Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Remuknya dunia Lily


__ADS_3

Pagi itu Lily datang ke rumah Alana. Seperti biasa dia ingin mengambil Arlan dan membawa ke rumahnya, karena ini hari Kamis, seperti biasa ibu mertuanya akan datang berkunjung untuk melihat Arlan.


Ema memang tidak bekerja, namun kegiatan sosialnya banyak hingga biasanya dia hanya datang melihat cucunya tiga kali seminggu. Selasa, Kamis, Sabtu. Namun kadang kalau dia tidak datang pada hari Sabtu, maka Ema akan datang hari Minggu. Pada hari itu, Arlan akan lebih lama di rumahnya ketimbang bersama Alana.


"Wajah kakak pucat, kakak sakit?" tanya Alana memperhatikan Lily yang tengah mengikat kain gendongan Arlan ke tubuhnya.


"Ga Al. Aku baik. Kurang tidur aja sih. Tadi malam aku ga bisa tidur" sahut Lily mencium pipi gembul Arlan.


Sudah biasa bersama Lily, Arlan tidak lagi menangis jika dibawa ke rumahnya. Mungkin bocah itu tahu dia punya dua ibu.


Alana sudah selesai mengemas ASI yang akan di bawa Lily nantinya. "Oh iya kak, gimana orang tua kita? semua baik kan?"


"Hah? apa Al?" tanya Lily masih bermain dengan Arlan.


"Ayah sama ibu. Ngomong apa sama kakak?"


"Ga ngomong apa. Emang kenapa? udah lama juga ga ketemu mereka. Lusa ke rumah ibu yok," ucap Lily masih menggelitik Arlan hingga bayi itu tertawa.


"Loh, bukannya kakak Minggu lalu ke rumah ibu?"


"Ke rumah ibu? oh iya benar. Aku ke sana. Hehehe..aku lupa," sahutnya mengembangkan senyum pada Alana. Tapi matanya menyembunyikan sesuatu, Alana bisa merasakannya.


"Udah Al? kami pergi dulu ya" Lily mengambil tas keperluan Arlan dan segera keluar dari kamar Alana.


Perasaan Alana mengatakan ada yang berubah dari Lily. Ntah lah, dia tidak yakin hanya saja dia merasa kakaknya itu sedikit berbeda.


***


Jam dua, Alana janji bertemu pemilik toko, dan kini dia sudah berada di depan toko yang akan dia jadikan tempat toko roti nya. Dari lokasi dan juga bangunan, Alana sangat menyukainya. Tempatnya strategis, dekat dengan salah satu sekolah swasta dan juga rumah sakit yang satu yayasan dengan sekolah tersebut. Sedikit ke depan, area perkantoran yang dia yakin para pegawainya akan sampai ke tokonya nanti.

__ADS_1


"Dengan mbak Alana?" sapa seorang pria bertubuh gendut, menghampirinya yang duduk termenung di teras toko itu.


"Eh iya. Dengan bapak Jarwo?" Alana bangkit menerima uluran tangan pria itu. Keduanya memilih untuk bicara di warung rokok sebelah. Memesan dua botol teh kemasan untuk mereka.


"Jadi gimana pak? boleh ya saya sewa rukonya" Alana mulai buka bicara, tidak ingin berbasa-basi langsung masuk ke topik.


"Maaf mbak. Kalau segitu saya belum bisa kasih. Tambahin lah sedikit lagi" ucap pak Jarwo dengan logat ngapak nya yang kental.


"Tapi saya cuma punya uang segitu pak. Belum lagi beli alat buat kue, gaji karyawan dan juga renovasi isi rukonya"


"Maaf deh mbak. Kalau ga ditambah 10 juta lagi dari harga yang mbak sampaikan, saya minta maaf, ga bisa sewain rukonya" tolak pak Jarwo dengan santun.


Alana tak lagi memohon. Dia tahu kalau itu sudah keputusan final dari si pemilik tempat. Dia ingin sekali mendapatkan tempat itu, dari semua tempat yang sudah dia lihat, ini yang paling kena di hatinya.


***


"Baik ma. Cuma kurang enak badan. Ma, aku boleh istirahat ke kamar ya?" Lily sudah tidak sanggup lagi. Tubuhnya terasa semakin lemas.


"Iya, sana istirahat aja kamu. Mama yang akan jaga Arlan"


Sesampai dikamar, Lily merebahkan tubuhnya. Sebulir air mata jatuh di pipinya. Sesak di dada membuatnya sulit bernafas dan terasa sakit. Kepalanya terus berputar, dan sedikit menggigil.


Sudah mulai dua Minggu lalu, tiap malam Lily demam, namun biasanya demam menyerang nya hanya pada malam hari. Paginya dia sudah kembali membaik, hingga bisa bermain dengan Arlan.


Lily tidak tahu apa yang terjadi padanya. Bermula setelah selesai datang bulan dua minggu lalu, selera makannya menurun, hingga nyeri pada ulu hatinya. Lily tidak terlalu memusingkannya karena biasanya dia memang begitu sehabis masa haidnya. Namun lepas hari keadaan Lily tampak tidak membaik.


Khawatir akan keadaannya yang sering pusing dan juga merasa lemah, Lily memutuskan untuk berobat ke dokter umum di dekat rumahnya. Dari hasil pemeriksaan, dokter mengatakan tidak ada hal serius. Hanya saja dia diharuskan untuk istirahat yang cukup.


Waktu berlalu, tiga hari kemudian, tiba-tiba tubuhnya drop lagi. Beruntung itu hanya terjadi pada malam hari, hingga Arun tidak melihatnya dalam kondisi sakit.

__ADS_1


Hingga minggu kemarin Lily memutuskan untuk ke dokter spesialis di rumah sakit. Beralasan ke rumah Santi, Lily pergi periksa ke dokter spesialis. Saat itu lah Lily dihantam oleh kabar yang menyakitkan, menjungkirbalikkan dunianya seketika. Lily mengidap kanker lambung, atau lebih sering di kenal kanker perut.


Namun dokter perlu melakukan Gastroskopi untuk mengambil sampel jaringan lambung dan diteliti di laboratorium. Dokter meminta Lily untuk bersabar hingga hasil lab keluar.


Saat hasilnya sudah keluar dan dibacakan oleh dokter, tubuh Lily gemetar. Dia tidak percaya kalau dirinya sedang mengidap penyakit berbahaya. Selama ini gejala mual dan juga pusing serta ulu hati nyeri sudah biasa dia rasakan, dan selalu diabaikan. Dia pikir itu biasa karena efek menstruasi yang dialaminya.


Untuk memastikan hasilnya, dokter juga melakukan serangkaian tes lainnya pada Lily. Mulai dari tes darah, Rontgen hingga CT scan agar tahu perkembangan kanker yang dihadapi Lily sudah sejauh mana. Hasilnya sudah dipastikan, Lily didiagnosa mengalami kanker lambung akut.


Tapi tim medis berusaha untuk menenangkannya. Mengatakan kalau masih ada harapan jika Lily mengikuti segala rangkaian pengobatan dari rumah sakit. Mulai dari radioterapi hingga kemoterapi.


Tapi apapun perkataan dokter yang mencoba menenangkan dirinya, hati Lily sudah hancur. Menangis terisak di hadapan dokter membuat sang dokter merasa iba padanya. Lily masih muda, namun sudah terkena penyakit tersebut. Pola makan yang tidak teratur dan juga sembarangan membuat pemicu penyakitnya ini.


Lily tidak ingin seorang pun tahu akan keadaannya. Minggu depan jadwalnya mulai Konsul bersama dokter yang menanganinya sejak awal.


Pukul 5 sore, Ema pamit pulang. Lily yang dibangunkan oleh pelayannya bergegas menemui Ema yang masih saja asik bermain dengan Arlan. Kali ini bocah itu sudah tampak rapi dan wangi. "Maaf ya ma, aku ketiduran" ucap nya duduk dihadapan Ema. "Mama jadi repot mandiin Arlan"


"Ga papa. Mama kan neneknya, boleh dong mandikan cucu kesayangan nenek ini" jawabnya sembari mencium pipi Arlan gemas.


"Makasih ya ma"


"Iya, mama pulang dulu. Senin baru kemari lagi, soalnya mama mau ke Malang sama teman-teman yayasan sosial mama"


"Iya ma. Mama hati-hati ya ma. Dada nenek"


Lily masih menatap keluar hingga mobil mertuanya menghilang di belokan.


***Hai, cuma mau nitip ini, kuy mampir..


__ADS_1


__ADS_2