Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Kebohongan demi kebohongan


__ADS_3

Suara pintu mobil yang terhempas, cukup mengagetkan Lily dan Santi yang saat ini asik ngobrol. Penuh semangat Arun memasuki rumah, senyum diwajahnya pun tak lepas, memancarkan rasa bahagianya.


Sejak pagi, Arun begitu bersemangat pulang untuk menemui anak dan juga istrinya, yah walau tidak semua istrinya yang membuatnya bersemangat.


Hal pertama yang di lihat Arun saat menapaki ruang tamu adalah Lily dan juga Santi yang duduk berdampingan. Wajah Lily tampak kusut, dan di pipinya masih ada jejak air mata. Sekilas Arun melempar pandangan, sepi, tidak ada tanda Alana ikut gabung bersama mereka, sementara Arlan ada dalam buaian Santi.


"Kau sudah pulang Run?" Santi mengawali sandiwara yang sudah dengan matang mereka atur.


"Iya Bu. Arlan lagi tidur Ly? kenapa ga dibaringkan aja di tempat tidur nya? kasihan badannya nanti sakit keseringan digendong" ucap Arun mendekat melihat bayinya, ingin menyentuh pipi tembem Arlan tapi pria itu ingat kalau dia belum mencuci tangan, jadi membatalkan niatnya.


"Ibu ingin gendong cucunya, makanya dibawa di sini. Tadi Arlan bangun, baru tidur juga ini" ucap Lily tidak berani menatap mata Arun saat bicara.


"Alana mana? biar aku minta digendong kedalam aja Arlan" Arun sudah hendak melangkah namun suara Santi menghentikan langkahnya.


"Run, kau duduk sebentar. Ada yang mau ibu dan Lily sampaikan padamu"


Sebenarnya Arun tidak tertarik, tapi dia masih menghargai mertuanya walaupun hanya setengah hati kini.


"Alana sudah pergi. Dia tidak ada di rumah ini lagi" ucap Santi mencoba tenang. Padahal dalam hatinya dia juga sudah ketakutan Arun akan marah setelah tahu hal ini.


"Ibu bicara apa? Alana pergi? pergi kemana? Ly?" suara Arun meninggi, kaget tidak menduga pulang-pulang bukan mendapatkan sambutan senyuman Alana seperti belakangan ini wanita itu lakukan.


"Iya hun, tadi Alana pamit mau pergi, mungkin sama Gara. Tapi sampe sekarang belum balik juga" ucap Lily takut-takut. Dia sudah latihan sejak tadi, dan tentu saja semua jawabannya berdasarkan perintah Santi.


Wajah Arun memucat. Dia masih berpikiran positif kalau Alana mungkin hanya keluar rumah membeli sesuatu dan kebetulan pria tengil itu datang dan menemaninya.


Sigap Arun mencoba menghubungi nomor Alana, tapi tidak aktif yang membuatnya semakin frustasi. Segera dia bergagas untuk mengecek kamar Alana. Firasatnya tidak enak. Semakin lama dia ada bisikan dihatinya yang mengatakan kalau Alana sudah pergi dan tidak akan kembali.


"Mau kemana hun?" tanya Lily yang melihat Arun beranjak.

__ADS_1


"Mau ke kamar Alana. Mau ngecek barang-barangnya"


"Ga ada, hun. Aku juga sudah periksa. Beberapa pakaian Alana udah ga ada. Dan juga.." Lily menjeda. Menimbang apa dia harus mengatakan hal ini atau tidak pada suaminya.


"Apa?" sambar Arun tidak sabar.


"Kau ingat ATM yang kita buka sebelum kau menikahi Alana? yang kita peruntukan bagi dia setelah kalian bercerai? ATM itu juga udah ga ada di laci kamarnya"


Arun memilih untuk tidak mendengar kelanjutan ucapan Lily dan memilih untuk memeriksa sendiri.


"Bagus nak. Tapi ibu minta kau jangan gemetar setiap bicara pada Arun, nanti dia curiga" ucap Santi setengah berbisik setelah tubuh Arun menjauh dari mereka.


"Aku takut bu. Gimana kalau Arun tahu kalau kita ngebohongi dia?"


"Kau tenang saja. Arun tidak akan tahu. Lagi pula, pembantu sok tahu itu udah pergi juga kan. Kau harus tenang. Sebentar lagi suamimu akan datang menanyakan pembantu itu, jadi bersiaplah"


Penuh emosi, Arun mengepal tangannya. Dia membenci gadis itu, yang lebih memilih untuk pergi dengan pria lain, dari pada tinggal dengan anaknya sendiri.


"Kau tega Al. Kalau pun kau tidak bisa menerimaku, tidak bisa kah kau bertahan demi anakmu? sepenting itu kah pria itu bagimu? lebih penting dari darah daging mu sendiri?" desisnya semakin murka.


Tiba-tiba dia teringat bi Minah. Untuk sesaat semangatnya bangkit. "Kalau tidak pamit pada Lily, sama bi Minah pasti mengatakan sesuatu" cicitnya pelan.


"Bi..bi Minah.." teriak Arun menuruni anak tangga sekali dua. Setengah berlari menyongsong ke dapur.


Kosong..


"Bi..bi Minah..bi.." teriaknya mencari ke kamar wanita paruh bayah itu, tapi tetap tidak menemui. Dia ruang tamu, Lily menggenggam tangan Santi, merasa ketakutan hingga wajahnya pucat.


"Rileks, jangan takut" bisik Santi.

__ADS_1


"Ly, bi Minah kemana? kok di dapur gada? kau suruh kemana?" salak Arun. Pancaran matanya seperti ingin menghabisi siapa saja yang membuatnya jengkel.


"Hah? itu dia hun, bi Minah pamit pulang. Tadi tiba-tiba dapat kabar dari keluarganya, ada kemalangan. Dia izin seminggu buat pulang"


"Hah? kok bisa ketepatan gini sih? Alana pergi, bi Minah juga pergi!" salak Arun mengacak rambutnya kesal.


"Seriusan, Alana ga ngomong mau kemana?" Arun berdiri di depan Lily mengunci tatapan gadis itu hingga tidak bisa menoleh pada Santi. Lily hanya sanggup menggeleng lemah. Takut kalau bersuara maka dia akan bergetar dan menangis.


Hufffh...terdengar tarikan nafas Arun. Begitu kesal, hingga memukul tembok dengan tangannya.


Buuuug..


"Huny, apa yang kau lakukan? lihat tanganmu udah luka" pekik Lily bangkit menarik pergelangan tangan Arun. Menghapus bekal memar merah hasil adu jotos nya dengan tembok.


"Kau ga usah khawatir run, ibu udah bawa pengganti bi Minah. Dia juga sudah berpengalaman dalam mengurus rumah" ucap Santi coba jadi pahlawan.


"Hun, tenang ya. Biar aku buatkan teh madu dulu" Lily beranjak meninggalkan Arun yang sudah duduk di depan Santi.


"Kau jangan ambil hati. Begitulah Alana. Darah culas dan juga serakah serta tidak tahu malu dari ibunya mengalir ditubuhnya. Makanya dia memilih Gara dari pada mengurus anaknya. Dasar wanita murahan, p*lacur.."


"Cukup Bu. Jangan pernah hina istri aku lagi. Alana itu istriku, tanggung jawabku. Tidak ada seorangpun yang boleh menjelekkannya, terlebih dihadapan ku" potong Arun penuh emosi. Santi sampai spontan mendorong tubuh punggungnya kebelakang, sangking terkejutnya mendapati amarah Arun.


"Ibu cuma.."


"Cukup. Silahkan ibu pulang. Untuk sementara waktu, aku tidak mau melihat ibu datang ke rumah ini. Aku akan mengurus keluarga ku. Tolong jangan ikut campur" hantam Arun menatap tajam ke arah Santi.


Merasa malu dan juga penuh ketakutan, Santi hanya mengangguk. Arun berdiri mengambil Arlan dari pangkuan Santi dan mempersilahkan wanita itu keluar dari rumahnya.


"Dimana kau Al? tidak rindukah kau pada kami? tidak adakah tempat di hatimu untuk ku dan Arlan? aku akan mencarimu Al. Sampai ke ujung dunia, bahkan ke neraka sekalipun...!!"

__ADS_1


__ADS_2