Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Terkuak


__ADS_3

Malamnya Santi uring-uringan. Kalau kemarin dulu dia sudah peringatkan Alana tapi nyatanya mantu dan anak tirinya semakin dekat, bahkan apa yang dia lihat tadi siang sangat merisaukan hatinya. Santi takut kalau Arun benar-benar kepincut sama Alana.


Jangan sampai kejadian bertahun lalu yang menimpanya terulang kembali pada anaknya Lily. Ketakutan itu menghantui hingga tidak bisa terpejam.


"Anak kurang ajar itu akan selalu menjadi duri dalam daging dalam keluarga ini" umpatnya kesal. Ditatapnya wajah Bima yang sudah tertidur pulas.


"Ini semua karena mu, mas. Kau yang sudah melakukan kesalahan hingga anak haram itu terlahir di dunia ini" cicitnya dengan bulir bening menetes di pipi.


***


Siang terasa terik. Try out terakhir yang diikuti Alana sudah berakhir. Semua anak sudah berhamburan keluar.


"Para gadis itu ngapain sih di toilet, lama bener" ujar Fajar ga sabar. Rencananya kelimanya ingin nonton, mengingat Minggu depan mereka akan mulai ujian nasional. Selepas Minggu tenang, pertempuran sebenarnya akan berlangsung. Jadi kelimanya ingin menikmati momen bersama ini.


"Sabar napa, lo ga pernah kan jadi cewek, jadi lo ga tahu kalau mereka tu buat buang air kecil aja ribet" sambar Wisnu.


Alana dan Dita memang pamit ke toilet, tinggallah ketiga pria menunggu di depan parkiran.


Derrrtrrtt... deerrrrrt..


Getar ponsel dari dalam tas Alana menghentikan Gara yang ingin menimpali perkataan sahabatnya. Dibukanya kantong tas tempat ponsel itu.


Ibu..


Arun melayangkan pandangannya ke arah toilet, tapi bayangan Alana pun belum tampak. Panggilan itu berakhir. Tapi baru akan memasukkan kembali ponsel Alana, kembali benda pipih itu bergetar.


"Angkat aja Ga" ucap Fajar. Ragu sesaat namun perkataan Wisnu yang mengatakan mungkin saja ada hal penting yang ingin disampaikan ibu Alana membuat Gara memutuskan untuk menjawab telepon itu. Baru menggeser tombol hijau keatas, dan belum sempat mengatakan kata halo, Santi sudah buka suara dengan lantang.


"Dasar anak ga tahu diri. Mau mu apa sih? apa kau mau buat aku gila? apa kau sudah tidak waras harus mengganggu abang ipar mu? ingat kau hanya ditugaskan untuk mengandung anak Arun buat Lily. Jangan pikir karena saat ini kau sedang hamil anak Arun, maka kau bisa mendapatkan perhatian dan cinta mantu ku. Sekali lagi kau buktikan, kalau darah pel*cur mengalir dalam tubuhmu!! Dua bulan lagi, setelah kau melahirkan anak itu segera kau pergi, menghilang dari hidup kami!!!"


Keringat dingin dirasakan Gara mendengar semua penuturan Santi. Dia hanya diam, mendengar sumpah serapah wanita yang begitu membenci Alana. Gara mencoba menahan diri, mencerna setiap perkataan kasar Santi.

__ADS_1


"Kenapa kau diam? aku ingin segera bertemu denganmu. Ingat satu hal, jika sampai Arun jatuh cinta padamu karena anak yang sedang kau kandung, maka aku akan membunuh mu, sialan!"


Dan telepon itu dimatikan, seiring pandangan Gara tertuju pada sosok yang berjalan kearahnya. Melambaikan tangan padanya, seraya melepas senyum indahnya.


Perlahan Gara menurunkan tangannya. Menggenggam erat ponsel itu. Sebelum Alana mendekat, Gara sudah kembali memasukkan ponselnya kedalam tas Alana.


Kembali Gara teringat sore itu. Saat dia menanyakan apakah ada sesuatu yang Alana sembunyikan dari dirinya, dengan tegas gadis itu meyakinkan Gara kalau tidak ada yang di tutupi dari pria itu. Tapi kini Gara mendapatkan kenyataan pahit.


Dunianya hancur. Bukan hanya hatinya, tapi dunia yang dia pijak seolah longsor membawa tubuhnya untuk tertimbun dikubur ke dasar tanah.


"Ga.." suara Alana menyadarkannya. Menarik kembali dirinya dari kuburan yang baru digali untuknya.


"Woi.. kesambet lo? ga dengar apa Alana manggil?" Dita menepuk pundak Gara yang masih terbengong menatap dalam mata Alana.


Gadis yang selama ini dia anggap makhluk polos yang selalu jujur padanya, bahkan untuk membunuh semut pun tidak berani, kini justru menciptakan kebohongan terbesar yang tidak pernah disangkanya.


Perlahan mata Gara meluncur pada bagian perut Alana yang membuncit. Semua percakapan dan juga ucapan orang yang mereka temui, kembali terdengar ditelinganya.


Dia merasa dipecundangi oleh Alana, wanita yang paling dia sayang, yang selalu dia jaga. Bahkan karena besarnya rasa cintanya, gara tidak pernah melampaui batasnya. Bukan tidak pernah dia memiliki hasrat untuk menggauli Alana, tapi cinta tulusnya membuatnya bisa menahan diri. Tapi apa yang dia terima?


Ya Tuhan..kenapa begini? becanda Mu atas hidup gue ga asik..! mata Gara berkaca-kaca, tapi sekuat tenaga dia tahan.


"Sayang..." suara lembut Alana menyadarkan Gara kembali.


"Ayo, ntar kita terlambat" ucap Wisnu berjalan lebih dulu. Alana mengambil tasnya dari tangan Gara, menyelipkan jemarinya pada jemari Gara. Berjalan hingga ke pintu parkiran.


Dalam bioskop yang gelap, Gara hanya diam. Temannya yang lain menikmati film action yang sedang tayang di layar raksasa dihadapan mereka, sementara dirinya mengulur kembali semua benang yang terjalin selama ini bersama Alana.


"Apakah gue udah salah menilai gadis ini? apa gue memang cowok bego, yang menjaga kehormatannya sementara dia sudah mengandung anak pria lain, bahkan yang sudah beristri?" batinnya menahan marah.


Sempat Alana merasa aneh melihat Gara yang berubah muram. Biasanya dia akan menggenggam tangan Alana selama menyaksikan film, tapi kali ini Gara melipat kedua tangannya didepan dada.

__ADS_1


Namun kehebohan suara Dita yang meminta perhatiannya membuat Alana melupakan Gara yang meratapi hatinya yang saat ini sudah hancur berkeping.


Menimbang apakah dia ingin mendiamkan Alana dan pergi selamanya dari hidup gadis itu, atau lebih dulu menuntut penjelasan? walau yang mana pun pilihan yang diambilnya tetap akan menghancurkan hati dan perasaannya. Dia terluka, sangat. Dan kebencian mulai bersarang dihatinya untuk Alana.


Film berakhir, satu persatu pengisi studio 3 keluar. Gara yang paling belakang, tepat di belakang Alana. Gara masih belum percaya atas apa yang dia dengar dari Santi. Tubuh Alana sudah dijamah oleh pria lain.


"Kita makan dimana nih? gue lapar banget" celetuk Wisnu berjalan paling depan.


"Nge-steak yuk?" tawar Dita bersemangat.


"Wokeh.." sabar Fajar


"Setuju..teriak Alana bersemangat. Ga..kok diam sih dari tadi?" ucapnya menarik tangan Gara.


"Gue.. tiba-tiba kepala gue sakit. Gue boleh pulang duluan ya" ucap Gara kearah kedua sahabat kentalnya.


"Ga asik lo Ga. Ntar lagi dong. Kita makan dulu" Fajar yang memang sudah lapar langsung protes.


"Iya, makan dulu ya, aku lapar banget nih, please" Alana mengusap-usap perutnya, dan Gara melihat itu kembali mencuatkan emosinya.


Tapi melihat raut wajah Alana yang memang lemas dan tampak kelaparan membuat Gara hanya mengangguk lemah.


"Nih, gue pesan wine" Wisnu datang kembali ke meja mereka dengan sebotol anggur. "Biar tubuh kita hangat.."


Semua gelas diisi oleh Fajar. Semua tampak bersemangat untuk menyesap minuman mahal itu. Gara yang melihat Alana mengangkat gelasnya ingin meminum, menahan tangan Alana, dan mengambil gelas itu.


"Jangan diminum. Tidak baik buat tubuh mu!!"


*** Gara bakal tanya sama Alana, atau malah cabut ninggalin Alana gitu aja? Gara bisa maafkan Alana atau ga nih? hayo..komen yang paling banyak yang aku ikutkan.


✓Maafin

__ADS_1


X Tinggalin


Jangan lupa komen, like dan kasih hadiah ya, biar aku crazy up lagi malam ini. Makasih😘😘


__ADS_2