
Hari kelima menjelang perjanjian, Lily sudah tidak bisa menahan perasaannya yang terasa sakit. Batinnya tersiksa, mendapati suaminya kini lebih memilih tidur dikamar Alana. Bahkan kini Arun tidak menunggu sampai Lily tertidur lebih dulu, seperti yang biasa dia lakukan sebelumnya.
Pagi ini Lily memutuskan untuk bicara dengan Alana. Dia ingin bisa tenang menjalani hari-hari nya. "Al..ada yang mau aku omongin" ucapnya memperhatikan Alana yang sibuk menyusun pakaian si kecil dalam keranjang bayi yang ada didekat tempat tidur.
"Apa kak?" Alana menoleh sekilas melihat kearah wajah Lily, lalu kembali menekuni kerjaannya.
Melihat si kecil yang sudah terlelap, Lily meletakkan bayi yang hingga kini belum diberi nama oleh orang tuanya itu kedalam boxnya. Lily menyarankan agar diberi nama Arli, singkatan dari namanya dan Arun, tapi mentah-mentah ditolak Arun.
"Arli aja ya hun" pinta Lily kala itu.
"Mmmm...kurang pas deh. Ntar deh aku cari sendiri nama jagoan ku ini" sahut Arun mengusap pipi gembul si bayi yang sedang berada dalam gendongan Lily.
"Kak.."ulang Alana menghentikan kegiatannya dan duduk disamping Lily.
"Al..aku banyak salah ya samamu. Aku minta maaf yah" ucapnya tertunduk lemas.
"Kakak bicara apa sih? kenapa tiba-tiba ngomong gini?"
"Al..kau sayang kan sama kakak?" Alana yang tidak mengerti alasan sikap Lily hanya bisa mengangguk lemah.
"Al..Arun sudah mengatakan semuanya padaku. Tentang perasaannya padamu. Arun menyukaimu Al. Cintanya padaku kini sudah pudar" Lily tidak malu lagi untuk meneteskan air matanya dihadapan Alana. Dia pasrah, walaupun harus menyembah kaki Alana sekalipun akan Lily lakukan asal Alana tidak menerima Arun.
"Sudah kak, jangan menangis lagi. Bang Arun hanya akan jadi milik kakak"
"Karena itu, aku mohon Al, bagaimanapun dia membujukmu, aku mohon kau jangan menerimanya. Tolak dia, Al.." tangis Lily semakin kencang. Derai air mata berjatuhan, seiring hidungnya yang berair.
Alana bangkit untuk mengambil kotak tisu dan menyerahkan pada Lily.
__ADS_1
"Al..kau janji ya, tidak akan menerima cinta Arun. Maaf, aku tahu beberapa hari ini kalian sudah semakin dekat. Bahkan Arun memilih untuk tidur di kamarmu. tahu kah kau Al, hatiku sakit. Bayangkan kalau kau jadi aku"
Perasaan Alana semakin merasa bersalah. Lily benar, dia seolah wanita tidak tahu diri. Dia mulai menerima dan menikmati perhatian yang diberikan Arun padanya. Kelembutan pria itu bertutur kata padanya dan juga perhatian Arun pada bayi mereka, semuanya membuat Alana merasa memiliki keluarga yang utuh.
Terlebih tiga hari ini, Gara yang sedang di Jerman putus komunikasi dengannya membuat dirinya terlena akan kehadiran Arun disisinya.
Empat hari lalu, Gara pagi-pagi sekali sudah tiba di rumahnya. Alana yang kaget diberitahukan kedatangan Gara sepagi itu bertanya-tanya apakah ada hal buruk terjadi pada pria itu.
"Al..maaf ya, pagi-pagi gini aku nyamperin kamu"
"Iya, ga papa Ga. Ada apa? semua baik-baik aja kan?" raut kecemasan mulai tampak di wajah Alana, yang membuat Gara semakin merasa bersalah.
"Semuanya baik-baik aja Al. Aku kemari mau pamit. Besok aku harus ke Jerman bawa papa berobat. Jantungnya kambuh lagi tadi malam. Keluarga mutusin buat dirawat di Jerman aja"
"Ya Allah, papa kamu sakit Ga? maaf aku ga tahu. Maaf ya, aku harusnya ada di saat kamu lagi ada masalah gini" Alana mengusap lengan Gara tanda simpatinya pada pria itu.
"Ga papa Al. Doain papa sembuhnya. Aku pamit dulu. Banyak yang harus aku urus sebelum berangkat besok"
"Al..kamu mau kan penuhi permintaan kakak?" suara Lily menyentak lamunan Alana.
"Eh, I-iya kak. Kakak jangan sedih lagi. Aku janji, aku tidak akan menerima perhatian dari bang Arun lagi"
"Bahkan kalau dia menolak untuk menceraikan mu, kau harus tetap menuntut cerai ya Al?" Lily menggengam tangan Alana, memohon dari hatinya yang terdalam.
"Iya kak" jawabnya getir. Benar, dia harus mau. Toh dia hidup memang untuk menyenangkan hati orang lain. Dia apalah, tidak penting. Dia manusia yang tidak berhak mendapatkan kebahagiaannya.
"Sumpah demi aku, Al" desak Lily.
__ADS_1
"Iya kak, aku bersumpah akan menolak bang Arun"
"Makasih Al. Aku percaya kamu gadis yang baik. Semua yang dikatakan ibu tentang mu, yang selama ini menyamakanmu dengan ibu kandungmu, adalah salah. Kau berbeda, kau tidak akan mungkin jadi pelakor, terlebih merebut suami kakakmu sendiri kan Al?"
Kadang Alana tidak habis pikir. Kenapa manusia gampang sekali mengatakan apa yang ada dipikiran mereka tanpa memperdulikan bagaimana perasaan orang lain. Segitu mudahnya Lily mengungkit masa lalu ibunya, dan secara tidak langsung mempertegas ibu kandungnya sebagai perebut suami orang.
Kalau bukan Lily yang tadi mengatakan hal itu, Alana Pastikan rambut wanita itu akan dia jambak, bahkan Alana akan menampar pipinya, tapi ini Lily, kakak yang walau untuk kesekian sudah menyakiti hatinya, tetap saja bisa dia maafkan. Kasih sayang Lily padanya saat kecil, membuat pikiran Alana menjadi terprogram untuk setia dan tetap sayang pada Lily.
"Satu hal lagi Al. Kamu jangan lupa ya..waktumu dua hari lagi. Kamu udah punya rencana mau kemana?" ucap Lily menghapus air matanya yang sudah mulai mengering.
Seperti palu godam, kepala Alana dihantam oleh perkataan Lily. Wanita itu menagih janji Alana untuk segera meninggalkan rumah itu seminggu setelah melahirkan anaknya.
"Aku akan pergi. Tapi aku juga tidak ingin memberitahu siapapun kemana aku akan pergi kak. Maaf, tidak juga padamu" kini berganti, bola mata Alana yang mulai perih oleh cairan bening.
"Baiklah kalau itu mau mu. Tapi kalau kau butuh apapun, kabari aku. Aku akan bantu Al"
"Iya kak. Tapi aku mohon, kakak pegang janjimu. Jaga dan sayangi anakku kak" tepat saat kalimat perih itu terucap, air mata Alana lolos. Lily spontan menghapus jejak air mata itu. "Aku pastikan dia tidak akan kekurangan kasih sayang, Al. Kau bisa pergi dengan tenang"
***
Dengan tangan terlipat di dada, Alana yang bersandar pada head board memperhatikan Arun yang bermain dengan putra mereka. Sudah setengah jam Pria kekar itu menggendong anaknya, mengajak bermain dan juga berbincang. Bayi yang bahkan belum genap seminggu itu tentu saja hanya menatap kosong pada papanya. Arun sendiri tidak berani terlalu banyak gerak saat sedang menggendong si bayi kecil.
Kalian harus saling menyayangi ya bang. Jaga anak kita. Maaf kan aku yang harus pergi dari cinta segitiga ini..
"Al, aku udah punya nama buat anak kita" ucapnya dengan wajah penuh senyum gembira.
"Siapa?" tanya Alana ikut tersenyum.
__ADS_1
"Arlan Ethanio Dirgantara"
"Sempurna" bisiknya disela air mata yang jatuh dipipinya.