Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Harus kuat


__ADS_3

Masa Minggu tenang dilalui Alana dengan berdiam diri di kamar. Semangat hidupnya tidak ada lagi. Dua hari berlalu Alana hanya menghabiskan waktu nya untuk meratapi nasibnya. Selera makannya juga hilang, setiap makanan yang diantar ke kamarnya, hanya di cicipi dua sendok itu pun dipaksakan.


Bi Minah sudah duduk di dekat Alana yang tengah berbaring lemah di tempat tidur nya lengkap dengan minyak urut ditangannya.


"Sini, bibi urut dulu" ucapnya menuang sedikit minyak ke telapak tangannya. Alana patuh. Yang sayang padanya dengan tulus di rumah ini hanya bi Minah. Dengan lembut wanita itu memijit tubuh Alana.


"Kembangnya cantik, bi. Makasih ya" ucapnya Alana menatap vas bunga di meja samping tempat tidurnya.


"Dari pak Arun. Bibi cuma mindahin aja ke vas bunga itu" terang bi Minah masih fokus pada tangan Alana.


Susah payah Alana menelan salivanya. Untuk apa Arun memberinya bunga yang ketepatan adalah bunga kesukaannya?


"Kak Lily mana bi?"


"Tadi pamit mau ke rumah mertuanya. Nitip non Alana sama bibi. Di buka aja semua pakaiannya non, biar punggungnya juga bibi urut"


Tangan keriput bi Minah ampuh, mampu menenangkan hati Alana.


Ini hari ketiga dia mengurung diri. Matanya bengkak, tadi sempat dia lihat di kaca kamar mandi. Suara Alana pun sudah hilang, serak terus meraung meratapi nasibnya.


Pagi ini, dia memutuskan untuk menghentikan tangisnya. Hati dan juga tubuhnya terasa lelah.


"Tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan non. Kadang kita membenci jalan yang sudah ditentukan untuk kita, tapi bibi mohon, jangan putus asa. Percayalah orang baik akan mendapatkan orang baik pula. Ini hanya masalah waktu non. Ditemukan atau kita yang menemukan" bi Minah mulai berkata-kata kala melihat Alana kembali meneteskan air matanya.


Janji untuk tidak menangis nyatanya tidak bisa dipegangnya. Dia menangis lagi kala mengingat perpisahannya dengan Gara. Di peluk eratnya boneka unicorn pemberian Gara padanya saat anniversary hubungan mereka yang pertama.


"Ini untuk princess Alana" ucapnya saat menyerahkan boneka itu.


"Kenapa harus unicorn? ada sayapnya lagi"


"Biar unicorn ini membawamu pada mimpi-mimpi indah mu. Membawamu pada kebahagiaan"


"Kebahagiaan ku adalah bersamamu" bisik Alana kala itu.


"Maka aku akan ada di sana melihat mu bahagia"


Kenangan itu membawa banjir air mata di pipi Alana, terisak hingga menjatuhkan diri di lantai, memuntahkan semua isi perutnya seolah itu adalah kesedihan yang ingin dia buang.

__ADS_1


"Non, jangan begitu. Bibi mohon" ucap bi Minah memegangi pundak Alana yang menangis hingga bergetar.


"Kenapa aku terlahir bi? kenapa hidupku begitu menderita? kenapa aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan ku?" jeritnya benar-benar terpukul.


"Sabar non. Ingat ada bayi dalam sini" bi Minah menyentuh perut Alana.


"Anak? apakah ini juga milik ku? dia hanya dititipkan di sini, setelahnya mereka juga akan mengambilnya dari ku"


"Non harus kuat. Demi bayi ini. Lakukan yang terbaik sebagai ibu, maka non tidak akan merasa berdosa meninggalkannya nanti"


"Benar bi. Aku harus tegar, demi bayiku. Mereka boleh saja mengambilnya dari ku, tapi akan selalu darah ku yang mengalir dalam tubuhnya. Kelak saat dia sudah dewasa, dan tahu semua ini, aku percaya dia akan mencari ku" ucapnya menghapus air matanya.


Tidak akan mudah dia melangkah tanpa Gara. Tapi Alana sadar, di dunia ini tidak ada yang abadi. Alana sadar dia tidak bisa menggantungkan hidupnya pada orang lain. Dua bulan lagi, dia akan pergi, membuang semua kenangan hidupnya. Pergi dari orang-orang yang selama ini hanya memanfaatkannya.


"Makasih bi" Alana memeluk tubuh bi Minah.


"Yang kuat ya non" Alana mengangguk penuh yakin.


***


Tiga hari ke depan, Alana akan mengikuti ujian nasional. Pastinya dirinya akan bertemu Gara. Dia sudah menyiapkan hatinya. Dia tidak akan menangis atau menampakkan dirinya lemah. Kalau bisa! Semoga!!


"Biar bibi aja yang buatin sarapannya non"


"Ga papa, aku bantuin dikit-dikit, soalnya aku makannya banyak" ucapnya tersenyum. Arun berdiri diambang pintu, tepat saat Alana bermaksud keluar dari dapur.


"Apa itu?" tunjuk nya pada piring yang dibawa Alana menuju meja makan melalui tatapan matanya.


"Pisang goreng. Aku masak sendiri. Abang mau coba?" ucapnya mencoba melepas senyum. Memaafkan semua orang disekitarnya sebelum pergi adalah salah satu rencana Alana.


Tanpa ragu Arun mencomot satu potong dan mulai menikmatinya. "Enak"


"Iya dong, aku yang masak" jawabnya nyengir.


"Loh, Al, kok udah pake seragam. Sekolah hari ini? emang kau udah fit?" tanya Lily yang baru bergabung di meja makan bersama mereka.


"Fit ga fit kak, soalnya hari ini kan mulai UAN" ucapnya.

__ADS_1


"Loh, bukannya Arun tadi udah turun duluan, kok ga ada?" Lily celingukan mencari keberadaan Arun.


Baru akan dijawab Alana, orang yang dicari Lily muncul dengan mug besar berisi susu hamil yang diletakkan di depan Alana.


Lily menyaksikan semua perhatian Arun dalam diam, begitu pun Alana jadi salah tingkah dan si mister cool itu hanya cuek, duduk di kursinya mengambil sepotong pisan goreng dan mulai membuka tabletnya.


Perhatian kecil Arun selalu mampu menyentuh perasaannya paling dalam. Entah itu dilakukan hanya demi bayinya, tapi Alana sungguh merasa diperlakukan sangat spesial.


"Aku pergi dulu bang, kak" ucapnya bangkit setelah menghabiskan susu buatan Arun.


"Tunggu Al, kita bareng" dengan cepat mengecup pipi Lily dan mendahului Alana keluar rumah.


"Kak.."


"Pergi lah Al. Lagi pula kau belum fit betul. Itu dilakukan Arun demi anaknya" terang Lily pada Alana agar tidak berpikiran lebih, yang sebenarnya malah lebih tepat untuknya sendiri.


Bukan disengaja seperti sebelumnya, kali ini Alana membuka buku sepanjang jalan karena memang dia ingin mengingat kembali pelajarannya. Ujian pertama ini matematika, jadi dia mencoba menyelesaikan beberapa contoh soal yang kurang dia kuasai.


Arun pun tidak mengganggu, membiarkan gadis itu berkutat dengan buku-bukunya. Tidak terasa mobil berhenti. "Kita sampai" ucap Arun lembut. Menatap pipi mulus itu yang begitu serius hingga tidak sadar sudah sampai.


"Al.."


"Hah? eh..udah sampai bang" ucapnya melihat sekeliling. "Ga terasa.. hehehehe" cengir nya.


"Aku masuk dulu bang" Alana mengulurkan tangannya pada Arun untuk meminta tangan Arun.


Setelah menyalim tangan Arun dan segera keluar, Arun menarik pergelangan tangan Alana, hingga gadis itu melihat kearahnya.


"Kau pantas untuk bahagia. Jangan pernah bersedih lagi Al. Kau terlalu berharga untuk di sakiti" ucap Arun membelai pipi gadis itu dengan telunjuknya.


"Bang.."


"Aku minta maaf untuk semua kesedihan yang sudah kau alami. Harusnya aku tidak mengikuti ide gila Lily, menikahi mu secara sirih dan menempatkan dalam derita ini" ada keseriusan yang ditangkap Alana dari sorot mata Arun.


Alana tidak tahu harus bicara apa. Setiap orang yang berbicara lembut begini padanya, pasti dia akan terharu dan ingin menangis. Mungkin karena faktor dirinya selalu diperlakukan kasar oleh orang tuanya.


"Pergilah. Hari ini ujian kan? kerjakan semampu mu. Jangan terbebani oleh hal lain yang buat mu sedih. Aku akan selalu ada untukmu. Mulai saat ini, aku akan melindungi mu, bidadari kecil.." Arun menutup kalimatnya dengan ciuman di puncak kepala Alana.

__ADS_1


__ADS_2