
Hamil tidaknya Alana belum bisa dipastikan, tapi Lily sangat yakin, gejala yang saat ini diderita Alana, pertanda gadis itu tengah hamil. Penuh gembira, Lily kembali ke kamarnya mencari Arun, pria itu tidak ada.
"Pasti lagi ngegym" cicitnya tersenyum. Lily sudah tidak sabar menyampaikan kabar ini pada Arun. Mereka akan segera memiliki anak. Apalagi yang lebih menggembirakan dari itu?
"Disini rupanya kau, hun" ucapnya melangkah masuk kedalam ruangan itu. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. Kalau bisa teriak, mungkin dia sudah berlari ke mesjid disudut jalan sana, meminjam toak untuk mengabarkan berita besar ini.
"Nampaknya lagi senang permaisuriku ini" sambutnya, turun dari treadmill, mengambil handuk kecil dan menyeka keringat yang mengalir deras di sekujur tubuhnya.
"Benar banget, hun. Kita akan punya anak.." pekiknya menghambur ke pelukan Arun. Mengalungkan tangannya dileher pria itu dan mencium sekilas bibir yang selalu mampu memberinya sensasi hingga ke inti tubuhnya.
"Kau hamil hun?" Arun ikut melonjak gembira. Bahkan dia mengeratkan pelukannya.
"Bukan aku..tapi Alana" sahut Lily ikut mengeratkan pelukannya. Sinar dimata Arun mendadak redup. "Alana hamil? Alana mengandung?" batinnya berubah serius.
"Apa sudah pasti? tau dari mana?" Arun melepas pelukannya. Menatap wajah berseri Lily.
"Dia mual, muntah-muntah dan juga pusing, itu kan gejala wanita hamil. Udah pokoknya kau siap-siap ya, kita bawa dia ke dokter" Lily kembali mencium bibir Arun sebelum pergi meninggalkan Arun dalam kebingungannya.
Harusnya Arun ikut gembira kan? karena tujuannya dan Lily untuk punya anak akan terkabul. Dan lagi, kalau Alana hamil, lalu melahirkan anaknya, dia bisa segera menceraikan Alana. Pertanyaan, kenapa hatinya tidak suka? kenapa perasaannya sakit membayangkan Alana pergi darinya?
***
Ketiganya mengantri didepan ruang dokter obgyn yang akan memeriksa Alana. Awalnya Alana menolak untuk ikut, dia takut kalau nanti ada yang melihat mereka, terlebih teman sekolahnya. Tapi Lily memastikan tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Kalaupun ada yang mereka kenal kebetulan bertemu di sana, mereka sepakat akan mengatakan Lily lah yang ingin periksa.
"Ibu Alana" teriak suster yang bertugas membantu dokter kandungan itu. Sumpah demi apapun, Alana ingin sekali membenamkan wajahnya didasar tanah paling dalam sangkin malunya.
__ADS_1
Tampak beberapa pasien dan keluarga yang ikut mengantri menatap kearah mereka bertiga, seolah bertanya, dari dua wanita ini yang mana yang sedang hamil.
"Iya sus.." Lily melambaikan tangannya dan segera mengajak Alana masuk. Melihat Arun yang masih diam di kursinya, Lily ikut menarik tangan Arun, memasuki ruangan bersama.
Apa saja yang disampaikan dokter yang memperkenalkan dirinya bernama Leann, tidak ada satupun masuk dalam pikiran Alana. Semua yang diterangkan oleh dokter itu tentang apa yang boleh dan tidak boleh Alana makan dan lakukan hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Rohnya seakan sudah lepas dari tubuhnya saat dokter itu mengabarkan kalau dirinya sudah hamil 5 Minggu. Bingung harus bereaksi seperti apa. Gembira karena sebentar lagi akan terbebas dari belenggu rumah tangga ini, tapi sedih juga karena perutnya akan membesar nantinya, dan apa yang harus dia katakan pada Gara?
Rasanya sangat egois terus menutupi hal ini dari Gara. Pria itu berhak mendapatkan perempuan yang lebih pantas untuk nya dari pada dirinya si pengkhianat ini.
Lily lah yang antusias mencatat semua perkataan dokter Leann. Penuh semangat bak dia lah yang sedang hamil saat ini, sementara Arun sedari tadi mengamati reaksi Alana yang kini menundukkan kepalanya, Arun merasa khawatir akan Alana kini.
"Kita singgah ke swalayan dulu, hun. Aku mau beli susu hamil, buah dan juga cemilan sehat untuk Alana" ucap Lily sumringah.
Di jok belakang Alana seperti biasa, kembali berpura-pura tidur. Menutup matanya, tidak ingin melihat apa pun. Air matanya sejak tadi sudah merembes di pipi.
Lagu easy on me dari diva internasional itu pun membuat suasana hati Alana semakin sendu. Dia benar-benar hidup jadi bayangan orang-orang disekitarnya, tidak bisa memutuskan untuk hidupnya sendiri.
Alana menegakkan tubuhnya, berbalik melihat siapa yang menolongnya. Arun dengan tampang dinginnya ada dibelakang Alana. Tanpa suara menyerahkan teh hangat yang dia beli di cafe tepat disamping swalayan itu.
Ingin menolak, tapi Alana sangat butuh air hangat itu karena lehernya terasa tercekat.
"Makasih"
Tidak menjawab justru Arun membuka jaketnya, menyampirkan pada Alana yang ingin diprotes gadis itu, tapi tatapan tajam memaksa Arun membuatnya membatalkan niatnya.
"Kau harus jaga kesehatanmu. Ada bayi yang memerlukan perhatianmu"
__ADS_1
Rasanya begitu janggal kala mereka membahas mengenai anak yang ada di perut Alana. Anak yang tercipta dari kesedihan, penderitaan dan rasa benci serta sakit yang di deritanya. Mengingat anak ini, akan mengingatkan peristiwa malam itu.
Kedatangan Lily menyelamatkan Alana. Mereka pulang dalam diam hingga sampai di rumah.
***
Menyelusuri koridor sekolah menuju kelasnya, Alana bahkan tidak mendengar suara langkah dibelakangnya.
"Ngelamunin apa sih?" suara Gara menyadarkan Alana dari lamunannya. Mulai pagi ini, Arun mengatakan lewat Lily bahwa dia akan mengantar dirinya ke sekolah. Dia kesal karena kini intensitas pertemuannya dengan pria itu akan semakin sering.
"Eh..Ga. Ngagetin tau ga" ucapnya pura-pura merajuk. Gara mencubit kedua pipi Alana merasa gemes.
"Al, kenapa sih aku ga boleh jemput kamu lagi mau sekolah semenjak pindah ke rumah kak Lily?"
"Ga papa Ga. Lagi pula jaraknya jauh dari rumah kamu, nanti kamu telat kalau harus mutar-mutar dulu jemput aku" sahut Alana beralibi. Dia hanya tidak ingin Gara sampai tahu kalau dirinya pindah ke rumah itu sebagai istri. sirih abang iparnya. Karena sepandai-pandai nya menyembunyikan kebohongan, pasti akan ada cela untuk ketahuan.
"Nanti kita.."
Euk..uek...
Kalimat Gara menggantung di udara, Alana mengangkat tangan pada Gara pamit untuk segera berlari menjauh. Rasa mual nya kembali menerjang. Tidak dapat dihindari, di depan Gara Alana memuntahkan isi perutnya. Gara mendekat memijit tengkuknya seperti yang dilakukan Arun padanya kemarin malam.
"Kamu sakit Al? kita ke UKS yuk"
"Aku baik-baik aja Ga. Cuma agak pusing dan mual aja. Mungkin karena masuk angin" ucap Alana cepat, menghindari pikiran Gara terlalu jauh. Degub jantung Alana tidak karuan. Rasa takut menyerbunya.
__ADS_1
"Masuk angin? kamu malas makan sih. Kalau orang lihat, malah berpikir kamu lagi hamil ini" ucap Gara menggoda. Namun wajah yang digoda justru berubah pucat.