Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Dia tidak salah


__ADS_3

Sudah enam puluh menit menunggu giliran, nama Dita Angraeni belum juga di panggil. Matanya memandang sekitar memperhatikan. tiga orang gadis yang sama sepertinya menunggu, bedanya hanya saja ketiganya di temani oleh kerabat mereka. Dita menebak kalau dua pria itu adalah kekasih masing-masing di anak berseragam sekolah, dan yang gadis ketiga ditemani sahabatnya yang kalau dilihat seumuran dengannya.


"Mbak Dita, maaf tadi berkasnya ada satu belum di tandatangani" ucap salah satu perawat menghampirinya. Dita hanya menganggu pelan, sembari menerima pena dari si perawat.


Mata Dita sempat membaca sekilas isi kertas itu. Kesediannya untuk diaborsi dan kedepannya tidak akan ada tuntutan. Terlampir biaya sebesar 3juta yang dia ambil dari ATM nya sebelum ke klinik ini.


Walau ragu, Dita akhirnya menandatangani surat itu dan buru-buru menyerahkan pena itu kembali. Tepat saat selesai di tandatangani nya terdengar suara jeritan dari dalam, tangis menyayat seorang gadis. Bulu kuduk Dita meremang. Dia meremas tas ranselnya. Nyalinya menciut.


Suara itu terus saja menggema di telinganya. "Itu pasti sakit" batinnya memejamkan mata.


Bola bergambar karakter Doraemon menggelinding ke dekat kakinya. Seorang Naka mendekat, menatapnya dalam. Bocah itu berdiri tepat di hadapannya, memegang bola, menatapnya tajam.


"Tante..ga boleh buang dedek bayi" ucapnya yang membuat Dita terkesiap, wajahnya pucat pasi. Belum sempat berkata apapun, bocah itu sudah berlari kearah wanita yang dipanggilnya ibu. Dari pakaian wanita itu Dita menebak, dia adalah cleaning servis di sini. Dita masih mengamati. Keduanya bercengkrama begitu gembira. Wanita itu menggandeng si bocah dengan sesekali membisikkan sesuatu ditelinga anak itu hingga membuatnya tertawa. Bahagia.


Entah apa maksud bocah lima tahun itu berkata seperti itu. Mungkin karena ibunya bekerja di sini cukup lama hingga dia sudah tahu untuk apa para gadis itu datang ke klinik itu. Mungkin juga suatu kali dia pernah bertanya pada ibunya, dan wanita itu pun menjelaskan. Entahlah, yang pasti, seperti sihir, Dita kepikiran terus dengan kalimat anak itu.


Sesaat Dita terpejam. Bukan tidur, namun seolah rohnya berbicara dengan entah siapa yang dia juga tidak tahu.


'Anak itu tidak salah. Dia berhak mendapatkan kesempatan untuk hidup, melihat dunia ini. Kalau pun dia ada di sini, itu juga karena perbuatan mu, bukan salahnya. Lantas, pantaskah dia mati? jangan tambahi dosa yang sudah kau torehkan. Lahir kan dan pelihara dia. Dia bagian dirimu, anakmu, darah dagingmu. Cintai dia, karena dia juga mencintaimu sebagai ibunya, hingga dia mau berkembang di rahimmu'


Tiba-tiba Dita membuka mata Tadi itu seolah nyata seseorang berbicara padanya. Seperti orang bodoh, gadis itu celingak-celinguk melihat siapa orang yang ada di dekatnya, yang tadi berbicara padanya, tapi tidak ada Hanya ada tiga orang pasien tadi.


Belum hilang rasa keterkejutan, selang beberapa menit, seorang gadis yang lebih muda darinya keluar di papah oleh seorang pria yang seumuran. Dita yakin itu adalah gadis yang menjerit di dalam tadi.


"Mbak Kikan" panggil seorang perawat, dan gadis yang bersama sahabatnya tadi masuk mengikuti si perawat. Dita terbengong, menatap langkah gadis yang baru keluar, berjalan dengan kesakitan dan wajah yang sepucat kapas.

__ADS_1


"Sakit banget, yang" Isak gadis itu memegang lengan kekasihnya. Anak sekolah yang kebablasan hingga berujung berbuat dosa. Menganggap aborsi sebagai jalan menghapus dosa justru membuka lembaran list dosa baru.


Setetes air mata Dita turun, perlahan tangannya turun ke bawah, meraba perutnya. Entah dari mana seolah mendapat kekuatan dan keyakinan, Dita bangkit menuju ruang pendaftaran.


"Maaf mbak, ada yang bisa dibantu?"


"Maaf, saya mau batalkan, ga jadi diaborsi" ucapnya memelankan kata aborsi yang terasa tidak nyaman di telinganya.


"Maaf mbak, kalau di batalkan, biayanya hanya bisa di refund hanya lima puluh persen" terang wanita itu.


"Iya ga papa" sahut Dita pendek.


***


Malam itu Dita pergi ke bar yang pernah dia kunjungi waktu itu. Tidak tahu dapat ide dari mana, dia berharap bisa mendapatkan informasi mengenai peristiwa empat bulan lalu.


"Iya benar, dia udah masuk. Biasa di ruang VVIP di club ini" ucap salah satunya.


"Siapa pun gadis pasti akan bertekuk lutut padanya" timpal sahabat nya.


"Tapi aku tidak akan tertarik pada buaya itu" tiba-tiba suara seorang gadis datang bergabung di meja mereka. Meletakkan satu majalah, yang Dita tahu isinya membahas para pengusaha sukses di negeri ini. Papinya juga pernah masuk dalam ulasan majalah itu.


Dita melirik sekilas artikel dengan wajah memenuhi satu halaman kertas. 'Kaisar Barrel, milyarder paling diminati saat ini' bukan tagline itu yang buat mata Dita membulat, tapi karena mengenali wajah pria dalam majalah itu. Dia ingat pria itu beberapa kali meminta perhatiannya di pesta Alana.


"Dia bedebah, teman gue habis di pakek dia, ditinggalin begitu aja. Dia ga cocok jadi suami, pasti bakal suka selingkuh dan ga akan jadi contoh baik deh buat anaknya nanti" ucap si pembawa berita.

__ADS_1


"Ah..lo, kalau dia mau sama lo juga pasti lo nya ngebet" sindir si gadis pertama.


"Ogah gue. Nih ya, gue kasih tau, gue dapat info, dia itu kasar banget, tempramen dan suka semaunya. Dia itu sadistis loh, kebayang gimana kalau dia minta di layani" potong gadis pembawa berita bertahan dengan argumennya.


Dita hanya memandangi majalah itu dengan terus menyimak obrolan ketiga wanita yang tidak dia kenal.


"Pantas tiap malam harus ada wanita yang melayaninya di club ini. Bahkan dia punya kamar pribadi yang ga boleh ditempati orang lain" tambah gadis ke tiga manggut-manggut.


"Nah, lo pada ngerti kan. Jadi mulai sekarang hapus dia dari daftar calon suami ideal, ga baik buat lo dan anak lo!"


Obrolan itu terhenti, saat pria yang sejak tadi mereka gosip kan muncul, baru saja turun dari lantai atas, lewat di depan mereka. Nafas Dita tertahan, kala tanpa sengaja pria itu menoleh dan tertegun melihat Dita di sana.


Merasa mengenal gadis itu, Kai mendekat, namun baru selangkah, Dita sudah menyambar tasnya dan bergegas pergi dari sana, mengitari meja sebelah kiri dan bergegas keluar.


Perasaannya bilang Kaisar mengejarnya hingga keluar club, beruntung taksi melintas di depan, hingga Dita segera masuk dan meminta membawanya segera pergi dari sana.


"Bukan kah itu dia?" tanya Kaisar menatap taksi yang sudah menjauh.


"Benar bos" jawab Ferguson tersenyum. Hanya dia yang bisa memahami isi hati bos nya saat ini.


"Untuk apa dia kesini? apa dia mau jualan?" hardik Bara tampak kesal, yang dia sendiri tidak mengerti kenapa kesal.


"Yaelah bos, masa iya punya pikiran kayak gitu. Dia anak orang kaya nomor lima di negeri ini. Untuk apa begituan?" Ferguson geleng-geleng. Kadang tidak mengerti jalan pikiran bosnya yang kadang bisa senaif itu.


***

__ADS_1


Hai..mampir lagi yuk, siapa tahu suka



__ADS_2