Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Strategi 4-3-3


__ADS_3

Kaisar Barrel, pengusaha ternama, tampan, kaya raya dan memiliki segudang privilege dalam hidupnya, terlihat tak berdaya hanya untuk berada di dekat anaknya. Yah, walau belum ada bukti seratus persen, tapi kata hatinya mengatakan kalau Kasa anaknya.


Kini yang menjadi pergolakan dalam hatinya adalah cara mendekati keluarga Setyawan, agar Kai bisa dekat dengan Kasa. Tidak mungkin dia datang, terang-terangan pada keluarga itu, dan mengatakan Kasa itu anaknya serta berniat melakukan tes DNA. Selain karena kasihan bayi itu masih kecil untuk melakukan tes, keluarga Rudi tidak akan mengizinkannya untuk mendekat, kalau tidak mau berurusan dengan polisi.


Jadi salah satu cara teraman adalah dengan masuk dalam keluarga itu. Tapi melalui apa?


"Bos, saya udah di depan pintu, buka dong pintunya" teriakan Perguson setidaknya membuat Kai yang sedang kesal sedikit terhibur. Asistennya itu sudah setengah jam lalu berdiri di depan pintu apartemennya, memanggil, memencet bel, tapi Kai yang mengamati dari cctv nya hanya tersenyum menyeringai, bak iblis yang ingin membalas dendam pada musuhnya.


Perguson harus sabar, dia tidak punya pilihan lain. Selain karena memberikan informasi yang salah, Perguson juga tidak bisa memberi saran pada Kai sebagai solusi atas masalah yang saat ini terjadi.


Tapi pagi ini, begitu membuka mata Perguson dapat ide. Entah itu akan membawanya ke lumbung emas, atau justru ke tali gantungan, yang penting dia harus menyampaikan dulu pada bosnya


"Ayo dong bos, aku punya ide brilian nih, bos pasti suka " bujuk Perguson.


Kai tentu saja tidak langsung tertarik. Dia masih kesal dengan pria itu, namun setelah setengah jam ini berpikir, tidak masalah untuk mendengarkannya. Lagi pula, kalau nanti idenya buruk, Kai bisa menghukumnya lagi.


"Akhirnya, di bukain pintu juga," ucap Perguson menghela nafas lega. Tanpa ragu, dia masuk lebih dalam mencari keberadaan Kai.


"Bos...bos dimana?" teriaknya sembari mengitari ruangan.


Tidak ada jawaban. Tinggal kamar tidur dan juga ruang kerja yang belum dia periksa. Perguson memilih ruang kerja lebih dulu, dan saat membuka pintu, Kaisar sudah duduk di kursi kebesarannya dengan tangan di lipat di dada, menunggu Perguson masuk.


"Hai, bos. Hari libur begini ga ada rencana keluar bos? non Amanda dari tadi menghubungi aku terus. Nanya si bos kemana, hape pake acara dimatikan segala," terang Perguson panjang lebar. Duduk di kursi yang ada di hadapan bosnya, dengan tatapan mematikan dari sang titisan Fir'aun, Perguson seolah ada dalam ruang sidang kasus pemerkosaan. Tatapan menghakimi yang tidak ada ampunan.


Masalah belum selesai, berani-berani asisten sialannya itu menyebut nama Amanda!


"Tutup mulut mu! Ga usah bertele-tele, apa rencana lo buat gue bisa dekat sama anak itu? Kalau pun harus tes, gue butuh Rambutnya, kan!?" hardik Kai menunggu.

__ADS_1


"Tapi maaf sebelumnya bos, kalau kurang berkenan, bos jangan pecat aku ya. Please bos, cicilan apartemen masih lama"


"Bacot! buruan!" kesabaran Kai benar-benar diuji saat ini.


"Pertama, bos ingin masuk dalam keluarga itu, biar bisa dekat dengan si bayi. Kalau ujuk-ujuk datang, pasti dicurigai, bahkan bisa dilaporkan ke pihak berwajib. Bos tahu sendiri, kayaknya mereka ga ingin mencari ayah di bayi, jadi dapat disimpulkan, kalau pun bos mengaku, mereka tetap tidak akan memberikan anak itu, jadi..."


"Bisa ga lo persingkat!? panjang lebar lo cerita, sakit kepala gue!"


"Gini, bos. Aduh, gimana ya bilangnya?"


"Ngomong ga lo!" Kai sudah berdiri, menendang kaki Perguson.


"Aku sudah dapat informasi, kalau keluarga Setyawan lagi butuh baby sitter tuh..." Perguson berhenti sejenak. Ragunya untuk meneruskan sebesar batu karang.


"Terus...?!"


Kai sudah menarik kerah baju Perguson, memaksa pria itu berdiri, lalu tanpa aba-aba, memukul perut Perguson hingga mengadu kesakitan. Tidak sampai disitu, Kai juga memaksa pria itu berdiri, lalu menghantam keras rahangnya hingga sudut bibirnya berdarah.


"Gue mampusin lo! puluhan juta gaji lo gue bayar tiap bulan, yang ada di otak lo justru ide t*i kayak gini?! mau mati lo ya?!" amarah Kai sudah tidak terbendung. Perguson sungguh keterlaluan meminta seorang Kaisar Barrel, menyamar menjadi wanita!


"Ampun bos, aku pikir cuma ini jalan satu-satunya buat bisa masuk ke dalam rumah itu. Kalau jadi supir, mereka udah kenal sama bos. Kalau menyamar jadi cewek, kan pasti ga kenal" Perguson masih ngoceh sembari menjauh. Jemari tangannya menyeka bibirnya yang terasa perih.


Semakin marah, Kai ingin melanjutkan pukulannya pada Perguson. Dia sudah mempertimbangkan, lebih baik mengirim asistennya itu ke UGD!


"Kalau bos ga mau, bos akan menyesal. Karena bisa saja nanti non Dita dijodohkan dengan pacar masa kecilnya yang baru pulang dari luar negeri"


Langkah Kai terhenti. Dia menatap Perguson lekat. Berita yang dibawa Perguson nyatanya membawa rasa khawatir dihatinya. Kalau sampai Dita menikah dengan orang lain, maka anaknya semakin jauh darinya.

__ADS_1


"Akurat informasi yang lo sampaikan ini?"


"Iya, bos. Langsung dari orang dalam, pelayan di rumah itu"


Kai terdiam. Dihempaskan tubuhnya ke atas sofa. Memikirkan baik buruk langkah yang akan dia ambil.


"Satu Minggu aja bos, sampai dapat rambut anak itu" lanjut Perguson ikut duduk dihadapan Kai. Situasi sudah aman, bos nya tidak mungkin memukulnya lagi.


"Seminggu kata lo? dengan pakaian wanita, gue jadi pembantu di rumah itu?!" suara Kai menggelegar di ruangan itu.


"Ok, tiga hari aja bos. Langsung dapatkan rambut bayi itu, bos langsung cabut"


"Lo yakin, ide gila lo ini ga akan buat gue malu? kalau sampai mereka tahu, gue bakal dipermalukan!"


"Aman bos. Aku punya teman yang bisa mengubah wajah seseorang hingga berbeda dengan aslinya"


"Tapi ga sampai di situ masalahnya. Gue ga tahu ngurus Kasa, pasti itu buat mereka curiga nanti" ucap Kai mengacak rambutnya. Kenapa dia harus sepusing ini. Biasanya dia tidak perduli dengan apapun. Toh, keluarga itu yang tidak mau mencari ayah Kasa.


Tapi dia juga tidak bisa menutup mata. Dia ingin tahu status anak, itu. Kai mungkin sudah tersihir oleh Kasa melalui tatapan bayi itu. Sejak pertemuan pertama mereka sebulan lalu, Kaisar tidak bisa melupakan anak itu. Bahkan hampir setiap malam, Kasa datang dalam mimpinya.


Huufffh..."Ok, gue ikuti permainan lo. Asal lo pastikan semuanya aman," putus Kai dengan perasaan campur aduk.


"Ok bos. Besok aku akan pura-pura menawarkan jasa baby sitter, agar mereka tidak perlu carik orang lain, dan pemasangan iklan di job seeker segera dicabut. Aku juga akan bawa orang yang akan merias sekaligus mengajari bos, tugas-tugas sebagai baby sitter," ucap Perguson tersenyum. Belum berubah wujud saja, Perguson sudah bisa membayangkan penampilan bosnya yang berubah menjadi wanita.


"Kenapa lo ketawa? apa yang lo pikirin?"


"Oh, ga bos. Ga ada..."

__ADS_1


__ADS_2