
Ingin rasanya Alana menyumpel mulut Dita yang tidak punya filter itu dengan tisu yang ada di atas meja. Lihatlah, hasil ucapan mautnya Nadia dan Gara diam membeku. Wajah Gara pias merasa malu dan juga merasa tidak enak pada Alana. Nadia sendiri, juga merasa bersalah pada Alana.
"Ta.." desis Alana mencubit pinggang Dita.
Dita baru saja akan protes, namun kedatangan dua orang pelayan yang membawa pesanan mereka membuat Dita menutup kembali mulutnya.
Keempatnya kini menikmati makanan dengan mulut sibuk mengunyah, terlebih Dita. Tidak ada yang bersuara sampai Dita kembali membuka mulut berbisanya.
"Ga, ntar lo sama bini lo datang ya ke pesta pernikahan Alana"
Uhuuuk.."Nikah? sama siapa?" sambar Gara cepat setelah berhasil menyelematkan kerongkongannya yang tersedak.
"Ta.." hardik Alana dengan bisikan.
"Ya kali sama lo. Sama calon suaminya lah"
"Iya siapa Ta?" susul Gara tanpa memperdulikan perasaan istrinya yang tampak sedih, menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Alana sendiri jadi merasa tidak enak dengan situasi saat ini.
"Sama pria yang mencintai Alana tulus, memperlakukan dia dengan baik, dan tidak akan meninggalkan Alana dengan alasan apapun di hari pernikahannya nanti. Bang Arun!" skak mat! Dita merasa puas sudah menusuk perasaan Gara hingga lapisan hatinya yang terdalam. Mungkin Alana tidak akan sanggup melakukannya sebagai balasan sakit hatinya pada Gara, tapi Dita akan dengan sangat siap melakukan dengan senang hati untuk Alana.
Semua terdiam. Tidak ada yang terdengar selain dentingan sendok garpu yang beradu.
"Aku permisi ke kamar mandi dulu" ucap Nadia pamit ke toilet.
Satu detik..dua detik..
"Al, kamu apa-apaan sih mau balik sama Arun lagi? kamu mau disakiti kayak dulu lagi? gimana kalau dia nikah lagi, kamu diduakan lagi?"
__ADS_1
"Heh, ga usah ngeburukin orang. Bang Arun sangat mencintai Alana. Kalau bukan sama bang Arun, maksud lo pantasnya, Alana harus nikah sama siapa? sama lo?"
"Aku akan jadi suami yang baik untuk Alana. Aku sangat mencintai mu Al. Aku mohon menikah lah dengan ku" ucap Gara memohon.
"Dan menjadikan ku yang kedua Ga? hanya itu lah tempat yang pantas untuk ku menurut mu?" kali ini Alana buka suara. Dia benci setiap ada pria yang dengan santainya meminang seorang gadis untuk dijadikan istri kedua.
"Tapi kau tahu Al, walau jadi istri kedua aku hanya akan mencintaimu. Aku hanya jadi milikmu seutuhnya" ucap Gara mau menyentuh tangan Alana yang ada di atas meja, namun langsung di tarik Alana lagi.
"Undangan akan aku kirim untukmu dan Nadia, juga untuk mama Reni. Kalau kalian Sudi meringankan langkah menghadirinya, aku akan sangat berterima kasih" ucap Alana tepat saat Nadia kembali ke meja.
***
Ada yang menarik perhatian Arun dari sikapnya Alana. Malam ini Arun sengaja mengajak Alana untuk berkeliling dengan motor, makan sate di pinggir jalan."Mulai aku apel kok wajahnya cemberut gitu sih Al? kenapa? ada masalah di toko?" tanya Arun menaburkan bawang goreng di atas sate Padang nya.
"Hah? ga ada kok bang" sahutnya berbohong. Jujur hatinya sedih mengingat ucapan Gara yang masih tega memintanya untuk menjadi istri kedua pria itu. Apa pria itu pikir Alana aja. gembira mengetahui kalau dirinya masih mencinta gadis itu?
Alana kasihan pada Nadia. Gadis itu kini berada di posisi Alana saat itu, ketika menjadi istri kedua Arun yang dibenci dan tidak diinginkan pria itu. Sejatinya tidak akan ada pria yang bisa mencintai dua orang wanita sama rata.
"Tadi waktu aku dan Dita jalan-jalan ke mall, kita ketemu Gara dan istrinya. Dia ngajak kita ngobrol, sampe saat istrinya pamit ke toilet, Gara bilang, dia masih berharap aku mau menerima pinangan dia..jadi istri keduanya"
Arun ingin sekali berdiri dan mencari Gara hanya untuk menghajar wajah pria itu dan mengingatkannya, untuk menjauhi Alana, karena gadis itu hanya miliknya. Tapi Arun tidak ingin Alana semakin sedih dengan perkelahian konyol yang kini sedang terkonsep dalam pikirannya.
"Abang diam aja. Abang marah ya? maaf ya bang, aku juga tadi ga sengaja ketemu dengan Gara" ucap Alana mengkhawatirkan perasaan Arun yang mungkin terluka karena pertemuan itu.
"Aku jelas marah, tapi bukan padamu, padanya. Aku tidak suka dia mendekatimu bahkan menawarkan perasaannya padamu lagi. Kau hanya milikku, aku percaya pada cinta kita yang lebih kuat dari apapun"
"Makasih" ucap Alana sembari mengangguk. Matanya kini tampak bersinar. Dia pikir Arun akan marah padanya karena bertemu dengan Gara.
__ADS_1
Beda lagi dengan Arun, pria itu justru mengkhawatirkan perasaan Alana. Apa yang dikatakan Gara itu sangat tidak berperasaan. Tega sekali dia menawarkan Alana untuk jadi istri keduanya. Arun paham, saat ini gadis itu terluka, karena lagi-lagi dirinya hanya dianggap pantas sebagai istri kedua.
"Kau pantas dicintai, dicintai seutuhnya. Jadi satu-satunya wanita yang bertahta di hati pria yang sangat mencintaimu, yaitu aku. Jadi buang pikiranmu tentang predikat wanita kedua yang ingin disandangkan oleh orang tidak bertanggung jawab itu. Selamanya hanya ada satu tempat yang menjadi takdir mu, yaitu menjadi satu-satunya wanita dalam hati, pikiran dan hidupku" bisik Arun menatap Alana.
Bola mata gadis itu mulai berkaca-kaca, terharu mendengar ucapan manis Arun. Yah..tidak ada satu orang pun yang boleh memutuskan dirinya pantas untuk menjadi yang kedua, karena dia hanya jadi satu-satunya dalam hidup pria hadapannya ini. Arun menarik kepala Alana, menyembunyikan wajah gadis itu yang coba menahan laju air mata.
"Terimakasih sudah memahami ku bang. Terimakasih sudah mencintaiku begitu besar" desisnya membenamkan wajahnya pada dada bidang Arun.
***
Hari ini Ema membawa Alana menuju butik langganannya, tempat yang dimaksudkan untuk menyiapkan gaun pengantin Alana.
"Selamat datang nyonya Dirgantara" sapa pemilik toko. Biasanya pemilik toko itu tidak pernah terjun langsung melayani pelanggannya, tapi berhubung kali ini yang datang adalah istri bos besar, makanya wajib turun tangan.
"Saya ingin lihat, gaun yang kemarin saya pesan itu, buat calon menantu saya" ucap Ema duduk di sofa yang sudah ditunjuk pemilik butik.
Seminggu lalu, Ema mengirimkan lewat email, konsep yang dia inginkan untuk pakaian Alana.
"Oh..aman itu nyonya. Sebentar dipersiapkan dulu ya"
Tidak lama, Alana diminta ikut untuk mencoba gaun yang dikerjakan oleh 5 orang itu agar selesai tepat waktu.
Lima belas kemudian Alana turun dengan anggun dan begitu mempesonanya. Semua pelanggan yang kebetulan ada di sana melihat dengan rasa kagum akan kecantikan Alana.
"Ladies, kita sambut nyonya Alana" suara bas si pemilik butik begitu khas.
"Alana.. Al.. akhirnya bisa ketemu dengan mu lagi" seorang wanita tua yang tidak jauh dari tempatnya langsung memeluk Alana yang sejak tadi ingin dipastikan apa itu Alana atau bukan. Setelah dia yakin bahwa itu Alana yang dicarinya selama ini, nenek itu tidak segan untuk memeluknya.
__ADS_1
"Eeh..eh..anda siapa nyonya? meluk - meluk calon mantu saya" cibir Ema ikut berdiri didekat mereka.
"Enak aja ngaku-ngaku. Dia ini pacar cucu saya. Calon istri cucu satu-satunya kelurga Barrel" salak sang nenek.