Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Minta Talak#2


__ADS_3

Lily hanya mampu menatap Alana yang sedang menyusui Arlan. Diam-diam Lily memotret momen itu, menatap hasilnya pada layar ponselnya. Indah.


Beginilah seharusnya, Arlan dibuai dan didekap Alana, karena sejatinya kasih ibu itu tulus. Apa salah dirinya hingga Tuhan tidak mengizinkannya menjadi seorang ibu? apa karena Tuhan tahu dia memang tidak akan bisa mengurus anak dengan benar?


Tiba-tiba suara dorongan pintu kamar yang dipaksa terbuka, membuat Lily dan juga Alana sontak kaget menatap ke arah datangnya suara itu.


Tapi ternyata tidak hanya kedua wanita itu, Arun yang jadi pelaku atas kagetnya keduanya juga ikut kaget mendapati Alana ada di kamar itu. Bahkan wanita itu sedang menyusui Arlan. Rambut Alana yang di cepol keatas menjadi objek yang menarik perhatian Arun. Posisi Alana yang miring agar tidak mengekspos Arlan yang sedang menyesap sumber makanannya justru membuat tampilan ibu dan anak itu tampak indah dipandang Arun.


"Hun, kau udah datang?" tanya Lily menyongsong kedatangan Arun, tapi pria itu masih saja terpukau menatap Alana.


"Hun..hun..Arun.." sikut Lily menyadarkan Arun hingga berhasil mengambil kembali perhatian pria itu.


"Iya.." Melihat wajah Lily membuat Arun mengingat sesuatu hingga menarik wanita itu keluar dari kamar.


"Kita mau kemana hun?"


"Kita perlu bicara" ucap Arun kembali berang. Hati Lily kembali menciut. Sorot mata Arun yang memancarkan amarah membuat Lily semakin gemetar.


Taman itu belakang rumah sakit menjadi tempat pilihan Arun. Di sana aman, karena jarang dilalui oleh orang.


"Hun, lepasin tangan aku, sakit" pinta Lily menarik pergelangan tangannya.


Setelah cukup aman, Arun melepas tangan Lily, lebih tepatnya menghempas tangan wanita itu.


Arun diam menatap tajam wajah Lily. Memastikan ini lah wanita lembut yang dulu pernah membuatnya terpesona hingga memilih untuk menikahinya? Kenapa kini tampak berbeda, Arun kecewa. Lily yang ada dihadapannya kini seolah bukan wanita yang sama yang namanya dulu pernah dia sebut di saat mengucap janji pernikahan.


"Hun, ada apa? kenapa kau tampak marah padaku?" tanya Lily memberanikan diri.


"Siapa kau? siapa kau sebenarnya? kemana Lily, wanita yang dulu begitu bersih hatinya?" ucap Arun bergetar. Dia ingin menangis rasanya mengalahkan emosinya. Dia sudah gagal mendidik istrinya, hingga membentuk sosok Lily yang begitu licik.

__ADS_1


"Maksudmu apa, Hun?"


Tidak menjawab Arun justru merogoh saku celananya dan mengeluarkan kartu sekaligus melemparkannya pada Lily. Kartu ATM itu tergeletak jatuh tepat di depan kakinya. Wajah Lily seketika pucat, ketakutan muncul di wajahnya.


"Hun..."


Arun menggeleng tidak percaya akan wanita yang ada dihadapannya. Bagaimana Lily tega memfitnah adiknya sendiri sementara Alana sudah banyak berkorban untuknya? terbuat dari apa hati wanita itu?


"Hun.." derai air mata sudah membanjiri pipinya. Lily mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Lily coba menyentuh pergelangan tangan Arun, tapi laki-laki itu segera menepisnya.


"Betapa bodohnya aku, percaya begitu saja akan semua ucapan mu dan juga ibu. Kalau tidak menemukannya di lemari mu, aku juga tidak akan kepikiran untuk mengecek cctv!"


"Hun..aku.."


"Kesalahanmu begitu besar Ly. Kau tega mengusir Alana, padahal kau melihat tangis Arlan kala itu. Bahkan bi Minah yang tidak bersalah juga ikut kau usir. Katakan padaku, kau manusia bukan?"


"Stop Run, aku bisa jelaskan semuanya" ucap Lily mengiba, menyatukan telapak tangannya di depan dada.


"Kau yang berubah, kau pikir aku bisa sejahat ini karena apa? semua aku lakukan demi siapa? demi mempertahankan mu, menyelamatkan rumah tangga kita!" salak Lily terpancing emosi. Tidak terima menjadi orang yang disalahkan terus.


"Kini kau menyalahkan ku? rumah tangga kita sudah kau hancurkan dihari dimana kau membawa masuk Alana kedalamnya. Kau yang membuat hatiku mengasihi Alana, kau yang membuatku tidur dengannya. Perasaan itu bersih Ly, tercipta karena keadaan yang kita jalani. Jadi ini bukan kesalahanku sepenuhnya" ucap Arun menatap benci pada Lily.


Tubuh gadis itu merosot tak berdaya ke tanah. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menangisi hidupnya. Apa yang dikatakan Arun benar, semua ini salahnya. Keegoisannya lah yang menghancurkan rumah tangganya. Dia sendirilah yang membagi suaminya.


"Mulai saat ini, kau memang masih istriku, dan hingga aku mati, aku tidak akan menceraikan mu kecuali kau yang menginginkannya, tapi aku tidak akan pernah mencintaimu lagi seperti dulu, terlebih setelah kejadian ini"


Penuh tangis Lily melihat kepergian Arun yang meninggalkannya. Dia hancur. Dia terluka tapi tidak berdarah.


Cinta memang tidak selamanya indah. Tidak selamanya mendatangkan senyum. Dia memang salah, tapi rasa perih karena dicampakkan ini tetap Arun yang patut dimintai pertanggung jawabannya.

__ADS_1


Run..


Maafkan aku untuk segala yang ku perbuat. Mencintaimu dan ketakutan kehilanganmu sudah membuat akal ku terhenti. Harusnya aku sadar kalau cintamu bukan milik ku lagi..


***


Setengah berlari Arun bergegas menuju ruangan Arlan. Dia ingin bicara dengan Alana. Meminta maaf pada gadis itu atas penderitaan yang dia dan Lily berikan padanya.


Arun juga ingin meminta Alana untuk bersedia tetap disisinya. Tepat saat pintu dibuka, Arun mendapati Alana bersama teman-temannya, termasuk Gara. Di tertegun ditempatnya untuk sesaat.


"Bang..mana kak Lily?" ucap Alana. Arlan terlihat sudah kembali tertidur di ranjang, wajah nya begitu damai.


"Sebentar lagi diakan datang" sahut Arun pendek. Melangkah masuk dan duduk disalah satu sofa di ruangan itu. Dia menatap lurus pada Alana. Wajah gadis itu tampak kusut, jelas bahwa dia baru saja menangis. Tapi kenapa? Pertanyaan itu hanya disimpan Arun dalam hatinya.


Gara yang duduk di samping Alana, ikut menatap tajam ke arah Arun. Sementara Dita dan Fajar duduk di bagian lainnya. Hanya Wisnu yang tidak hadir karena sudah mulai mengurus kuliahnya di Belanda.


Pintu ruangan sekali lagi terbuka. Lily masuk setelah lebih dulu membersihkan wajahnya. Dia sudah membuat keputusan untuk apa mempertahankan rumah tangganya jika memang Arun tidak akan bisa mencintainya lagi.


"Kak, bang.. ada yang ingin aku bicarakan" ucap Alana menatap Lily dan Arun bergantian. Jemari tangannya tak henti diremasnya tanda gugup.


"Ada apa Al?" suara Lily lembut. Dia sadar selama ini sudah banyak berbuat salah pada Alana, jadi dia ingin memperbaiki hubungannya dengan gadis itu. Dia ingin minta maaf, kalau sudah berdua dengan Alana nantinya.


"Aku..ingin bicara secara pribadi sama kalian" suara Alana bergetar hebat. Ada gemuruh dalam hatinya yang coba dia tahan.


"Aku sama fajar ke cafetaria dulu Al" ucap Dita menarik tangan Fajar.


"Ga, ayo kita keluar dulu" ujar Fajar ingin memberi ruang pada Alana dan keluarganya.


"Kalian duluan aja. Aku akan di sini menemani Alana" sahutnya tegas. Tapi alih-alih menjawab Fajar, ucapan Gara justru lebih menegaskan pada Arun. Dia tidak ingin pria itu mempengaruhi Alana lagi atas keputusannya kali ini.

__ADS_1


Alana baru buka suara setelah pintu ruangan itu tertutup. "Kak, bang. Sesuai perjanjian kita yang dulu, tugasku sudah selesai. Maka aku ingin meminta janji kalian. Bebaskan aku dari pernikahan ini. Jatuhkan talak padaku bang, saat ini juga.."


__ADS_2