
Pria itu terus mengamati kedua muda-mudi itu dari tempatnya. Setelah menunggu satu jam lebih akhirnya dia bisa melihat targetnya yang sudah lama dia cari.
Setelah mendapatkan informasi tempat tinggal Alana, Arun segera meluncur. Mendapati tempat itu kosong tanpa wanita yang dia cari, Arun sempat ragu, apa mungkin orang suruhannya salah memberi alamat. Tapi setelah melihat Alana muncul, hari Arun kini dapat tenang. Tidak, hatinya justru berdebar.
Keberhasilannya menemukan Alana membuatnya semakin bersemangat dan begitu gembira. Hatinya yang sempat layu, kini mulai bersemi kembali. Arun ibarat zombi yang kembali menjadi manusia setelah disuntikan formula yang mengubah hidupnya menjadi berwarna lagi.
Kepalan tangan Arun semakin kencang selaras dengan apa yang dia saksikan. Pria itu memaksa untuk mencium puncak kepala Alana meski berulang kali gadis itu menolaknya.
Mobil CR-V hitam itu sudah menghilang di belokan gang. Wajah Alana begitu tampak terbebani. Saat membuka pintu kamar, sentuhan dipundaknya membuat Alana berhenti dan berbalik.
Tepat saat itu bola mata yang selalu dia rindukan itu ada dihadapannya. Degub jantung Alana pun berdetak dua kali lebih kencang.
"Bang Arun.." desisnya tidak percaya.
Pria itu tidak mengatakan apapun hanya menatap Alana. Amarah yang tadi sempat terbit saat melihat gadis itu bersama pria lain nyatanya menguap selepas pertemuan itu.
"Akhirnya aku menemukanmu..tiga minggu lebih aku mencari mu seperti orang gila, Al.."
Suara sendal yang berjalan kearah mereka membuat Alana tertunduk. Tatapan dari tetangganya seolah menyelidik dan ingin tahu ada apa dia dengan pria itu malam begini.
Selama Alana tinggal di sana, hanya Dita yang datang bermain di kosannya. "Al.." sapa Nina, tetangganya, namun hanya formalitas karena yang menjadi objek menarik buatnya justru Arun. Nina si tetangga genit tersenyum menggoda pada Arun yang justru bersikap cuek.
"Iya teh. Baru pulang teh?" tanya Alana basa-basi. Biasanya juga Nina ogah menyapa Alana, justru saat Alana baru pindah, Nina keberatan, mengatakan kalau kamar yang akan di kontrak Alana akan dia sewa untuk temannya. Tapi karen sudah mengenal tabiat Nina, ibu kos justru memberikan kamar itu pada Alana.
"Iya. Siapa? dikenalkan atuh" ujarnya genit.
"Oh..kenalin teh. Ini bang Arun.."
__ADS_1
Nina buru-buru mengulurkan tangan kehadapan Arun. Tapi seolah bukan dirinya yang diajak bersalaman, Arun malah buang muka, hanya menatap ke wajah Alana.
"Bang..itu teman aku mau kenalan" bisik Alana memohon agar Arun menerima tangan Nina.
"Lagi Covid 19 kan? ga boleh salaman" ucap Arun enteng. Melirik sekilas ke arah Nina lalu kembali menatap Alana.
Wajah Alana memerah. Kesal melihat sikap dingin cenderung sombong dari Arun. Dia malu pada Nina.
"Oh, iya sih. Tapi tangan aku bersih kok mas. Mas ini abangnya Alana ya?" tebak Nina sok tahu.
"Bukan. Aku suaminya" dengan gaya cool Arun mengucapkan kalimat yang sejak pindah ke sana selalu dijaga Alana. Dihindari siapa pun yang ingin coba mengorek statusnya. Kini dengan enteng dan tanpa berdosanya Arun mengungkap tabir rahasianya.
"Hah? suami? bukannya Alana itu baru tamat SMA ya? becanda kali si mas nya" ucap Nina kalah malu. Harapannya untuk menggoda Arun pupus sudah.
"Benar dia baru tamat sekolah. Tapi emang salah kalau udah punya suami"
Alana tahu, keduanya akan saling mendebat, dan Arun tidak akan sungkan untuk membuka rahasia Alana lebih banyak lagi, jadi Alana memutuskan untuk menarik tangan Arun masuk ke dalam.
"Abang untuk apa datang mencari ku?" Alana menjatuhkan tubuhnya duduk di atas kasur tipisnya. Sementara Arun masih berdiri terus menatap Alana.
"Duduk bang. Maaf kalau tempat aku kecil dan tampak kotor. Tapi ruangan ini bersih kok, hanya cat tembok nya aja yang udah gelap"
Arun bergeming. Masih menatap Alana. Mengunci tatapan gadis itu pada satu titik lurus. "Kalau ga mau duduk, ya udah abang pulang aja" Alana coba bangkit, namun Arun menarik kembali tangan Alana untuk duduk.
"Kirain najis duduk di kamar ku" ucapnya kesal.
"Di kubangan sampah pun aku akan ikut asal bersamamu" semu merah di pipi Alana tak mampu dia tutupi, akhirnya membuat gadis itu menunduk.
__ADS_1
"Al.." Arun mengangkat dagu Alana hingga keduanya saling tatap.
"Kenapa kau pergi dari ku? menjalani kehidupan yang menyedihkan ini dari pada ada di sisiku?"
"Setidaknya ini lebih baik. Lebih buatku terhormat bang. Abang mau apa ke sini? kenapa mencari ku?" Alana menepis tangan Arun, menjaga jarak duduknya dari pria itu. Dia tidak ingin Arun mendengar debar jantung nya yang berdetak kencang.
"Perlukah alasan lain untuk seorang suami mencari istrinya?"
"Perlukah aku mengingatkan aku hanya istri sirih mu bang? tugas ku sudah usai, dan saat nya kau pergi dari rumah itu" sambar Alana muak. Dia diingatkan kembali pada deritanya yang diberi tugas meminjam rahimnya.
"Aku tidak mengakui itu. Bagiku kau adalah istriku. Al..aku ingin menikahi mu secara sah"
"Jangan gila bang. Kau tau itu tidak mungkin"
"Akan aku lakukan apapun untuk membuatnya mungkin Al. Katakan padaku, kau mau menerimaku kan?"
"Tidak. Aku tidak bisa menerimamu. Ada kakak ku diantara kita. Lagi pula, aku tidak mencintaimu"
"Kau bohong. Jangan coba menyangkalnya atau aku akan membuktikannya lagi pada mu" Alana tahu kemana arah tujuan ucapan Arun, dan dia tidak mau mendebat pria itu.
"Aku mohon bang. Ada hal yang walau kita inginkan tidak harus kita dapatkan. Lupakan aku bang, berbahagialah dengan kak Lily dan Arlan"
"Lalu kau? apa kau bahagia dengan pria itu?" Alana tahu siapa maksud Arun. Dia ingin semua ini berakhir saat ini juga. Memang tidak ada kesempatan untuk nya dan Arun bersatu. Menjadikan Gara sebagai tameng adalah hal tepat.
"Benar. Aku sangat bahagia. Aku mencintai Gara, dan begitu pun Gara sangat mencintaiku. Ceraikan aku bang. Talak aku"
Arun mengeram keras menahan amarah atas perkataan Alana. Dia menatap tajam pada wanita yang sangat dia cintai itu. Dengan enteng dan tenangnya meminta kata talak darinya.
__ADS_1
"Apa kau gila? kau sadar apa yang sudah kau ucapkan? kau tahu apa yang barusan kau minta?" bentak Arun. Kata yang begitu menakutkan baginya, kini justru dengan gampangnya diminta Alana. Dia datang menawarkan cintanya, ingin mengajak Alana pulang bersamanya, tapi justru kebalikannya yang dia dapat.
"Aku sadar bang. Bebaskan aku dari pernikahan gila ini. Pernikahan yang tidak pernah aku inginkan ini!!" salak Alana berurai air mata.