Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Undangan


__ADS_3

Arun membelai bibir mungil itu, mengirimkan sensasi menggelar pada seluruh tubuh Alana. Semakin dalam ciuman itu, semakin kuat pula Alana meremas roknya dengan tangan kirinya.


Akalnya meminta untuk menyudahi ciuman Arun, tapi tubuhnya nyatanya berkhianat. Membiarkan Arun mengobrak-abrik kesadarannya. Alana menyukai ciuman Arun. Itu mutlak. Buktinya dia malah tidak ingin menyudahinya. Terbuai dan kini ikut berperan serta dalam permainan itu.


Ciuman itu berbeda dari yang pertama di lakukan Arun padanya malam itu. Berbeda juga dengan ciuman pertamanya dengan Gara. Kali ini, Alana merasakan dirinya bisa terbawa arus badai asmara yang ingin terus menikmati sentuhan Arun yang begitu lembut. Tidak ada paksaan, tidak ada nafsu yang merongrong, hanya ada kelembutan yang keluar dari dalam hati sebagai bentuk perasaan Arun yang mulai tumbuh padanya.


"Al..kau nikmat" ucap Arun melepas ciuman mereka. Menatap lurus wajah Alana dan kemudian menyatukan kening mereka.


Alana hanya diam. Tubuhnya lemas setelah reli panjang yang Arun lakukan di mulutnya.


"Al..aku.." suara Arun terhenti, mengambang di udara, kala mendengar suara langkah kaki Lily dianak tangga yang ditebak mereka menuju kamar tidurnya.


"Itu kak Lily, cepat keluar bang" desak Alana kembali pucat. Matanya membulat menatap Arun.


"Kenapa aku harus keluar Al?" tanya nya tidak mengerti. Apa yang salah dengan berada di kamar Alana? toh wanita itu juga istrinya.


"Ga enak sama kak Lily. Pokoknya abang keluar" pinta Alana memohon. Sorot mata yang penuh ketakutan itu membuat Arun luluh, mengikuti permintaan Alana untuk keluar diam-diam dari kamarnya.


Begitu Arun keluar, Alana langsung mengunci pintu. Menyandarkan punggungnya pada daun pintu.


"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? kenapa aku bisa menerima ciuman bang Arun?" desisnya menjambak rambutnya pelan.


Mual, pusing bahkan rasa sakit perutnya sudah hilang. Kini hanya ada bayangan Arun yang mencium bibirnya dengan lembut.


***


Diare yang dialami Alana sudah berhenti, jadi dia bisa masuk sekolah hari ini. Pagi ini Arun mengantar nya juga sampai gerbang sekolah.


"Makasih udah diantar bang" ucap Alana pelan, berbalik membuka pintu mobil, namun suara Arun menghentikan gerakannya.


"Salim dulu" ucapnya menyodorkan tangannya kehadapan Alana.

__ADS_1


Setengah hati Alana terpaksa menarik tangan Arun dan membawa ke keningnya. Alana bergegas keluar, tidak sehat baginya berada di dekat Arun lebih lama.


Tepat memasuki gerbang, Gara yang baru saja sampai setengah berlari menemui Alana dan menggengam tangan Alana erat, bersama masuk ke dalam sekolah.


Semua itu tidak lepas dari pengamatan Arun. Dia tidak terima. Kepalan tangannya semakin erat seiring amarahnya menjalar. Dia harus memperingatkan Alana dan tentu saja pria itu agar menjauhi Alana. Wanita itu hanya miliknya!!


Miliknya? sejak kapan Arun begitu terobsesi dengan Alana? dia meyakinkan dirinya bahwa itu bukan cinta, hanya rasa suka dan nafsu karena sudah terlanjur menikmati tubun Alana.


***


Sementara di rumah, Lily sudah tidak sabar menunggu Arun pulang. Siang tadi, mertua Lily, menghubunginya. Mengundang mereka untuk datang merayakan pesta ulang tahun pernikahan papa dan mama Arun. Tentu saja undangan itu disambut Lily dengan gembira.


"Ini mungkin waktu yang tepat untuk mengatakan pada mama, kalau aku sudah hamil" cicitnya gembira.


Kemarin Santi juga sudah mengajarinya harus berkata apa dan bersikap bagaimana. Tidak boleh terlalu bersemangat dan juga berkata berlebihan, agar Ema tidak curiga.


Kurir pesanan Lily yang mengantar gaun pesta nya dengan Alana sudah datang. Dia memang berencana untuk membawa Alana bersama mereka.


"Bu, ada paket" ujar bi Minah membawa gaun berwarna pink untuk nya dan bagi Alana, Lily memilih warna peach.


"Cantik" bisik nya lebih ke diri sendiri.


"Dan, ini, Alana pasti suka" lanjutnya bermonolog.


"Bu, itu orang dari salon uda datang" kembali suara bi Minah bergema di depan kamar Lily.


"Oh iya, suruh aja masuk bi. Bawa ke atas aja. Saya mau nyalonnya di ruang santai yang di balkon" jawabnya setengah teriak.


Bolak balik Lily menghubunginya Alana, tapi gadis itu masih belum mengangkat telponnya. Jika Alana sampai terlambat pulang sekolah, dipastikan mereka juga akan telat menghadiri pesta yang diadakan mertuanya.


Diliriknya jarum jam, sudah pukul empat sore. "Kemana sih anak ini" geram nya melempar ponsel ke atas meja. Penata rambutnya sedikit terkejut oleh dentuman suara ponsel yang menyentak konsentrasinya.

__ADS_1


"Bi Minah, Alana belum pulang juga?" sapa nya saat melihat pelayannya itu melintas hendak menuju kamar Alana dengan membawa keranjang berisi pakaian Alana yang sudah rapi di setrika.


"Belum Bu"


Kembali Lily meraih ponselnya, mencoba satu kali lagi. "Hah, akhirnya kau angkat juga. Kemana aja sih dek? buat khawatir aja tau ga?" salak Lily ketika kata Halo bergema di seberang sana.


"Maaf kak, ga dengar. Ini udah sampai kok"


"Buruan" Lily menutup telepon sepihak dan kembali meletakkan ponselnya di meja dengan kasar. Setidaknya hatinya sudah sedikit tenang, Alana sudah disini.


"Maklumi aja mbak, namanya remaja. Pulang sekolah ya paling asik jalan bareng pacar dulu" timpal si mbak salon. Lily hanya tersenyum kecut mendengar argumen itu.


Seperempat jam, Alana tiba. Lily langsung memberi perintah untuk makan, mandi dan segera kembali ke sini, agar bisa di rias oleh MUA.


"Buat apa kak? aku lagi ga pengen nyalon" tolak nya lemah. Mendudukkan dirinya di sofa yang ada di hadapan Lily.


"Malam ini mertua kita..mertua ku" ralat nya saat kedua MUA itu menatapnya heran.


"Mertuaku merayakan pesta ulang tahun pernikahan mereka. Jadi kita akan ke sana malam ini" kalimatnya diakhiri dengan menelan salivanya. Tenggorokannya terasa kering terlebih setelah salah ngomong tadi.


"Please kak, aku malas ikut. Lagian ngapain sih aku ada di sana?"gerutu Alana menghentakkan kakinya kesal.


Lily ingin kembali buka mulut guna menjelaskan pada Alana, tapi mengingat di ruangan itu tidak hanya ada mereka berdua, maka Lily menyeret Alana ke kamarnya.


"Aku ingin menyampaikan pada mama, kalau aku sedang hamil saat ini. Jadi aku perlu kau di sana sebagai penguat ku" ungkapnya.


Apa yang bisa dilakukan Alana, selain menuruti perkataan Lily. Dia terlalu sayang pada kakaknya. Terlebih setelah apa yang dia lihat sendiri perlakuan mertuanya, yang suka semena-mena pada Lily, Alana merasa perlu dan punya kewajiban untuk melindungi Lily.


Saat Alana tengah dirias, Arun tiba di rumah. Pria itu berdiri di sana atas panggilan Lily. Sekilas Arun melirik ke arah Alana. Wajah gadis itu berubah semakin cantik dan tampak dewasa setelah di rias dan kini tengah ditata rambutnya. Kalau pendapatnya ditanya, Arun lebih suka Alana nya yang natural.


Tunggu, Alana nya?!

__ADS_1


"Baru sampai hun. Segera lah mandi, bersiap-siap, malam ini kita harus menghadiri acara yang di selenggarakan mama"


Arun tahu perihal itu. Tadi siang papanya juga datang ke kantornya menyampaikan hal itu langsung. Tapi yang tidak di duga Arun, Lily akan mengajak Alana ikut serta.


__ADS_2