Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Sekali Alana tetap Alana


__ADS_3

Sejak tahu cucunya sudah membohongi dirinya, nenek Rosi tutup mulut setiap berhadapan dengan Kai. Setiap pria itu datang menjenguk ke rumahnya, nenek Rosi akan masuk kamar, mengunci diri, tidak perduli dengan gedoran di pintu kamar.


"Buka nek, mau sampai kapan kita Diaman gini? udah sebulan, dan nenek masih aja diami aku?,"tanya Kaisar didepan pintu.


"Sampai aku mati!" sahut nenek Rosi tak kalah nyaringnya.


"Malu sama umur nek. Masa iya nenek-nenek bau tanah masih ngambekan" pancing Kai, dan dia yakin pasti berhasil membuat wanita itu keluar dari tempat persembunyiannya.


Braaak!


Daun pintu dibuka paksa lalu sekuat tenaga dihempaskan hingga ke dinding kamar. "Kau bilang apa? dasar cucu setan, nyumpahi nenek mu sendiri mati ya?!" bentak nenek Rosi yang kini sudah berdiri tepat dihadapan Kai. Bukan nya takut, pria 35 tahun itu justru tertawa.


Bugh!


Satu pukulan mendarat dengan tepat di perut Kai, membuat pria itu seketika menahan nafas serta rasa sakit. Nenek bar-bar nya sejak sekolah dulu sudah ikut ekskul karate di sekolahnya, bahkan hingga di perguruan tinggi nenek Rosi masih aktif di club karate hingga beberapa mengikuti perlombaan. Wajar jika diumur nya yang sudah tua, masih bisa bergerak lues kalau hanya sekadar memberikan satu pukulan pada cucu tengilnya.


"Masih bisa ketawa? mau lagi?" tantang nenek Rosi berkacak pinggang.


Kai masih menormalkan nafasnya membungkuk memegangi perutnya yang terasa sakit. "Masih kuat aja nenek ya. Kalau mau mukul bilang-bilang dong nek, kebiasaan nenek ga hilang-hilang. Sadar nek, aku satu-satunya cucu dan harapan keluarga ini," ucap Kai menegakkan tubuhnya.


Para pelayan yang berniat lewat dari koridor itu, langsung putar balik, ga jadi naik ke lantai atas. Keadaan seperti itu sudah biasa terjadi, bahkan sangking seringnya, jika mereka tidak adu jotos, justru pelayanannya yang kebingungan. Setelah terbiasa, justru mereka menikmati adegan seru itu.


"Masih berani bilang nenek bau tanah?"


"Maaf..habis nenek ngambekan sih," ucap Kai menerobos masuk, langsung menuju ranjang neneknya dan berbaring telentang memejamkan mata. Sudah seminggu ini dia tidak bisa tidur dengan tenang. Perasaannya tidak karuan, dan selalu dihinggapi rasa bersalah.


Yah...sejak bertemu dengan Dita, si gadis perawan, yang miliknya telah direnggutnya itu, Kai selalu terbayang wajahnya. Bahkan gilanya dia sampai terbawa mimpi yang memimpikan bercinta lagi dengan Dita!


Nenek Rosi ikut masuk, memperhatikan cucu kesayangannya itu yang tampak berbeda dari biasanya. "Hei.." nenek Rosi menyepak kaki Kai yang menjuntai di lantai.

__ADS_1


"Hei..cucu dzholim, ada apa?" kembali nenek Rosi menyepak kaki Kai untuk kedua kalinya.


Kai bangkit, duduk dengan tarikan nafas panjang. "Aku ga papa nek. Cuman kurang istirahat aja. Nenek jangan ngambek lagi ya, pusing aku nek lihat tingkah nenek"


Peletak!


Satu jitakan mendarat di kepala Kai. "Sampai kapan pun aku ga akan memaafkan mu, kau akan ku coret dari daftar ahli waris!" hardik nenek Rosi duduk di kursi tepat di hadapan Kai.


"Hah? alasannya?"


"Kau masih bertanya? Kaisar Barrel, kau sudah berbohong pada nenekmu!" umpat nenek Rosi kesal.


"Baik lah. Aku minta maaf nek"


"Aku tidak akan memaafkan mu, sampai kau membawa Alana ke rumah ini, dan menjadikan menantu keluarga ini!" gerutu nenek Rosi.


"Ya ga bisa gitu dong nek. Alana udah jadi istri orang, masa iya mau aku nikahi lagi," sahut Kai nelangsa. Susah memang berhadapan dengan neneknya, kalau wanita tua itu sudah suka pada seseorang, dia akan getol menginginkannya. Udah kayak orang pacaran aja, ingin memiliki.


"Udah dong nek, jangan bahas Alana lagi"


"Nenek ga mau. Sekali Alana tetap Alana. Kau kan bisa usaha dulu, rusak kek rumah tangganya. Pakai dong pesona mu. Percuma wajah tampan, badan bagus, tapi ga berfungsi!"


"Astaga nek, masa iya ngajarin cucu sendiri jadi pebinor? apa kata orang? bisa-bisa para leluhur Barrel bangkit!" Kai semakin terpancing kesal. Pembicaraan unfaedah ini akan berlangsung alot, seperti yang sudah-sudah mengingat karakter neneknya.


"Zaman sekarang itu udah biasa. Bisa aja kan Alana ga bahagia dengan suaminya? pokoknya nenek ga mau tahu, nenek mau Alana yang jadi istri mu! Kalau sampai kau tidak berhasil, nenek akan coret namamu dari daftar penerima kekayaan Barrel" ancam nenek Rosi tegas.


"Dalam keluarga ini, tinggal kita berdua lagi yang tersisa, nenek mau wariskan sama siapa kalau bukan sama aku?" Kai melipat tangan di dada, coba menantang sang nenek.


"Akan aku sumbangkan ke yayasan peduli kasih, atau mikrofon pelunas hutang!"

__ADS_1


Kai kehabisan kata, dan kepalanya yang semakin sakit membuatnya menutup mulut tidak ingin mendebat. Masalahnya belum selesai sudah datang lagi masalah baru.


***


Melalui informannya, Kai mendapat info mengenai Dita. Data gadis itu sudah lengkap, dan saat ini sedang kuliah di salah satu universitas swasta bergengsi di kota ini.


"Ini semua datanya bos" ucap asisten setianya, Ferguson.


Dengan seksama Kai membaca, benar dugaannya, ayah Dita adalah salah satu konglomerat di negeri ini, dia anak tunggal setelah kecelakaan merenggut nyawa abangnya sepuluh tahun silam.


"Siapa dia bos? target baru buat teman bobok enak?" tanya Ferguson dengan cengengesan. Asistennya itu sudah mengikut Kai sejak lima tahun lalu, dan karena Ferguson sangat setia dan juga mengerti segala keinginan Kai tanpa harus buka suara terlebih dahulu, Kai jadi royal dan sudah menganggap Ferguson sebagai sahabatnya sendiri. Itu lah sebabnya asisten kurang akhlak itu sesuka hatinya berbicara bahkan hal yang paling pribadi sekalipun pada Kai.


"Tutup mulut mu, Ferguson! segera atur jadwal meeting dengan PT Pijar Nusantara" sahutnya menatap kesal pada Ferguson.


Pintu sudah tertutup, Ferguson si asisten banyak ngomong itu sudah keluar. Kembali Kai menatap berkas serta selembar photo Dita yang tentu saja di Candid oleh anak buahnya. Gadis itu sedang makan di salah satu restoran cepat saji. Kai mengakui, wajah gadis itu cantik, namun mengingat pertemuan kedua mereka di pesta pernikahan Alana seminggu lalu, Kai tahu kalau Dita gadis keras kepala.


"Apa gue biarkan aja ya? toh dia ga kenal ini. Lagi pula, dia juga ga minta gue tanggung jawab" gumamnya bermonolog.


"Sial, tapi gue ada kerja sama lagi dengan bokap nya!" umpatnya menendang meja kerjanya.


Dering ponselnya membuat konsentrasinya buyar. "Apa lagi sih?" gumamnya melihat nama si penelpon.


"Iya nek" sahutnya lembut.


"Mana Alana? aku ingin kau membawanya kemari" lengkingan suara nenek Rosi mampu menembus gendang telinga Kai yang terdalam hingga pria itu harus menjauhkan ponselnya agar tidak tuli.


"Nenek.."


"Segera bawa kemari, jantungku kambuh lagi Kai, nenek mohon" kali ini suara nenek Rosi melemah, lalu sambungan terputus. Wajah Kai panik, dulu saat jatuh koma, awalnya neneknya juga bersuara seperti itu.

__ADS_1


"Sial..!" Kai memugar rambutnya kasar. Dia harus menemui Alana dan segera membawa gadis itu kehadapan neneknya.


__ADS_2