga mengenalkan pria keturunan yang memakai stelan jas mahal.
"Saya Arun pak. Terima kasih sudah datang di acara orang tua saya" Arun mengulurkan tangan menjabat si pengusaha besar.
Basa basi terjalin, lalu masuk ke dalam skala besar materi pembahasan. Setelah mendapat kesepakatan, Arun pamit menuju ruang pesta dimana dia meninggalkan Alana tadi.
Dilayangkan pandangannya kesemua penjuru ruangan yang semakin banyak undangan yang berdatangan. Tapi yang dicari justru tidak ketemu. Matanya sempat melihat Lily yang tertawa gembira diantara ibu-ibu muda sosialita. Wanita itu tampak bahagia. Untuk sejenak Arun menatap Lily, tawa dan juga raut bahagia yang terpancar diwajahnya hanya lah palsu belaka.
Bagaimana mungkin seorang wanita bisa tertawa lepas mengingat satu kebohongan besar yang sudah dia lakoni didepan banyak orang? Tapi Arun memilih untuk tidak merusak kebahagiaan istrinya. Justru Arun kasihan dengan Lily. Berkali-kali Arun mengatakan tidak usah merisaukan masalah anak. Lahir batin Arun ikhlas asal bersama Lily selamanya. Tapi wanita itu justru memasukkan wanita lain dalam rumah tangga mereka. Jadi ketika hati dan pikiran Arun terbagi pada Alana, maka Lily lah penyebabnya.
Tidak menemukan keberadaan Alana membuat hati Arun tidak tenang. Gelisah dan juga khawatir menghantui dirinya. Kadang dia tidak habis pikir, kenapa Alana seolah jadi radar buatnya, tidak bisa jauh dari gadis itu sedikit pun.
Arun terus berkeliling mencari. Teguran dari orang yang mengenalnya sekedar menyapa atau ingin mengajak berbincang, hanya ditanggapinya dengan senyuman dan tangan terangkat. "Maaf, nanti ya" ucapnya kala seseorang yang dia ingat pernah bekerjasama dengannya menyapa meminta perhatian Arun. Dia harus menemukan Alana lebih dulu. Saat mulai kalut, Arun melihat Alana dari pintu kaca menuju taman samping ballroom. Gadis itu tertawa.
Tawa Alana begitu menular, hingga Arun ikut tersenyum. Tapi senyumnya memudar saat melihat seorang pria duduk disampingnya. Seketika itu juga amarahnya mencuat.
Alana ragu, namun sedetik kemudian mengangguk. Toh El tampaknya pria baik. Hanya nomor telepon ini. Kalau pun ternyata mengganggu, Alana akan memblokirnya.
Tepat selesai mengetik nomornya pada ponsel El, keduanya terkejut akan kemunculan seorang pria secara tiba-tiba didepan mereka. Bola mata Alana membulat seiring kesadaran akan kehadiran Arun.
"Ngapain kau di sini?" hardiknya menatap tajam pada Alana, sikap arogan dan penuh emosinya terasa mencekam disekitar mereka. Untuk melirik El saja Arun tidak sudi.
"B-ang.." jawab Alana gagap. Paham kalau pria yang baru menghardik Alana adalah keluarga gadis itu, El yang bersikap gentleman berdiri di hadapan Arun. Dia tebak mungkin kemarahan pria itu karena El mengajak Alana menyelinap dari pesta itu.
"Maaf, saya yang mengajak Alana ke sini untuk mencari udah segar. Tolong jangan marah padanya" ucap El penuh hormat. Tapi Arun masih tidak berpaling dari wajah Alana.
"Ayo pulang.." Arun menarik paksa pergelangan Alana hingga membuat gadis itu merintih kesakitan. Pegangan Arun terlalu kuat, hingga membuat kulit Alana memerah.
__ADS_1
"Sakit bang" rintih nya. Tapi amarah dan cemburu sudah menutupi rasio Arun. Masih menarik paksa Alana hingga terkesan menyeret gadis itu.
"Tunggu. Anda mungkin abangnya, tapi anda tidak pantas memperlakukannya seperti ini. Anda terlalu kasar pada seorang wanita terlebih dia adik anda sendiri" tegas El memotong langkah Arun. Kini keduanya berhadapan dalam satu titik pandang.
"Minggir!!" salak Arun penuh emosi. Berani-beraninya menghentikan langkahnya membawa Alana dari sana.
"Maaf, saya tidak bisa membiarkan Alana pergi dengan keadaan seperti itu" bantah El tetap bergeming di tempatnya.
"Kau siapa mengajari apa yang pantas atau tidak yang aku lakukan padanya? aku bertanggung jawab penuh pada gadis ini" bentak Arun. Alana menatap El dari balik punggung tegap Arun. Melalui matanya memberi tanda untuk menyingkir dan membiarkan mereka lewat.
El yang melihat itu akhirnya menyerah, menggeser tubuhnya agar keduanya bisa lewat. Arun dan Alana melewati pintu itu tapi Arun bukan membawanya kembali ke pesta itu, tapi kearah pintu darurat. Membuka dan menempelkan tubuhnya Alana di tembok.
"Jangan menguji kesabaranku Alana" ucapnya datar namun mata elangnya mengunci wajah Alana.
"Aku ga ngerti, apa salah ku bang?" tanya Alana takut.
"Kau masih tanya salahmu? kau menyelinap keluar dengan pria lain. Apa kau sebegitu murahannya, hingga menerima setiap pria?"
Penyesalan selalu datang terlambat. Itu akan dialami Arun nantinya. Kata yang sudah terucap tidak mungkin bisa ditarik kembali. Hati yang sudah tersakiti tidak mungkin akan bisa memaafkan dengan mudah.
Ucapan Arun tepat menghujam hati Alana yang paling dalam. Harga dirinya yang memang sudah tidak ada lagi, kini semakin diinjak-injak pria itu dengan mengatakan dirinya wanita murahan.
***
Hai..kali ini aku datang bawa novel lainnya. kuy nungguin aku up, nyempil di sini.. kamsamida 🙏🙏😘
__ADS_1