
"Kenapa, Ar?"
Kasa meletakkan kaleng minumannya, mengamati wajah Kasa yang terlihat tegang. Kening pria itu berkerut, entah apa yang saat ini mengganggu pikirannya.
"Gue baru lihat, Ayra sempat menghubungi gue, tapi bentar, doang. Gue hubungi balik, malah gak diangkat."
Informasi itu juga membuat Kasa ikutan bingung. Perasaannya sejak pagi memang sudah tidak enak. Tersita pada Ayra terus, tapi ditepis karena dia pikir dia sebaiknya berhenti mengganggu Ayra.
Hubungan mereka sudah cukup buruk saat ini. Dia hanya bisa berharap kalau Ayra bisa jaga diri.
Meski dia belum rela kalau Ayra menjalin hubungan dengan Roki, tapi dia tidak bisa melakukan apapun.
"Coba lu hubungi lagi!" perintah Kasa. Dia mulai gelisah. Segera sisa cola miliknya dihabiskan dan meremukkan kalengnya.
"Gak diangkat juga.!
"Lu ikut gue!" Kasa berdiri dan segera keluar dari bar itu lebih dulu. Segera dia melacak keberadaan Ayra dari titik koordinat ponsel gadis itu.
Jalanan yang harus ditempuh satu setengah jam, hanya 45 menit ditembus oleh Kasa. Keduanya tiba di depan rumah yang tepat dengan posisi ponsel Ayra.
"Itu pasti mobil Roki. Bangsat! Awas saja dia mencelakai Ayra!" umpat Kasa mengepal tinjunya. Mobil sudah diparkir di bahu jalan. Keduanya segera mengendap-endap menuju rumah tak terawat.
"Begitu tiba di depan pintu, Kasa tidak bisa mendengarkan saran Arlan yang menyuruhnya membuka dengan pelan agar tidak ketahuan, tapi malah menendang pintu hingga Roki yang saat itu sedang melucuti pakaian Ayra yang sudah tak sadarkan diri di sofa, terkejut setengah mati.
Dia sudah menyingkirkan jejak mereka dengan menjemput Ayra di tengah kota, tidak ada yang tahu kalau Ayra pergi dengannya, kenapa masih bisa ditemukan oleh Arlan dan Kasa.
"Bangsat, lu! Lu apain Ayra!" umpat Kasa menerjang Roki. Pria yang hanya mengenakan boxer itu terpelanting jauh.
"Mati lu! Kali ini lu harus mampus!" umpat Kasa memukuli Roki membabi buta. Sementara Arlan menutupi tubuh adiknya yang juga hanya memakai pakaian dalam, dengan jaket miliknya.
__ADS_1
Arlan tersadar kalau Roki bisa mati kalau tetap dihajar Kasa. Tapi untuk melerai, dia juga tidak bisa saat ini, sibuk memakaikan pakaian pada Ayra.
Roki berhasil bangkit, memberikan pukulan pada Kasa dan keduanya adu duel. Tapi, hanya sebentar, karena Kasa sudah kembali menguasai pertandingan. Roki sudah dipiting hingga tak biasa bergerak. Kasa semakin membabi-buta menghajar Roki yang jatuh pingsan.
Dendam dan emosi Kasa belum sirna, dia terus memukuli Roki meski saat ini lawannya itu sudah tidak bergerak.
"Udah, Kasa hentikan. Dia udah sekarat. Jangan sampai mati di tangan lu. Keenakan dia. Biar pihak berwajib yang mengurusnya. Gue udah telpon polisi!"
Tangan Arlan yang menahan tangan Kasa di udara pada akhirnya membuat Kasa sadar. Dia melempar tubuh Roki ke lantai dan bangkit berdiri bersama Arlan.
Keduanya kembali pada Ayra yang masih terbaring tak sadarkan diri. Kasa mencari ponsel Ayra dan saat itulah melihat Roki sudah berhasil meraih pistol dari dalam laci paling bawah sebuah lemari yang bisa dia jangkau dan segera melepaskan tembakan. Kasa berlari mendorong tubuh Arlan yang jelas jadi target Roki. Peluru mengenai Kasa.
Bola mata Arlan membola melihat Kasa masih berdiri tegak di tengah ruangan dengan wajah kesakitan. Belum sadar penuh dengan apa yang terjadi, kembali Roki menarik pelatuknya dan melepaskan tembakan pada Kasa yang sudah mendatanginya.
Kalau tadi demi menyelamatkan Arlan, maka punggung Kasa yang tertembak, kali ini tembakan kedua bersarang di dadanya sebelah kiri.
Penuh kekuatan, Arlan menghantam tubuh Roki hingga kali ini, dia jatuh tak sadarkan diri.
***
Dua hari berlalu, pasca operasi pengeluaran peluru dari tubuh Kasa, barulah pria itu sadar. Di dekat tangannya, tepat di sisi ranjangnya, Kasa melihat Ayra tertidur pulas menjaganya.
Dia tersenyum. Samar ingatannya kembali. Untunglah, meski mengorbankan banyak darah, Ayra bisa mereka selamatkan tepat waktu. Sejauh mata memandang, di ruangan itu hanya ada dia dan Ayra.
Tangan Kasa terulur, menyentuh puncak kepala Ayra. Dia ingin melihat gadis itu, ingin mendengar suaranya dan meyakinkan Kasa bahwa dia baik-baik saja.
"Kak Kasa, Kakak udah siuman," pekik Ayra yang terbangun karena selang infus Kasa menggesek pipinya.
"Kamu disini? Menjagaku?" tanya Kasa dengan bibir sedikit susah untuk terbuka.
__ADS_1
"Kakak, aku manta maaf, karena gak dengar nasehat mu tentang Roki. Maafkan aku karena buat mu terluka," ucap Ayra mulai terisak.
Sejak mengetahui bahwa rasa masuk rumah sakit, tertembak pada saat menolongnya, akhirnya tidak pernah meninggalkan rumah sakit. Ayra bersih keras untuk menjaga Kasa hingga pria itu siuman.
"Dasar bodoh, melindungi mu tanggung jawab ku juga. Jangan menangis lagi," jawab Kasa menghapus air mata di pipi Ayra.
"Kalian sedang apa?"
Keduanya terkejut dan serentak menoleh ke belakang. Arlan datang bersama Sania. Sebenarnya mereka sejak pagi tadi sudah ada di sana. Izin ke luar untuk membeli makanan untuk Ayra. Kedua orang tua Kasa sudah pulang karena sejak kemarin ikut menjaga putranya itu.
"Bisa gak, sih, suara lu jangan kencang, teriak kayak di hutan? Sakit telinga gue!" umpat Kasa mencoba bersandar dengan bantuan Ayra.
Kasa hanya menaikkan satu alisnya. Jangan pikir karena sudah menyelamatkan nyawanya, Kasa bisa mengambil kesempatan pada Ayra.
Sania lebih cepat mendekat. Dia gembira Kasa sudah Siuman. Jujur, dia sangat mengkhawatirkan keadaan pria itu, terlebih saat Arlan menjelaskan Kasa tidak sadarkan diri setelah operasi karena banyak kehilangan darah.
Kasa adalah pria baik. Selama ini, dia membantu Sania. Orang pertama yang menyapanya dan menganggapnya teman, bahkan setelah penolakan cintanya pada Sania, Kasa tetap memilih untuk menjadi temannya tanpa membenci dirinya.
"Bagaimana keadaanmu? Kamu membuatku ketakutan setengah mati," ucap Sania dengan riak wajah sedih, bola matanya saja sudah mulai menggenang bulir bening.
Kasa memaksakan dirinya untuk tersenyum pada Sania. Niatnya untuk mendekati gadis itu hampir terlupakan. Padahal bibit rasa sukanya pada Sania benar-benar sudah ada, tinggal memupuk dan menunggu berkembang. Sayangnya, kemunduran Ayra membuatnya melupakan Sania.
"Kemarilah!"
Kasa menyodorkan tangannya dan diterima oleh Sania yang duduk di dekat Ayra.
"Aku baik-baik saja, maaf sudah buat kalian khawatir," terang Kasa masih menggenggam tangan Sania. Aksi itu tidak lepas dari sorot mata Arlan yang menyelidik, dan dia tidak suka. Meski Kasa temannya sendiri, tapi dia tidak izinkan siapapun menyentuh Sania seujung kuku.
"Sudah, dokter mau periksa. Kita keluar dulu," pinta Arlan yang tidak tahan dengan pemandangan di depannya. Hatinya panas, begitu pun matanya terasa sakit melihat kemesraan Kasa dan Sania. Syukurlah dokter datang, jadi dia punya alasan.
__ADS_1
"Bisa gak lu jaga sikap? Seharusnya gak semua orang boleh memegang bagian tubuhmu!" hardik Arlan meninggalkan Sania yang terbengong di samping Ayra.