Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Rencana Lily


__ADS_3

Butir obat jatuh berserakan hingga menggelinding ke arah kaki Alana. Lily terkejut, kala Alana menyapanya tadi. Penasaran Alana memungut beberapa butir obat dan meneliti sebelum menayangkan pada Lily.


"Obat apa ini kak? kakak sakit apa?"


Bingung harus jawab apa, Lily hanya mengambil obat yang ada di telapak tangan Alana, lalu menyimpan ke dalam botol, lalu memasukkan kembali kedalam pouch ungu tempat Lily menyimpan semua obat yang dia minum selama ini secara sembunyi-sembunyi.


"Kak, jawab dong. Kakak sakit apa?" Alana semakin khawatir. Selama ini Lily tampak sehat, walau belakang ini wajah Lily pucat, dan terlihat lemas. Tubuhnya seolah lelah dan tak bisa menopang berat tubuhnya yang bahkan tampak semakin kurus.


"Aku baik-baik aja Al. Ini cuma suplemen makanan, biar aku semakin selera makan"


Alana diam, menatap wajah Lily, mencoba mencari kebenaran dari sana. "Oh, iya Al, udah lama kita ga jalan. Besok kita nonton yok, berdua aja," ucap Lily mengubah topik pembicaraan. Dia tidak ingin Alana terus menyelidiki keadaannya.


"Besok?" Alana ragu, soalnya dia ada janji sama tukang yang akan membenahi ruko dan membantu mendesain ruangan dapur, tempat peletakan stan, meja dan juga kursi karena Alana juga berencana ingin sekalian buat coffee shop yang nyaman.


"Kau ga bisa ya?" wajah Lily berubah muram


"Bisa kok kak. Tapi agak sorean ya kak, soalnya aku mau beresin ruko dulu"


"Ga masalah. Aku yang bakal beli tiketnya, kau tinggal datang aja nanti aku kasih tau alamatnya" ucap Lily sumringah.


***


Hari ini Alana sangat sibuk. Mulai pagi dia sudah keluar rumah. Pamit pada Arlan yang main dengan bi Minah. ASI sudah aman di dalam kulkas, jadi selama apa pun dia pergi, Arlan tidak akan kelaparan.


Alana juga sudah membawa satu tas lagi selain tas tangannya. Isi tas persegi empat itu tentu saja alat pompa ASI dan wadahnya yang dijaga tetap steril. Alana tahu, kalau dia akan pergi satu harian. Belum lagi sore nanti dia punya janji dengan Lily.

__ADS_1


Benar kata Lily, setelah melewati berbagai kecewa dan juga air mata selama tinggal satu atap dengan mereka, menjadi madu dari kakaknya sendiri, tentu menyisakan adanya luka dalam hati. Sekarang saatnya, Alana menjalin lagi hubungan yang penuh kasih antara mereka, karena sebelum kehadiran Arun kedua kakak adik itu memang saling menyayangi.


Furniture juga sudah dipesan, dan akan datang besok. Agenda hati ini adalah membenahi ruko, mulai dari membersihkan, mencat ulang semua sisi luar dan dalam, lalu menambahi ornamen cantik yang membuat pengunjung nyaman jika ingin nongkrong di toko rotinya.


Sementara untuk karyawan, menurut saran Arun, lebih baik merekrut dua orang saja dulu, sembari melihat perkembangan tokonya.


"Mbak, rumah yang ini disekat lagi ga? siapa tahu mbaknya mau buat ruangan untuk istirahat?"


Alana memikirkan saran dari kepala tukang itu ada benarnya juga. Jadi nanti setelah umur Arlan enam bulan lebih, dia sudah bisa membawa anaknya ikut. Toh nanti kalau dia sibuk di belakang, ada bi Minah yang membantu menjaga Arlan.


"Iya pak, dibuat aja" jawabnya mengulum senyum.


Waktu berjalan, hari ini pasti tidak akan rampung. Sementara jam kerja tukang sampai jam lima sore. "Kita lanjut besok aja ya pak. Sekarang kita bisa pulang dan istirahat. Besok juga isi toko bakal diantar" terang Alana yang di setujui semuanya.


Tubuh Alana lelah, seharian ikut mengangkat dan membersihkan ruangan toko. Dia tidak berpangku tangan walaupun sudah ada banyak yang membantu. Tidak perduli keringat menetes di pelipis hingga jatuh melewati pipi, Alana tetap bersemangat. Bahkan badannya terasa lengket sekarang. Mau pulang, tanggung, dia ingat janjinya dengan Lily.


Tidak lama, satu balasan pesan masuk. Itu dari Lily sebagai balasan dari chat yang dikirim Alana tadi.


(Udah sampai dari tadi. Buruan, aku bosan nih)


(Siap. Jangan lupa beli popcorn yang rasa karamel buat ku ya)


(👍ðŸŧ😘ðŸĪŠ)


Dengan taxi online Alana tiba di mall tempat mereka janji untuk nonton. Alana sudah masuk gedung bioskop, mengedarkan pandangannya, tapi tetap tidak menemukan Lily diantara kerumunan orang-orang.

__ADS_1


"Heran deh, ini bukan malam Minggu, kenapa yang nonton membludak juga ya" cicitnya masih terus mencari Lily.


Setelah mencari satu demi satu diantara orang asing yang berdiri dan duduk di ruangan itu, Alana tidak menemukan Lily, justru melihat Arun yang tengah duduk di bangku tunggu dengan dua tiket terselip di jarinya sementara satu tangan lagi memegang satu pack popcorn besar.


Alana tertegun di tempatnya berdiri. Memandang lurus pada pria tampan yang masih mengenakan kemeja kerjanya walau sudah tanpa jas kerjanya. Arun masih saja dengan kharismanya, begitu tampan dan berwibawa. Kadang untuk orang yang pertama kali melihatnya pasti langsung mengatakan dia pria sombong dan dingin, yah..walau itu semua benar, tapi bagi Alana, Arun memiliki sisi lembut yang manis, terlebih jika sudah berhadapan dengannya.


Seolah mendapat sinyal dari tatapan Alana, Arun memutar pandangannya dan tepat bertemu pandang dengan Alana. Arun sendiri pun tampak terkejut melihat Alana di sana. Dengan cepat Arun berdiri, berjalan menghampiri Alana yang tidak bergerak seperti patung Pancoran di sana.


"Al..kau di sini?"


"Nah abang juga di sini? sama siapa? mau nonton juga?" tanya Alana melirik ke arah tiket yang ada ditangan Arun.


"Iya. Lily minta aku ke sini. Katanya dia mau nonton"


"Kak Lily? ngajak Abang nonton? loh, tapi kak Lily janji nonton sama aku. Gimana sih? kakak Lily lupa atau gimana ya?" Alana memijit keningnya. Apa kakaknya lupa kalau sebenarnya dia janji sama Arun tapi justru ngajak aku? atau sebaliknya. Ah...pusing. Alana tidak tahu mana yang benar. Tapi satu yang pasti dia malu.


"Kalau gitu, aku pamit pulang aja deh bang" ucapnya menggaruk kepalanya.


"Kok pulang? kan udah di sini. Mungkin Lily mau kita nonton bareng. Atau dia ingi aku ke sini cuma beli tiket aja barang kali" kini Arun ikutan menebak maksud Lily.


"Ga usah bang. Aku pulang aja. Abang sama kak Lily have fun ya, aku pulang"


Alana sudah berbalik hendak melangkah pergi, tapi Arun sigap menarik pergelangan tangannya. "Jangan pergi, please" bisik Arun menembus bola mata Alana. Wanita itu meleleh ditatap sebegitu dalam dengan suara berat Arun yang selalu terdengar sexy di telinganya.


Ting! Satu pesan masuk di WhatsApp Arun. Pesan dari Lily.

__ADS_1


(Sorry hun, aku tiba-tiba ga enak badan. Perut aku keram nih. Kau nonton sama Alana ya. Aku udah minta dia datang ke sana, buat temani kamu. Ok hunny? have fun ya)


__ADS_2